">
← kembali ke buku 27 Mar 2026

Belum Jatuh, Tapi Belum Aman: Cerita Tentang Kelas Menengah Indonesia

Refleksi catatan lapangan Mas Bimo

Belakangan ini ada satu rasa yang sering muncul.
Bukan panik.
Bukan juga putus asa.
Lebih seperti waswas yang pelan-pelan menetap.

Pernah merasa semua masih berjalan normal, tapi ruang bernapas terasa makin pendek?


Hidup masih berjalan seperti biasa. Orang masih kerja. Masih berangkat pagi. Masih pulang malam. Masih bayar cicilan. Masih belanja kebutuhan rumah.
Tapi entah kenapa, rasanya ruang hidup makin sempit.


Sedikit harga naik, langsung terasa.


Sedikit penghasilan terganggu, langsung goyah.


Sedikit ada pengeluaran tak terduga, langsung bikin hitung-hitungan berubah.


Pelan-pelan kita mulai menyadari sesuatu.
Banyak orang sebenarnya hidup di batas yang tipis.
Belum jatuh.
Tapi juga belum benar-benar aman.


Saya teringat tulisan saya sebelumnya tentang Iran. Tentang bagaimana sesuatu yang terjadi jauh di peta bisa sampai ke dapur kita sendiri.
Timur Tengah adalah salah satu kawasan kunci dalam pasokan energi dunia. Ketika konflik mengganggu pasokan energi, harga minyak biasanya ikut bergerak. Ketika harga minyak naik, ongkos transport ikut naik. Dan ketika ongkos transport naik, harga barang di pasar juga ikut terdorong.


Yang tadinya terasa seperti urusan geopolitik akhirnya masuk ke kehidupan sehari-hari.


Beberapa negara di Asia Tenggara berusaha menahan dampak itu. Ada yang mempertahankan subsidi energi, ada yang menyiapkan dana darurat energi, ada juga yang mempercepat penggunaan bahan bakar alternatif.
Tujuannya sama: menahan guncangan supaya tidak langsung jatuh ke rumah tangga.


Karena ketika energi terganggu, yang pertama terasa bukan meja perundingan.
Yang pertama terasa justru isi dompet orang biasa.


Harga makan.
Harga transport.
Harga kebutuhan sehari-hari.


Di titik ini, cerita tentang kelas menengah Indonesia menjadi semakin relevan.
Menurut rilis  Badan Pusat Statistik, pada September 2024 jumlah kelas menengah Indonesia sekitar 48,41 juta orang. Sementara kelompok aspiring middle class mencapai sekitar 138,31 juta orang.


Artinya sederhana.


Kelompok yang benar-benar berada di zona aman ternyata tidak terlalu besar. Sebaliknya, lapisan masyarakat yang hidup tepat di bawah kelas menengah justru sangat besar.


BPS mendefinisikan aspiring middle class sebagai kelompok dengan tingkat pengeluaran sekitar 1,5 sampai 3,5 kali garis kemiskinan. Mereka tidak lagi tergolong miskin, tetapi juga belum memiliki bantalan ekonomi yang cukup kuat.


Dengan kata lain, mereka masih bisa hidup dengan relatif layak.
Tapi ruang napasnya belum luas.
Harga naik sedikit terasa.
Pendapatan terganggu sedikit terasa.
Ada pengeluaran tak terduga langsung terasa.
Itulah yang disebut aspiring middle class.
Orang-orang yang sedang berusaha naik ke kelas menengah, tapi belum sampai sepenuhnya.


Dan jujur saja, kalau melihat definisinya, saya kadang bertanya dalam hati:
jangan-jangan saya juga ada di kelompok itu.


Mungkin juga banyak pembaca tulisan ini.


Masih bisa hidup dengan layak.
Masih bisa bekerja.
Masih bisa memenuhi kebutuhan.
Tapi kalau ada guncangan besar, kita belum tentu benar-benar aman.


Di titik ini saya jadi teringat satu hal lain yang sering dibicarakan belakangan: DTSEN.


Pemerintah sekarang menggunakan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional sebagai basis untuk berbagai program bantuan sosial.


Cara sederhana memahami sistem ini adalah lewat desil.
Bayangkan saja seperti tangga dengan sepuluh anak tangga.
Desil 1 adalah rumah tangga dengan kondisi ekonomi paling rentan.
Desil 10 adalah yang paling kuat.
Setiap desil mewakili sekitar sepuluh persen rumah tangga.


Program bantuan sosial biasanya diprioritaskan untuk kelompok di bagian bawah tangga ini, terutama desil 1 sampai 4.


Tapi kehidupan tidak selalu tetap.
Ada keluarga yang ekonominya membaik.
Ada juga yang justru menurun.
Karena itu data seperti DTSEN sebenarnya tidak dimaksudkan sebagai label permanen.


Jika kondisi rumah tangga berubah, pembaruan data bisa diajukan melalui desa atau kelurahan, melalui dinas sosial, atau lewat aplikasi Cek Bansos milik Kementerian Sosial. Data tersebut kemudian diverifikasi sebelum diperbarui dalam sistem.


Artinya, posisi seseorang dalam desil tidak selalu tetap.
Ia bisa berubah seiring perubahan kondisi hidup.
Dan di sinilah cerita tentang aspiring middle class terasa penting.


Kelompok ini sering berada di ruang yang tidak sepenuhnya terlihat dalam statistik bantuan sosial, tetapi juga belum cukup kuat untuk benar-benar aman.
Mereka masih bisa bertahan.
Tapi bertahan dengan napas pendek.
Ketika harga energi naik karena konflik global, mereka yang paling cepat merasakannya.


Ketika biaya hidup naik pelan-pelan, mereka yang paling cepat harus menyesuaikan.


Mungkin itu sebabnya data tentang kelas menengah terasa lebih dari sekadar statistik.
Ia memberi gambaran tentang bantalan ekonomi sebuah masyarakat.


Kalau kelas menengah kuat, guncangan ekonomi biasanya masih bisa diredam.
Tapi ketika lapisan masyarakat yang hidup tepat di bawah kelas menengah sangat besar, artinya semakin banyak orang hidup di batas yang rapuh.


Belum jatuh.
Tapi juga belum tenang.
Dan hidup di batas seperti itu sering tidak terasa dramatis.


Tidak ada sirene.


Tidak ada alarm besar.


Yang ada hanya perubahan kecil yang terus menumpuk.


Harga naik sedikit.
Biaya hidup naik sedikit.
Ruang bernapas makin sempit sedikit.
Sampai suatu saat kita sadar bahwa banyak orang sebenarnya sedang berjalan di atas lantai yang retak.
Pelan-pelan.


Dan retaknya belum tentu berhenti.

Catatan Lapangan · Mas Bimo