">
← kembali ke buku 20 Mar 2026

Basa-basi Lebaran, Edisi: Kenapa Perang di Iran Bisa Sampai ke Harga Sayur

Narasi catatan lapangan Mas Bimo

Ada satu momen yang hampir selalu muncul setiap Lebaran.

Setelah salaman dan selesai mengucapkan “mohon maaf lahir batin”, percakapan biasanya bergerak ke arah yang kurang lebih sama setiap tahun.

“Kerja di mana sekarang?” 
“Anak sudah berapa?” 
“Rumah di mana sekarang?”

Kadang muncul juga topik yang sedikit lebih besar.

Misalnya tiba-tiba ada paman yang berkata,

“Ini perang Iran bikin harga minyak naik.”

Biasanya meja makan langsung sedikit hening.

Bukan karena tidak peduli. Tapi karena kebanyakan dari kita sebenarnya tidak benar-benar tahu bagaimana perang di Timur Tengah bisa sampai dibicarakan di ruang tamu rumah sendiri.

Kalau suatu hari kamu berada di situasi seperti itu, tulisan ini mungkin bisa dianggap semacam buku saku kecil untuk basa-basi Lebaran edisi perang Iran.

Kenapa Perang di Iran Masuk ke Obrolan Kita

Sejak akhir Februari 2026, ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat memuncak setelah serangan udara terhadap fasilitas militer Iran memicu konflik terbuka di kawasan tersebut. Berbagai media internasional, mulai dari Reuters hingga Al Jazeera, menyebutnya sebagai situasi paling panas di kawasan Teluk dalam satu dekade terakhir.

Bagi banyak orang di Indonesia, tempat itu terasa sangat jauh.

Tapi pamanmu tadi tidak salah. Wilayah itu memegang satu hal yang sangat penting bagi dunia: energi.

Di dekat Iran ada jalur laut bernama Selat Hormuz.

Sekitar 20 persen minyak dunia melewati jalur ini setiap hari, sekitar 17 hingga 21 juta barel, menurut lembaga energi pemerintah Amerika Serikat ini jalur nadi.

Bayangkan saja seperti DC Cakung, pusat distribusi paket Shopee yang biasanya sudah penuh sesak bahkan sebelum Lebaran tiba. Kalau jalannya macet atau ada yang rusak, paketmu tidak akan sampai tepat waktu, seberapa pun cepatnya penjual mengirim dari gudang.

Begitu juga dengan minyak.

Kenapa harga minyak langsung naik?

Ketika konflik meningkat, kapal tanker mulai berhati-hati melewati kawasan tersebut. Bukan tanpa alasan. Sudah ada kejadian nyata: sebuah kapal tanker berbendera Thailand dilaporkan mengalami insiden di dekat perairan Oman. Beberapa fasilitas energi di kawasan Teluk juga terdampak serangan.

Pamanmu yang bicara di meja makan itu, diam-diam, sedang membicarakan hal yang sama yang sedang dibicarakan para pedagang minyak di London dan Singapura.

Akibatnya, pasokan minyak dunia ikut terganggu. Harga minyak yang sebelumnya berada di kisaran 70 dolar per barel sempat melonjak mendekati 100 dolar per barel. Naik lebih dari 40 persen hanya dalam beberapa minggu.

Angka itu sering disebut di berita, tapi sebenarnya sulit dibayangkan.

Satu barel minyak berisi sekitar 159 liter. Kalau harganya sekitar 100 dolar per barel dengan kurs sekitar Rp16.000, artinya satu liter minyak mentah harganya sekitar 10 ribu rupiah. Dan itu masih minyak mentah, belum diolah, belum jadi bensin, belum kena pajak, belum ongkos kirim.

Karena itu ketika harga minyak dunia naik, yang terasa di masyarakat justru hal-hal yang lebih dekat.

Harga bensin bisa naik. Biaya transportasi ikut naik. Biaya pengiriman barang juga naik. Dan kalau biaya pengiriman naik, harga barang lain sering ikut bergerak, bahkan barang yang kelihatannya tidak ada hubungannya sama sekali dengan minyak.


Dampaknya Tidak Berhenti di Minyak

Di sinilah bagian yang sering luput dari percakapan Lebaran.

Konflik ini juga menyentuh sektor gas alam. Qatar, tetangga Iran yang ikut terdampak situasi kawasan yang memanas, adalah salah satu negara pengekspor gas terbesar di dunia. Mereka menyuplai sekitar 20 persen kebutuhan gas dunia, menurut laporan industri energi global. Ketika fasilitas energi di kawasan Teluk mulai terdampak serangan, kemampuan Qatar untuk mengirim gas ke negara lain pun ikut terganggu.

Dan gas tidak hanya dipakai untuk listrik.

Gas adalah bahan baku utama untuk membuat pupuk. Bukan sembarang pupuk, tapi jenis yang paling banyak dipakai petani di seluruh dunia, termasuk petani di Indonesia.

Di sinilah rantainya mulai merambat ke hal yang tidak pernah kita bayangkan berkaitan dengan perang.

Kalau gas mahal, biaya membuat pupuk ikut naik. Kalau pupuk mahal, petani terpaksa mengurangi penggunaan atau menaikkan harga jual hasil panen. Kalau biaya bertani naik, harga bahan pangan di pasar ikut bergerak.

Mulai dari beras, sayur, sampai jagung.

Perang yang terjadi ribuan kilometer dari sini pelan-pelan bisa merambat sampai ke sawah di sebelah rumahmu. Yang beberapa tahun ke depan mungkin sudah berubah jadi perumahan.

Lalu, Seberapa Rentan Indonesia?


Ini bagian yang jarang dibahas tapi penting untuk diketahui, terutama kalau pamanmu bertanya lebih lanjut.

Indonesia sebenarnya bukan negara yang sepenuhnya lepas dari gejolak harga minyak dunia. Meski Indonesia punya sumur minyak sendiri, kenyataannya kita membeli lebih banyak minyak dari luar negeri daripada yang bisa kita produksi sendiri. Pertamina mengimpor sekitar 40 sampai 50 persen kebutuhan minyak dalam negeri, tergantung kondisi produksi nasional.

Artinya sederhana: ketika harga minyak dunia naik, tagihan impor kita ikut membengkak.

Yang selama ini menahan dampak itu agar tidak langsung terasa ke kantong masyarakat adalah subsidi dari pemerintah. Bayangkan kalau BBM Ron 90 yang biasa kamu pakai harganya tiba-tiba menjadi Rp15.000 per liter. Ada berapa juta keluarga yang tidak akan bisa mudik? Ada berapa penjual gorengan yang terpaksa berhenti jualan karena ongkos kirim bahan baku terlalu mahal?

Subsidi memang menahan itu semua. Tapi subsidi juga punya batas kemampuan. Semakin lama harga minyak tinggi, semakin besar pengeluaran pemerintah untuk menutupnya. Dan ketika uang pemerintah mulai terbatas, pilihan-pilihan sulit pun mulai masuk ke meja rapat kabinet.

Cara Menjelaskan Ini ke Keluargamu di Meja Makan saat Lebaran

Kalau ada yang bertanya lebih lanjut setelah pamanmu membuka topik tadi, kamu tidak perlu menjelaskan semuanya panjang lebar.

Cukup bilang kira-kira begini:

“Perang bikin jalur minyak dunia terganggu. Minyak naik, gas juga ikut mahal. Kalau energi mahal, transportasi dan pupuk juga mahal. Ujung-ujungnya harga barang bisa ikut naik. Pemerintah lagi nahan pakai subsidi, tapi itu juga ada batasnya.”

Biasanya setelah itu orang akan mengangguk.

Dan pamanmu, yang tadi membuka topik berat di meja makan, mungkin akan sedikit kaget kamu bisa menjawab sepanjang itu.

Percakapan pun bisa lanjut ke topik lain. Calo penukaran uang baru, misalnya. Atau cerita mudik yang macet di Tol Bawen.

Kenapa Dampaknya Belum Terasa Terlalu Tajam

Mungkin karena itu pula, sampai sekarang dampaknya belum terasa terlalu dalam bagi banyak orang.

Sebagian karena pemerintah mencoba menjaga harga bahan pokok tetap stabil di pasar, selain terus memberikan subsidi energi. Sebagian lagi, mungkin, karena kita sedang sibuk.

Lebaran, mudik, silaturahmi, dan berbagai urusan keluarga sering membuat perhatian kita lebih tertuju ke perjalanan pulang kampung daripada ke harga energi dunia.

Kadang memang begitu cara perubahan datang.

Pelan-pelan.

Dan baru terasa setelah keramaian lewat.

Semuanya Terhubung, Diam-diam

Kadang kita melihat berita perang seperti sesuatu yang sangat jauh.

Nama negara disebut. 
Peta ditampilkan di televisi. 
Lalu berita berganti ke sinetron atau dracin yang auto scroll di HPmu.

Tapi dunia sekarang ternyata jauh lebih terhubung daripada yang sering kita bayangkan. Selat Hormuz dan penjual sayur di Pasar Lempuyangan ternyata dihubungkan oleh rantai yang panjang, tapi nyata.

Perang di satu tempat bisa mengubah harga energi. 
Harga energi bisa memengaruhi biaya transportasi. 
Biaya transportasi bisa mengubah harga pupuk. 
Harga pupuk bisa mengubah harga sayur. 
Dan tanpa kita sadari, semuanya bisa sampai ke meja makan keluarga saat Lebaran.

Tepat di sebelah ketupat dan opor ayam.



Jadi kalau tahun ini ada yang bilang,

“THR-nya jangan sedikit-sedikit dong.”

Mungkin kamu bisa menjawab pelan saja.

“Ini bukan pelit. Ini menyesuaikan kondisi dunia.”

Kalau masih belum puas, tinggal tambahkan satu kalimat lagi.

“Kalau perang di Timur Tengah selesai, THR-nya kita evaluasi lagi.”

Biasanya setelah itu orang akan tertawa.

Dan percakapan Lebaran kembali aman.

Mungkin itulah yang menarik dari basa-basi Lebaran.

Di antara pertanyaan soal kerja, anak, dan rumah, kadang muncul satu kalimat yang tanpa disadari menghubungkan ruang tamu kita dengan dunia yang jauh di sana. Bukan karena pamanmu ahli geopolitik. Tapi karena dunia memang sudah lama masuk ke dapur kita, ke pompa bensin kita, ke warung sayur di ujung gang.

Kita cuma belum sempat memperkenalkan diri.

Catatan Lapangan · Mas Bimo