← kembali ke buku 1 Jan 2024

Kembang apinya sudah menyala, lalu apa?

Narasi catatan lapangan Mas Bimo

Sepertinya para penyulut kembang api kurang briefing malam ini. Pukul 12 kurang 5 menit, sudah mulai menyala kembang api saling bersahutan, seperti menandakan bahwa ayo siap-siap keluar, lihat ini kembang api pergantian tahun akan mulai dinyalakan. Tepat 15 menit setelahnya, rangkaian kembang api sudah mulai jarang terdengar frekuensinya. Menandakan bahwa euforianya sudah mendekati waktu akhir.

Kembang apinya sudah menyala, lalu apa?

Kalau saya, akan memulainya dengan mensyukuri dan mengapresiasi istri saya dengan semua hal yang sudah dia lakukan di Tahun 2023. Sejak menikah di tahun 2021 tidak ada kebahagiaan yang dilewatkan sendiri-sendiri. Semuanya dilalui bersama sampai lahir anak pertama kami di 2022. Melihat tumbuh kembangnya bersama-sama, bergantian menggendong kalau Dinta mau tidur, atau menjadi teman bermainnya di kala tidak ada teman bermainnya yang datang ke rumah.

Tahun 2023 semuanya berubah. Saya harus meninggalkan istri saya di sini dengan anak saya sendirian. Tanpa ada keluarga. Saya pikir lagi, terkadang masih bodoh saja sepertinya pilihan hidup saya. Tapi, kalau tidak dilakukan sekarang bisa jadi jalan hidup kami tidak akan berubah ke arah yang lebih baik dan yang lebih diinginkan dan direncanakan. Bukan berarti rasa penyesalan itu tidak muncul di dada saya setiap kali kami video call, atau setiap Dinta menginginkan sesuatu yang karena jarak tidak bisa saya penuhi langsung saat itu juga.

Mungkin saat istri saya sedang sibuk juga, rasa beratnya tidak terlalu terasa. Tapi, saat sedang ada banyak tanggal merah dan ART kami tidak bisa hadir; baru beratnya terasa. Dinta sedang aktif-aktifnya. Setiap hari saya video call pasti Dinta sedang bermain atau sedang makan. Tidak terbayangkan, anak yang waktu masih bayi sempat didengarkan mengalami jantung berdesing dan harus seminggu ada di ruangan NICU; sekarang aktifnya melebihi anak seusianya. Cerewetnya minta ampun, yang kadang sampai istri kesulitan meladeninya.

Menjalani pernikahan terpisah jarak jauh memang susah-susah-susah, tidak ada gampangnya. Saya dan istri saling menguatkan di sepanjang jarak kami terpaut. Komunikasi dicoba untuk lebih intens, meski kadang dalam kondisi tertentu ada saja kesalahpahaman yang terjadi.

Kalau bukan karena istri saya, sepertinya akan uring-uringan saya menjalani hubungan jarak jauh ini. Istri saya yang memberikan tuntutan kepada saya untuk tidak lupa bahwa masih panjang proses yang akan dilalui kedepannya dalam kehidupan. Ini hanyalah bagian kecil dan sementara saja. Tahun 2024 ini semoga kami bisa serumah kembali. Sedih rasanya hanya menyaksikan tumbuh kembang Dinta melalui video call. Ingin rasanya untuk bisa mencium bau khas anak balita, atau dipeluk saat naik motor Honda beat yang ada di rumah, atau bermain air di panasnya terik cuaca.

Semuanya bisa dijalani sampai saat ini, saya bisa bilang 95% dari istri saya. Apa jadinya saya kalau tidak ada dia. Istri saya tidak pernah meminta berhenti untuk dicintai, saya pun demikian. Istri saya merupakan kebaikan yang selamanya akan saya banggakan. Istri saya adalah cantiknya dunia dan surga yang akan saya jaga selalu.

Sampai kapan pun.

Selamat tahun baru 2024. Lekas terwujud seluruh doa-doa yang sudah dipanjatkan.

Aamiin.

Catatan Lapangan · Mas Bimo