Sama-Sama
Hanya suara nafas kecil dari kasur sebelah istri. Tidurnya pulas. Saya tidak bisa tidur.
Bayi di sebelah saya belum genap setahun. Masih belum bisa bicara. Masih belum bisa jalan. Masih menggenggam jari saya seperti pegangan satu-satunya di dunia.
Di kasur sebelah, kakaknya tidur. Mainan bertebaran. Bekas air mata masih mengering di pipi karena sore tadi rebutan boleh tidak minum vitamin c lagi yang dosisnya direkomendasikan sebutir per hari. Esok pagi dia akan bangun, langsung lari, dan berteriak: “Sena!”
Dia juga baru belajar jadi kakak.
Saya menatap bayi saya, lalu saya sadar sesuatu.
Bukan hanya saya yang baru jadi orangtua untuk kedua kalinya, yang ternyata sama sulitnya dengan yang pertama, hanya dengan jenis kepanikan yang berbeda. Bukan hanya dia yang baru jadi anak kedua.
Kakaknya juga baru.
Baru jadi kakak. Baru belajar berbagi perhatian. Baru belajar bahwa ibu dan bapak tidak lagi hanya miliknya. Baru belajar bahwa cinta tidak habis dibagi, tapi rasanya tetap aneh ketika harus antre digendong.
Saya melihatnya minggu lalu, diam-diam menyelimuti adek bayinya. Lalu pura-pura tidak melakukan apa-apa. Saya pura-pura tidak melihat.
Dia belajar dengan caranya sendiri. Saya juga.
Di jam tiga pagi, ketika bayi menangis dan saya tidak tahu kenapa, saya gendong. Saya ayun. Saya nyanyikan lagu yang liriknya saya hafal. Kadang mempan. Kadang tidak.
Dia menangis lebih keras.
Saya diam.
Saya berikan asi dalam botol.
Masih menangis
Ternyata popoknya penuh.
Pagi harinya, kakak bangun dengan mata sembab karena tidur kurang nyenyak, karena tangisan adik, karena mimpi, karena apalah. Dia tidak bisa menjelaskan. Dia hanya rewel. Saya juga rewel. Kami saling rewel di meja makan.
Tidak ada yang salah. Hanya sama-sama lelah.
Sama-sama baru menjalani peran yang belum sempat dilatih.
Saya membaca postingan teman-teman. Foto anak. Caption bahagia. Ucapan syukur. Tidak ada yang bilang: “Saya tidak tahu apa yang saya lakukan.” Tidak ada yang ngaku: “Saya takut.”
Tapi kita semua takut.
Kita semua tidak tahu.
Kita semua belajar sambil jalan.
Anak pertama belajar jadi kakak. Anak kedua belajar jadi adik. Kami belajar jadi orangtua dari dua anak yang berbeda kebutuhan, berbeda usia, berbeda cara menangis, berbeda cara tertawa. Tidak ada sekolah untuk ini. Tidak ada buku yang benar-benar siap.
Pendidikan pekerja sosial saya dan pendidikan anak usia dini ibunya hanya memberi pondasi dalam pengasuhan anak. Apalagi anak sendiri.
Kadang saya lihat mereka berdua. Kakak memegang tangan adek dengan hati-hati, seperti memegang barang pecah belah. Adek menatap kakak dengan mata yang masih belum fokus penuh, tapi sudah ada pengenalan di sana.
Mereka tidak tahu bahwa ini pertemuan pertama mereka di dunia.
Mereka tidak tahu bahwa mereka akan bertengkar suatu hari nanti.
Mereka tidak tahu bahwa mereka akan saling membela, saling mengkhianati, saling merindukan.
Sekarang mereka hanya dua anak kecil yang saling menatap.
Sama-sama baru.
Sama-sama belajar apa artinya punya saudara.
Tidak ada yang sudah pernah melakukan ini sebelumnya.
Bukan saya.
Bukan istri saya.
Bukan kakaknya.
Bukan bayinya.
Empat orang. Empat peran baru. Satu rumah yang sama-sama belajar.
Anak pertama belajar jadi kakak dengan cara jatuh bangun. Anak kedua belajar jadi adik dengan cara menunggu giliran. Kami belajar jadi orangtua dari dua anak, yang ternyata bukan perkara membagi cinta jadi dua, tapi melipatgandakan ketidakmampuan jadi empat.
Besok pagi, bayi akan bangun dan menangis. Kakaknya akan rebutan remote TV lagi. Istri saya akan mencari botol susu sambil saya mencari kaus kaki yang hilang.
Sama seperti hari ini.
Sama seperti kemarin.
Kami masih belum jadi ahli.
Tapi kami masih di sini.
Bersama.
Cukup itu saja.