Anak itu tidak bisa bercerita
Beberapa malam lalu, saya membaca berita dari Surabaya.
Seorang bocah 10 tahun penyandang down syndrome meninggal di teras rumahnya sendiri.
Sehari-hari dia duduk di kursi roda, dari pagi sampai sore. Tidak bisa berdiri. Tidak bisa bicara. Penglihatannya juga tidak jelas. Bapaknya menyebut cerebral palsy, katarak di kedua matanya, dan jantung bocor.
Ibunya sedang ke pasar, berjualan sari kedelai. Ayahnya sedang tidur, baru habis minum obat. Waktu ibunya pulang, anak itu sudah biru. Ada tali sepatu di lehernya. Ada sabun colek di mulutnya. Tubuhnya ditaburi daun lamtoro.
Ada satu kalimat dari bapaknya yang saya simpan sampai sekarang. Dalam video yang beredar luas, dia bertanya seperti ini.
“Anak saya sudah melewati banyak operasi. Sudah sehat, kenapa dibunuh?”
Sampai sekarang saya juga belum punya jawaban untuk pertanyaan itu.
Berita itu saya baca sambil sesekali melihat anak yang sedang tidur di sebelah istri saya.
Lalu pertanyaannya datang sendiri, dan bentuknya sederhana sekali. Kalau itu anak saya, apa yang akan saya lakukan?
Sebulan sebelum ramai
Peristiwanya 12 September 2026. Kisahnya baru ramai di pertengahan Oktober. Hampir sebulan, dan sebulan itu terasa panjang kalau dibayangkan dari sisi keluarga yang menunggu.
Bukan karena tidak ada yang tahu. Keluarga itu sudah mengecek rekaman CCTV, melapor ke polisi, dan meminta bantuannya disebarkan supaya ada keadilan. Keluarganya sendiri yang harus mengejar perhatian, dan itu bagian yang paling sulit saya terima.
Dari rekaman itu terlihat dua anak tetangga masuk ke rumah secara bergantian sekitar pukul 08.15 pagi. Umur mereka 8 tahun dan 10 atau 11 tahun, tergantung media yang membacanya. Satu sudah ditetapkan sebagai tersangka. Satunya lagi belum.
Kedua anak itu sudah dikembalikan ke orang tuanya masing-masing, dengan pendampingan dinas yang mengurus perlindungan anak di kota itu. Proses hukumnya tetap jalan di kepolisian.
Sebagian besar keterangan di pemberitaan itu masih berupa dugaan. Perkaranya belum selesai, dan kita belum tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah itu.
Bapaknya bercerita, sekitar seminggu sebelum meninggal, anaknya pernah dikalungi tali tampar. Media menulis bagian tubuhnya berbeda-beda, ada yang menyebut pundak, ada yang menyebut leher. Ada yang melakukannya, dan anak yang dikalungi tidak bisa memberi tahu siapa.
Dia tidak bisa mengadu. Dia tidak bisa pulang lalu bercerita.
Untuk anak yang tidak bisa bercerita, orang dewasa di sekitarnya adalah satu-satunya alarm yang ada.
Bukan kamera. Bukan laporan. Bukan grup whatsapp tetangga. Orang dewasa yang kebetulan sedang ada di sana, sedang melihat, sedang mengawasi.
Kalau anak kita sendiri tidak bisa bercerita, dari mana kita akan tahu?
Tapi yang paling lama saya simpan dari semua pemberitaan itu justru kalimat bapaknya.
Dia tidak menuntut dua anak itu dipenjara. Dia minta mereka dibina sampai dewasa. Dididik agama dan akhlaknya. Dia hanya keberatan kalau cuma satu anak yang dibina.
Kalimat itu saya baca dua kali.
Tulisan ini bukan untuk menghakimi siapa pun soal kehadiran di rumah itu. Saya serius.
Ibunya ke pasar karena memang harus berjualan. Ayahnya tertidur karena habis minum obat. Sulit membayangkan ada di posisi mana kita kalau harus bekerja sambil menjaga anak yang tidak bisa ditinggal sendirian. Itu bukan kelalaian. Itu hidup yang harus dijalani, dan saya juga menjalaninya.
Soal siap
Saya punya anak yang juga berkebutuhan khusus.
Namanya Sena. Dia anak kedua saya. Gangguan tumbuh kembangnya sampai sekarang masih tanda tanya besar. Suaranya baru sebatas gumaman. Fisioterapinya tiga kali seminggu, dan selalu ada yang harus mengantar dan menemani.
Ada satu surat yang saya tulis untuk anak pertama, tahun 2020. Malam-malam, waktu dia masih kecil. Isinya janji. Saya akan selalu hadir dan terlibat dalam masa tumbuh kembangnya.
Janji itu ditulis dengan yakin sekali. Waktu itu saya belum tahu harganya.
Sekarang saya tahu. Istri saya bangun tiap tiga jam. Ada masa ketika pekerjaan membawa saya jauh dari rumah, dan malam-malam saya hanya bisa mendengar Sena lewat telepon.
Ada satu kalimat yang saya tulis tahun lalu: hadir ternyata bisa dari jauh, selama saya tidak pergi dari pikiran mereka. Saya masih percaya itu. Tapi saya juga tahu kalimat itu ditulis orang yang sedang mencari pembenaran.
Sekarang kami sudah serumah lagi. Tidak ada lagi kota yang harus saya seberangi untuk menemani Sena latihan. Saya tidak tahu apakah itu kebetulan, atau memang cara Tuhan menempatkan saya supaya bisa membersamai istri dan anak-anak. Saya tidak mau menyia-nyiakan yang sudah lebih mudah ini.
Sena belum pernah membaca satu pun tulisan itu. Suatu hari, kalau kamu sudah bisa bicara, mungkin kamu akan bilang ayahmu ini kebanyakan janji. Nak, ayahmu ini masih belajar. Sejauh ini kamu yang lebih banyak mengajari saya.
Ada satu hal yang perlu saya akui, dan ini soal pekerjaan saya sehari-hari.
Andai saya yang ditugaskan mendampingi dua anak itu, saya akan menolak.
Bukan karena saya tidak mau bekerja. Saya menolak karena tahu saya akan bias. Saya sudah memutuskan lebih dulu, sebelum membaca satu berkas pun, dan yang memutuskan itu bagian diri saya yang paling tidak sabar.
Pendampingan butuh kepala yang dingin, terutama untuk anak-anak yang perbuatannya sulit dimaafkan. Untuk kasus ini saya bukan orang yang dingin.
Mengetahui kapan kita bukan orang yang tepat juga bagian dari pekerjaan ini. Memaksa diri masuk hanya akan menghasilkan laporan yang penuh kemarahan, dan itu bukan pekerjaan pendampingan.
Jadi yang bisa saya pastikan tinggal satu hal. Orang yang tepat harus benar-benar ada untuk mereka.
Di kolom komentar, banyak orang menulis kalimat keras tentang orang tua yang tidak menjaga anaknya.
Saya tidak ikut.
Bukan karena saya tidak marah. Saya marah. Tapi saya tidak tahu apa yang terjadi di rumah dua anak itu. Apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar, apa yang tidak pernah ada untuk mereka, itu semua di luar jangkauan saya. Saya bukan orang yang berhak menebak.
Yang saya tahu cuma satu. Kehadiran bukan soal jumlah jam.
Kehadiran adalah soal memilih untuk tidak pergi dari pikiran anak kita, hari ini, lalu mengulanginya besok. Tidak ada ijazahnya. Tidak ada tesnya sebelum menikah, sebelum hamil, sebelum memutuskan punya anak.
Pernah merasa sudah cukup hadir, padahal cuma hadir di ruangan yang sama?
Mungkin memang tidak semua orang siap jadi orang tua.
Saya termasuk yang belum siap waktu itu.
Saya jadi ayah sebelum saya mengerti apa yang saya janjikan. Waktu itu saya pikir jadi ayah itu soal menyediakan. Sekarang saya tahu itu soal berada, dan soal mengulang berada setiap hari.
Siap itu pekerjaan harian. Ia tidak selesai setelah akad nikah, atau setelah anak pertama lahir.
Di rumah juga begitu. Anak masih sering saya titipkan ke layar karena ada pekerjaan yang harus selesai. Jujur saja, kehadiran itu kalah hampir setiap kali berhadapan dengan hal yang mendesak. Kita semua punya batas, dan batas itu paling kelihatan pada hari-hari yang biasa, bukan pada hari yang sulit.
Jadi saya tidak akan menutup tulisan ini dengan nasihat untuk orang tua lain.
Untuk rencana belajar saya nanti, saya ingin tahu lebih banyak soal bagaimana negara menopang keluarga yang mengasuh anak berkebutuhan khusus. Untuk keluarga saya sendiri dulu. Karena yang paling saya butuhkan bukan kalimat penyemangat. Saya butuh orang yang bisa menemani Sena selama dua jam.
Anak di Surabaya itu tidak bisa bicara. Dia tidak pernah bisa memberi tahu siapa yang menyakitinya. Dan dia meninggal di teras rumahnya sendiri.
Saya tidak tahu apakah saya akan berhasil menepati janji 2020 itu. Mungkin tidak.
Tapi malam ini saya akan menutup laptop, masuk ke kamar, dan mendengar napas mereka.
Cukup itu dulu.