← kembali ke buku 1 Apr 2021

Tong Kosong Integritas

Narasi catatan lapangan Mas Bimo

Mafia oksigen dan pemulsaran jenazah marak.

Terlalu banyak angka kematian untuk menormalkan kejadiannya.

Tahun ini jauh lebih banyak lagi lakonnya yang membuat was-was.

Kasus gagal ginjal yang marak pada usia anak. Kasus pembunuhan berencana dari aparat. Kasus-kasus lain yang serasa mengkurdilkan intelejensi masyarakat. Semuanya ditampilkan secara langsung 7 x 24 jam melalui media-media penyokong pembodohan bersama.

Sejak awal, masyarakat dianggap sebatas angka-angka oleh sekumpulan orang yang nir-empati. Sialnya, orang-orang yang nir-empati mempunyai kekuasaan. Mempunyai pengaruh.

Jargon-jargon integritas hanya sebatas hiasan di dinding-dinding rumah. Tidak malu menampakan jargon tersebut meskipun prosesnya penuh kebohongan. Si pemilik modal berupaya sebisa mungkin agar tetap untung. Si pembuat kebijakan tidak punya keajegan dalam berbagai keputusannya. Si masyarakat yang telah jengah, bergerak di akar rumput, saling membantu satu sama lain. Ada juga yang saling menghancurkan satu sama lain.

Kurikulum anti korupsi mungkin hanya sekedar proyek bancakan agar paket meeting bisa dilakukan. Masyarakat negara tersebut, oknumnya banyak yang tidak tahu malu. Tapi, terlalu enak kalau disebut oknum.

Selama ini negara tersebut bersembunyi di balik kata oknum untuk menyembunyikan ketidakmampuannya. Oknum adalah sinonim kabur. Sistem yang sudah terbangun bisa dengan mudah membuang “baut” yang tidak diperlukannya dengan kata oknum.

Mandat diberikan oleh rakyat kepada para perwakilannya. Saat pemberi mandat membutuhkannya, para perwakilannya banyak yang lupa.

“Kelompokku lebih penting.”

“Salah satu dari kami mati, dampaknya besar ke negara.”

Empati sebatas tong kosong yang berlubang. Sudah tahu berlubang, tapi tidak malu untuk ditampilkan. Menambal lubang tersebut dengan kebohongan lainnya, sampai suatu saat nanti tidak ada lagi yang bisa ditambal. Mereka lupa pertanggungjawaban akan diminta oleh pemberi mandat.

Tapi, boro-boro mau meminta pertanggungjawaban. Masyarakat juga sedang teralihkan karena ada kasus kanjuruhan yang menelan korban banyak, sampai hari kemarin ada 135 orang yang meninggal karena gas air mata dari aparat.

Masyarakat sampai menilai kalau penyelesaian masalah selama ini adalah dengan menambahkan masalah baru, hingga masalah yang awal dilupakan dengan sendirinya.

Sudah terlalu banyak yang meninggal karena lakon-lakon nir-empati. Angka-angka tersebut mewakili bapak/ibu/anak/keluarga/saudara/tetangga/orang tersayang/pasangan dari tiap-tiap orang lainnya.

Tapi, apa boleh dikata. Pilihan sudah dibuat. Konsekuensi harus diambil.

Tapi, tetap harus diingat.

Penagihan pertanggungjawaban akan dilakukan. Kematian yang terjadi menjadi beban darah pada pembuat keputusan. Kalau sadar.

Toh, kalau meninggal paling dukanya hanya seminggu. Setelah itu kembali ke kegiatan awal. Ada yang meninggal, tinggal melakukan copy paste ucapan duka saja dari pesan di atasnya.

“Turut berduka cita ya, semoga diberikan tempat terbaik.”

Begitu terus sampai ratusan chat terjadi.

Kehilangan memang merupakan hal yang sangat individual. Tapi, yang selalu perlu diingat. Ada campur tangan kita semua dari berbagai duka yang terjadi pada orang lain.

Mungkin selama ini kita sudah menjadi pegawai yang baik, suami yang baik, istri yang baik, anak yang baik, orangtua yang baik, dan berbagai peran lainnya yang disematkan pada kita. Tapi, kita juga selalu harus ingat bahwa kita lebih dari peran-peran yang disematkan pada kita.

Ketika peran-peran tersebut dihapuskan dan diambil.

Lalu, kamu itu apa dan siapa?

Barisan tong kosong integritas nir-empati?

Catatan Lapangan · Mas Bimo