← kembali ke buku 24 Nov 2023

Saya bukan Jakarta

Narasi catatan lapangan Mas Bimo

Pekerjaan yang satu persatu terasa makin autopilot setiap harinya, membuat penghargaan diri akan emosi lainnya menjadi makin berkurang.

Emosi yang sering ditunjukkan belakangan ini adalah emosi marah dan emosi kecewa. Emosi lainnya terpaksa terpendam dalam-dalam karena memang tidak ada pemicunya yang dirasakan, bayangkan betapa menyedihkannya dari spektrum emosi yang sangat luas, hanya marah dan kecewa yang dirasakan.
Marah dan kecewa mudah sekali ditemukan pemicunya, biasanya dibarengi dengan gejala fisik sakit kepala.

Marah dan kecewa muncul ketika ada tidak sesuainya antara harapan dan kondisi yang terjadi. Terlebih apabila kita mengetahui bahwa kondisi yang terjadi seharusnya bisa jauh lebih baik dengan mengeluarkan usaha sekecil mau berkomunikasi. Mau memanusiakan orang lain. Mau memahami bahwa jabatan yang saat ini diterima, dibangun dengan tidak hanya satu atau dua orang yang menopangnya. Apalagi kalau bisa memahami bahwa rasa hormat tidak otomatis muncul karena ada tanda bintang di dada.

Tapi, biarkan kedua emosi tersebut saya tempatkan di kotak yang diberi label Jakarta. Toh, hanya menjadi sebagian kecil dari 26 tahun perjalanan hidup saya sampai saat ini. Biarkan saja Jakarta erat dengan kedua emosi tersebut, saya ternyata memang tidak menyukai kota ini. Untuk liburan seminggu, Jakarta menyuguhkan banyak hal. Untuk menjadi sebuah tempat tinggal, Mataram masih jauh lebih nyaman dari sisi manapun.

Saya sudah melihat salah satu wajah asli Jakarta, saat menyusuri jalan sempit di dekat Stasiun Manggarai. Terlihat bagaimana banyak orang bertaruh akan hidupnya di Jakarta. Banyak orang dengan latar belakang berbeda yang tidak bisa direduksi menjadi sebuah angka kuantitatif untuk menggambarkan kompleksnya permasalahan yang dihadapi tiap-tiap individu.

Jakarta tidak membiarkan orang-orang untuk mengurai masalahnya masing-masing. Jakarta tidak memberikan waktu kita sebagai manusia untuk tahu, mau, dan mampu memahami orang lain. Jakarta terlalu kuantitatif untuk saya yang kualitatif.

Jakarta menganggap bahwa kita semua ini hanya angka dengan legenda seadanya yang bila bergeser satu, angka lain dapat menggantikannya.

Jakarta lupa kalau setiap orang dengan memorinya masing-masing akan menjadi faktor terbesar memperpanjang umur Jakarta. Memori-memori kolektif yang diaamiinkan bersama menjadi kesepakatan yang menentukan definisi atas seseorang atau sesuatu.

Jakarta lupa bahwa tidak selamanya dirinya akan menjadi Jakarta.

Jakarta bukan saya.

Saya bukan Jakarta.

Catatan Lapangan · Mas Bimo