">
← kembali ke buku 4 Mar 2026

yang kedua

Refleksi catatan lapangan Mas Bimo

Kamu adalah puisi pertama yang kami genggam dengan tangan gemetar. Bukan karena rapuh, tapi karena setiap katamu terasa bernilai. Di usiamu yang baru empat, matamu sudah menampung rasa ingin tahu dan keberanian kecil yang sering membuatku ternganga. Aku sering memperhatikanmu menatap adikmu. Antara penasaran dan ingin menjaga. Bahumu masih kecil, tapi hatimu mulai belajar memeluk.

Jadi kakak secepat ini tidak mudah. Kamu harus berbagi pelukan, perhatian; bahkan malam yang tadinya hanya milikmu. Ada hari-hari kamu lelah dan ingin kembali jadi anak yang dimanja sepenuhnya. Itu wajar. Merasa kecil sekaligus besar itu normal. Aku akan selalu ada di sampingmu untuk menemani sedih, marah, dan lelahmu.

​Aku bangga melihat usahamu. Saat kamu memegang botol dengan hati-hati. Saat kamu bernyanyi pelan supaya adik tenang. Saat kamu mengulang namanya seakan ingin menghafalnya. Kamu hebat bukan karena sempurna, tapi karena kamu peduli. Hal-hal kecil itu membuktikan dadamu sudah bersiap jadi tempat berlindung, meski tanganmu masih sekecil itu.

Aku dan mamamu sadar kami belum sempurna. Lelah begadang sering membuat kami tak sanggup mengajakmu berlari di pagi hari. Lalu jarak Magelang ke Jogja sering menyedot habis sisa hariku. Hujan badai di sepanjang jalan pulang melucuti tenagaku, memaksaku menolak sodoran mainanmu saat aku baru saja membuka pintu. Maaf kami seringnya hanya tertahan di tenggorokan. Menggantung di udara saat kami diam-diam menatap punggungmu yang terpaksa bermain sendirian.

​Kami sayang padamu lebih dari yang bisa kutulis di sini. Kalau nanti kamu takut adikmu mengambil tempatmu, dengarkan ini. Tempatmu tidak akan pernah tergantikan. Kamu adalah cahaya pertama. Kami akan selalu memelukmu, mendoakanmu, dan menjaga langkah kecilmu. Bukan sebagai yang kedua, tapi sebagai anak pertama kami.

Sekarang tidurlah, Ta. Biar kumatikan tv yang menjadi sahabatmu dan kutarik perlahan selimut ini, menutupi pundak kecilmu yang seharian lelah berusaha menjadi besar.

Catatan Lapangan · Mas Bimo