">
← kembali ke buku 22 Jun 2026

sudah saatnya dilepas

Refleksi catatan lapangan Mas Bimo

Tali-tali itu masih menggenggam erat.
Merah, biru, jingga. Satu gugus besar menggembung di bawah langit cerah Sentra.
Ada keranjang kecil di bawahnya berisi burung dara. Ringan. Hampir tidak terasa.

Saya berdiri di antara para lansia yang duduk rapi di kursi merah. Beberapa memakai tongkat bantu jalan. Beberapa lagi menunduk, mungkin mengantuk, mungkin mengingat sesuatu. Hari Lanjut Usia Nasional. Spanduknya terbentang di depan lapangan. Anginnya tidak kencang, tapi cukup untuk membuat balon-balon itu bergerak pelan.

Saya pegang talinya. Kencang. Mungkin terlalu kencang.
Karena saya sedang tidak ingin kehilangan sesuatu hari ini.
Karena belakangan ini, rasanya semua yang saya pegang selalu ingin lepas.

Sejak beberapa minggu lalu, ada hal yang mengubah segalanya.
Yang biasanya tidur nyenyak setelah subuh, sekarang terjaga menatap langit-langit.
Yang biasanya mengecek ponsel untuk pesan kerja, sekarang mengecek hasil lab.
Yang biasanya pulang ke rumah dengan ringan, sekarang berhenti dulu di depan pintu. Menarik nafas. Baru masuk.

Ada yang sakit di dalam.
Bukan sakit yang bisa diobati dengan minum air putih dan tidur siang.
Ini sakit yang jenisnya tidak pernah kita pelajari sebelumnya.

Tentang anak.
Tentang tubuhnya yang tidak seharusnya begini.
Tentang dokter yang bicara dengan hati-hati, seolah setiap kata bisa pecah.
Tentang diagnosis yang belum selesai, yang masih tanda tanya besar, yang membuat kita googling tengah malam lalu menutup layar karena tidak kuat membaca hasilnya.

Saya tidak tahu harus marah pada siapa.
Tidak ada yang salah. Tidak ada yang bisa disalahkan.
Dan justru itu yang paling menyiksa.

Ada yang memilih diam lebih lama dari biasanya.
Ada yang berbicara, tetapi hanya seperlunya.
Dan ada yang memeluk lebih erat dari biasanya, tanpa alasan, tanpa kata-kata.

Saya perhatikan istri saya.
Yang biasanya langsung tertawa kalau ada hal konyol, sekarang senyumnya butuh waktu lebih lama untuk muncul.
Yang biasanya cepat mengambil keputusan, sekarang duduk termenung di tepi kasur, menatap dinding.
Yang biasanya bilang “nanti juga baik-baik saja,” sekarang hanya memegang tangan saya. Kencang.

Dan saya?
Saya menutupi semua emosi itu dengan satu hal yang saya mahir menggunakannya.
Saya sibuk. Sebanyak-banyaknya.
Kerja. Rapat. Koordinasi. Laporan.
Sampai pada satu titik, saya sadar: saya sedang lari.
Dan lari itu tidak akan ke mana-mana.

Balon-balon itu mulai dilepaskan.

Satu. Dua. Lusinan.
Merah naik duluan. Biru menyusul. Jingga bergerombol di tengah, lambat, seperti ragu.
Dan yang hijau, yang paling kecil, naik paling akhir. Sendirian. Pelan sekali.

Saya tidak ikut melepas.
Saya masih menggenggam satu. Kencang.
Dan lama-lama, tali itu melukai telapak tangan.

Sampai pada satu titik yang lain.
Yang lebih jujur.
Yang lebih berat dari sekadar sedih.

Bahwa ada hal-hal yang memang harus dilepas.
Bukan karena tidak sayang.
Bukan karena menyerah.
Tapi karena menggenggam terlalu kencang justru membuat semuanya sakit.

Yang biasanya saya bawa pulang setiap malam, sekarang saya coba taruh di depan pintu.
Yang biasanya saya pikirkan sebelum tidur, sekarang saya coba serahkan kepada Tuhan.
Yang biasanya membuat dada sesak tanpa sebab, sekarang saya coba akui: ini namanya takut.

Saya takut.
Takut tidak bisa memberikan yang terbaik.
Takut salah langkah. Salah pilih dokter. Salah formula susu. Salah waktu.
Takut suatu hari anak saya bertanya kenapa, dan saya tidak punya jawaban.

Tapi saya juga belajar sesuatu.
Dari istri saya yang bangun setiap tiga jam untuk menyusui.
Dari keluarga yang tidak banyak bicara tapi selalu ada.
Dari dokter yang hati-hati memilih kata, bukan karena ragu, tapi karena peduli.

Bahwa menghadapi ini bukan soal siapa yang paling kuat.
Ini soal siapa yang mau tetap ada.
Hari ini. Besok. Lusa. Tanpa jaminan hasil.

Balon yang saya pegang tadi sudah tidak ada.
Entah kapan saya melepasnya.
Mungkin tangan saya sudah terlalu lelah. Mungkin sudah waktunya.

Langitnya masih cerah.
Para lansia sudah masuk kembali ke bawah tenda
Tinggal tali yang tergeletak di lapangan.

Anak saya belum tahu apa-apa tentang hari ini.
Tentang Hari Lanjut Usia. Tentang balon-balon. Tentang bapaknya yang berdiri di lapangan, memikirkan hal-hal yang terlalu besar untuk dipegang sendiri.

Yang dia tahu, ada tangan yang memegangnya.
Dan tangan itu, sekeras apa pun menggenggam, akhirnya juga belajar:
Bahwa melepas bukan berarti tidak peduli.
Bahwa melepas kadang adalah supaya tangan kita lebih kuat menggenggam yang lebih penting.

Saya melepas ketakutan itu hari ini.
Bukan karena semuanya sudah selesai.
Tapi karena ada yang lebih perlu saya pegang.
Anak saya. Istri saya. Keluarga saya.

Dan balon yang dilepas pada waktunya, naik tinggi. Masih terlihat. Masih berwarna. Masih terbang.

Catatan Lapangan · Mas Bimo