Teh dari Mbah Putri
Beberapa minggu lalu.
Tidak, tepatnya lebih dari sebulan lalu di tanggal 9 September 2022. Ibu saya menelepon di sore hari. Eyang saya, atau lebih sering saya panggil mbah putri jatuh di kamar mandi. Mbah putri usianya sudah lebih dari 70 tahun. Anaknya empat, salah satunya ibu saya.
Mbah putri itu adalah satu-satunya nenek yang tersisa.
Sejak mendengar informasi itu saya sudah niatkan bila ada waktu akan menjenguk ke Surabaya.
Beberapa tahun terakhir saya jarang bertemu mbah putri. Biasanya, ketika belum bekerja. Kami sekeluarga sering mudik ke Surabaya untuk mengunjungi Mbah Putri. Jadi saya cukup bisa merekam dengan baik, berbagai perubahan yang terjadi pada kondisi fisik Mbah Putri.
Yang biasanya senang diajak jalan-jalan, jadinya lebih suka tinggal di rumah.
Yang biasanya langsung ingat nama cucu-cucunya, jadi sering lupa nama cucunya.
Yang biasanya selalu tersenyum, jadi lebih sering mengeluh kesakitan.
Tapi, ada satu yang tidak berubah. Ketidakinginan Mbah Putri untuk dibawa ke Bondowoso dan menetap di Bondowoso.
Oh, ada dua saya baru ingat. Satu hal yang tidak berubah lagi adalah kebiasaan Mbah Putri menyeduh teh setiap pagi. Seduhan teh Mbah Putri tidak bisa direplikasi siapapun. Saya sering bertanya menggunakan teh merk apa, sudah diberi tahu juga, tetapi saat dibuat sendiri, rasanya tidak pernah sama.
—
Sudah sebulan Mbah Putri di ICU di Surabaya. Sudah satu bulan juga saya mencari waktu agar bisa kesana. Sudah satu bulan juga kondisinya berubah-ubah. Kritis mejadi baik. Sadar menjadi tidak sadar.
Puncaknya di minggu lalu. Ibu saya menelepon di hari Jum’at. Ibu saya bilang, “le, kalau bisa cari waktu ke Surabaya. Mbah obatnya sudah engga bisa masuk. Dokternya sudah angkat tangan. Kayanya Mbah Putri nungguin kamu. Cucunya yang belum kesini, cuma kamu.”
Saya sedang di kantor waktu itu. Saya terdiam sebentar. Lalu, saya putuskan saya sudah ingin ambil cuti di minggu depan untuk kembali ke rumah. Mau diizinkan atau tidak, saya tetap akan pulang.
Ternyata ada hambatan lain. Ada kegiatan yang tidak bisa saya tinggalkan. Atau bisa ya? Toh, tidak ada yang peduli juga dengan pekerjaan ini di organisasi ini? Semuanya dianggap permainan dan dapat diselesaikan dengan alasan kekeluargaan.
Tapi, kita simpan itu untuk waktu lain.
Hari Selasa saya berangkat ke Jakarta lalu ke Bogor. Dalam perjalanan dari rumah ke bandara, saya telepon ibu saya yang sudah berminggu-minggu mendampingi Mbak Putri di rumah sakit. Ibu saya tidur di kursi tunggu di depan ruang ICU selama waktu itu juga.
Ibu saya bilang, “tadi ada ustadznya rumah sakit yang datang ke mbah. Didoakan banyak hal. Tapi, yang utama diminta untuk keluarga sehari dua hari ini tidak kemana-mana.”
Meskipun pesannya tidak jelas, tapi saya yakin ibu saya dan keluarga yang lain tahu apa yang dimaksudkan. Usia Mbah Putri mungkin hanya hitungan hari, atau bahkan hitungan jam. Saya bilang ke ibu saya, “Bilang ke Mbah Putri, aku datang hari Jum’at. Tunggu ya.”
Saya berangkat ke Jakarta dengan perasaan kalut.
Saya kabari istri saya. Istri saya bertanya apa saya mau langsung ke Surabaya? Saya jawab sepertinya tidak bisa. Saya masih ada tanggung jawab yang harus diselesaikan. Saya sampaikan, hari Jum’at setelah kegiatan saya akan langsung ke Surabaya.
Selasa dan Rabu terlewat begitu saja ditengah kesibukan pekerjaan yang saya lakukan. Tertawa jadi salah satu bagian untuk sejenak melupakan kalut yang dirasakan. Tetapi, saat malam tiba. Saat saya sendiri, rasa kalut itu datang kembali. Saya takut Mbah Putri tidak bisa menyediakan waktu untuk saya. Toh, sebenarnya Mbah Putri sudah memberikan waktu satu bulan untuk saya.
Hari Kamis pun tiba, waktu menunjukan pukul 12:38 WIB. Ibu saya kembali menelepon. Saya sudah bisa menebak isi pembicaraannya.
Biasanya saya senang bila benar akan sesuatu, tapi ternyata untuk kali ini, saya tidak senang.
Mbah Putri meninggal di ruang ICU didampingi keluarganya.
Setelah mendengar kabar itu, emosi yang paling dominan adalah sedih dan marah.
Sedih karena tidak bisa bertemu setelah masuk rumah sakit, marah karena saya tidak bisa menyempatkan waktu untuk itu. Saya kecewa dengan diri saya sendiri.
Saya tutupi semua emosi itu dengan satu hal yang saya mahir menggunakannya. Saya tertawa, sebanyak-banyaknya.
Malamnya perasaan bersalah muncul kembali. Kali ini tidak bisa saya usir. Akhirnya saya biarkan saja perasaan itu mengalir. Saya coba hargai munculnya dan saya rasakan semua sensasinya.
Hari ini saya akan ke Surabaya, lalu melanjutkan perjalanan ke Jember dengan kereta. Lalu, berkendara sekitar 45 menit dari Jember ke Bondowoso.
Nanti saat saya tiba, kemungkinan besar Mbah Putri sudah dimakamkan. Mbah Putri akan dimakamkan di samping kedua makam kakak dan satu adik saya.
Saya tidak sempat menemui Mbah Putri lagi. Baik saat hidup, maupun saat Mbah Putri sudah tidak ada.
Kejadian ini membuat saya banyak berpikir, dan merasakan emosi yang sebelumnya memang tidak pernah saya munculkan sejak lama dalam waktu semalam. Mungkin untuk saya, keluarga akan selalu menjadi yang utama. Saya yakin pilihan akan karir kedepannya akan jauh lebih sulit, tetapi akhirnya saya mendapatkan gambaran jelas tentang apa yang saya mau.
—
Pada akhirnya Mbah Putri bisa dibujuk, Mbah Putri mau ke Bondowoso, meskipun saat Mbah Putri bisa sampai di Bondowoso, Mbah Putri sudah tidak mungkin bisa meyeduhkan saya teh lagi.