">
← kembali ke buku 20 Agu 2026

Dua Sembilan

Refleksi catatan lapangan Mas Bimo

29

Angka itu terasa aneh pertama kali saya ucapkan kemarin.

29. Bukan lagi 22, yang semuanya masih bisa ditunda. Bukan juga 30, yang seolah harus sudah punya jawaban. 29 itu persis di tengah: masih cukup muda untuk bingung, sudah cukup tua untuk berhenti berpura-pura.

Beberapa hari lalu, saya masuk usia 29 tahun.

Tidak ada yang berubah di hari itu. Tidak ada lonceng. Tidak ada sirene. Tidak ada kue yang kadang terlalu manis.

Saya hanya menjalani hari itu seperti hari-hari lain, dan membiarkan tahun itu datang tanpa sambutan. Mungkin memang begitu cara menua: perayaan yang makin pelan, syukur yang makin dalam.

Malamnya, saya membuka blog ini dan membaca tulisan-tulisan lama.

Tulisan pertama saya di 2019 masih berbau teori. Tentang pekerja sosial. Tentang keberfungsian sosial. Tentang relasi kuasa. Saya menulis untuk terlihat pintar, padahal saya sendiri belum paham apa-apa. Saya menulis untuk menjelaskan dunia yang bahkan belum saya kenal.

Lalu ada sajak-sajak. Tentang Jakarta dan ketersinggungannya, tentang kopi, tentang manusia-manusia yang menunggu. Tahun-tahun itu saya menulis untuk merasa. Untuk bertahan.

Tahun 2023 saya menulis “Izin untuk Menua”. Saya pikir itu tulisan tentang umur. Ternyata itu tulisan tentang melepas. Tentang hal-hal yang memang tidak bisa digenggam selamanya. Seingat saya saat itu ditulis saat sedang bertugas di Jayawijaya, Papua Pegunungan dengan Wana dan Alm. Bu Minar.

Tahun 2024 saya menulis tentang Dinta. Tentang anak pertama kami yang lahir di 2022. Tentang NICU, tentang jarak, tentang video call yang tidak pernah cukup. Saya menulis dari kejauhan, berharap cepat dekat.

Lalu tahun ini. Dua tulisan yang paling sulit saya tulis seumur hidup: “Sama-Sama” dan “sudah saatnya dilepas”.

Tentang anak kedua saya. Tentang tubuhnya yang tidak seharusnya begini. Tentang dokter yang memilih kata-kata dengan hati-hati, seolah setiap kata bisa pecah. Tentang hasil lab yang saya buka tengah malam lalu tutup lagi karena tidak kuat membacanya. Tentang gangguan tumbuh kembang yang masih tanda tanya besar.

Saya tidak tahu harus marah pada siapa. Tidak ada yang salah. Tidak ada yang bisa disalahkan. Dan justru itu yang paling menyiksa.

Dulu saya pikir menulis adalah tentang meninggalkan jejak. Tentang pembaca yang akan datang nanti. Tentang menjadi sesuatu.

Sekarang saya tahu: menulis adalah cara hadir.

Dan Sena, anak kedua saya, tanpa pernah membaca satu pun tulisan saya, mengajari saya arti hadir yang paling jujur.

Dia tidak tahu tentang target. Tidak tahu tentang rencana sebelum tiga puluh. Tidak tahu bahwa di luar sana orang-orang sibuk mengejar sesuatu. Yang dia tahu: ada tangan yang memegangnya. Sekarang. Hari ini. Tanpa jaminan besok.

Dulu saya menunggu. Menunggu gerak-geriknya menyusul usianya. Menunggu hasil lab yang menjelaskan segalanya.

Sekarang saya berhenti menunggu.

Saya belajar menikmati jarinya yang menggenggam jari saya. Menikmati matanya yang menatap tanpa bertanya. Menikmati malam-malam yang tidak bisa saya tebak akan berakhir bagaimana. Karena hadir bukan tentang berapa lama kita tinggal. Hadir adalah soal memilih untuk tidak pergi, di setiap waktunya.

Saya juga belajar dari istri saya yang bangun setiap tiga jam. Dari keluarga yang tidak banyak bicara tapi selalu ada. Dari dokter yang hati-hati memilih kata.

Bahwa menghadapi ini bukan soal siapa yang paling kuat. Ini soal siapa yang mau tetap ada. Hari ini. Besok. Lusa. Tanpa jaminan hasil.

Beberapa hari terakhir saya berada di Jepara. Dinas untuk persiapan MPLS Sekolah Rakyat Permanen Jepara. Menyusun jadwal, mengecek kesiapan, memastikan anak-anak yang akan datang punya tempat yang layak untuk memulai.

Sekolah Rakyat itu baru. Anak-anak yang akan masuk juga baru. Mereka belum tahu siapa saya. Yang mereka butuhkan hanya orang dewasa yang hadir, yang menyambut mereka di hari pertama.

Malamnya saya menelepon rumah. Sena sedang belajar menggerakkan tubuhnya, ditemani fisioterapi tiga kali seminggu. Suaranya masih gumaman-gumaman kecil. Tapi saya tetap mendengarkan sampai dia lelah.

Hadir ternyata bisa dari jauh. Selama saya tidak pergi dari pikiran mereka. Tapi, tidak untuk diulang lagi. Ada dekat keluarga selalu jadi rezeki terbesar saya

29 itu bukan angka yang istimewa. Tidak ada yang berubah di tubuh saya. Kekhawatiran bertambah satu dua.

Tapi ada satu hal yang berubah: saya makin yakin bahwa yang paling berharga bukan yang berhasil saya capai, melainkan yang berhasil saya hadiri.

Sena yang membangunkan kami di waktu subuh. Tawa Dinta yang berteriak “Sena!”. Tangan istri yang menggenggam kencang tanpa kata-kata. Itu semua tidak menunggu saya selesai menjadi apa-apa.

Dan tulisan ini, seperti tulisan-tulisan saya sebelumnya, adalah cara saya hadir. Untuk mereka. Untuk diri saya sendiri. Untuk 29 yang tidak saya undang, tapi saya terima.

Dan itu juga sudah cukup.

Catatan Lapangan · Mas Bimo