<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
<title>Catatan Lapangan - Mas Bimo</title>
<link>https://masbimo.pages.dev/</link>
<description>Buku catatan lapangan seorang pekerja sosial: tulisan, berkas, dan perjalanan Mas Bimo.</description>
<language>id-id</language>
<lastBuildDate>Tue, 08 Sep 2026 09:08:43 +0000</lastBuildDate>
<item><title>Dua Sembilan</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/dua-sembilan</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/dua-sembilan</guid><pubDate>Thu, 20 Aug 2026 18:51:45 +0000</pubDate><description>29 Angka itu terasa aneh pertama kali saya ucapkan kemarin. 29. Bukan lagi 22, yang semuanya masih bisa ditunda. Bukan juga 30, yang seolah harus sudah punya jawaban. 29 itu persis di tengah: masih cukup muda untuk bingung, sudah cukup tua untuk berhenti berpu...</description><content:encoded><![CDATA[<img loading="lazy" width="768" height="1024" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2026/08/mvimg_20260819_1044315839223531273600911.jpg?w=768" alt="" class="wp-image-3623" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2026/08/mvimg_20260819_1044315839223531273600911.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2026/08/mvimg_20260819_1044315839223531273600911.jpg?w=113 113w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2026/08/mvimg_20260819_1044315839223531273600911.jpg?w=225 225w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2026/08/mvimg_20260819_1044315839223531273600911.jpg?w=1440 1440w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2026/08/mvimg_20260819_1044315839223531273600911.jpg 1500w" sizes="auto, (max-width: 768px) 100vw, 768px" /></figure>

<p>29<br><br>Angka itu terasa aneh pertama kali saya ucapkan kemarin.<br><br>29. Bukan lagi 22, yang semuanya masih bisa ditunda. Bukan juga 30, yang seolah harus sudah punya jawaban. 29 itu persis di tengah: masih cukup muda untuk bingung, sudah cukup tua untuk berhenti berpura-pura.<br><br>Beberapa hari lalu, saya masuk usia 29 tahun.<br><br>Tidak ada yang berubah di hari itu. Tidak ada lonceng. Tidak ada sirene. Tidak ada kue yang kadang terlalu manis. </p>

<p>Saya hanya menjalani hari itu seperti hari-hari lain, dan membiarkan tahun itu datang tanpa sambutan. Mungkin memang begitu cara menua: perayaan yang makin pelan, syukur yang makin dalam.<br><br>Malamnya, saya membuka blog ini dan membaca tulisan-tulisan lama.<br><br>Tulisan pertama saya di 2019 masih berbau teori. Tentang pekerja sosial. Tentang keberfungsian sosial. Tentang relasi kuasa. Saya menulis untuk terlihat pintar, padahal saya sendiri belum paham apa-apa. Saya menulis untuk menjelaskan dunia yang bahkan belum saya kenal.<br><br>Lalu ada sajak-sajak. Tentang Jakarta dan ketersinggungannya, tentang kopi, tentang manusia-manusia yang menunggu. Tahun-tahun itu saya menulis untuk merasa. Untuk bertahan.<br><br>Tahun 2023 saya menulis &#8220;Izin untuk Menua&#8221;. Saya pikir itu tulisan tentang umur. Ternyata itu tulisan tentang melepas. Tentang hal-hal yang memang tidak bisa digenggam selamanya. Seingat saya saat itu ditulis saat sedang bertugas di Jayawijaya, Papua Pegunungan dengan Wana dan Alm. Bu Minar.<br><br>Tahun 2024 saya menulis tentang Dinta. Tentang anak pertama kami yang lahir di 2022. Tentang NICU, tentang jarak, tentang video call yang tidak pernah cukup. Saya menulis dari kejauhan, berharap cepat dekat.<br><br>Lalu tahun ini. Dua tulisan yang paling sulit saya tulis seumur hidup: &#8220;Sama-Sama&#8221; dan &#8220;sudah saatnya dilepas&#8221;.<br><br>Tentang anak kedua saya. Tentang tubuhnya yang tidak seharusnya begini. Tentang dokter yang memilih kata-kata dengan hati-hati, seolah setiap kata bisa pecah. Tentang hasil lab yang saya buka tengah malam lalu tutup lagi karena tidak kuat membacanya. Tentang gangguan tumbuh kembang yang masih tanda tanya besar.<br><br>Saya tidak tahu harus marah pada siapa. Tidak ada yang salah. Tidak ada yang bisa disalahkan. Dan justru itu yang paling menyiksa.<br><br>Dulu saya pikir menulis adalah tentang meninggalkan jejak. Tentang pembaca yang akan datang nanti. Tentang menjadi sesuatu.<br><br>Sekarang saya tahu: menulis adalah cara hadir.<br><br>Dan Sena, anak kedua saya, tanpa pernah membaca satu pun tulisan saya, mengajari saya arti hadir yang paling jujur.<br><br>Dia tidak tahu tentang target. Tidak tahu tentang rencana sebelum tiga puluh. Tidak tahu bahwa di luar sana orang-orang sibuk mengejar sesuatu. Yang dia tahu: ada tangan yang memegangnya. Sekarang. Hari ini. Tanpa jaminan besok.<br><br>Dulu saya menunggu. Menunggu gerak-geriknya menyusul usianya. Menunggu hasil lab yang menjelaskan segalanya.<br><br>Sekarang saya berhenti menunggu.<br><br>Saya belajar menikmati jarinya yang menggenggam jari saya. Menikmati matanya yang menatap tanpa bertanya. Menikmati malam-malam yang tidak bisa saya tebak akan berakhir bagaimana. Karena hadir bukan tentang berapa lama kita tinggal. Hadir adalah soal memilih untuk tidak pergi, di setiap waktunya.<br><br>Saya juga belajar dari istri saya yang bangun setiap tiga jam. Dari keluarga yang tidak banyak bicara tapi selalu ada. Dari dokter yang hati-hati memilih kata.<br><br>Bahwa menghadapi ini bukan soal siapa yang paling kuat. Ini soal siapa yang mau tetap ada. Hari ini. Besok. Lusa. Tanpa jaminan hasil.<br><br>Beberapa hari terakhir saya berada di Jepara. Dinas untuk persiapan MPLS Sekolah Rakyat Permanen Jepara. Menyusun jadwal, mengecek kesiapan, memastikan anak-anak yang akan datang punya tempat yang layak untuk memulai.<br><br>Sekolah Rakyat itu baru. Anak-anak yang akan masuk juga baru. Mereka belum tahu siapa saya. Yang mereka butuhkan hanya orang dewasa yang hadir, yang menyambut mereka di hari pertama.<br><br>Malamnya saya menelepon rumah. Sena sedang belajar menggerakkan tubuhnya, ditemani fisioterapi tiga kali seminggu. Suaranya masih gumaman-gumaman kecil. Tapi saya tetap mendengarkan sampai dia lelah.<br><br>Hadir ternyata bisa dari jauh. Selama saya tidak pergi dari pikiran mereka. Tapi, tidak untuk diulang lagi. Ada dekat keluarga selalu jadi rezeki terbesar saya <br><br>29 itu bukan angka yang istimewa. Tidak ada yang berubah di tubuh saya. Kekhawatiran bertambah satu dua.<br><br>Tapi ada satu hal yang berubah: saya makin yakin bahwa yang paling berharga bukan yang berhasil saya capai, melainkan yang berhasil saya hadiri.<br><br>Sena yang membangunkan kami di waktu subuh. Tawa Dinta yang berteriak &#8220;Sena!&#8221;. Tangan istri yang menggenggam kencang tanpa kata-kata. Itu semua tidak menunggu saya selesai menjadi apa-apa.<br><br>Dan tulisan ini, seperti tulisan-tulisan saya sebelumnya, adalah cara saya hadir. Untuk mereka. Untuk diri saya sendiri. Untuk 29 yang tidak saya undang, tapi saya terima.<br><br>Dan itu juga sudah cukup.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>sudah saatnya dilepas</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/sudah-saatnya-dilepas</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/sudah-saatnya-dilepas</guid><pubDate>Mon, 22 Jun 2026 11:56:19 +0000</pubDate><description>Tali-tali itu masih menggenggam erat. Merah, biru, jingga. Satu gugus besar menggembung di bawah langit cerah Sentra. Ada keranjang kecil di bawahnya berisi burung dara. Ringan. Hampir tidak terasa. Saya berdiri di antara para lansia yang duduk rapi di kursi m...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Tali-tali itu masih menggenggam erat.<br>Merah, biru, jingga. Satu gugus besar menggembung di bawah langit cerah Sentra.<br>Ada keranjang kecil di bawahnya berisi burung dara. Ringan. Hampir tidak terasa.</p>

<p>Saya berdiri di antara para lansia yang duduk rapi di kursi merah. Beberapa memakai tongkat bantu jalan. Beberapa lagi menunduk, mungkin mengantuk, mungkin mengingat sesuatu. Hari Lanjut Usia Nasional. Spanduknya terbentang di depan lapangan. Anginnya tidak kencang, tapi cukup untuk membuat balon-balon itu bergerak pelan.</p>

<p>Saya pegang talinya. Kencang. Mungkin terlalu kencang.<br />Karena saya sedang tidak ingin kehilangan sesuatu hari ini.<br />Karena belakangan ini, rasanya semua yang saya pegang selalu ingin lepas.</p>

<p>Sejak beberapa minggu lalu, ada hal yang mengubah segalanya.<br />Yang biasanya tidur nyenyak setelah subuh, sekarang terjaga menatap langit-langit.<br />Yang biasanya mengecek ponsel untuk pesan kerja, sekarang mengecek hasil lab.<br />Yang biasanya pulang ke rumah dengan ringan, sekarang berhenti dulu di depan pintu. Menarik nafas. Baru masuk.</p>

<p>Ada yang sakit di dalam.<br />Bukan sakit yang bisa diobati dengan minum air putih dan tidur siang.<br />Ini sakit yang jenisnya tidak pernah kita pelajari sebelumnya.</p>

<p>Tentang anak.<br />Tentang tubuhnya yang tidak seharusnya begini.<br />Tentang dokter yang bicara dengan hati-hati, seolah setiap kata bisa pecah.<br />Tentang diagnosis yang belum selesai, yang masih tanda tanya besar, yang membuat kita googling tengah malam lalu menutup layar karena tidak kuat membaca hasilnya.</p>

<p>Saya tidak tahu harus marah pada siapa.<br />Tidak ada yang salah. Tidak ada yang bisa disalahkan.<br />Dan justru itu yang paling menyiksa.</p>

<p>Ada yang memilih diam lebih lama dari biasanya.<br />Ada yang berbicara, tetapi hanya seperlunya.<br />Dan ada yang memeluk lebih erat dari biasanya, tanpa alasan, tanpa kata-kata.</p>

<p>Saya perhatikan istri saya.<br />Yang biasanya langsung tertawa kalau ada hal konyol, sekarang senyumnya butuh waktu lebih lama untuk muncul.<br />Yang biasanya cepat mengambil keputusan, sekarang duduk termenung di tepi kasur, menatap dinding.<br />Yang biasanya bilang &#8220;nanti juga baik-baik saja,&#8221; sekarang hanya memegang tangan saya. Kencang.</p>

<p>Dan saya?<br />Saya menutupi semua emosi itu dengan satu hal yang saya mahir menggunakannya.<br />Saya sibuk. Sebanyak-banyaknya.<br />Kerja. Rapat. Koordinasi. Laporan.<br />Sampai pada satu titik, saya sadar: saya sedang lari.<br />Dan lari itu tidak akan ke mana-mana.</p>

<p>Balon-balon itu mulai dilepaskan.</p>

<p>Satu. Dua. Lusinan.<br />Merah naik duluan. Biru menyusul. Jingga bergerombol di tengah, lambat, seperti ragu.<br />Dan yang hijau, yang paling kecil, naik paling akhir. Sendirian. Pelan sekali.</p>

<p>Saya tidak ikut melepas.<br />Saya masih menggenggam satu. Kencang.<br />Dan lama-lama, tali itu melukai telapak tangan.</p>

<p>Sampai pada satu titik yang lain.<br />Yang lebih jujur.<br />Yang lebih berat dari sekadar sedih.</p>

<p>Bahwa ada hal-hal yang memang harus dilepas.<br />Bukan karena tidak sayang.<br />Bukan karena menyerah.<br />Tapi karena menggenggam terlalu kencang justru membuat semuanya sakit.</p>

<p>Yang biasanya saya bawa pulang setiap malam, sekarang saya coba taruh di depan pintu.<br />Yang biasanya saya pikirkan sebelum tidur, sekarang saya coba serahkan kepada Tuhan.<br />Yang biasanya membuat dada sesak tanpa sebab, sekarang saya coba akui: ini namanya takut.</p>

<p>Saya takut.<br />Takut tidak bisa memberikan yang terbaik.<br />Takut salah langkah. Salah pilih dokter. Salah formula susu. Salah waktu.<br />Takut suatu hari anak saya bertanya kenapa, dan saya tidak punya jawaban.</p>

<p>Tapi saya juga belajar sesuatu.<br />Dari istri saya yang bangun setiap tiga jam untuk menyusui.<br />Dari keluarga yang tidak banyak bicara tapi selalu ada.<br />Dari dokter yang hati-hati memilih kata, bukan karena ragu, tapi karena peduli.</p>

<p>Bahwa menghadapi ini bukan soal siapa yang paling kuat.<br />Ini soal siapa yang mau tetap ada.<br />Hari ini. Besok. Lusa. Tanpa jaminan hasil.</p>

<p>Balon yang saya pegang tadi sudah tidak ada.<br />Entah kapan saya melepasnya.<br />Mungkin tangan saya sudah terlalu lelah. Mungkin sudah waktunya.</p>

<p>Langitnya masih cerah.<br />Para lansia sudah masuk kembali ke bawah tenda<br />Tinggal tali yang tergeletak di lapangan.</p>

<p>Anak saya belum tahu apa-apa tentang hari ini.<br />Tentang Hari Lanjut Usia. Tentang balon-balon. Tentang bapaknya yang berdiri di lapangan, memikirkan hal-hal yang terlalu besar untuk dipegang sendiri.</p>

<p>Yang dia tahu, ada tangan yang memegangnya.<br />Dan tangan itu, sekeras apa pun menggenggam, akhirnya juga belajar:<br />Bahwa melepas bukan berarti tidak peduli.<br />Bahwa melepas kadang adalah supaya tangan kita lebih kuat menggenggam yang lebih penting.</p>

<p>Saya melepas ketakutan itu hari ini.<br />Bukan karena semuanya sudah selesai.<br />Tapi karena ada yang lebih perlu saya pegang.<br />Anak saya. Istri saya. Keluarga saya.</p>

<p>Dan balon yang dilepas pada waktunya, naik tinggi. Masih terlihat. Masih berwarna. Masih terbang.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Sama-Sama</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/sama-sama</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/sama-sama</guid><pubDate>Wed, 27 May 2026 07:20:23 +0000</pubDate><description>Hanya suara nafas kecil dari kasur sebelah istri. Tidurnya pulas. Saya tidak bisa tidur. Bayi di sebelah saya belum genap setahun. Masih belum bisa bicara. Masih belum bisa jalan. Masih menggenggam jari saya seperti pegangan satu-satunya di dunia. Di kasur seb...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Hanya suara nafas kecil dari kasur sebelah istri. Tidurnya pulas. Saya tidak bisa tidur.</p>

<p>Bayi di sebelah saya belum genap setahun. Masih belum bisa bicara. Masih belum bisa jalan. Masih menggenggam jari saya seperti pegangan satu-satunya di dunia.</p>

<p>Di kasur sebelah, kakaknya tidur. Mainan bertebaran. Bekas air mata masih mengering di pipi karena sore tadi rebutan boleh tidak minum vitamin c lagi yang dosisnya direkomendasikan sebutir per hari. Esok pagi dia akan bangun, langsung lari, dan berteriak: &#8220;Sena!&#8221;</p>

<p>Dia juga baru belajar jadi kakak.</p>

<p>Saya menatap bayi saya, lalu saya sadar sesuatu.</p>

<p>Bukan hanya saya yang baru jadi orangtua untuk kedua kalinya, yang ternyata sama sulitnya dengan yang pertama, hanya dengan jenis kepanikan yang berbeda. Bukan hanya dia yang baru jadi anak kedua.</p>

<p>Kakaknya juga baru.</p>

<p>Baru jadi kakak. Baru belajar berbagi perhatian. Baru belajar bahwa ibu dan bapak tidak lagi hanya miliknya. Baru belajar bahwa cinta tidak habis dibagi, tapi rasanya tetap aneh ketika harus antre digendong.</p>

<p>Saya melihatnya minggu lalu, diam-diam menyelimuti adek bayinya. Lalu pura-pura tidak melakukan apa-apa. Saya pura-pura tidak melihat.</p>

<p>Dia belajar dengan caranya sendiri. Saya juga.</p>

<p>Di jam tiga pagi, ketika bayi menangis dan saya tidak tahu kenapa, saya gendong. Saya ayun. Saya nyanyikan lagu yang liriknya saya hafal. Kadang mempan. Kadang tidak.</p>

<p>Dia menangis lebih keras.</p>

<p>Saya diam.</p>

<p>Saya berikan asi dalam botol.</p>

<p>Masih menangis</p>

<p>Ternyata popoknya penuh.</p>

<p>Pagi harinya, kakak bangun dengan mata sembab karena tidur kurang nyenyak, karena tangisan adik, karena mimpi, karena apalah. Dia tidak bisa menjelaskan. Dia hanya rewel. Saya juga rewel. Kami saling rewel di meja makan.</p>

<p>Tidak ada yang salah. Hanya sama-sama lelah.<br>Sama-sama baru menjalani peran yang belum sempat dilatih.</p>

<p>Saya membaca postingan teman-teman. Foto anak. Caption bahagia. Ucapan syukur. Tidak ada yang bilang: &#8220;Saya tidak tahu apa yang saya lakukan.&#8221; Tidak ada yang ngaku: &#8220;Saya takut.&#8221;</p>

<p>Tapi kita semua takut.<br />Kita semua tidak tahu.<br />Kita semua belajar sambil jalan.</p>

<p>Anak pertama belajar jadi kakak. Anak kedua belajar jadi adik. Kami belajar jadi orangtua dari dua anak yang berbeda kebutuhan, berbeda usia, berbeda cara menangis, berbeda cara tertawa. Tidak ada sekolah untuk ini. Tidak ada buku yang benar-benar siap.</p>

<p>Pendidikan pekerja sosial saya dan pendidikan anak usia dini ibunya hanya memberi pondasi dalam pengasuhan anak. Apalagi anak sendiri.</p>

<p>Kadang saya lihat mereka berdua. Kakak memegang tangan adek dengan hati-hati, seperti memegang barang pecah belah. Adek menatap kakak dengan mata yang masih belum fokus penuh, tapi sudah ada pengenalan di sana.</p>

<p>Mereka tidak tahu bahwa ini pertemuan pertama mereka di dunia.<br />Mereka tidak tahu bahwa mereka akan bertengkar suatu hari nanti.<br />Mereka tidak tahu bahwa mereka akan saling membela, saling mengkhianati, saling merindukan.</p>

<p>Sekarang mereka hanya dua anak kecil yang saling menatap.</p>

<p>Sama-sama baru.<br />Sama-sama belajar apa artinya punya saudara.</p>

<p>Tidak ada yang sudah pernah melakukan ini sebelumnya.</p>

<p>Bukan saya.<br />Bukan istri saya.<br />Bukan kakaknya.<br />Bukan bayinya.</p>

<p>Empat orang. Empat peran baru. Satu rumah yang sama-sama belajar.</p>

<p>Anak pertama belajar jadi kakak dengan cara jatuh bangun. Anak kedua belajar jadi adik dengan cara menunggu giliran. Kami belajar jadi orangtua dari dua anak, yang ternyata bukan perkara membagi cinta jadi dua, tapi melipatgandakan ketidakmampuan jadi empat.</p>

<p>Besok pagi, bayi akan bangun dan menangis. Kakaknya akan rebutan remote TV lagi. Istri saya akan mencari botol susu sambil saya mencari kaus kaki yang hilang.</p>

<p>Sama seperti hari ini.<br />Sama seperti kemarin.</p>

<p>Kami masih belum jadi ahli.<br>Tapi kami masih di sini.<br>Bersama.</p>

<p>Cukup itu saja.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Bukan tentang ingin menjadi siapa</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/bukan-tentang-ingin-menjadi-siapa</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/bukan-tentang-ingin-menjadi-siapa</guid><pubDate>Thu, 16 Apr 2026 17:40:41 +0000</pubDate><description>Catatan yang tersimpan di draf sejak November 2024 Tuhan tidak selalu mengajarkan lewat hal-hal yang baik. Ada masa ketika kita berada di sebuah ruangan dan mendengar banyak hal yang terasa janggal. Pertanyaan dijawab setengah. Penjelasan berputar tanpa benar-...</description><content:encoded><![CDATA[<pre class="wp-block-verse">Catatan yang tersimpan di draf sejak November 2024</pre>

<p>Tuhan tidak selalu mengajarkan lewat hal-hal yang baik.</p>

<p><br />Ada masa ketika kita berada di sebuah ruangan dan mendengar banyak hal yang terasa janggal. Pertanyaan dijawab setengah. Penjelasan berputar tanpa benar-benar sampai. Sesekali muncul jeda yang terasa canggung, dan tidak ada yang benar-benar memahami. Hanya suara kompresor AC sentral yang mengisi ruangan.</p>

<p><br />Semua berjalan seperti biasa.</p>

<p><br />Setidaknya terlihat begitu.</p>

<p><br />Namun pelan-pelan ada yang berubah. Cara orang saling memandang tidak lagi sama. Ada yang memilih diam lebih lama dari biasanya. Ada yang berbicara, tetapi hanya seperlunya.</p>

<p><br />Hal-hal yang dulu terasa sederhana mulai terasa jauh. Ucapan terima kasih tidak lagi terdengar sesering dulu. Perhatian terasa seperti kewajiban, kebersamaan ada tetapi tidak selalu membawa rasa tenang. Dan entah sejak kapan, semua itu mulai terasa biasa.</p>

<p><br />Mungkin ini yang paling berbahaya. Kita berhenti mempertanyakannya. Kita menyesuaikan diri tanpa sadar. Belajar untuk tidak terlalu banyak bertanya. Belajar menerima jawaban yang tidak benar-benar menjawab. Sampai pada satu titik, kita berhenti mengharapkan sesuatu yang dulu terasa wajar.</p>

<p><br />Batas justru terlihat dari hal-hal yang tidak ingin kita tiru. Dan mungkin doa yang paling jujur memang bukan tentang ingin menjadi siapa.</p>

<p><br />Cukup ini saja.</p>

<p><br />Semoga suatu hari nanti, ketika kita berada di tempat yang menentukan arah, orang lain tidak perlu belajar dari kita tentang hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Belum Jatuh, Tapi Belum Aman: Cerita Tentang Kelas Menengah Indonesia</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/belum-jatuh-tapi-belum-aman-cerita-tentang-kelas-menengah-indonesia</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/belum-jatuh-tapi-belum-aman-cerita-tentang-kelas-menengah-indonesia</guid><pubDate>Fri, 27 Mar 2026 21:06:37 +0000</pubDate><description>Belakangan ini ada satu rasa yang sering muncul. Bukan panik. Bukan juga putus asa. Lebih seperti waswas yang pelan-pelan menetap. Pernah merasa semua masih berjalan normal, tapi ruang bernapas terasa makin pendek? Hidup masih berjalan seperti biasa. Orang mas...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Belakangan ini ada satu rasa yang sering muncul.<br>Bukan panik.<br>Bukan juga putus asa.<br>Lebih seperti waswas yang pelan-pelan menetap.</p>

<p>Pernah merasa semua masih berjalan normal, tapi ruang bernapas terasa makin pendek?</p>

<p><br>Hidup masih berjalan seperti biasa. Orang masih kerja. Masih berangkat pagi. Masih pulang malam. Masih bayar cicilan. Masih belanja kebutuhan rumah.<br>Tapi entah kenapa, rasanya ruang hidup makin sempit.</p>

<p><br>Sedikit harga naik, langsung terasa.</p>

<p><br>Sedikit penghasilan terganggu, langsung goyah.</p>

<p><br>Sedikit ada pengeluaran tak terduga, langsung bikin hitung-hitungan berubah.</p>

<p><br>Pelan-pelan kita mulai menyadari sesuatu.<br>Banyak orang sebenarnya hidup di batas yang tipis.<br>Belum jatuh.<br>Tapi juga belum benar-benar aman.</p>

<p><br>Saya teringat tulisan saya sebelumnya tentang Iran. Tentang bagaimana sesuatu yang terjadi jauh di peta bisa sampai ke dapur kita sendiri.<br>Timur Tengah adalah salah satu kawasan kunci dalam pasokan energi dunia. Ketika konflik mengganggu pasokan energi, harga minyak biasanya ikut bergerak. Ketika harga minyak naik, ongkos transport ikut naik. Dan ketika ongkos transport naik, harga barang di pasar juga ikut terdorong.</p>

<p><br>Yang tadinya terasa seperti urusan geopolitik akhirnya masuk ke kehidupan sehari-hari.</p>

<p><br>Beberapa negara di Asia Tenggara berusaha menahan dampak itu. Ada yang mempertahankan subsidi energi, ada yang menyiapkan dana darurat energi, ada juga yang mempercepat penggunaan bahan bakar alternatif.<br>Tujuannya sama: menahan guncangan supaya tidak langsung jatuh ke rumah tangga.</p>

<p><br>Karena ketika energi terganggu, yang pertama terasa bukan meja perundingan.<br>Yang pertama terasa justru isi dompet orang biasa.</p>

<p><br>Harga makan.<br>Harga transport.<br>Harga kebutuhan sehari-hari.</p>

<p><br>Di titik ini, cerita tentang kelas menengah Indonesia menjadi semakin relevan.<br>Menurut rilis  Badan Pusat Statistik, pada September 2024 jumlah kelas menengah Indonesia sekitar 48,41 juta orang. Sementara kelompok aspiring middle class mencapai sekitar 138,31 juta orang.</p>

<p><br>Artinya sederhana.</p>

<p><br>Kelompok yang benar-benar berada di zona aman ternyata tidak terlalu besar. Sebaliknya, lapisan masyarakat yang hidup tepat di bawah kelas menengah justru sangat besar.</p>

<p><br>BPS mendefinisikan aspiring middle class sebagai kelompok dengan tingkat pengeluaran sekitar 1,5 sampai 3,5 kali garis kemiskinan. Mereka tidak lagi tergolong miskin, tetapi juga belum memiliki bantalan ekonomi yang cukup kuat.</p>

<p><br>Dengan kata lain, mereka masih bisa hidup dengan relatif layak.<br>Tapi ruang napasnya belum luas.<br>Harga naik sedikit terasa.<br>Pendapatan terganggu sedikit terasa.<br>Ada pengeluaran tak terduga langsung terasa.<br>Itulah yang disebut aspiring middle class.<br>Orang-orang yang sedang berusaha naik ke kelas menengah, tapi belum sampai sepenuhnya.</p>

<p><br>Dan jujur saja, kalau melihat definisinya, saya kadang bertanya dalam hati:<br>jangan-jangan saya juga ada di kelompok itu.</p>

<p><br>Mungkin juga banyak pembaca tulisan ini.</p>

<p><br>Masih bisa hidup dengan layak.<br>Masih bisa bekerja.<br>Masih bisa memenuhi kebutuhan.<br>Tapi kalau ada guncangan besar, kita belum tentu benar-benar aman.</p>

<p><br>Di titik ini saya jadi teringat satu hal lain yang sering dibicarakan belakangan: DTSEN.</p>

<p><br>Pemerintah sekarang menggunakan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional sebagai basis untuk berbagai program bantuan sosial.</p>

<p><br>Cara sederhana memahami sistem ini adalah lewat desil.<br>Bayangkan saja seperti tangga dengan sepuluh anak tangga.<br>Desil 1 adalah rumah tangga dengan kondisi ekonomi paling rentan.<br>Desil 10 adalah yang paling kuat.<br>Setiap desil mewakili sekitar sepuluh persen rumah tangga.</p>

<p><br>Program bantuan sosial biasanya diprioritaskan untuk kelompok di bagian bawah tangga ini, terutama desil 1 sampai 4.</p>

<p><br>Tapi kehidupan tidak selalu tetap.<br>Ada keluarga yang ekonominya membaik.<br>Ada juga yang justru menurun.<br>Karena itu data seperti DTSEN sebenarnya tidak dimaksudkan sebagai label permanen.</p>

<p><br>Jika kondisi rumah tangga berubah, pembaruan data bisa diajukan melalui desa atau kelurahan, melalui dinas sosial, atau lewat aplikasi Cek Bansos milik Kementerian Sosial. Data tersebut kemudian diverifikasi sebelum diperbarui dalam sistem.</p>

<p><br>Artinya, posisi seseorang dalam desil tidak selalu tetap.<br>Ia bisa berubah seiring perubahan kondisi hidup.<br>Dan di sinilah cerita tentang aspiring middle class terasa penting.</p>

<p><br>Kelompok ini sering berada di ruang yang tidak sepenuhnya terlihat dalam statistik bantuan sosial, tetapi juga belum cukup kuat untuk benar-benar aman.<br>Mereka masih bisa bertahan.<br>Tapi bertahan dengan napas pendek.<br>Ketika harga energi naik karena konflik global, mereka yang paling cepat merasakannya.</p>

<p><br>Ketika biaya hidup naik pelan-pelan, mereka yang paling cepat harus menyesuaikan.</p>

<p><br>Mungkin itu sebabnya data tentang kelas menengah terasa lebih dari sekadar statistik.<br>Ia memberi gambaran tentang bantalan ekonomi sebuah masyarakat.</p>

<p><br>Kalau kelas menengah kuat, guncangan ekonomi biasanya masih bisa diredam.<br>Tapi ketika lapisan masyarakat yang hidup tepat di bawah kelas menengah sangat besar, artinya semakin banyak orang hidup di batas yang rapuh.</p>

<p><br>Belum jatuh.<br>Tapi juga belum tenang.<br>Dan hidup di batas seperti itu sering tidak terasa dramatis.</p>

<p><br>Tidak ada sirene.</p>

<p><br>Tidak ada alarm besar.</p>

<p><br>Yang ada hanya perubahan kecil yang terus menumpuk.</p>

<p><br>Harga naik sedikit.<br>Biaya hidup naik sedikit.<br>Ruang bernapas makin sempit sedikit.<br>Sampai suatu saat kita sadar bahwa banyak orang sebenarnya sedang berjalan di atas lantai yang retak.<br>Pelan-pelan.</p>

<p><br>Dan retaknya belum tentu berhenti.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Basa-basi Lebaran, Edisi: Kenapa Perang di Iran Bisa Sampai ke Harga Sayur</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/basa-basi-lebaran-edisi-kenapa-perang-di-iran-bisa-sampai-ke-harga-sayur</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/basa-basi-lebaran-edisi-kenapa-perang-di-iran-bisa-sampai-ke-harga-sayur</guid><pubDate>Fri, 20 Mar 2026 13:28:57 +0000</pubDate><description>Ada satu momen yang hampir selalu muncul setiap Lebaran. Setelah salaman dan selesai mengucapkan “mohon maaf lahir batin”, percakapan biasanya bergerak ke arah yang kurang lebih sama setiap tahun. “Kerja di mana sekarang?” “Anak sudah berapa?” “Rumah di mana s...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Ada satu momen yang hampir selalu muncul setiap Lebaran.<br /><br />Setelah salaman dan selesai mengucapkan &#8220;mohon maaf lahir batin&#8221;, percakapan biasanya bergerak ke arah yang kurang lebih sama setiap tahun.<br /><br />&#8220;Kerja di mana sekarang?&#8221;&nbsp; <br />&#8220;Anak sudah berapa?&#8221;&nbsp; <br />&#8220;Rumah di mana sekarang?&#8221;<br /><br />Kadang muncul juga topik yang sedikit lebih besar.<br /><br />Misalnya tiba-tiba ada paman yang berkata,<br /><br />&#8220;Ini perang Iran bikin harga minyak naik.&#8221;<br /><br />Biasanya meja makan langsung sedikit hening.<br /><br />Bukan karena tidak peduli. Tapi karena kebanyakan dari kita sebenarnya tidak benar-benar tahu bagaimana perang di Timur Tengah bisa sampai dibicarakan di ruang tamu rumah sendiri.<br /><br />Kalau suatu hari kamu berada di situasi seperti itu, tulisan ini mungkin bisa dianggap semacam buku saku kecil untuk basa-basi Lebaran edisi perang Iran.</p>

<h2 class="wp-block-heading">Kenapa Perang di Iran Masuk ke Obrolan Kita</h2>

<p>Sejak akhir Februari 2026, ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat memuncak setelah serangan udara terhadap fasilitas militer Iran memicu konflik terbuka di kawasan tersebut. Berbagai media internasional, mulai dari Reuters hingga Al Jazeera, menyebutnya sebagai situasi paling panas di kawasan Teluk dalam satu dekade terakhir.<br /><br />Bagi banyak orang di Indonesia, tempat itu terasa sangat jauh.<br /><br />Tapi pamanmu tadi tidak salah. Wilayah itu memegang satu hal yang sangat penting bagi dunia: energi.<br /><br />Di dekat Iran ada jalur laut bernama <strong>Selat Hormuz.</strong><br /><br />Sekitar 20 persen minyak dunia melewati jalur ini setiap hari, sekitar 17 hingga 21 juta barel, menurut lembaga energi pemerintah Amerika Serikat ini jalur nadi.<br /><br />Bayangkan saja seperti DC Cakung, pusat distribusi paket Shopee yang biasanya sudah penuh sesak bahkan sebelum Lebaran tiba. Kalau jalannya macet atau ada yang rusak, paketmu tidak akan sampai tepat waktu, seberapa pun cepatnya penjual mengirim dari gudang.<br /><br />Begitu juga dengan minyak.</p>

<p><strong>Kenapa harga minyak langsung naik?</strong><br /><br />Ketika konflik meningkat, kapal tanker mulai berhati-hati melewati kawasan tersebut. Bukan tanpa alasan. Sudah ada kejadian nyata: sebuah kapal tanker berbendera Thailand dilaporkan mengalami insiden di dekat perairan Oman. Beberapa fasilitas energi di kawasan Teluk juga terdampak serangan.<br /><br />Pamanmu yang bicara di meja makan itu, diam-diam, sedang membicarakan hal yang sama yang sedang dibicarakan para pedagang minyak di London dan Singapura.<br /><br />Akibatnya, pasokan minyak dunia ikut terganggu. Harga minyak yang sebelumnya berada di kisaran 70 dolar per barel sempat melonjak mendekati 100 dolar per barel. Naik lebih dari 40 persen hanya dalam beberapa minggu.<br /><br />Angka itu sering disebut di berita, tapi sebenarnya sulit dibayangkan.<br /><br />Satu barel minyak berisi sekitar 159 liter. Kalau harganya sekitar 100 dolar per barel dengan kurs sekitar Rp16.000, artinya satu liter minyak mentah harganya sekitar 10 ribu rupiah. Dan itu masih minyak mentah, belum diolah, belum jadi bensin, belum kena pajak, belum ongkos kirim.<br /><br />Karena itu ketika harga minyak dunia naik, yang terasa di masyarakat justru hal-hal yang lebih dekat.<br /><br />Harga bensin bisa naik. Biaya transportasi ikut naik. Biaya pengiriman barang juga naik. Dan kalau biaya pengiriman naik, harga barang lain sering ikut bergerak, bahkan barang yang kelihatannya tidak ada hubungannya sama sekali dengan minyak.</p>

<p><br /><strong>Dampaknya Tidak Berhenti di Minyak</strong><br /></p>

<p>Di sinilah bagian yang sering luput dari percakapan Lebaran.<br /><br />Konflik ini juga menyentuh sektor gas alam. Qatar, tetangga Iran yang ikut terdampak situasi kawasan yang memanas, adalah salah satu negara pengekspor gas terbesar di dunia. Mereka menyuplai sekitar 20 persen kebutuhan gas dunia, menurut laporan industri energi global. Ketika fasilitas energi di kawasan Teluk mulai terdampak serangan, kemampuan Qatar untuk mengirim gas ke negara lain pun ikut terganggu.<br /><br />Dan gas tidak hanya dipakai untuk listrik.<br /><br />Gas adalah bahan baku utama untuk membuat pupuk. Bukan sembarang pupuk, tapi jenis yang paling banyak dipakai petani di seluruh dunia, termasuk petani di Indonesia.<br /><br />Di sinilah rantainya mulai merambat ke hal yang tidak pernah kita bayangkan berkaitan dengan perang.<br /><br />Kalau gas mahal, biaya membuat pupuk ikut naik. Kalau pupuk mahal, petani terpaksa mengurangi penggunaan atau menaikkan harga jual hasil panen. Kalau biaya bertani naik, harga bahan pangan di pasar ikut bergerak.<br /><br />Mulai dari beras, sayur, sampai jagung.<br /><br />Perang yang terjadi ribuan kilometer dari sini pelan-pelan bisa merambat sampai ke sawah di sebelah rumahmu. Yang beberapa tahun ke depan mungkin sudah berubah jadi perumahan.<br /><br /><strong>Lalu, Seberapa Rentan Indonesia?</strong></p>

<p><br>Ini bagian yang jarang dibahas tapi penting untuk diketahui, terutama kalau pamanmu bertanya lebih lanjut.<br><br>Indonesia sebenarnya bukan negara yang sepenuhnya lepas dari gejolak harga minyak dunia. Meski Indonesia punya sumur minyak sendiri, kenyataannya kita membeli lebih banyak minyak dari luar negeri daripada yang bisa kita produksi sendiri. Pertamina mengimpor sekitar 40 sampai 50 persen kebutuhan minyak dalam negeri, tergantung kondisi produksi nasional.<br><br>Artinya sederhana: ketika harga minyak dunia naik, tagihan impor kita ikut membengkak.<br><br>Yang selama ini menahan dampak itu agar tidak langsung terasa ke kantong masyarakat adalah subsidi dari pemerintah. Bayangkan kalau BBM Ron 90 yang biasa kamu pakai harganya tiba-tiba menjadi Rp15.000 per liter. Ada berapa juta keluarga yang tidak akan bisa mudik? Ada berapa penjual gorengan yang terpaksa berhenti jualan karena ongkos kirim bahan baku terlalu mahal?<br><br>Subsidi memang menahan itu semua. Tapi subsidi juga punya batas kemampuan. Semakin lama harga minyak tinggi, semakin besar pengeluaran pemerintah untuk menutupnya. Dan ketika uang pemerintah mulai terbatas, pilihan-pilihan sulit pun mulai masuk ke meja rapat kabinet.<br><br><strong>Cara Menjelaskan Ini ke Keluargamu di Meja Makan saat Lebaran</strong><br><br>Kalau ada yang bertanya lebih lanjut setelah pamanmu membuka topik tadi, kamu tidak perlu menjelaskan semuanya panjang lebar.<br><br>Cukup bilang kira-kira begini:<br><br><em><strong>&#8220;Perang bikin jalur minyak dunia terganggu. Minyak naik, gas juga ikut mahal. Kalau energi mahal, transportasi dan pupuk juga mahal. Ujung-ujungnya harga barang bisa ikut naik. Pemerintah lagi nahan pakai subsidi, tapi itu juga ada batasnya.&#8221;</strong></em><br><br>Biasanya setelah itu orang akan mengangguk.<br><br>Dan pamanmu, yang tadi membuka topik berat di meja makan, mungkin akan sedikit kaget kamu bisa menjawab sepanjang itu.<br><br>Percakapan pun bisa lanjut ke topik lain. Calo penukaran uang baru, misalnya. Atau cerita mudik yang macet di Tol Bawen.<br><br><strong>Kenapa Dampaknya Belum Terasa Terlalu Tajam</strong><br><br>Mungkin karena itu pula, sampai sekarang dampaknya belum terasa terlalu dalam bagi banyak orang.<br><br>Sebagian karena pemerintah mencoba menjaga harga bahan pokok tetap stabil di pasar, selain terus memberikan subsidi energi. Sebagian lagi, mungkin, karena kita sedang sibuk.<br><br>Lebaran, mudik, silaturahmi, dan berbagai urusan keluarga sering membuat perhatian kita lebih tertuju ke perjalanan pulang kampung daripada ke harga energi dunia.<br><br>Kadang memang begitu cara perubahan datang.<br><br>Pelan-pelan.<br><br>Dan baru terasa setelah keramaian lewat.<br><br><strong>Semuanya Terhubung, Diam-diam</strong><br><br>Kadang kita melihat berita perang seperti sesuatu yang sangat jauh.<br><br>Nama negara disebut.  <br>Peta ditampilkan di televisi.  <br>Lalu berita berganti ke sinetron atau dracin yang auto scroll di HPmu.<br><br>Tapi dunia sekarang ternyata jauh lebih terhubung daripada yang sering kita bayangkan. Selat Hormuz dan penjual sayur di Pasar Lempuyangan ternyata dihubungkan oleh rantai yang panjang, tapi nyata.<br><br>Perang di satu tempat bisa mengubah harga energi.  <br>Harga energi bisa memengaruhi biaya transportasi.  <br>Biaya transportasi bisa mengubah harga pupuk.  <br>Harga pupuk bisa mengubah harga sayur.  <br>Dan tanpa kita sadari, semuanya bisa sampai ke meja makan keluarga saat Lebaran.<br><br>Tepat di sebelah ketupat dan opor ayam.</p>

<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity" />

<p><br />Jadi kalau tahun ini ada yang bilang,<br /><br />&#8220;THR-nya jangan sedikit-sedikit dong.&#8221;<br /><br />Mungkin kamu bisa menjawab pelan saja.<br /><br />&#8220;Ini bukan pelit. Ini menyesuaikan kondisi dunia.&#8221;<br /><br />Kalau masih belum puas, tinggal tambahkan satu kalimat lagi.<br /><br />&#8220;Kalau perang di Timur Tengah selesai, THR-nya kita evaluasi lagi.&#8221;<br /><br />Biasanya setelah itu orang akan tertawa.<br /><br />Dan percakapan Lebaran kembali aman.<br /><br />Mungkin itulah yang menarik dari basa-basi Lebaran.<br /><br />Di antara pertanyaan soal kerja, anak, dan rumah, kadang muncul satu kalimat yang tanpa disadari menghubungkan ruang tamu kita dengan dunia yang jauh di sana. Bukan karena pamanmu ahli geopolitik. Tapi karena dunia memang sudah lama masuk ke dapur kita, ke pompa bensin kita, ke warung sayur di ujung gang.<br /><br />Kita cuma belum sempat memperkenalkan diri.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>yang kedua</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/yang-kedua</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/yang-kedua</guid><pubDate>Wed, 04 Mar 2026 21:21:57 +0000</pubDate><description>Kamu adalah puisi pertama yang kami genggam dengan tangan gemetar. Bukan karena rapuh, tapi karena setiap katamu terasa bernilai. Di usiamu yang baru empat, matamu sudah menampung rasa ingin tahu dan keberanian kecil yang sering membuatku ternganga. Aku sering...</description><content:encoded><![CDATA[<img loading="lazy" width="1024" height="754" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2026/03/image_editor_output_image-1622648655-17726328834394206380141952276967.jpg?w=1024" alt="" class="wp-image-3575" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2026/03/image_editor_output_image-1622648655-17726328834394206380141952276967.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2026/03/image_editor_output_image-1622648655-17726328834394206380141952276967.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2026/03/image_editor_output_image-1622648655-17726328834394206380141952276967.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2026/03/image_editor_output_image-1622648655-17726328834394206380141952276967.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2026/03/image_editor_output_image-1622648655-17726328834394206380141952276967.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>

<p>Kamu adalah puisi pertama yang kami genggam dengan tangan gemetar. Bukan karena rapuh, tapi karena setiap katamu terasa bernilai. Di usiamu yang baru empat, matamu sudah menampung rasa ingin tahu dan keberanian kecil yang sering membuatku ternganga. Aku sering memperhatikanmu menatap adikmu. Antara penasaran dan ingin menjaga. Bahumu masih kecil, tapi hatimu mulai belajar memeluk.</p>

<p>Jadi kakak secepat ini tidak mudah. Kamu harus berbagi pelukan, perhatian; bahkan malam yang tadinya hanya milikmu. Ada hari-hari kamu lelah dan ingin kembali jadi anak yang dimanja sepenuhnya. Itu wajar. Merasa kecil sekaligus besar itu normal. Aku akan selalu ada di sampingmu untuk menemani sedih, marah, dan lelahmu.</p>

<p>​Aku bangga melihat usahamu. Saat kamu memegang botol dengan hati-hati. Saat kamu bernyanyi pelan supaya adik tenang. Saat kamu mengulang namanya seakan ingin menghafalnya. Kamu hebat bukan karena sempurna, tapi karena kamu peduli. Hal-hal kecil itu membuktikan dadamu sudah bersiap jadi tempat berlindung, meski tanganmu masih sekecil itu.</p>

<p>Aku dan mamamu sadar kami belum sempurna. Lelah begadang sering membuat kami tak sanggup mengajakmu berlari di pagi hari. Lalu jarak Magelang ke Jogja sering menyedot habis sisa hariku. Hujan badai di sepanjang jalan pulang melucuti tenagaku, memaksaku menolak sodoran mainanmu saat aku baru saja membuka pintu. Maaf kami seringnya hanya tertahan di tenggorokan. Menggantung di udara saat kami diam-diam menatap punggungmu yang terpaksa bermain sendirian.</p>

<p>​Kami sayang padamu lebih dari yang bisa kutulis di sini. Kalau nanti kamu takut adikmu mengambil tempatmu, dengarkan ini. Tempatmu tidak akan pernah tergantikan. Kamu adalah cahaya pertama. Kami akan selalu memelukmu, mendoakanmu, dan menjaga langkah kecilmu. Bukan sebagai yang kedua, tapi sebagai anak pertama kami.</p>

<p>Sekarang tidurlah, Ta. Biar kumatikan tv yang menjadi sahabatmu dan kutarik perlahan selimut ini, menutupi pundak kecilmu yang seharian lelah berusaha menjadi besar.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>tegas dan terukur</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/tegas-dan-terukur</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/tegas-dan-terukur</guid><pubDate>Sun, 31 Aug 2025 19:34:40 +0000</pubDate><description>Tindakan tegas dan terukur put a heavy emphasis pada kepercayaan kepada subjek untuk bisa melakukan pengukuran dengan baik. Pertanyaannya, apakah si subjek dapat dipercaya untuk mengukur? ​Cara paling mudah dan murah yang akhirnya bisa dilakukan untuk memperki...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Tindakan tegas dan terukur put a heavy emphasis pada kepercayaan kepada subjek untuk bisa melakukan pengukuran dengan baik. Pertanyaannya, apakah si subjek dapat dipercaya untuk mengukur?</p>

<p>​Cara paling mudah dan murah yang akhirnya bisa dilakukan untuk memperkirakan kemungkinan-kemungkinan adalah melihat rekam jejak dari masa lalu, dari kejadian-kejadian serupa.</p>

<p>​Lalu, khalayak akan mahfum dan mengambil kesimpulan sendiri.</p>

<p>Stay safe everyone, hold your loved ones close.</p>

<img loading="lazy" width="1024" height="678" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2025/08/10003348334502169248053302090.jpg?w=1024" alt="" class="wp-image-3571" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2025/08/10003348334502169248053302090.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2025/08/10003348334502169248053302090.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2025/08/10003348334502169248053302090.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2025/08/10003348334502169248053302090.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2025/08/10003348334502169248053302090.jpg?w=1440 1440w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2025/08/10003348334502169248053302090.jpg 2000w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">dok. pribadi</figcaption></figure>]]></content:encoded></item>
<item><title>bulan</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/bulan</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/bulan</guid><pubDate>Sat, 17 Feb 2024 05:24:00 +0000</pubDate><description>Bulan malam ini cantiknya tidak bisa dieja. Ia adalah kalimat utuh yang tidak bisa dipisahkan oleh koma. Bulan malam ini lembut sekali perawakannya. Ia adalah ujian bagi Gajah Mada untuk membacakan sumpahnya. Jauh tinggi, tak terjangkau. Hanya tahu, manfaatnya...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Bulan malam ini cantiknya tidak bisa dieja. Ia adalah kalimat utuh yang tidak bisa dipisahkan oleh koma.</p>

<p>Bulan malam ini lembut sekali perawakannya. Ia adalah ujian bagi Gajah Mada untuk membacakan sumpahnya.</p>

<p>Jauh tinggi, tak terjangkau.</p>

<p>Hanya tahu, manfaatnya selalu.</p>

<p>Hilang pagi, muncul semalam.</p>

<p>Sinar terang, membawa ketenangan.</p>

<p>Bulan malam ini tidak biasa. Tercerminkan senyumannya yang menemani di kala petang hingga pagi menjelang.</p>

<p>Bulan akan selalu ada untuk selamanya. Tapi, manusianya tidak. Maka aku tuliskan sajak ini, kalau nanti aku sudah tidak ada. Tulisanku masih akan memelukmu dengan erat, sampai kapanpun.</p>

<p>Istriku dan anakku, aku rindu.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Bukan untuk sekarang saja</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/bukan-untuk-sekarang-saja</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/bukan-untuk-sekarang-saja</guid><pubDate>Wed, 14 Feb 2024 05:23:00 +0000</pubDate><description>Banyak yang terjadi di hari ini. Banyak yang kecewa, banyak yang senang, banyak yang kesal. Kalau diliat tahapan griefing dari Kubler-Ross dialami sebagian besar netizen. Karena mereka tahu apa yang kami tidak tahu. Bukan untuk sekarang saja, apa yang terjadi ...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Banyak yang terjadi di hari ini. Banyak yang kecewa, banyak yang senang, banyak yang kesal. Kalau diliat tahapan griefing dari Kubler-Ross dialami sebagian besar netizen. </p>

<p>Karena mereka tahu apa yang kami tidak tahu. Bukan untuk sekarang saja, apa yang terjadi akan termanifestasi puluhan tahun ke depan. </p>

<p>Tapi, netizen sering lupa. </p>

<p>Mayoritas populasi tidak akan memikirkan periode waktu kedepannya. Bisa bertahan hari ini, dan masih bisa merencanakan untuk hari besoknya sudah menjadi privilese tersendiri dalam kehidupan sehari-hari.</p>

<p>Menjadi pengingat saja untuk mengencangkan ikat pinggang, tegakkan badan, dan terus berusaha sebaik-baiknya untuk memberikan hal-hal baik untuk keluarga dan lingkungan sekitar.</p>

<p>karena ini bukan untuk sekarang saja.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Kembang apinya sudah menyala, lalu apa?</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/kembang-apinya-sudah-menyala-lalu-apa</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/kembang-apinya-sudah-menyala-lalu-apa</guid><pubDate>Mon, 01 Jan 2024 00:30:00 +0000</pubDate><description>Sepertinya para penyulut kembang api kurang briefing malam ini. Pukul 12 kurang 5 menit, sudah mulai menyala kembang api saling bersahutan, seperti menandakan bahwa ayo siap-siap keluar, lihat ini kembang api pergantian tahun akan mulai dinyalakan. Tepat 15 me...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Sepertinya para penyulut kembang api kurang briefing malam ini. Pukul 12 kurang 5 menit, sudah mulai menyala kembang api saling bersahutan, seperti menandakan bahwa ayo siap-siap keluar, lihat ini kembang api pergantian tahun akan mulai dinyalakan. Tepat 15 menit setelahnya, rangkaian kembang api sudah mulai jarang terdengar frekuensinya. Menandakan bahwa euforianya sudah mendekati waktu akhir.</p>

<p>Kembang apinya sudah menyala, lalu apa?</p>

<p>Kalau saya, akan memulainya dengan mensyukuri dan mengapresiasi istri saya dengan semua hal yang sudah dia lakukan di Tahun 2023. Sejak menikah di tahun 2021 tidak ada kebahagiaan yang dilewatkan sendiri-sendiri. Semuanya dilalui bersama sampai lahir anak pertama kami di 2022. Melihat tumbuh kembangnya bersama-sama, bergantian menggendong kalau Dinta mau tidur, atau menjadi teman bermainnya di kala tidak ada teman bermainnya yang datang ke rumah. </p>

<p>Tahun 2023 semuanya berubah. Saya harus meninggalkan istri saya di sini dengan anak saya sendirian. Tanpa ada keluarga. Saya pikir lagi, terkadang masih bodoh saja sepertinya pilihan hidup saya. Tapi, kalau tidak dilakukan sekarang bisa jadi jalan hidup kami tidak akan berubah ke arah yang lebih baik dan yang lebih diinginkan dan direncanakan. Bukan berarti rasa penyesalan itu tidak muncul di dada saya setiap kali kami video call, atau setiap Dinta menginginkan sesuatu yang karena jarak tidak bisa saya penuhi langsung saat itu juga. </p>

<p>Mungkin saat istri saya sedang sibuk juga, rasa beratnya tidak terlalu terasa. Tapi, saat sedang ada banyak tanggal merah dan ART kami tidak bisa hadir; baru beratnya terasa. Dinta sedang aktif-aktifnya. Setiap hari saya video call pasti Dinta sedang bermain atau sedang makan. Tidak terbayangkan, anak yang waktu masih bayi sempat didengarkan mengalami jantung berdesing dan harus seminggu ada di ruangan NICU; sekarang aktifnya melebihi anak seusianya. Cerewetnya minta ampun, yang kadang sampai istri kesulitan meladeninya. </p>

<p>Menjalani pernikahan terpisah jarak jauh memang susah-susah-susah, tidak ada gampangnya. Saya dan istri saling menguatkan di sepanjang jarak kami terpaut. Komunikasi dicoba untuk lebih intens, meski kadang dalam kondisi tertentu ada saja kesalahpahaman yang terjadi. </p>

<p>Kalau bukan karena istri saya, sepertinya akan uring-uringan saya menjalani hubungan jarak jauh ini. Istri saya yang memberikan tuntutan kepada saya untuk tidak lupa bahwa masih panjang proses yang akan dilalui kedepannya dalam kehidupan. Ini hanyalah bagian kecil dan sementara saja. Tahun 2024 ini semoga kami bisa serumah kembali. Sedih rasanya hanya menyaksikan tumbuh kembang Dinta melalui video call. Ingin rasanya untuk bisa mencium bau khas anak balita, atau dipeluk saat naik motor Honda beat yang ada di rumah, atau bermain air di panasnya terik cuaca.</p>

<p>Semuanya bisa dijalani sampai saat ini, saya bisa bilang 95% dari istri saya. Apa jadinya saya kalau tidak ada dia. Istri saya tidak pernah meminta berhenti untuk dicintai, saya pun demikian. Istri saya merupakan kebaikan yang selamanya akan saya banggakan. Istri saya adalah cantiknya dunia dan surga yang akan saya jaga selalu.</p>

<p>Sampai kapan pun. </p>

<p>Selamat tahun baru 2024. Lekas terwujud seluruh doa-doa yang sudah dipanjatkan.</p>

<p>Aamiin.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Tuhan jangan jadikan saya seperti dia</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/tuhan-jangan-jadikan-saya-seperti-dia</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/tuhan-jangan-jadikan-saya-seperti-dia</guid><pubDate>Sat, 30 Dec 2023 05:21:00 +0000</pubDate><description>Tuhan itu selalu punya cara unik untuk menunjukan berbagai hal yang menjadi bahan bakar proses pendewasaan bagi setiap manusia. Tuhan menghadirkan orang, menghadirkan kejadian, menghadirkan latar belakang, menghadirkan cara berbicara, menghadirkan rasa perhati...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Tuhan itu selalu punya cara unik untuk menunjukan berbagai hal yang menjadi bahan bakar proses pendewasaan bagi setiap manusia. Tuhan menghadirkan orang, menghadirkan kejadian, menghadirkan latar belakang, menghadirkan cara berbicara, menghadirkan rasa perhatian, menghadirkan rasa nyaman dan perasaan lega apabila hal-hal yang kecil dan besar kita lakukan mendapatkan apresiasi.</p>

<p>Tuhan menghadirkan kalimat seperti &#8220;Terima kasih&#8221;, &#8220;Tolong hati-hati&#8221;, dan &#8220;Jaga diri&#8221; dan perilaku mengajak makan bersama yang memberikan ketenangan bagi siapapun yang mendengarkan dan diajak.</p>

<p>Tapi, Tuhan juga menghadirkan perilaku mendiamkan, perilaku tidak peduli, sifat-sifat god complex yang entah bagaimana caranya bisa diambil semua gejalanya pada orang-orang tertentu. Sangat disayangkan Tuhan menghadirkan orang seperti ini tidak dengan kemawasan dirinya akan banyaknya kurang seorang manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari.</p>

<p>Sampai saat berdoa, mungkin akan lebih mudah untuk mendeskripsikan secara spesifik untuk tidak menjadi seperti orang tertentu, daripada untuk menjadi orang-orang yang diharapkan.</p>

<p>Jangan sampai kita jadi orang-orang yang masuk di doa orang lain, hanya untuk menjadi sebuah contoh untuk yang tidak diharapkan orang lain.</p>

<p>Tuhan jangan jadikan saya seperti dia.<br>Aamiin.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Saya bukan Jakarta</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/saya-bukan-jakarta</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/saya-bukan-jakarta</guid><pubDate>Fri, 24 Nov 2023 05:20:00 +0000</pubDate><description>Pekerjaan yang satu persatu terasa makin autopilot setiap harinya, membuat penghargaan diri akan emosi lainnya menjadi makin berkurang. Emosi yang sering ditunjukkan belakangan ini adalah emosi marah dan emosi kecewa. Emosi lainnya terpaksa terpendam dalam-dal...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Pekerjaan yang satu persatu terasa makin autopilot setiap harinya, membuat penghargaan diri akan emosi lainnya menjadi makin berkurang.</p>

<p>Emosi yang sering ditunjukkan belakangan ini adalah emosi marah dan emosi kecewa. Emosi lainnya terpaksa terpendam dalam-dalam karena memang tidak ada pemicunya yang dirasakan, bayangkan betapa menyedihkannya dari spektrum emosi yang sangat luas, hanya marah dan kecewa yang dirasakan.<br>Marah dan kecewa mudah sekali ditemukan pemicunya, biasanya dibarengi dengan gejala fisik sakit kepala.</p>

<p>Marah dan kecewa muncul ketika ada tidak sesuainya antara harapan dan kondisi yang terjadi. Terlebih apabila kita mengetahui bahwa kondisi yang terjadi seharusnya bisa jauh lebih baik dengan mengeluarkan usaha sekecil mau berkomunikasi. Mau memanusiakan orang lain. Mau memahami bahwa jabatan yang saat ini diterima, dibangun dengan tidak hanya satu atau dua orang yang menopangnya. Apalagi kalau bisa memahami bahwa rasa hormat tidak otomatis muncul karena ada tanda bintang di dada.</p>

<p>Tapi, biarkan kedua emosi tersebut saya tempatkan di kotak yang diberi label Jakarta. Toh, hanya menjadi sebagian kecil dari 26 tahun perjalanan hidup saya sampai saat ini. Biarkan saja Jakarta erat dengan kedua emosi tersebut, saya ternyata memang tidak menyukai kota ini. Untuk liburan seminggu, Jakarta menyuguhkan banyak hal. Untuk menjadi sebuah tempat tinggal, Mataram masih jauh lebih nyaman dari sisi manapun.</p>

<p>Saya sudah melihat salah satu wajah asli Jakarta, saat menyusuri jalan sempit di dekat Stasiun Manggarai. Terlihat bagaimana banyak orang bertaruh akan hidupnya di Jakarta. Banyak orang dengan latar belakang berbeda yang tidak bisa direduksi menjadi sebuah angka kuantitatif untuk menggambarkan kompleksnya permasalahan yang dihadapi tiap-tiap individu.</p>

<p>Jakarta tidak membiarkan orang-orang untuk mengurai masalahnya masing-masing. Jakarta tidak memberikan waktu kita sebagai manusia untuk tahu, mau, dan mampu memahami orang lain. Jakarta terlalu kuantitatif untuk saya yang kualitatif.</p>

<p>Jakarta menganggap bahwa kita semua ini hanya angka dengan legenda seadanya yang bila bergeser satu, angka lain dapat menggantikannya.</p>

<p>Jakarta lupa kalau setiap orang dengan memorinya masing-masing akan menjadi faktor terbesar memperpanjang umur Jakarta. Memori-memori kolektif yang diaamiinkan bersama menjadi kesepakatan yang menentukan definisi atas seseorang atau sesuatu.</p>

<p>Jakarta lupa bahwa tidak selamanya dirinya akan menjadi Jakarta.</p>

<p>Jakarta bukan saya.</p>

<p>Saya bukan Jakarta.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Izin untuk Menua</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/izin-untuk-menua</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/izin-untuk-menua</guid><pubDate>Wed, 31 May 2023 05:18:00 +0000</pubDate><description>Perjalanan menua dimulai dari duka. Duka yang muncul pada suatu masa. Masa dimana pasangan kita mungkin akan tiada. Perjalanan menua perlu izin sebesar-besarnya. Dari yang nanti mungkin akan ditinggalkan, sampai hanya bisa mengingat nama. Suaranya bisa perlaha...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Perjalanan menua dimulai dari duka.<br>Duka yang muncul pada suatu masa.<br>Masa dimana pasangan kita mungkin akan tiada.<br>Perjalanan menua perlu izin sebesar-besarnya.<br>Dari yang nanti mungkin akan ditinggalkan, sampai hanya bisa mengingat nama.<br>Suaranya bisa perlahan lupa, hanya panggilan rindu yang tersisa.</p>

<p>Sudah dua tahun kami mencoba menuliskan cerita.<br>Cerita yang dipenuhi bumbu drama.<br>Tidak mudah melewatinya, apalagi sekarang ada Dinta.<br>Tapi, kami yakin akan terus bersama.<br>Melewati hujan deras di waktu wilayah tengah.<br>ataupun menghindari matahari di lindungan Plaza Sarinah.</p>

<p>Kalau kata Sal, mesranya kecil-kecilan dulu.<br>Kalau saya sukanya mesranya bertiga selalu.<br>Tidak kecil, tidak besar, tapi cukup untuk melewati waktu.<br>Berjalan konsisten tidak habis bahan bakar buru-buru.<br>Tidak bersaing dengan para pendahulu.<br>Tapi berjalan dengan ritme sendiri sampai tiba di tempat yang dituju.</p>

<p>Selamat hari jadi yang kedua istriku.<br>Semoga kamu akan berkenan mendampingi aku selalu.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Sempurna yang Fana</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/sempurna-yang-fana</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/sempurna-yang-fana</guid><pubDate>Wed, 16 Nov 2022 05:17:00 +0000</pubDate><description>sempurna yang fana; ditopang segelintir yang hina; ditiup untuk jatuh oleh rubah yang marah; marah merasa rumahnya berubah. rumahnya menyala dalam api; tidak terasa apa—api? sudah lama hidup abadi; kata ifrit, “kaum kami, akan nyaman disini.” mafhum karena mak...</description><content:encoded><![CDATA[<p>sempurna yang fana;<br>ditopang segelintir yang hina;<br>ditiup untuk jatuh oleh rubah yang marah;<br>marah merasa rumahnya berubah.</p>

<p>rumahnya menyala dalam api;<br>tidak terasa apa—api?<br>sudah lama hidup abadi;<br>kata ifrit, &#8220;kaum kami, akan nyaman disini.&#8221;</p>

<p>mafhum karena maklum;<br>diraihnya obor dan bertanya;<br>&#8220;kubakar semua ya?&#8221; &#8220;belum&#8221;;<br>&#8220;tak lama lagi yang sempurna sisa purna.&#8221;</p>

<p>mereka semua tak kan pernah mengerti;<br>bukan bara yang membesarkan api;<br>api yang melahirkan bara;<br>api yang abadi merah merona bercahaya;</p>

<p>diucapkan keabadian dalam keburukan;<br>yang akan terus diingat sampai kapanpun;<br>baik sebagai pelaku / kelalaian / membiarkan;<br>sampai nanti berubah semua pandangan;</p>

<p>sudah cukup lama menunggu;<br>dinyalakan obor membuat api;<br>terbakar semuanya jadi abu;<br>dimulai dari diri sendiri.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Teh dari Mbah Putri</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/teh-dari-mbah-putri</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/teh-dari-mbah-putri</guid><pubDate>Fri, 28 Oct 2022 05:16:00 +0000</pubDate><description>Beberapa minggu lalu. Tidak, tepatnya lebih dari sebulan lalu di tanggal 9 September 2022. Ibu saya menelepon di sore hari. Eyang saya, atau lebih sering saya panggil mbah putri jatuh di kamar mandi. Mbah putri usianya sudah lebih dari 70 tahun. Anaknya empat,...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa minggu lalu.</p>

<p>Tidak, tepatnya lebih dari sebulan lalu di tanggal 9 September 2022. Ibu saya menelepon di sore hari. Eyang saya, atau lebih sering saya panggil mbah putri jatuh di kamar mandi. Mbah putri usianya sudah lebih dari 70 tahun. Anaknya empat, salah satunya ibu saya.</p>

<p>Mbah putri itu adalah satu-satunya nenek yang tersisa.</p>

<p>Sejak mendengar informasi itu saya sudah niatkan bila ada waktu akan menjenguk ke Surabaya.</p>

<p>Beberapa tahun terakhir saya jarang bertemu mbah putri. Biasanya, ketika belum bekerja. Kami sekeluarga sering mudik ke Surabaya untuk mengunjungi Mbah Putri. Jadi saya cukup bisa merekam dengan baik, berbagai perubahan yang terjadi pada kondisi fisik Mbah Putri.</p>

<p>Yang biasanya senang diajak jalan-jalan, jadinya lebih suka tinggal di rumah.</p>

<p>Yang biasanya langsung ingat nama cucu-cucunya, jadi sering lupa nama cucunya.</p>

<p>Yang biasanya selalu tersenyum, jadi lebih sering mengeluh kesakitan.</p>

<p>Tapi, ada satu yang tidak berubah. Ketidakinginan Mbah Putri untuk dibawa ke Bondowoso dan menetap di Bondowoso.</p>

<p>Oh, ada dua saya baru ingat. Satu hal yang tidak berubah lagi adalah kebiasaan Mbah Putri menyeduh teh setiap pagi. Seduhan teh Mbah Putri tidak bisa direplikasi siapapun. Saya sering bertanya menggunakan teh merk apa, sudah diberi tahu juga, tetapi saat dibuat sendiri, rasanya tidak pernah sama.</p>

<p>&#8212;</p>

<p>Sudah sebulan Mbah Putri di ICU di Surabaya. Sudah satu bulan juga saya mencari waktu agar bisa kesana. Sudah satu bulan juga kondisinya berubah-ubah. Kritis mejadi baik. Sadar menjadi tidak sadar.</p>

<p>Puncaknya di minggu lalu. Ibu saya menelepon di hari Jum&#8217;at. Ibu saya bilang, &#8220;le, kalau bisa cari waktu ke Surabaya. Mbah obatnya sudah engga bisa masuk. Dokternya sudah angkat tangan. Kayanya Mbah Putri nungguin kamu. Cucunya yang belum kesini, cuma kamu.&#8221;</p>

<p>Saya sedang di kantor waktu itu. Saya terdiam sebentar. Lalu, saya putuskan saya sudah ingin ambil cuti di minggu depan untuk kembali ke rumah. Mau diizinkan atau tidak, saya tetap akan pulang.</p>

<p>Ternyata ada hambatan lain. Ada kegiatan yang tidak bisa saya tinggalkan. Atau bisa ya? Toh, tidak ada yang peduli juga dengan pekerjaan ini di organisasi ini? Semuanya dianggap permainan dan dapat diselesaikan dengan alasan kekeluargaan.</p>

<p>Tapi, kita simpan itu untuk waktu lain.</p>

<p>Hari Selasa saya berangkat ke Jakarta lalu ke Bogor. Dalam perjalanan dari rumah ke bandara, saya telepon ibu saya yang sudah berminggu-minggu mendampingi Mbak Putri di rumah sakit. Ibu saya tidur di kursi tunggu di depan ruang ICU selama waktu itu juga.</p>

<p>Ibu saya bilang, &#8220;tadi ada ustadznya rumah sakit yang datang ke mbah. Didoakan banyak hal. Tapi, yang utama diminta untuk keluarga sehari dua hari ini tidak kemana-mana.&#8221;</p>

<p>Meskipun pesannya tidak jelas, tapi saya yakin ibu saya dan keluarga yang lain tahu apa yang dimaksudkan. Usia Mbah Putri mungkin hanya hitungan hari, atau bahkan hitungan jam. Saya bilang ke ibu saya, &#8220;Bilang ke Mbah Putri, aku datang hari Jum&#8217;at. Tunggu ya.&#8221;</p>

<p>Saya berangkat ke Jakarta dengan perasaan kalut.</p>

<p>Saya kabari istri saya. Istri saya bertanya apa saya mau langsung ke Surabaya? Saya jawab sepertinya tidak bisa. Saya masih ada tanggung jawab yang harus diselesaikan. Saya sampaikan, hari Jum&#8217;at setelah kegiatan saya akan langsung ke Surabaya.</p>

<p>Selasa dan Rabu terlewat begitu saja ditengah kesibukan pekerjaan yang saya lakukan. Tertawa jadi salah satu bagian untuk sejenak melupakan kalut yang dirasakan. Tetapi, saat malam tiba. Saat saya sendiri, rasa kalut itu datang kembali. Saya takut Mbah Putri tidak bisa menyediakan waktu untuk saya. Toh, sebenarnya Mbah Putri sudah memberikan waktu satu bulan untuk saya.</p>

<p>Hari Kamis pun tiba, waktu menunjukan pukul 12:38 WIB. Ibu saya kembali menelepon. Saya sudah bisa menebak isi pembicaraannya.</p>

<p>Biasanya saya senang bila benar akan sesuatu, tapi ternyata untuk kali ini, saya tidak senang.</p>

<p>Mbah Putri meninggal di ruang ICU didampingi keluarganya.</p>

<p>Setelah mendengar kabar itu, emosi yang paling dominan adalah sedih dan marah.</p>

<p>Sedih karena tidak bisa bertemu setelah masuk rumah sakit, marah karena saya tidak bisa menyempatkan waktu untuk itu. Saya kecewa dengan diri saya sendiri.</p>

<p>Saya tutupi semua emosi itu dengan satu hal yang saya mahir menggunakannya. Saya tertawa, sebanyak-banyaknya.</p>

<p>Malamnya perasaan bersalah muncul kembali. Kali ini tidak bisa saya usir. Akhirnya saya biarkan saja perasaan itu mengalir. Saya coba hargai munculnya dan saya rasakan semua sensasinya.</p>

<p>Hari ini saya akan ke Surabaya, lalu melanjutkan perjalanan ke Jember dengan kereta. Lalu, berkendara sekitar 45 menit dari Jember ke Bondowoso.</p>

<p>Nanti saat saya tiba, kemungkinan besar Mbah Putri sudah dimakamkan. Mbah Putri akan dimakamkan di samping kedua makam kakak dan satu adik saya.</p>

<p>Saya tidak sempat menemui Mbah Putri lagi. Baik saat hidup, maupun saat Mbah Putri sudah tidak ada.</p>

<p>Kejadian ini membuat saya banyak berpikir, dan merasakan emosi yang sebelumnya memang tidak pernah saya munculkan sejak lama dalam waktu semalam. Mungkin untuk saya, keluarga akan selalu menjadi yang utama. Saya yakin pilihan akan karir kedepannya akan jauh lebih sulit, tetapi akhirnya saya mendapatkan gambaran jelas tentang apa yang saya mau.</p>

<p>&#8212;</p>

<p>Pada akhirnya Mbah Putri bisa dibujuk, Mbah Putri mau ke Bondowoso, meskipun saat Mbah Putri bisa sampai di Bondowoso, Mbah Putri sudah tidak mungkin bisa meyeduhkan saya teh lagi.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Konsistensi Tukang Parkir</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/konsistensi-tukang-parkir</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/konsistensi-tukang-parkir</guid><pubDate>Thu, 01 Jul 2021 05:14:00 +0000</pubDate><description>Tukang Parkir di sebuah tempat makan yang sering saya datangi itu sangat konsisten. Robot pun kalah. Sedari dua tahun lalu. Tukang parkir yang “menjaga” sebuah rumah makan cepat saji level menengah ini tidak pernah berganti. Selalu orang itu saja, dan selalu d...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Tukang Parkir di sebuah tempat makan yang sering saya datangi itu sangat konsisten. Robot pun kalah.</p>

<p>Sedari dua tahun lalu. Tukang parkir yang “menjaga” sebuah rumah makan cepat saji level menengah ini tidak pernah berganti. Selalu orang itu saja, dan selalu dengan alat pemutar musik yang dia putar kencang-kencang. Sampai terkadang menganggu yang sedang makan disana.</p>

<p>Tapi, seandainya menganggu tentu akan diperingatkan kan oleh pemilih rumah makan? Nyatanya dia tetap bertahan sejak dua tahun lalu.</p>

<p>Antara tidak diperingatkan, atau sudah diperingatkan tapi sang tukang parkir masa bodoh.</p>

<p>Terlepas hasil akhirnya. Sepanjang proses, saya akui tukang parkir tersebut sangat konsisten.</p>

<p>Konsistennya bagaimana?</p>

<p>Saat pengunjung akan mengambil kendaraannya untuk pulang. Tukang parkir itu sudah berada di samping kendaraan pengunjung tersebut. Melihat saja dengan senyumannya yang khas.</p>

<p>Saat diberikan 1000 atau 2000 rupiah (Lombok masih menerima pembayaran 1000 untuk parkir sepeda motor). Uang tersebut diambilnya dan kemudian dia kembali untuk duduk di kursi santainya. Tanpa memutarkan kendaraan. Tanpa membantu memberi jarak sepeda motor di samping motor kita. Tanpa membantu menyebrangkan jalan.</p>

<p>Dilakukannya setiap hari. Pagi sampai malam. Konsisten seperti itu. Tidak pernah ada perubahan.</p>

<p>Memang belum pernah ada pencurian kendaraan atau helm. Tapi, karena tidak mungkin juga. Lokasi parkirnya tepat di depan meja-meja makan pengunjung. Ada yang berani coba-coba, bisa-bisa bangun di kantor polisi.</p>

<p>Tapi, saya benar-benar kagum kepada tukang parkir tersebut. Selalu konsisten. Bahkan pengunjung pun jadi mengetahui apa yang akan mereka dapatkan dari membayar parkir tersebut. Tidak ada yang protes.</p>

<p>Tukang parkirnya adil dalam memberikan layanannya kepada siapapun. Tidak peduli kedekatan, tidak peduli asal plat nomor, tidak peduli warna kulit, ataupun suku.</p>

<p>Tetap ditariknya Rp 1.000 atau Rp 2.000 lalu ditinggalnya ke kursinya yang nyaman.</p>

<p>Tidak banyak orang yang bisa konsisten. Lebih banyak orang yang membuat aturannya sendiri-sendiri. Tetapi, penerapannya masih seenaknya dirinya sendiri. A mari kita beri tindakan disiplin. Lalu, apabila B melakukan yang sama, “hmm, sepertinya jangan nanti saya dipersulit apa-apa.”</p>

<p>Lalu pada akhirnya.</p>

<p>Seluruh sistem akan dipenuhi oleh orang-orang yang antara hidup dan tak hidup saja sehari-harinya. Performa yang baik, ditabrakan ke ketidakadilan yang sistemik.</p>

<p>Melahirkan apa?</p>

<p>Melahirkan orang-orang medioker yang merasa tidak bisa disentuh oleh siapapun.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Tong Kosong Integritas</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/tong-kosong-integritas</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/tong-kosong-integritas</guid><pubDate>Thu, 01 Apr 2021 05:12:00 +0000</pubDate><description>Mafia oksigen dan pemulsaran jenazah marak. Terlalu banyak angka kematian untuk menormalkan kejadiannya. Tahun ini jauh lebih banyak lagi lakonnya yang membuat was-was. Kasus gagal ginjal yang marak pada usia anak. Kasus pembunuhan berencana dari aparat. Kasus...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Mafia oksigen dan pemulsaran jenazah marak.</p>

<p>Terlalu banyak angka kematian untuk menormalkan kejadiannya.</p>

<p>Tahun ini jauh lebih banyak lagi lakonnya yang membuat was-was.</p>

<p>Kasus gagal ginjal yang marak pada usia anak. Kasus pembunuhan berencana dari aparat. Kasus-kasus lain yang serasa mengkurdilkan intelejensi masyarakat. Semuanya ditampilkan secara langsung 7 x 24 jam melalui media-media penyokong pembodohan bersama.</p>

<p>Sejak awal, masyarakat dianggap sebatas angka-angka oleh sekumpulan orang yang nir-empati. Sialnya, orang-orang yang nir-empati mempunyai kekuasaan. Mempunyai pengaruh.</p>

<p>Jargon-jargon integritas hanya sebatas hiasan di dinding-dinding rumah. Tidak malu menampakan jargon tersebut meskipun prosesnya penuh kebohongan. Si pemilik modal berupaya sebisa mungkin agar tetap untung. Si pembuat kebijakan tidak punya keajegan dalam berbagai keputusannya. Si masyarakat yang telah jengah, bergerak di akar rumput, saling membantu satu sama lain. Ada juga yang saling menghancurkan satu sama lain.</p>

<p>Kurikulum anti korupsi mungkin hanya sekedar proyek bancakan agar paket meeting bisa dilakukan. Masyarakat negara tersebut, oknumnya banyak yang tidak tahu malu. Tapi, terlalu enak kalau disebut oknum.</p>

<p>Selama ini negara tersebut bersembunyi di balik kata oknum untuk menyembunyikan ketidakmampuannya. Oknum adalah sinonim kabur. Sistem yang sudah terbangun bisa dengan mudah membuang “baut” yang tidak diperlukannya dengan kata oknum.</p>

<p>Mandat diberikan oleh rakyat kepada para perwakilannya. Saat pemberi mandat membutuhkannya, para perwakilannya banyak yang lupa.</p>

<p>“Kelompokku lebih penting.”</p>

<p>“Salah satu dari kami mati, dampaknya besar ke negara.”</p>

<p>Empati sebatas tong kosong yang berlubang. Sudah tahu berlubang, tapi tidak malu untuk ditampilkan. Menambal lubang tersebut dengan kebohongan lainnya, sampai suatu saat nanti tidak ada lagi yang bisa ditambal. Mereka lupa pertanggungjawaban akan diminta oleh pemberi mandat.</p>

<p>Tapi, boro-boro mau meminta pertanggungjawaban. Masyarakat juga sedang teralihkan karena ada kasus kanjuruhan yang menelan korban banyak, sampai hari kemarin ada 135 orang yang meninggal karena gas air mata dari aparat.</p>

<p>Masyarakat sampai menilai kalau penyelesaian masalah selama ini adalah dengan menambahkan masalah baru, hingga masalah yang awal dilupakan dengan sendirinya.</p>

<p>Sudah terlalu banyak yang meninggal karena lakon-lakon nir-empati. Angka-angka tersebut mewakili bapak/ibu/anak/keluarga/saudara/tetangga/orang tersayang/pasangan dari tiap-tiap orang lainnya.</p>

<p>Tapi, apa boleh dikata. Pilihan sudah dibuat. Konsekuensi harus diambil.</p>

<p>Tapi, tetap harus diingat.</p>

<p>Penagihan pertanggungjawaban akan dilakukan. Kematian yang terjadi menjadi beban darah pada pembuat keputusan. Kalau sadar.</p>

<p>Toh, kalau meninggal paling dukanya hanya seminggu. Setelah itu kembali ke kegiatan awal. Ada yang meninggal, tinggal melakukan copy paste ucapan duka saja dari pesan di atasnya.</p>

<p>“Turut berduka cita ya, semoga diberikan tempat terbaik.”</p>

<p>Begitu terus sampai ratusan chat terjadi.</p>

<p>Kehilangan memang merupakan hal yang sangat individual. Tapi, yang selalu perlu diingat. Ada campur tangan kita semua dari berbagai duka yang terjadi pada orang lain.</p>

<p>Mungkin selama ini kita sudah menjadi pegawai yang baik, suami yang baik, istri yang baik, anak yang baik, orangtua yang baik, dan berbagai peran lainnya yang disematkan pada kita. Tapi, kita juga selalu harus ingat bahwa kita lebih dari peran-peran yang disematkan pada kita.</p>

<p>Ketika peran-peran tersebut dihapuskan dan diambil.</p>

<p>Lalu, kamu itu apa dan siapa?</p>

<p>Barisan tong kosong integritas nir-empati?</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>bisa jadi itu teman kita</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/bisa-jadi-itu-teman-kita</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/bisa-jadi-itu-teman-kita</guid><pubDate>Wed, 31 Mar 2021 21:27:09 +0000</pubDate><description>Terjadi penyerangan oleh terduga teroris di Mabes Polri. Sebelumnya, terjadi ledakan pada sebuah Gereja di Makassar. Dirunut setelah itu, banyak terduga teroris di tangkap di berbagai wilayah. Termasuk Nusa Tenggara Barat. Pertanyaannya: mereka di rentang seus...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Terjadi penyerangan oleh terduga teroris di Mabes Polri. Sebelumnya, terjadi ledakan pada sebuah Gereja di Makassar. Dirunut setelah itu, banyak terduga teroris di tangkap di berbagai wilayah. Termasuk Nusa Tenggara Barat. Pertanyaannya: mereka di rentang seusia saya.</p>

<p>1995.</p>

<p>Kedua kejadian. Berkaitan atau tidaknya, sama-sama dilakukan oleh orang yang berkelahiran tahun 1995. Generasi milenial yang dibangga-banggakan. Saya pikir memang benar. Tiap komunitas punya indikator kesuksesannya masing-masing. Bagi kelompok mereka, mungkin ini tingkat sukses tertinggi. </p>

<p>Berbagai sumber saya baca. Para jurnalis berlomba untuk update informasi terbaru di lapangan. Namanya diketahui, ZA. Alamatnya juga, di Ciracas, Jakarta. Foto terakhir setelah tertembak banyak bersliweran di sosial media. </p>

<p>Yang terjadi, terjadilah. </p>

<p>Kejadian Jakarta memang masih belum diketahui motifnya. Tapi, saya sedari tadi coba mereka ulang. Bagaimana jalan pikir seseorang sampai berani berbuat nekat seperti itu. Pikiran mempengaruhi perasaan, perasaan mempengaruhi perilaku. Sampai saat ini mengetik pun, saya masih belum menemukannya. </p>

<p>Tapi ada yang mengkhawatirkan. Kejadian Jakarta dan Makassar dilakukan oleh angkatan muda. Bisa jadi teman-teman kita juga ada yang memiliki pola pikir yang sama. Tidak bisa disangkal perkembangan sosial media menjadi pemicunya.</p>

<p>Hari ke hari, jam tiap jam gawai kita tidak pernah lepas dari notifikasi. Banyak informasi yang saling bertukar. Interaksi itu transaksional. Saat interaksi langsung kita bisa segera memfilter informasi. Bisa dari mimik wajah penyampai informasi, gesture, keajegan berbicara, informasi yang disampaikan. </p>

<p>Bisa mudah membedakan apakah penyampai informasi punya kapabilitas atau tidak. Saat tidak langsung bagaimana?</p>

<p>Sebatas nomor. Sebatas foto profil. Kemalasan untuk melakukan cek informasi kembali. Kemungkinan misinformasi terjadi sangat besar. Percaya kepada orang yang salah sangat mungkin terjadi. </p>

<p>Percaya kepada sang ahli berpendapat. Bukan kepada si ahli. </p>

<p>Rilis dari Kapolri baru keluar ketika saya mengetik bagian ini. Dia mantan mahasiswa semester 5 yang drop out. Media sosialnya ada postingan tentang ISIS, kemudian jarang komunikasi dengan tetangga di daerah rumah. Meski telah lama tinggal di daerah tersebut. </p>

<p>Bisa punya jaringan. Bisa jadi seorang <em>lone wolf</em>. Saat sendirian justru berbahaya. Lebih tidak bisa diawasi. Tidak banyak yang peduli. Bisa terjadi kepada siapa saja. </p>

<p>Ide itu dua mata pedang. Saat di tangan yang tepat, dapat membawa kemajuan. Saat di berikan kepada yang bingung, hal seperti ini bisa terjadi. </p>

<p>Saya jadi kalut.</p>

<p>Saya menangani berbagai kasus anak. Tidak sedikit kondisi anak yang saya tangani sedang kebingungan. Bingung tidak bisa makan. Bingung tidak bisa sekolah. Bingung tidak ada pemasukan. Bingung tidak ada yang bisa dilakukan.</p>

<p>Saat menerima intervensi, pelan-pelan. Bersama dengan anak, kebingungan itu dicari jalan keluar. Sebisa mungkin. Semampu kami.</p>

<p>Itu yang menerima intervensi.</p>

<p>Bagaimana dengan yang tidak? Bagaimana dengan banyak anak kebingungan di luar sana? </p>

<p>Saat kita bingung. Siapapun yang mau membantu, akan dianggap seperti sang penyelamat. </p>

<p>Saat sang penyelamat bukan orang yang tepat.</p>

<p>Bisa dipikirkan kan akhirnya bagaimana?</p>

<p>Ah, saya mungkin terlalu meracau. Mungkin efek banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan sampai besok. Selamat istirahat teman-teman. </p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Memento Mori</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/memento-mori</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/memento-mori</guid><pubDate>Fri, 26 Mar 2021 15:49:47 +0000</pubDate><description>Photo by Pixabay on Pexels.com Kita hidup selalu untuk menyambut kematian. Anehnya, kematian dulu adalah topik yang mungkin paling saya hindari. Kematian itu menyeramkan dan terkesan tabu untuk dibahas. Tapi, akhir-akhir ini saya punya pandangan baru akan kema...</description><content:encoded><![CDATA[<img loading="lazy" width="1880" height="1255" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/03/pexels-photo-301614.jpeg" alt="" class="wp-image-3466" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/03/pexels-photo-301614.jpeg 1880w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/03/pexels-photo-301614.jpeg?w=150&amp;h=100 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/03/pexels-photo-301614.jpeg?w=300&amp;h=200 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/03/pexels-photo-301614.jpeg?w=768&amp;h=513 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/03/pexels-photo-301614.jpeg?w=1024&amp;h=684 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/03/pexels-photo-301614.jpeg?w=1440&amp;h=961 1440w" sizes="auto, (max-width: 1880px) 100vw, 1880px" /><figcaption>Photo by Pixabay on <a href="https://www.pexels.com/photo/pagoda-in-gray-scale-shot-301614/" rel="nofollow">Pexels.com</a></figcaption></figure>

<p>Kita hidup selalu untuk menyambut kematian. Anehnya, kematian dulu  adalah topik yang mungkin paling saya hindari. Kematian itu menyeramkan dan terkesan tabu untuk dibahas. Tapi, akhir-akhir ini saya punya pandangan baru akan kematian. Pandangan baru akan kematian malah justru mempengaruhi saya dalam berbagai hal dalam kehidupan.</p>

<p><em>Memento mori, remember you must die.</em></p>

<p><em>Memento mori, ingatlah kamu akan mati.</em></p>

<p>Mengingat kematian itu penting. Mengingat bahwa tidak ada yang permanen, mampu membantu saya pribadi bahwa apa yang saya miliki sekarang bisa saja hilang besok. </p>

<p>Mengingat bahwa saya ini manusia. Mengingat bahwa saya punya kebutuhan dan saya juga punya peran untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Mengingat bahwa tidak apa untuk skeptis terhadap apapun yang terjadi sampai dibuktikan sebaliknya, atau sampai yang kita ragukan memang begitu kebenarannya.</p>

<p><em><em>Memento mori, remember you must die.</em></em></p>

<p><em>Memento mori, ingatlah kamu akan mati.</em></p>

<p>Saya skeptis tentang banyak hal. </p>

<p>Saya skeptis tentang aturan hukum, yang kadang bisa dibolak-balik dengan sebatas melalui arahan via telepon. </p>

<p>Saya skeptis dengan orang yang ahli berpendapat, tapi saya berkenan mengikuti pendapat ahli. </p>

<p>Akhir-akhir ini saya skeptis dengan diri sendiri. Skeptis akan integritas dan juga akan kompas moral. Saya skeptis sebuah sistem yang sudah terbangung kuat dengan beton cor tebal bisa diubah tanpa meruntuhkan bangunannya. Kalau hanya retak sedikit tidak masalah, kalau salah perhitungan pondasinya yang terganggu. </p>

<p><em>Memento mori, remember you must die.</em></p>

<p><em>Memento mori, ingatlah kamu akan mati.</em></p>

<p>Tugas ke depan akan jauh lebih berat. Harus dijalankan bersama-sama. Tapi, saat kebersamaannya dilepas satu persatu baik secara sukarela atau terpaksa. Yang tertinggal hanya yang peduli, atau sebenarnya yang belum beruntung untuk dilepas. </p>

<p>Banyak yang bisa dilakukan. Banyak yang belum dilakukan. Banyak yang harusnya bisa dilakukan. Banyak yang harusnya mungkin tidak dilakukan.</p>

<p>Tapi, ya sudah. Memang lebih baik fokus kepada hal-hal yang bisa kita lakukan dengan sebaik-baiknya. Hasil akhirnya, serahkan kepada takdir. </p>

<p>Bukannya Epictetus sudah 2.000 tahun lalu pernah menyampaikan banyak hal yang tidak bisa kita kontrol. Tapi, saat yang tak terkontrol di luar itu terjadi, yang bisa kita lakukan adalah <strong>menyadari</strong> bahwa kita <strong>punya pilihan</strong> bagaimana cara kita untuk merespon hal-hal tersebut.</p>

<p>Fokus kepada kebajikan masing-masing. Syukur-syukur bisa bermanfaat untuk orang banyak. Selalu mindful akan siapa yang kita ajak bersosialisasi. Selalu mindful akan dimana kita menempatkan diri. Kita cenderung mengambil kebiasaan-kebiasaan dari dimana kita berada. Jaga diri.</p>

<p>Of on thing beware, o man: see what is the price at which you sell your will. If you do nothing else, do not sell your will cheap.</p><cite><strong>Epictetus</strong></cite></blockquote>]]></content:encoded></item>
<item><title>Lombok dan Ketersinggungannya</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/lombok-dan-ketersinggungannya</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/lombok-dan-ketersinggungannya</guid><pubDate>Thu, 18 Feb 2021 16:01:03 +0000</pubDate><description>Maret bulan depan menandai dua tahun saya bekerja dan berkembang di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Berkenalan dengan budaya baru, dengan orang-orang baru, dengan pedas khas sambel yang baru, dengan lampu lalu lintas yang bila belok kiri berarti itu langsun...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Maret bulan depan menandai dua tahun saya bekerja dan berkembang di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Berkenalan dengan budaya baru, dengan orang-orang baru, dengan pedas khas sambel yang baru, dengan lampu lalu lintas yang bila belok kiri berarti itu langsung. Saya melihat Indonesia jauh lebih lengkap. Jauh dari hingar bingar pulau Jawa dan kenyamanannya. </p>

<p>Saya datang pertama kali di akhir bulan Maret dengan pesawat Lion Air yang merupakan penerbangan paling malam dari Jakarta. Saya baru selesai menyelesaikan Pelatihan Dasar Bela Negara di Rumpin Bogor waktu itu. Sampai di Bandara Lombok langsung disambut hujan deras dan dijemput oleh seorang rekan yang akan menjadi kakak saya secara usia, tapi adik saya secara angkatan kuliah. </p>

<p>Saya memang tidak pernah membayangkan akan berkesempatan bekerja dan tinggal di Lombok. Memang tidak mudah, tapi saya tahu pada akhirnya semuanya akan sebanding. Lombok tetap akan jadi pulau yang menyenangkan, baik dengan kesendiriannya maupun dengan dampingannya pada akhirnya.</p>

<p>Mayoritas gambar di bawah diambil menggunakan Fujifilm X-70. Harus direlakan untuk dilepas setelah menemani hampir 2 tahun di Lombok ketika masih sering sendirian. Tapi tidak apa. Bukan tentang alatnya. Selalu tentang siapa yang menjadi subjek yang menemani dalam pencarian fotonya. </p>

<img loading="lazy" width="840" height="672" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349903822225058390879653243.jpg?w=840" alt="" data-id="3405" data-imglink="" class="wp-image-3405" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349903822225058390879653243.jpg?w=840 840w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349903822225058390879653243.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349903822225058390879653243.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349903822225058390879653243.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349903822225058390879653243.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349903822225058390879653243.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 840px) 100vw, 840px" /></figure></li><img loading="lazy" width="840" height="672" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349904237725042706826640187.jpg?w=840" alt="" data-id="3406" data-imglink="" class="wp-image-3406" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349904237725042706826640187.jpg?w=840 840w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349904237725042706826640187.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349904237725042706826640187.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349904237725042706826640187.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349904237725042706826640187.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349904237725042706826640187.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 840px) 100vw, 840px" /></figure></li><img loading="lazy" width="840" height="672" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349904788696769697664506977.jpg?w=840" alt="" data-id="3407" data-imglink="" class="wp-image-3407" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349904788696769697664506977.jpg?w=840 840w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349904788696769697664506977.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349904788696769697664506977.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349904788696769697664506977.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349904788696769697664506977.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349904788696769697664506977.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 840px) 100vw, 840px" /></figure></li><img loading="lazy" width="840" height="560" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349899736773776941564160013.jpg?w=840" alt="" data-id="3409" data-imglink="" class="wp-image-3409" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349899736773776941564160013.jpg?w=840 840w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349899736773776941564160013.jpg?w=1680 1680w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349899736773776941564160013.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349899736773776941564160013.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349899736773776941564160013.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349899736773776941564160013.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349899736773776941564160013.jpg?w=1440 1440w" sizes="auto, (max-width: 840px) 100vw, 840px" /></figure></li><img loading="lazy" width="840" height="560" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349905183824787803984495570.jpg?w=840" alt="" data-id="3410" data-imglink="" class="wp-image-3410" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349905183824787803984495570.jpg?w=840 840w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349905183824787803984495570.jpg?w=1680 1680w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349905183824787803984495570.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349905183824787803984495570.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349905183824787803984495570.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349905183824787803984495570.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349905183824787803984495570.jpg?w=1440 1440w" sizes="auto, (max-width: 840px) 100vw, 840px" /></figure></li><img loading="lazy" width="840" height="560" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349920427328399697107353650.jpg?w=840" alt="" data-id="3411" data-imglink="" class="wp-image-3411" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349920427328399697107353650.jpg?w=840 840w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349920427328399697107353650.jpg?w=1680 1680w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349920427328399697107353650.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349920427328399697107353650.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349920427328399697107353650.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349920427328399697107353650.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349920427328399697107353650.jpg?w=1440 1440w" sizes="auto, (max-width: 840px) 100vw, 840px" /></figure></li><img loading="lazy" width="840" height="671" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349924052127774857928153253.jpg?w=840" alt="" data-id="3412" data-imglink="" class="wp-image-3412" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349924052127774857928153253.jpg?w=840 840w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349924052127774857928153253.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349924052127774857928153253.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349924052127774857928153253.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349924052127774857928153253.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349924052127774857928153253.jpg 1223w" sizes="auto, (max-width: 840px) 100vw, 840px" /></figure></li><img loading="lazy" width="840" height="672" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349924715196333877544433308.jpg?w=840" alt="" data-id="3413" data-imglink="" class="wp-image-3413" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349924715196333877544433308.jpg?w=840 840w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349924715196333877544433308.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349924715196333877544433308.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349924715196333877544433308.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349924715196333877544433308.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349924715196333877544433308.jpg?w=1440 1440w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349924715196333877544433308.jpg 1461w" sizes="auto, (max-width: 840px) 100vw, 840px" /></figure></li><img loading="lazy" width="683" height="1024" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349910214716616470380751654.jpg?w=683" alt="" data-id="3414" data-imglink="" class="wp-image-3414" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349910214716616470380751654.jpg?w=683 683w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349910214716616470380751654.jpg?w=1366 1366w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349910214716616470380751654.jpg?w=100 100w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349910214716616470380751654.jpg?w=200 200w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349910214716616470380751654.jpg?w=768 768w" sizes="auto, (max-width: 683px) 100vw, 683px" /></figure></li><img loading="lazy" width="840" height="560" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-1613634992554909394611974947021.jpg?w=840" alt="" data-id="3416" data-imglink="" class="wp-image-3416" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-1613634992554909394611974947021.jpg?w=840 840w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-1613634992554909394611974947021.jpg?w=1680 1680w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-1613634992554909394611974947021.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-1613634992554909394611974947021.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-1613634992554909394611974947021.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-1613634992554909394611974947021.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-1613634992554909394611974947021.jpg?w=1440 1440w" sizes="auto, (max-width: 840px) 100vw, 840px" /></figure></li><img loading="lazy" width="840" height="388" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349931533354975103008577126.jpg?w=840" alt="" data-id="3417" data-imglink="" class="wp-image-3417" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349931533354975103008577126.jpg?w=840 840w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349931533354975103008577126.jpg?w=1680 1680w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349931533354975103008577126.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349931533354975103008577126.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349931533354975103008577126.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349931533354975103008577126.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349931533354975103008577126.jpg?w=1440 1440w" sizes="auto, (max-width: 840px) 100vw, 840px" /></figure></li><img loading="lazy" width="840" height="388" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349938867319090682564099600.jpg?w=840" alt="" data-id="3418" data-imglink="" class="wp-image-3418" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349938867319090682564099600.jpg?w=840 840w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349938867319090682564099600.jpg?w=1680 1680w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349938867319090682564099600.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349938867319090682564099600.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349938867319090682564099600.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349938867319090682564099600.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349938867319090682564099600.jpg?w=1440 1440w" sizes="auto, (max-width: 840px) 100vw, 840px" /></figure></li><img loading="lazy" width="840" height="388" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349934756524054718781512017.jpg?w=840" alt="" data-id="3419" data-imglink="" class="wp-image-3419" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349934756524054718781512017.jpg?w=840 840w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349934756524054718781512017.jpg?w=1680 1680w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349934756524054718781512017.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349934756524054718781512017.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349934756524054718781512017.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349934756524054718781512017.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349934756524054718781512017.jpg?w=1440 1440w" sizes="auto, (max-width: 840px) 100vw, 840px" /></figure></li><img loading="lazy" width="840" height="404" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349943568000847569384947921.jpg?w=840" alt="" data-id="3420" data-imglink="" class="wp-image-3420" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349943568000847569384947921.jpg?w=840 840w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349943568000847569384947921.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349943568000847569384947921.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349943568000847569384947921.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349943568000847569384947921.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349943568000847569384947921.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 840px) 100vw, 840px" /></figure></li><img loading="lazy" width="840" height="388" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349944011566436034216765243.jpg?w=840" alt="" data-id="3423" data-imglink="" class="wp-image-3423" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349944011566436034216765243.jpg?w=840 840w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349944011566436034216765243.jpg?w=1680 1680w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349944011566436034216765243.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349944011566436034216765243.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349944011566436034216765243.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349944011566436034216765243.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/wp-16136349944011566436034216765243.jpg?w=1440 1440w" sizes="auto, (max-width: 840px) 100vw, 840px" /></figure></li><img loading="lazy" width="768" height="1024" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/5573ae3e-abb6-4d22-b840-754d60a6acf4_1_105_c.jpeg?w=768" alt="" data-id="3424" data-imglink="" class="wp-image-3424" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/5573ae3e-abb6-4d22-b840-754d60a6acf4_1_105_c.jpeg 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/5573ae3e-abb6-4d22-b840-754d60a6acf4_1_105_c.jpeg?w=113 113w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/5573ae3e-abb6-4d22-b840-754d60a6acf4_1_105_c.jpeg?w=225 225w" sizes="auto, (max-width: 768px) 100vw, 768px" /></figure></li><img loading="lazy" width="840" height="560" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/57871cac-4d4b-4715-be4c-e776c1980579_1_105_c.jpeg?w=840" alt="" data-id="3425" data-imglink="" class="wp-image-3425" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/57871cac-4d4b-4715-be4c-e776c1980579_1_105_c.jpeg?w=840 840w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/57871cac-4d4b-4715-be4c-e776c1980579_1_105_c.jpeg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/57871cac-4d4b-4715-be4c-e776c1980579_1_105_c.jpeg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/57871cac-4d4b-4715-be4c-e776c1980579_1_105_c.jpeg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/57871cac-4d4b-4715-be4c-e776c1980579_1_105_c.jpeg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/57871cac-4d4b-4715-be4c-e776c1980579_1_105_c.jpeg 1086w" sizes="auto, (max-width: 840px) 100vw, 840px" /></figure></li><img loading="lazy" width="768" height="1024" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/a69be045-6fd1-4ddb-98a6-20644ef1bf77_1_105_c.jpeg?w=768" alt="" data-id="3426" data-imglink="" class="wp-image-3426" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/a69be045-6fd1-4ddb-98a6-20644ef1bf77_1_105_c.jpeg 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/a69be045-6fd1-4ddb-98a6-20644ef1bf77_1_105_c.jpeg?w=113 113w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/a69be045-6fd1-4ddb-98a6-20644ef1bf77_1_105_c.jpeg?w=225 225w" sizes="auto, (max-width: 768px) 100vw, 768px" /></figure></li><img loading="lazy" width="768" height="1024" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/7486422a-d80b-4de7-8e3e-0ada3338be74_1_105_c.jpeg?w=768" alt="" data-id="3427" data-imglink="" class="wp-image-3427" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/7486422a-d80b-4de7-8e3e-0ada3338be74_1_105_c.jpeg 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/7486422a-d80b-4de7-8e3e-0ada3338be74_1_105_c.jpeg?w=113 113w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/7486422a-d80b-4de7-8e3e-0ada3338be74_1_105_c.jpeg?w=225 225w" sizes="auto, (max-width: 768px) 100vw, 768px" /></figure></li></ul>]]></content:encoded></item>
<item><title>Layanan Dukungan Psikososial, Pengalaman Gempa Bumi Mamuju</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/layanan-dukungan-psikososial-pengalaman-gempa-bumi-mamuju</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/layanan-dukungan-psikososial-pengalaman-gempa-bumi-mamuju</guid><pubDate>Tue, 02 Feb 2021 19:22:44 +0000</pubDate><description>Awal tahun ini menjadi waktu yang cukup sibuk untuk saya pribadi. Ada banyak hal yang terjadi, baik di kehidupan pribadi maupun di kehidupan kerja. Saya sebagai seseorang yang merasa berfungsi sosial (keberfungsian sosial juga pernah saya bahas di blog ini), m...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Awal tahun ini menjadi waktu yang cukup sibuk untuk saya pribadi. Ada banyak hal yang terjadi, baik di kehidupan pribadi maupun di kehidupan kerja. Saya sebagai seseorang yang merasa berfungsi sosial (keberfungsian sosial juga pernah saya bahas di blog ini), maka saya berusaha sebaik-baiknya memenuhi peran-peran saya di setting pribadi maupun di setting kerja. </p>

<p>Minggu lalu saya mendapatkan tugas dari tempat saya bekerja sekarang. Tugasnya untuk melakukan pendampingan dalam pemberian Layanan Dukungan Psikososial (LDP) untuk adik-adik kita di Mamuju, Sulawesi Barat. Semuanya terjadi begitu cepat. Malam harinya saya diminta untuk antigen, kemudian besok paginya berangkat. Rute penerbangan yang diambil adalah Lombok-Bali-Makassar. </p>

<p>Pertanyaannya, kenapa tidak langsung Mamuju? Padahal ada Bandara juga disana. Jawabannya sederhana, tidak ada penerbangan connecting yang efektif dan efisien kesana. Penerbangan transit yang terdaftar di aplikasi pemesanan online seperti Traveloka atau Tiket.com mewajibkan kami untuk bermalam selama hampir satu hari di Makassar. Dalam situasi bencana tentunya satu detik waktu pun berharga.</p>

<p>Lalu, setelah menghubungi rekan kami yang ada di Makassar, maka diputuskan kami akan turun di Makassar dan menempuh jalur darat ke Mamuju. Perkiraan waktu itu sesuai Maps waktu tempuh Makassar-Mamuju sekitar 12 jam. Meskipun rekan yang mendampingi kami mengatakan bisa ditempuh selama sepuluh jam. </p>

<img loading="lazy" width="1024" height="768" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/img_2747.jpg?w=1024" alt="" class="wp-image-3376" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/img_2747.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/img_2747.jpg?w=2048 2048w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/img_2747.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/img_2747.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/img_2747.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/img_2747.jpg?w=1440 1440w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Keberangkatan dari BIZAM, Lombok.</figcaption></figure>

<p>Setibanya di Makasar dan ISOMA sekitar 30 menit, kami langsung berangkat menuju Mamuju sekitar pukul 15.30 WITA. Menjadi catatan ini adalah perjanan pertama saya di Bumi Sulawesi. Pertama kali dan langsung ditugaskan untuk menuju lokasi bencana. </p>

<img loading="lazy" width="576" height="1023" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/3ae7bc2b-1bc1-4134-a0e3-08dcdb0854e9.jpg?w=576" alt="" class="wp-image-3377" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/3ae7bc2b-1bc1-4134-a0e3-08dcdb0854e9.jpg?w=576 576w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/3ae7bc2b-1bc1-4134-a0e3-08dcdb0854e9.jpg?w=1152 1152w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/3ae7bc2b-1bc1-4134-a0e3-08dcdb0854e9.jpg?w=84 84w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/3ae7bc2b-1bc1-4134-a0e3-08dcdb0854e9.jpg?w=169 169w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/3ae7bc2b-1bc1-4134-a0e3-08dcdb0854e9.jpg?w=768 768w" sizes="auto, (max-width: 576px) 100vw, 576px" /><figcaption class="wp-element-caption">Gelap menjadi teman perjalanan kali ini</figcaption></figure>

<p>Kami berhenti beberapa kali untuk ISOMA dan juga meluruskan kaki. Perjalanan 12 jam cukup terasa, apalagi dengan kondisi jalan menuju Mamuju yang ternyata banyak yang berlubang dan bergelombang. Saya yang duduk di barisan belakang Avanza waktu itu, merasakan sekali guncangan. Sempat beberapa kali juga kepala saya mencium langit-langit Mobil. </p>

<p>Satu hal yang saya amati di perjalanan ini adalah protokol kesehatan dari masyarakat sudah sangat tidak terlihat. Masker pun jarang-jarang ada. Tempat makan kami setelah mendarat yang masih di daerah Makassar, pegawainya pun banyak yang tidak menggunakan masker. Ya, semoga saja karena memang sudah benar-benar bebas Covid daerah tersebut. </p>

<img loading="lazy" width="576" height="1023" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/18332424-703b-4eff-b4c8-7c2a86ac5750.jpg?w=576" alt="" class="wp-image-3378" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/18332424-703b-4eff-b4c8-7c2a86ac5750.jpg?w=576 576w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/18332424-703b-4eff-b4c8-7c2a86ac5750.jpg?w=1152 1152w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/18332424-703b-4eff-b4c8-7c2a86ac5750.jpg?w=84 84w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/18332424-703b-4eff-b4c8-7c2a86ac5750.jpg?w=169 169w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/18332424-703b-4eff-b4c8-7c2a86ac5750.jpg?w=768 768w" sizes="auto, (max-width: 576px) 100vw, 576px" /><figcaption class="wp-element-caption">Beberapa plat nomor di Sulawesi</figcaption></figure>

<p>Tepat 12 jam kemudian kami sampai di Mamuju. Melewati beberapa bekas longsor karena gempa bumi yang sudah dipindahkan. Sampai di penginapan pukul 03.00 WITA, tim kami pun istirahat karena pukul 08.00 WITA sudah diharuskan berangkat ke shelter pengungsian di Stadion Manakarra, Mamuju. </p>

<img loading="lazy" width="1024" height="575" data-id="3379" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/cc5fd6f1-ca98-4045-aef3-a3e3a80019b7.jpg?w=1024" alt="" class="wp-image-3379" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/cc5fd6f1-ca98-4045-aef3-a3e3a80019b7.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/cc5fd6f1-ca98-4045-aef3-a3e3a80019b7.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/cc5fd6f1-ca98-4045-aef3-a3e3a80019b7.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/cc5fd6f1-ca98-4045-aef3-a3e3a80019b7.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/cc5fd6f1-ca98-4045-aef3-a3e3a80019b7.jpg 1156w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>

<img loading="lazy" width="1024" height="575" data-id="3380" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/fc65f848-7d69-448b-b430-3804b5012fa5.jpg?w=1024" alt="" class="wp-image-3380" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/fc65f848-7d69-448b-b430-3804b5012fa5.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/fc65f848-7d69-448b-b430-3804b5012fa5.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/fc65f848-7d69-448b-b430-3804b5012fa5.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/fc65f848-7d69-448b-b430-3804b5012fa5.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/fc65f848-7d69-448b-b430-3804b5012fa5.jpg 1156w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>

<img loading="lazy" width="1024" height="768" data-id="3381" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/img_2797.jpg?w=1024" alt="" class="wp-image-3381" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/img_2797.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/img_2797.jpg?w=2048 2048w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/img_2797.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/img_2797.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/img_2797.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/img_2797.jpg?w=1440 1440w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
<figcaption class="blocks-gallery-caption wp-element-caption">Stadion Manakarra, salah satu shelter pengungsian bagi penyintas Gemp Bumi, Mamuju</figcaption></figure>

<h2 class="wp-block-heading">Layanan Dukungan Psikososial</h2>

<p>Sepertinya saya perlu menginformasikan terlebih dahulu perihal Layanan Dukungan Psikososial (LDP). Sebenarnya sudah ada banyak literasi yang menjelaskan mengenai LDP, mungkin coba saya rangkumkan dengan bahasa yang saya mengerti.</p>

<p>Sebelumnya kita mengetahui bahwa kegiatan LDP ini dilakukan untuk mendukung dan meningkatkan kondisi psikososial seseorang, sesuai namanya. </p>

<p>Terdapat kondisi psikologis, dan juga kondisi sosial. Keduanya saling berhubungan secara dinamis. </p>

<p>Kondisi psikologis orang akan mempengaruhi dan juga dipengaruhi oleh kondisi sosialnya. Kondisi sosial orang juga tentunya akan mempengaruhi dan dipengaruhi kondisi psikologisnya. </p>

<p>Bencana atau hal darurat lainnya memaksa manusia untuk tidak berada di garis keseimbangannya. Memaksa berada di garis darurat. Lebih mudahnya coba saya gambarkan (dengan sangat sederhana sangat-sangat sekali) seperti di bawah ini. </p>

<img loading="lazy" width="1024" height="725" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/img_2874.jpg?w=1024" alt="" class="wp-image-3383" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/img_2874.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/img_2874.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/img_2874.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/img_2874.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/img_2874.jpg 1242w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">garis keseimbangan manusia</figcaption></figure>

<p>Dalam kondisi ideal, atau dalam kondisi yang kita familiar dengannya. Manusia cenderung berada di garis hijau. Berada di tengah-tengah. Segala sesuatu berada di jangkauan kita. Manusia dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, manusia dapat menjalankan peran-peran di kehidupannya sesuai tuntutan masyarakat, manusia mampu mematuhi norma dan aturan yang ada.</p>

<p>Tapi, tekanan demi tekanan yang menimbulkan stres, menciptakan masalah, membuat semuanya menjadi terlihat serba salah menggeser garis keseimbangan manusia ke kanan dan ke kiri. Tidak terlalu penting arahnya, tetapi yang berlebihan itu tidak baik. Saat kondisi bencana bergeraknya garis keseimbangan ini menjadi lebih cepat. Menjadi tiba-tiba berada di pojok paling kiri maupun paling kanan. Kondisi gawat darurat. </p>

<p>Garis keseimbangan yang saya jelaskan secara sederhana ini dapat dibaca lebih lanjut dengan kata kunci <em>windows of tolerance</em> oleh Dr. Dan Siegel.</p>

<p>Dalam kondisi bencana, khususnya untuk anak. Ada banyak penyebabnya garis keseimbangan ini tidak berada dalam kondisi ideal, beberapa hal diantaranya seperti anak terpisah dari orangtuanya, anak melihat lingkungan fisiknya yang berubah drastis/hancur karena bencana, terabaikannya hak-hak anak, dan banyak penyebab lainnya yang bisa terjadi waktu pra, saat, dan pasca bencana. </p>

<p>Menjadi kesepahaman bersama saat bencana bahwa keselamatan diri adalah prioritas nomor satu, sehingga beberapa kepentingan anak menjadi terlewatkan. Tenda-tenda pengungsian yang ada pun membuat ruang privasi antar individu menjadi minim sekali. Hal ini dapat menjadi bahaya laten akan kekerasan seksual kepada anak. </p>

<p>Mas Poko, salah satu Pendamping Rehabilitasi Sosial Anak yang turun dari Jakarta mengatakan bahwa inti dari LDP adalah membuat anak bahagia. Tentunya dengan berbagai cara, kalau beliau spesialisasinya menggunakan media sulap. Hal ini yang juga beliau lakukan di Mamuju, bermain sulap dengan membuat anak menjadi peserta aktif dalam aksi-aksinya. </p>

<p>Adapun dalam pemberian LDP waktu itu tidak bisa dilakukan sembarangan, apalagi dalam kondisi bencana dan juga pandemi Covid-19. Ada prosedur yang dilakukan sebelumnya, pertama adalah berkoordinasi dengan koordinator di pengungsian tersebut. Hal ini penting dilakukan agar terdapat kesepahaman antara tim teknis yang melakukan LDP dengan orang-orang yang juga membantu di dalam pengungsian tersebut. </p>

<p>Secara teknis sendiri ada beberapa tahapan yang dilakukan pada saat pemberian LDP.</p>

<h3 class="wp-block-heading">1. Asesmen Kondisi Psikososial</h3>

<p>Asesmen dilakukan untuk mengetahui dan mendapatkan gambaran tentang permasalahan, kebutuhan, harapan, dan sumber-sumber yang dapat diakses dalam meningkatkan kesejateraan psikis dan sosialnya. Hal ini penting juga untuk mengetahui usia dari anak-anak yang akan diberikan LDP. Tahap perkembangan anak-anak tidaklah sama satu dengan yang lainnya. Perbedaan usia dapat menjadi hambatan besar apabila LDP dilakukan dalam satu kelompok yang heterogen. Kebutuhan anak usia di bawah 6 tahun, dengan anak usia di atas 12 tahun tentu saja berbeda. Maka dari itu penting untuk dilakukan asesmen awal mengenai kondisi psikososial mereka. </p>

<p>Apabila tidak dapat dilakukan asesmen dengan informan primer, dapat dilakukan aseamen melalui informan sekunder. Saya di Mamuju melakukan asesmen dengan rekan yang sudah hadir dulu di lokasi. Saya menjadi mengetahui keseharian mereka di lokasi pengungsian, rentang umur mereka, tantangan yang dirasakan oleh petugas lainnya, dan harapan-harapan mereka akan orang yang datang pengungsian.</p>

<p>Mengenai harapan ini memang perlu menjadi perhatian khusus dalam pelaksanaan LDP sepertinya. Pemberian bantuan karena bencana, sedikit banyak mempengaruhi kondisi psikis mereka. Anak bisa merasa bahwa setiap petugas yang hadir dan tampil di depan mereka, pasti akan memberikan bantuan. Padahal kan kenyataannya tidak begitu. Harapan yang tidak realistis ini dapat menjadi masalah bagi anak, maupun bagi petugas atau relawan yang ingin membantu. </p>

<p>Hal yang penting diingat, asesmen bukan sekedar pengumpulan data. Pada asesmen terdapat aspek <strong>penilaian</strong> akan data yang telah dikumpulkan. </p>

<h3 class="wp-block-heading">2. Perencanaan Kegiatan</h3>

<p>Setelah mendapatkan hasil asesmen, baru kita bisa bergerak pada tahap perencanaan kegiatan. Banyak sekali kegiatan yang dapat dilakukan saat LDP. Oleh sebab itu, agar efektif dan efisien perlu memperhatikan beberapa hal dalam perencanannya. Salah satunya adalah menentukan tujuan kegiatan. Hal ini agar kegiatan lebih terarah dan mendapatkan tema yang dapat diasosikan dalam pelaksanaannya. </p>

<p>Hal-hal penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam perencanaan adalah jumlah anak yang mengikuti, karakteristik anak dan pengasuhan di lingkungan tersebut, tempt dilaksanakan kegiatan, dukungan sarana prasarana, dan tidak lupa adalah pemilihan waktu kegiatan yang tepat. </p>

<p>Hal-hal yang terlihat sepele sebenarnya, tapi dalam pelaksanannya sering terlupakan. Kondisi anak yang mungkin tidak stabil, malah justru perlu perhatian lebih dalam penanganannya. Bukan sekedar hanya muncul, memberikan yel-, kemudian selesai. Ada banyak bahaya laten dari bencana yang terjadi yang mengancam kesejahteraan psikologis dan sosial anak. </p>

<p>Bahan-bahan yang bisa mendukung pun perlu disiapkan. Saya sengaja membawa beberapa permainan anak, alat menggambar, kertas origami dari tempat saya bekerja. Tapi, akhirnya tidak digunakan karena tidak ada waktu. Hal yang saya pelajari adalah, kita harus selau punya rencana cadangan.</p>

<p>Satu hal lagi yang cukup penting menurut saya adalah perlunya obaserver. Fasilitator LDP yang membentuk anak dalam kelompok, tentunya akan terbagi-bagi fokusnya yang membuat tidak semua anak dapat terawasi. Disini lah pentingnya ada observer untuk mengawasi masing-masing anak, sehingga saat ada perilaku yang tidak wajar dalam segera dilakukan intervensi. </p>

<h3 class="wp-block-heading">3. Pelaksanaan Kegiatan dan Monev terus menerus</h3>

<p>Pelaksanaan kegiatan tentunya perlu memperhatikan hasil perencanaan yang telah dilakukan, meskipun tidak jarang dalam kondisi bencana akan muncul kegiatan-kegiatan yang mungkin belum sempat direncanakan. </p>

<p>Monev juga perlu dilakukan secara terus menerus dalam pelaksanaan kegiatan. Evaluasi awal dan akhir juga menjadi keharusan, apabila tidak memungkinkan menggunakan instrumen baku. Salah satu cara paling mudah tapi mungkin tidak akurat yang dapat dilakukan kepada anak-anak adalah dengan menanyakannya langsung.</p>

<p>&#8220;Halo adik-adik, Kak Bimo mau tanya. Pagi ini yang perasaannya bahagia boleh tunjuk tangan?&#8221;</p>

<p>Pada akhir kegiatan pun juga ditanyakan kembali.</p>

<p>&#8220;Adik-adik kalau sekarang yang perasaannya sudah bahagia, boleh berdiri?&#8221;</p>

<p>Memang tidak akan seakurat menggunakan instrumen baku, tapi cara ini lebih memungkinkan dilakukan di kondisi pasca bencana. Setidaknya menurut saya. Ada perbandingan dari kondisi awal sebelum dilakukan LDP dengan kondisi akhir setelah dilakukannya LDP. </p>

<p>Saat bertugas di Mamuju dikarenakan keterbatasan waktu, saya lebih banyak berperan sebagai observer dan fasilitator LDP secara individu. Tidak hanya untuk anak, tetapi juga untuk orangtua yang berada di pengungsian. Saya percaya setiap fasilitator dalam LDP memiliki seninya masing-masing dalam membantu anak. </p>

<h2 class="wp-block-heading">Bahaya Laten Pasca Bencana</h2>

<p>Salah satu bahaya laten yang dapat terjadi pada anak pasca bencana adalah kemungkinan meningkatnya pernikahan usia anak. Saya sempat berbicara kepada beberapa orangtua yang anaknya sudah remaja, beberapa dari mereka menyampaikan akan menikahkan anaknya saat kondisi lebih stabil. Hal ini dilakukan agar dapat mengurangi beban orangtua dalam mengurus anak. Sayangnya dan seringnya, pernikahan usia anak justru membawa hal sebaliknya. </p>

<p>Pernikahan yang terjadi dapat terjadi karena paksaan orangtua. Kehamilan tidak dikehendaki karena kurangnya pengawasan dalam pengungsian di masa pasca bencana juga menjadi bahaya laten yang akan melanggengkan pernikahan usia anak di daerah bencana. </p>

<p>Saya yakin pemerintah pun sudah memiliki kajian mendalam perihal batas usia pernikahan yaitu pada umur 19 tahun, meskipun tetap ada permintaan dispensasi menikah di usia anak. </p>

<p>LDP sebenarnya bukan merupakan kegiatan yang sangat kompleks. Tujuan utamanya adalah mengembalikan kondisi individu kepada kondisi semula sebelum terjadinya bencana. Tapi, apabila asal-asalan juga akan ada dampak yang diberikan kepada anak kedepannya. </p>

<p>Saya sering menulis, dalam pelaksanaan kegiatan yang melibatkan manusia. Salah satu hal terpenting yang perlu diatur adalah manajemen harapan. Jangan sampai justru menjebak kita atau orang-orang lain yang mau membantu indicidu tersebut di masa depan. </p>

<p>LDP yang diberikan untuk anak juga bukan tentang siapa yang paling dulu sampai, siapa yang paling keras bersuara, siapa yang memberikan hadiah paling banyak, dan/atau siapa yang paling banyak masuk media.</p>

<p>Ini tentang kesejahteraan anak, dan akan selalu seperti itu. Sampai kapanpun. Demi kepentingan terbaik untuk anak. </p>

<img loading="lazy" width="1024" height="769" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/2a864b7c-1948-4964-977f-e98bb49c5447.jpg?w=1024" alt="" class="wp-image-3387" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/2a864b7c-1948-4964-977f-e98bb49c5447.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/2a864b7c-1948-4964-977f-e98bb49c5447.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/2a864b7c-1948-4964-977f-e98bb49c5447.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/2a864b7c-1948-4964-977f-e98bb49c5447.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/02/2a864b7c-1948-4964-977f-e98bb49c5447.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>

<p>Dalam suka duka mereka. Terpaut suka duka kami. Dan sejahtera mereka, adalah cita-cita kami. </p>
<cite>Hymne Almamater saya, STKS Bandung</cite></blockquote>]]></content:encoded></item>
<item><title>Bagian dari Kebahagiaan – Acep Zamzan Noor</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/bagian-dari-kebahagiaan-acep-zamzan-noor</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/bagian-dari-kebahagiaan-acep-zamzan-noor</guid><pubDate>Fri, 22 Jan 2021 20:17:24 +0000</pubDate><description></description><content:encoded><![CDATA[<audio controls src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/01/new-recording-5.m4a"></audio></figure>

<img loading="lazy" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/01/whatsapp-image-2021-01-22-at-20.08.44-e1611321342754.jpeg?w=720" alt="" class="wp-image-3344" width="540" height="437" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/01/whatsapp-image-2021-01-22-at-20.08.44-e1611321342754.jpeg?w=540 540w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/01/whatsapp-image-2021-01-22-at-20.08.44-e1611321342754.jpeg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/01/whatsapp-image-2021-01-22-at-20.08.44-e1611321342754.jpeg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/01/whatsapp-image-2021-01-22-at-20.08.44-e1611321342754.jpeg 720w" sizes="auto, (max-width: 540px) 100vw, 540px" /></figure>]]></content:encoded></item>
<item><title>Tahun untuk Menyerah</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/tahun-untuk-menyerah</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/tahun-untuk-menyerah</guid><pubDate>Fri, 22 Jan 2021 19:25:15 +0000</pubDate><description>Awal tahun ini Indonesia diterjang bencana demi bencana. Ujung barat ke timur, selatan ke utara jadi semacam berlomba untuk mempertontonkan bencana yang terbaik. Baru beberapa waktu yang lalu tempat saya bekerja mengirimkan tim untuk menyalurkan bantuan kepada...</description><content:encoded><![CDATA[<img loading="lazy" width="1024" height="682" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823562711641710023325356607749.jpg?w=1024" alt="" class="wp-image-1658" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823562711641710023325356607749.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823562711641710023325356607749.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823562711641710023325356607749.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823562711641710023325356607749.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823562711641710023325356607749.jpg?w=1440 1440w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823562711641710023325356607749.jpg 1776w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>

<p>Awal tahun ini Indonesia diterjang bencana demi bencana. Ujung barat ke timur, selatan ke utara jadi semacam berlomba untuk mempertontonkan bencana yang terbaik. Baru beberapa waktu yang lalu tempat saya bekerja mengirimkan tim untuk menyalurkan bantuan kepada teman-teman yang terdampak gempa di Sulawesi Barat. Meskipun tidak ditugaskan untuk turun langsung, saya turut merancang detail perjalanan mereka, merancang teknis penyaluran dan juga merasakan seram melalui cerita tim yang turun karena di beberapa wilayah listrik padam. Membelah jalan melewati hutan-hutan di malam hari. Melihat bagaimana manusia akan selalu mencari cara untuk bertahan hidup, meskipun harus melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Kondisi bencana, memungkinkan semuanya menjadi benar. </p>

<p>Benar-benar memang kebutuhan yang tidak dapat ditunda-tunda pemenuhannya, dan memang tugas pemerintah hadir untuk membantu masyarakat kembali dengan sebagian uang pajak dari mereka. Bukan sebagai bentuk belas kasihan, tapi karena memang bantuan tersebut adalah hak rakyat.</p>

<p>Tahun 2021 juga menjadi salah satu tahun yang akan panjang. Media online maupun cetak sudah sering melaporkan, angka kematian karena Covid-19 masih tinggi. Menembus rekor hari demi harinya. Tanpa menunjukkan tanda kapan untuk berhenti. Meskipun sudah ada usaha untuk membuatnya berhenti. Tapi, apa sudah terlambat? </p>

<p>Semoga saja tidak.</p>

<h2 class="wp-block-heading">Meredefinisi Kematian</h2>

<p>Banyaknya musibah atau bencana atau kemalangan-kemalangan yang hadir di Indonesia, membuat saya pribadi jadi memikirkan banyak hal sejak tahun lalu. Lebih banyak waktu di tempat kerja, lebih banyak waktu menghubungi keluarga, lebih banyak waktu untuk kehilangan, lebih banyak waktu untuk bicara ke diri sendiri. </p>

<p>Kematian menjadi bahasan sehari-hari. Kematian sudah merubah sifatnya sendiri, yang sebelumnya seperti hal yang tabu untuk dibicarakan. Sekarang menjadi bahasan rutin yang bertujuan mengingatkan akan pentingnya kehidupan dari setiap individunya. </p>

<p>Kematian menjadi jauh lebih dekat. Jauh lebih dekat, daripada yang pernah saya perkirakan sebelumnya. Lebih yang pernah kalian perkirakan juga saya yakin.</p>

<p>Banyaknya tantangan yang harus masing-masing kita hadapi itu juga yang membuat saya memilih untuk menyerah di tahun ini. Saya menyerah atas semua keras kepala saya sebelumnya. Saya menyerah atas semua keinginan yang tidak realistis, tapi selalu tersembunyi di balik kalimat, &#8220;saya pasti bisa&#8221;. </p>

<p>Saya pikir kita semua ini tidak punya cukup tenaga untuk menyukai semua orang, dan itu tidak apa-apa. Dengan berpikir seperti itu, justru apa yang saya lakukan menjadi berbeda dari kebiasaan saya sebelumnya. Saya jauh lebih banyak berteman dengan orang-orang baru. Saya lebih menahan diri untuk membenci atau memberikan pandangan negatif hanya berdasarkan informasi setengah-setengah yang saya terima. Apalagi kalau informasi itu hanya sebatas permukaan. </p>

<p>Tahun ini saya menyerah. Saya menyerah untuk mengusahakan bahwa apa yang saya kerjakan harus disukai orang banyak. Ketersinggungan itu sesuatu yang absolut. Tidak terhindarkan. Memahami hal tersebut, saya menjadi lebih bijak menyalurkan energi yang dipunya. </p>

<p>Saya menyerah untuk mengidolakan sosok. Hal seperti ini hanya menegasikan hal-hal buruk yang mungkin sosok tersebut lakukan. Bila sosok tersebut punya kesalahan di masa lalu, akan selalu saya maafkan. Saya mengidolakan sosok tersebut berarti saya juga harus mau menerima kesalahan-kesalahan di masa lalunya. Tapi, tidak ada apabila hal tersebut diulang kembali di masa ini. Menerima masa lalu itu sangat jauh berbeda dengan memaklumi kesalahan yang sama di masa sekarang. </p>

<p>Saya sadar banyak hal yang tidak bisa dilalui sendiri. Saya juga lebih sadar dan menghargai arti dari tiap nafas yang saya hirup dan hembuskan. Saya sadar tidak sempurna dan punya banyak kekurangan, dan saya menjadi sadar hidup itu akan selalu antara apa kata orang dan apa kata hati. Saya tahu kalau hidup berdasar apa kata orang, saya tidak akan sampai sejauh ini. Saya bangga dengan semua yang sudah saya tempuh dan lalui untuk sampai di tahap ini. Saya bangga dengan semua pencapaian saya di umur sekarang ini. </p>

<p>dan akan saya bagikan pencapaian ini dengan orang yang memang pantas untuk menikmatinya. </p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Why It’s Okay to Not Have it All Figured Out</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/why-its-okay-to-not-have-it-all-figured-out</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/why-its-okay-to-not-have-it-all-figured-out</guid><pubDate>Thu, 31 Dec 2020 23:44:34 +0000</pubDate><description>It has been a long year. Too long for some person maybe. But for me, this year is short. Maybe my office policy about work form home since March does make this year look so short for me. So, Covid-19 is still a thing, huh? I remember in March we though (or jus...</description><content:encoded><![CDATA[<img loading="lazy" width="768" height="1024" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/12/img_0045.jpg?w=768" alt="" class="wp-image-3302" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/12/img_0045.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/12/img_0045.jpg?w=1536 1536w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/12/img_0045.jpg?w=113 113w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/12/img_0045.jpg?w=225 225w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/12/img_0045.jpg?w=1440 1440w" sizes="auto, (max-width: 768px) 100vw, 768px" /></figure>

<p>It has been a long year. Too long for some person maybe. But for me, this year is short. Maybe my office policy about work form home since March does make this year look so short for me.</p>

<p>So, Covid-19 is still a thing, huh?</p>

<p>I remember in March we though (or just some of us) that Covid gonna last only till May or June. Boom, reality happens, and like we know this pandemic not gonna end even until next year. My mother also got infected and thank god that she is okay. Already tested negative last week. But the first time i hear the news, it broke my heart to pieces.</p>

<p>A lot of things happen this year. Because of this pandemic. Us, in Ministry of Social Affairs (MoSA) got pretty busy. Staying in the office till late night, lack of sleep, and a few times visit to emergency unit in hospital. Even though im not working in our Headquarter in Salemba, the tension is still there because of our part in national economic recoveries program or Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).</p>

<p>I&#8217;m still a social worker. Managing more than 10 cases this year. Different case, bring different experience. This year i have client that got served with our sensational UU ITE. Some client with addiction, thievery, and also some are the perpetrator of sexual abuse to children. Almost in constant number every year.</p>

<p>This year i also got a new additional task, as a planner or perencana. Translating the program that we need to help children and it families to a details of financial number and term of reference or guideline. That&#8217;s why i rarely write anyomore (it is an excuse).</p>

<p>Oh, in February my very first journal is published. The title is &#8220;Burnout of Medical Social Worker&#8221;. It took place in Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Hasan Sadikin Bandung. If you want to read it just email me, and i&#8217;ll send you the link. Hopefully in 2021, there will be more academic publication from me.</p>

<p>2020 happen like a river that flow from mountain to a waterfall with high cliff. I&#8217;m an overthinker, and 2020 really did me good. One sadness to another in a swift. One hapiness to another also in a blink of eye.</p>

<p>2020 is a year of gratitude.</p>

<p>I still don&#8217;t know what gonna happen in the future. But i do know that i need to enjoy every bit of emotion that comes through.</p>

<p>Thank you for all that happens in 2020, even if i can change the past. I won&#8217;t change anything from this year. See you guys on the next year that probably gonna be the same, unless you make it as a memories in everything you do.</p>

<p>Be healthy, be safety. It is okay to not have it all figured out. Expect more from me in 2021.</p>

<p class="has-text-align-right ">Ciao!</p>

<p class="has-text-align-right ">Your friendly social worker,</p>

<p class="has-text-align-right ">R. B. Kartiko Aji</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Maaf Bapak</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/maaf-bapak</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/maaf-bapak</guid><pubDate>Sun, 06 Dec 2020 21:10:45 +0000</pubDate><description>Salah satu pertanyaan yang sering saya tanyakan saat asesmen kepada anak adalah, “Kenapa kamu melakukan hal tersebut?” Seringnya akan dijawab, “Pergaulan pak”. Perilaku anak salah satunya dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Model sosial ekologi sering diseb...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu pertanyaan yang sering saya tanyakan saat asesmen kepada anak adalah, “Kenapa kamu melakukan hal tersebut?” Seringnya akan dijawab, “Pergaulan pak”. Perilaku anak salah satunya dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Model sosial ekologi sering disebutnya. Maka dari itu target perubahan yang direncanakan bukan hanya kepada anak sebagai sasaran saja. Tapi, juga termasuk keluarga, komunitas yang lebih luas, atau faktor-faktor lingkungan lain yang menjalani interaksi dengan anak.</p>

<p>Saya juga sering berdiskusi dengan rekan sejawat terkait hal ini. Saya sampaikan bahwa belum ada banyak sosok yang bisa ditiru oleh anak di lingkungan disini. Komunitas terdekat mereka yang justru malah menjadi trigger utama perilaku penyebab masalah anak-anak. Tidak selalu secara sukarela anak-anak jatuh dalam lubang masalah. Bisa melalui intimidasi ataupun cara-cara persuasif dengan pemberian barang yang tidak bisa dijangkau anak-anak secara gratis, contohnya NAPZA. Apabila sudah menjadi sebuah kebutuhan, para bandar bisa dengan mudah masuk untuk mempengaruhi anak-anak. Menjadi pengguna, atau menjadi kurir.</p>

<p>Sekarang pertanyaannya kalau lingkungan sekitar anak belum mendukung, lalu bagaimana?</p>

<p>Ada anak yang menemukan role model mereka di televisi, tapi seringnya tayangan di televisi kurang <em>relate</em> dengan kebutuhan anak. Saat ada anak yang sudah menjadikan seorang sosok sebagai role modelnya, justru karena alasan tertentu role modelnya berbalik dari melakukan hal-hal yang membuatnya menjadi role model pada awalnya. Role model hilang, anak jadi bingung.</p>

<p>Itulah beberapa dari kita belakangan ini. Kita ini dibuat sebagai seorang anak yang hanya dapat melihat sosok role model melalui televisi karena terbatasnya akses untuk menjangkau langsung. Lalu, saat kepercayaan sudah terbangun, yang terburuk terjadi. Harapan akan perubahan hilang.</p>

<p>Terlalu tinggi harapan, saat tidak tercapai kecewanya besar.</p>

<p>Terlalu rendah harapan, tidak ada penggerak dari perilaku yang akan dilakukan.</p>

<p>Kalau harapannya hilang bagaimana?</p>

<p>Saya belum tahu. Kalau kamu tahu, bantu saya cari harapan itu kembali.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>The Moon and The Sun</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/the-moon-and-the-sun</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/the-moon-and-the-sun</guid><pubDate>Sun, 23 Aug 2020 09:04:27 +0000</pubDate><description>The Sun asked The Moon, “Why are you so vulnerable?” and The Moon said, “Because i choose to.” The Sun confused, “Why though? Look at me. I’m the most powerful things in the universe. Without me, there will be no life.” “I know it so well, you are exactly what...</description><content:encoded><![CDATA[<p>The Sun asked The Moon, &#8220;Why are you so vulnerable?&#8221;<br>and The Moon said, &#8220;Because i choose to.&#8221;</p>

<p>The Sun confused, &#8220;Why though? Look at me. I&#8217;m the most powerful things in the universe. Without me, there will be no life.&#8221;</p>

<p>&#8220;I know it so well, you are exactly what father want us to be. To be strong. To be a role model. To be perfect. But i&#8217;m not you. I choose to be vulnerable around her. Because she also choose to be vulnerable around me. Sometimes you just find things.&#8221; said The Moon. </p>

<p class="has-text-align-center ">***</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>S-P-O-K yang Pulang</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/s-p-o-k-yang-pulang</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/s-p-o-k-yang-pulang</guid><pubDate>Fri, 14 Aug 2020 10:56:47 +0000</pubDate><description>S-P-O-K yang salah dipahami. Pulang tidak pernah terkait keterangan tempat yang memunculkan ingat, ketika ada waktu yang sempat. Pulang juga bukan objek, yang jadi bahan ejek dari teman lama di warung seberang pangkalan ojek. Predikat juga enggan mengakui pula...</description><content:encoded><![CDATA[<img loading="lazy" width="576" height="1023" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/08/2945a9d5-76ea-459d-b5b7-5f30bdb97c87.jpg?w=576" alt="" class="wp-image-3161" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/08/2945a9d5-76ea-459d-b5b7-5f30bdb97c87.jpg?w=576 576w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/08/2945a9d5-76ea-459d-b5b7-5f30bdb97c87.jpg?w=1152 1152w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/08/2945a9d5-76ea-459d-b5b7-5f30bdb97c87.jpg?w=84 84w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/08/2945a9d5-76ea-459d-b5b7-5f30bdb97c87.jpg?w=169 169w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/08/2945a9d5-76ea-459d-b5b7-5f30bdb97c87.jpg?w=768 768w" sizes="auto, (max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure>

<p>S-P-O-K yang salah dipahami. </p>

<p>Pulang tidak pernah terkait keterangan tempat yang memunculkan ingat, ketika ada waktu yang sempat. </p>

<p>Pulang juga bukan objek, yang jadi bahan ejek dari teman lama di warung seberang pangkalan ojek. </p>

<p>Predikat juga enggan mengakui pulang. Alasannya karena yang pulang akan selalu dianggap pecundang.</p>

<p>Tapi, akhirnya aku sadar, kalau pulang itu selalu tentang subjek yang menghadirkan sosok.</p>

<p>Bersamanya dirawat ingatan, yang menemani petang yang dingin hingga pagi yang nyaman. Pulang itu selalu tentang kamu, dan semua sisi baik juga buruk yang menjadikannya candu.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Kemungkinan Idul Adha</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/kemungkinan</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/kemungkinan</guid><pubDate>Fri, 31 Jul 2020 20:20:58 +0000</pubDate><description>Dikirim oleh seorang teman Tiap-tiap dari kita menjalani hari-harinya dengan berlalu begitu saja. Sampai kadang sengaja tidak menyadarkan diri bahwa yang terjadi adalah akumulasi dari kemungkinan. Akumulasi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dan tidak terjad...</description><content:encoded><![CDATA[<img loading="lazy" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/07/1da69b64-7769-41ea-882a-b999ccb41fab.jpg?w=576" alt="" class="wp-image-3125" width="288" height="512" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/07/1da69b64-7769-41ea-882a-b999ccb41fab.jpg?w=576 576w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/07/1da69b64-7769-41ea-882a-b999ccb41fab.jpg?w=288 288w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/07/1da69b64-7769-41ea-882a-b999ccb41fab.jpg?w=84 84w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/07/1da69b64-7769-41ea-882a-b999ccb41fab.jpg?w=169 169w" sizes="auto, (max-width: 288px) 100vw, 288px" /><figcaption>Dikirim oleh seorang <a href="http://aditami.wordpress.com">teman</a></figcaption></figure>

<p>Tiap-tiap dari kita menjalani hari-harinya dengan berlalu begitu saja. Sampai kadang sengaja tidak menyadarkan diri bahwa yang terjadi adalah akumulasi dari kemungkinan. Akumulasi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dan tidak terjadi. Dipilih atau tidak dipilih dengan berbagai macam latar belakang dan pertimbangannya.</p>

<p>Saya tidak pernah tahu pilihan yang saya ambil akan mengantarkan ke posisi saat ini, begitu juga dengan kalian. Kita ini, manusia hanya ahli merencanakan. Tapi, saat kita merencanakan mungkin saja Tuhan tertawa. Terlalu banyak perencanaan yang mendetail dan kadang tidak penting untuk dilakukan. Tentunya penting atau tidaknya akan menjadi subjektifitas setiap pelakunya. Bisa saja saya mengatakan bahwa bangun di pagi hari dan mengusap kepala pasangan adalah hal yang sangat penting. Tapi, belum tentu bagi orang akan seperti itu.</p>

<p>Pilihan-pilihan yang berani diambil itu tidak bisa dihitung dengan kode biner. Benar atau salah. Selalu ada kemungkinan-kemungkinan lain di luar benar dan salah tersebut. Selalu ada abu-abu yang siap memfasilitasi keraguan manusia akan kebenaran dan kesalahan dari suatu peristiwa.</p>

<p>Andai saja saya tidak kuliah di Bandung mungkin saya tidak akan ada di Lombok. Andai saja saya mengambil pekerjaan yang nyata ada saat itu, mungkin saya tidak akan ada di pekerjaan yang sekarang. Andai saja saya tidak berangkat pada kegiatan itu, mungkin saja saya tidak berkesempatan mengikuti kegiatan-kegiatan lainnya.</p>

<p>Terlalu banyak variabel yang termasuk di dalamnya. Terlalu angkuh juga kalau saya sampai merasa itu semua hanya kebetulan. Kalau memang nyatanya itu adalah kebetulan, saya akan selalu merayakan kebetulan tersebut. Baik maupun buruknya; senang maupun sedihnya; ada dan ketidakhadirannya.</p>

<p>Saya tidak mau menjadi benar ataupun menjadi salah. Terlalu lelah sepertinya kalau perjalanan setiap hari dipenuhi dengan hal seperti itu. Pembuktian bahwa hitam adalah hitam, dan putih adalah putih. Tidak apa biar orang lain yang mendebatkannya. Saya akan tetap menjadi abu yang kehitaman, dan putih yang keabuan.</p>

<p>Ciri yang diasosiasikan dengan diri kita yang terbentuk juga adalah hasil dari kemungkinan-kemungkinan yang mungkin tidak pernah kita aminkan. Naif, bodoh, baik, pintar, pemberani, pendiam, dan banyak ciri lainnya hanya konsep yang diasosiasikan dengan manusia. Belum tentu benar. Belum tentu diaminkan.</p>

<p>Pada ujungnya kemungkinan-kemungkinan yang pernah terlewatkan akan menjadi kemungkinan baru bagi subjek lainnya. Kebersamaan yang tidak terjadi adalah penyatuan bagi orang lainnya. Ketidakhadiran yang kosong akan menjadi keadaan yang penuh bagi yang lain. Kepulangan yang gagal adalah kebersamaan yang sukses bagi orang lain. Selalu ada kemungkinan-kemungkinan. Tidak hitam dan tidak putih. Mungkin saja tidak abu-abu. Kemungkinan itu bisa ungu berbalut polkadot.</p>

<p>Kemungkinan saya memang banyak. Tapi, sepertinya saya tahu apa yang saya inginkan dan usahakan dengan kemungkinan-kemungkinan yang telah dan akan terjadi.</p>

<p>Nantinya saya akan pulang ke rumah. Lalu anak pertama saya akan menghampiri saya seraya berkata, &#8220;Pa, mau dibantu kerjain PR&#8221;. Sementara ibunya sedang menyiapkan makan malam.</p>

<p>Disitu saya akan tahu. Semua kemungkinan yang terjadi dan tidak terjadi adalah tidak hanya hitam dan putih. Seperti kata saya di awal, saya akan selalu menjadi abu.</p>

<p>Selamat Idul Adha teman-teman. Semoga kalian merasakan kehangatan dari orang-orang yang kalian sayangi, juga orang-orang yang menyayangi kalian.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Sua;Sua</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/suasua</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/suasua</guid><pubDate>Wed, 15 Jul 2020 15:03:20 +0000</pubDate><description>*tuk tuk tuk* Terdengar ketukan nada-nada dengan ritme yang konstan dari gawai itu. Jari-jarinya sudah mahir untuk mengetik. Apapun medianya. Tetapi, ada hal yang aneh kali ini. Tangannya gemetar dan kalimatnya tidak kunjung diselesaikan. Pernah hampir selesai...</description><content:encoded><![CDATA[<p>*tuk tuk tuk*<br><br>Terdengar ketukan nada-nada dengan ritme yang konstan dari gawai itu. Jari-jarinya sudah mahir untuk mengetik. Apapun medianya. Tetapi, ada hal yang aneh kali ini. Tangannya gemetar dan kalimatnya tidak kunjung diselesaikan. Pernah hampir selesai, tapi kembali dihapus berulang-ulang. Dia ragu kali ini. Ragu untuk bertemu dengan emosi lainnya yang sudah lama tidak dirasakannya. </p>

<p class="has-text-align-center ">****</p>

<p>Rutinitas bukan untuk semua orang. Hanya orang-orang tertentu yang sanggup melakukan kegiatan-kegiatan yang sama setiap harinya, tanpa adanya variasi. Apabila ada variasi mungkin hanya menu makan malam saja, apa di pedagang kaki lima atau di restoran dengan menu kikil mercon favoritnya. Menggunakan jaket jeans favoritnya ataupun membiarkan angin menabrak tubuhnya. Lewat perempatan belok kanan atau jalan lurus, demi bisa melalui jalan yang sering dilalui bersama dulunya. Variasi-variasi kecil yang sebenarnya tidak akan berpengaruh pada hasil akhirnya. Tapi dilakukan. Ego mencoba percaya kepada efek kupu-kupu; Kepakan sayap kupu-kupu di Brazil yang beberapa orang percaya dapat membuat tornado terjadi di Texas. Random kan? Justru itu yang Ego cari, agar tidak terjebak di kehidupan yang bisa tertebak hari-harinya. </p>

<p>Otomatisasi menjadi sebuah keharusan yang tidak bisa dipisahkan dari Ego akhir-akhir ini. Pekerjaan yang terlalu padat menjadi salah satu faktor penyebabnya. Sebenarnya pekerjaannya hanya bagian kecil yang membuat Ego memasuki zona serba otomatis. Ada faktor lainnya. Tapi, Ego tidak pernah mau terbuka akan hal itu. Terlalu banyak tenaga yang dikeluarkan untuk membahasanya, katanya. Padahal, teman-teman terdekatnya sudah tahu. Ego tidak mau membahasnya karena dia masih belum bisa lari dari malam itu. Ego belum mau memahami. Katakanlah meskipun Dia sudah memahami, dia masih belum bisa menerima. </p>

<p>Ego sudah terbiasa sendiri. Kesendiriannya juga yang membuat hidupnya serba otomatis. Dia terlalu memahami dirinya. Terlalu paham, sampai tidak menyisakan ruang untuk menemukan kembali; atau justru ingin ditemukan kembali. Hal ini juga yang membuat Ego menjadi seperti sekarang. Terlalu banyak emosi dirinya yang dia temukan dalam waktu sekejap. Otaknya belum selesai memprosesnya. Tetapi pemicunya sudah pergi lagi. Meninggalkan Ego dengan segala sensasinya yang sampai detik ini pun masih sering dirasakan di waktu-waktu tertentu. Tentunya bukan sensasi yang menyenangkan. Justru kebalikannya. Ego seperti diajari untuk bernafas dalam air, kemudian dibiarkan untuk tenggelam.</p>

<p>&#8220;Pertemuan tidak pernah menyenangkan. Semua pertemuan tidak akan pernah menyenangkan. Pertemuan itu membuka pintu akan kepedulian. Pertemuan itu akan selalu diakhiri dengan perpisahan. Langsung. Maupun tidak langsung.&#8221; Gumam Ego dalam pikiranya.</p>

<p>Ego tidak mau bertemu dengan emosi-emosinya yang lain. Setidaknya untuk saat ini. Dia tidak mau tiba-tiba sesak nafas seperti kemarin. Ego tidak mau berkonsultasi dengan Psikolog kembali. Ego ingin kembali menjadi robot dengan semua rutinitasnya yang tidak menyenangkan. Tetapi, sepertinya Dia tahu bukan itu kebutuhan Ego sebenarnya. </p>

<p>Ego tahu siapa dirinya. Tapi dia belum mau membiarkan orang lain untuk mengetahui tentang dirinya. Ketika ditanya sampai kapan. Selalu dijawabnya.</p>

<p>&#8220;Sampai nanti sudah bisa menghitung lama waktu tempuh jalan kaki dari Bumi ke Bulan.&#8221;</p>

<p>Ego memang tidak akan pernah bisa melupakan. Tapi yang bisa dia lakukan, adalah menunda reaksinya.</p>

<p class="has-text-align-center ">****</p>

<p>Pada akhirnya kalimat di gawai selesai diketiknya.</p>

<p>&#8220;Sudah dikirim?&#8221;</p>

<p>&#8220;Belum. Untuk apa ya?&#8221;</p>

<p>&#8220;Untuk kebaikannya, kan?&#8221;</p>

<p>&#8220;Iya, selalu untuk kebaikannya. Sampai kapan pun.&#8221;</p>

<p>&#8220;Sampai kapan pun? Kamu tetap egois ya.&#8221;</p>

<p>&#8220;Hahaha, kan itu juga bagian namaku.&#8221;</p>

<img loading="lazy" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/07/img_0089.jpg?w=740" alt="" class="wp-image-3072" width="555" height="113" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/07/img_0089.jpg?w=555 555w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/07/img_0089.jpg?w=1110 1110w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/07/img_0089.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/07/img_0089.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/07/img_0089.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/07/img_0089.jpg?w=1024 1024w" sizes="auto, (max-width: 555px) 100vw, 555px" /></figure>

<pre class="wp-block-preformatted">Tulisan ini diinisiasi bersama Aditami. Tidak sengaja bertemu melalui sebuah podcast. Kemudian menantang diri sendiri untuk menulis tentang pertemuan. Tulisan ini saya kembangkan setelah mendapat draf awal tulisan Aditami. Aditami bisa ditemukan di <a rel="noreferrer noopener" href="http://aditami.wordpress.com" target="_blank">aditami.wordpress.com</a> dan instagram @bahas.asa</pre>]]></content:encoded></item>
<item><title>Menormalkan Kematian bagi Anak</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/menormalkan-kematian-bagi-anak</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/menormalkan-kematian-bagi-anak</guid><pubDate>Tue, 16 Jun 2020 16:10:35 +0000</pubDate><description>Saya pernah membaca sebuah puisi yang berjudul Childhood is the Kingdom Where Nobody Dies . Lalu bagaimana bila ada kematian di kerajaan itu? Utamanya di tengan pandemi seperti ini. Kekhawatiran banyak orang muncul dengan diumumkanya pembukaan sekolah-sekolah ...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Saya pernah membaca sebuah puisi yang berjudul <em>Childhood is the Kingdom Where Nobody Dies</em>. Lalu bagaimana bila ada kematian di kerajaan itu? Utamanya di tengan pandemi seperti ini. Kekhawatiran banyak orang muncul dengan diumumkanya pembukaan sekolah-sekolah berdasarkan kesepakatan bersama dari teman-teman Kementerian Pendidikan, Kementerian Agama dan juga Kementerian Kesehatan. </p>

<p>Dunia memasuki tatanan normal baru. Indonesia juga termasuk di dalamnya. Banyak yang harus dipaksa berubah. Seperti biasanya juga, perubahan tidak pernah menjadi hal yang mudah. Apalagi perubahan yang harus dipahami dan dijalankan oleh anak-anak. </p>

<p>Anak dalam masa perkembangannya belajar mengenai konsep sakit dan kematian. Saat masuk usia sekolah, setidaknya anak-anak sudah memahami konsep-konsep tersebut. Anak akan tahu saat seorang manusia sakit salah satu ujung akhirnya adalah kematian. Beberapa anak belajar hal ini lebih cepat dari yang lainnya. </p>

<p>Grief yang dialami anak bisa digambar dalam dua sisi. </p>

<p>Pertama, anak tidak terlalu berduka; karena masih belum paham dengan konsep kematian dan duka.</p>

<p>Kedua, anak menjadi yang paling terdampak. Ditunjukkan dengan kebingungan dan kecemasan akan keselamatan diri juga masa depannya.</p>

<p>Tapi, apa iya anak memikirkan tentang kematian?</p>

<p>Kastenbaum dalam bukunya &#8220;<em>Death, Society, and Human Experience&#8221; </em>menuliskan bahwa anak-anak ternyata memikirkan tentang kematian. Tapi hanya sebatas adanya pemisahan dan kehilangan. Belum memikirkan mengenai kematian adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari dan pasti terjadi. </p>

<p>Lebih mudahnya, kita dapat melihat gambar berikut. Menggambarkan tentang hubungan antara perkembangan kognitif anak dan juga pemahaman mereka tentang kematian. </p>

<img loading="lazy" width="956" height="688" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/06/wp-15922709828136532474586529287847.jpg?w=956" alt="" class="wp-image-2904" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/06/wp-15922709828136532474586529287847.jpg 956w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/06/wp-15922709828136532474586529287847.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/06/wp-15922709828136532474586529287847.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/06/wp-15922709828136532474586529287847.jpg?w=768 768w" sizes="auto, (max-width: 956px) 100vw, 956px" /></figure>

<p>Tabel tersebut dapat digunakan sebagai pemberi gambaran awal tentang pemahaman anak akan kematian sesuai umurnya. Tapi harus selalu diingat, tabel tersebut tidak dapat disamakan akan terjadi kepada seluruh anak. Perkembangan anak adalah sesuatu hal yang sangat bervariasi tergantung pada keunikan pengalaman hidup anak itu sendiri. Berarti masa pandemi ini, juga menjadi salah satu faktor yang akan mempengaruhi perkembangan anak. </p>

<p>Anak-anak mungkin tidak tahu apa yang sedang terjadi pada saat ini. Orangtua dan lingkungan mungkin juga malas atau kurang tahu juga untuk memberikan edukasi tentang Covid-19. Sampai ada anggota keluarga yang meninggal, dan anak ditinggalkan dengan berbagai pertanyaan yang belum terjawab. Kita juga perlu sadar, bahwa pembiaran dapat berkembang menjadi awal mula hadirnya masalah dan sepertinya itu hal yang jahat, bukan?</p>

<h2 class="wp-block-heading">Perbedaan Pengalaman</h2>

<p>Berbedanya pengalaman masing-masing anak memahami kematian, akan berujung berbeda juga desain solusi yang dikerjakan. Masa pandemi ini membuat anak-anak kehilangan anggota keluarganya. Sepertinya sudah tidak perlu saya tampilkan lagi berita-berita yang menyebutkan hal tersebut. Saya tidak pernah ingin menormalisasi penambahan angka kematian di data statistik harian Covid-19. Media sosial yang dimiliki Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pun sering menyampaikan kabar duka meninggalnya tenaga medis dokter di beberapa wilayah di Indonesia. Dibalik rilis tersebut, kemungkinan besar ada anak-anak yang kehilangan orangtua mereka. Itu salah satu contoh saja. Saya yakin lebih banyak data anak kehilangan anggota keluarganya di lapangan, tapi tidak terpublikasi.</p>

<p>Untuk memahami anak dalam memahami tentang kematian dan duka yang melindunginya; asesmen akan menjadi kunci. Beberapa hal yang setidaknya perlu didalami melalui asesmen adalah sebagai berikut:</p>

faktor individual, seperti pengalaman masa lalu anak akan grief dan kehilangan yang lain; tentunya akan mempengaruhi pemahaman anak terhadap kematian</li>faktor yang berkaitan dengan kematian, seperti apakah kematian terjadi tiba-tiba seperti saat masa pandemi Covid ini; apakah anak melihat saat keluarga meninggal; apakah ada stigma yang muncul dari penyebab kematiannya, dan berbagai hal lainnya</li>faktor-faktor lainnya di sekitar anak (lingkungan sosial, keluarga, agama, budaya, dan lainnya)</li></ul>

<p>Saya pikir setiap kematian anggota keluarga akan menyebabkan krisis. Apalagi saat waktunya tiba-tiba atau juga ditambah penyebab kematian yang tidak biasa; seperti overdosis NAPZA, AIDS, atau pada saat ini adalah Covid-19. Kematian yang terjadi pada anggota keluarga pada saat pandemi ini menciptakan kepercayaan akan adanya ketidakadilan. </p>

<p>Kematian anggota keluarga dapat meningkatakan kerentanan anak. Anak dapat merasa takut bahwa dirinya juga bisa meninggal. Sebaliknya, anak yang tidak merasa takut juga menjadi sebuah masalah di masa pandemi. Perlu dijaga sebaik-baiknya untuk menyeimbangkan kewaspadaan anak agar berada di titik yang seimbang, tapi tidak terlalu jauh agar tidak menimbulkan ketakutan yang kurang berdasar.</p>

<p>Perlu selalu untuk diingat kita dapat melindungi diri dan anak-anak kita sebaik mungkin. Tapi, selalu saja ada kesempatan kita semua tertular Covid-19. Apalagi anak-anak, yang belum terlalu <em>aware</em> dengan situasi yang ada. Jadi apa pembukaan sekolah merupakan keputusan yang tepat? Saya yakin teman-teman di Kementerian Pendidikan sudah memikirkannya dengan baik, kalau menurut anda sendiri bagaimana?</p>

<h2 class="wp-block-heading">Perbedaan yang perlu dipelajari</h2>

<p>Ada perbedaan antara grief yang dialami oleh anak dan oleh orang dewasa. Perlu kiranya memberikan pemahanan kepada keluarga yang sedang berduka tentang perbedaan ini. Anak punya waktu sedih yang lebih pendek daripada orang dewasa. Jadi tidak bisa disalahkan saat anak ingin bermain atau melakukan kegiatan menyenangkan lainnya di masa berduka. Bahkan, jauh lebih baik saat anak bisa kembali ke rutinitas biasanya secepat mungkin. Maka dari itu beberapa literatur menyebutkan pendekatan terapi bermain menjadi salah satu alternatif solusi yang dapat diambil. Membantu anak mengekspresikan perasaannya dengan media yang tepat. Membantu anak menguraikan kebingungan akan kematian yang terjadi. </p>

<p>Anak akan selalu mengininkan orang-orang yang menjaganya akan ada dan terus mencintai mereka selamanya. Kematian yang terjadi, salah satunya karen Covid-19; dapat membuat anak merasa ditelantarkan. Prosedur pemakanan yang tidak memperbolehkan keluarga untuk mendekat juga menjadi faktor yang menyebabkan pengalaman anak memaknai kematian dengan berbeda.</p>

<p>Teori perkembangan juga menyebutkan kalau orangtua mempunyai peranan vital dalam membantu anak menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya. Salah satunya yaitu membantu anak menemukan identitas dirinya sendiri. Sebenarnya, anak dapat juga mendapatkan bantuan menemukan identitasnya dari lingkungan pertemanan di luar keluarga. Tapi, saya rasa keluarga dan orangtua akan menjadi tempat terbaik untuk pengasuhan anak. Selama keluarga mampu, dan keluarga harus mampu. Apabila belum, harus dimampukan. </p>

<p>Memang inilah tatanan normal baru yang harus kita hadapi. Tapi, semoga bukan berarti kita menormalisasi angka kematian yang timbul akibat Covid-19. Bagaimanapun, anak-anak tetap harus dijaga sebaik mungkin. Mereka yang akan menggantikan kita semua di masa depan, dan pandemi ini sudah menjadi tantangan tersendiri bagi mereka untuk dilewati. Generasi tangguh mungkin akan jadi jargon mereka suatu saat nanti. </p>

<p>Jadi, kita harus bisa menjaga kepercayaan dan harapan mereka kepada kita (orang dewasa) pada saat ini. Terlalu tinggi harapannya, akan jadi beban di pundak kita semua. Terlalu rendah harapannya, anak akan kehilangan motivasi untuk melangkah ke masa depan. </p>

<p>Membantu mereka selamat melalui pandemi adalah tugas kita bukan?</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Orang Baik</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/orang-baik</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/orang-baik</guid><pubDate>Mon, 18 May 2020 19:50:35 +0000</pubDate><description>Aku selalu percaya bahwa manusia tidak pernah tahu apa yang dituliskan untuk dirinya. Kamu dan aku sama – sama tahu akan hal itu. Tapi, sepertinya sulit sekali untuk berpegangan teguh kepada sesuatu yang jauh ada di depan. Sesuatu yang kita tidak akan pernah t...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Aku selalu percaya bahwa manusia tidak pernah tahu apa yang dituliskan untuk dirinya. Kamu dan aku sama &#8211; sama tahu akan hal itu. Tapi, sepertinya sulit sekali untuk berpegangan teguh kepada sesuatu yang jauh ada di depan. Sesuatu yang kita tidak akan pernah tahu bagaimana yang sebenarnya. Kita diminta untuk harus memahami bahwa ada skenario terbaik yang sudah dituliskan oleh Yang Maha Mengetahui akan perjalan kita. Prosesnya tidak akan mudah. Penuh batu terjal dan juga karang yang tajam. Belum lagi angin dingin yang membuat sesak nafas apabila terjebak di dalamnya.</p>

<p>Percakapan malam itu sama seperti pelatuk sebuah senjata revolver berpeluru tujuh. Tidak banyak amunisinya, tetapi saat digunakan dampaknya cukup besar. Peluru tersebut mengantarkan kembali ingatan kepada keputusan beberapa waktu lalu. Keputusan yang tidak pernah dibayangkan akan terjadi oleh semua pihak. Keputusan sepihak, tapi akhirnya menjadi kebaikan semua pihak. Mungkin. Tapi, dilihat dari hasil keluarannya. Memang jadi yang terbaik untuk semuanya pada akhirnya. </p>

<p>Perpisahan itu tidak pernah menyenangkan. Sebaik dan sesering apapun gladi resik yang dilakukan. Serapi apapun skenario yang sudah disusun dengan melakukan <em>reading </em>berulang. Perpisahan tetap tidak sesederhana itu. Pementasan pun dimulai. Semua babak pun selesai ditampilkan. Tetapi, di akhirnya tidak ada tepuk tangan dari penonton. Kita sering lupa kalau sebuah hubungan itu adalah ranah privat. Bukan untuk menjadi penilaian orang lain. Tapi, selalu untuk menjadi elegi untuk diri sendiri. </p>

<p>Aku mahfum kalau skenario ini tidak hanya hitam dan putih saja. Tapi, itu kepercayaan fana. Sebenarnya kita sama &#8211; sama tahu kalau variabelnya terlalu berbeda untuk disederhanakan. Meskipun akhirnya jawaban yang akan terucap adalah sebatas &#8220;iya&#8221; dan &#8220;tidak&#8221; lalu diikuti tarikan nafas dan tersempil kata &#8220;maaf&#8221;. Apapun hasilnya kita semua akan sama &#8211; sama merasa bersyukur karena dipernahkan untuk bertemu. </p>

<p>&#8220;Mana mungkin bulan dan matahari bersatu&#8221;, katamu seraya mengalihkan pandangan. Memang. Mereka berdua tidak akan pernah bertemu. Tapi, kamu lupa. Mereka tidak pernah pergi dari Bumi. Saat yang satu menerangi dengan teriknya, yang satu menyapa dengan kelembutannya. Aku juga protes. Aku tidak mau menjadi Matahari ataupun Bulan. Aku Bintang saja. Meskipun tidak terlihat saat tertentu. Bintang selalu ada dengan redupnya. Membawa keseimbangan saat nantinya cahaya dari Matahari dan Bulan sedang tidak pada tempatnya. Tidak seterang mereka, tapi mengintip dari kejauhan dan bisa dilihat hanya oleh mereka yang benar-benar ingin mengetahui.</p>

<p>Kamu orang baik. Selalu akan seperti itu. Tidak akan berubah apapun yang terjadi pada akhirnya. Menyenangkan rasanya apabila bisa mencintai dan dicintai oleh orang baik. Meskipun kita juga harus memiliki kesadaran yang berlipat ganda. Orang baik artinya kita harus paham bahwa kebaikannya bukan untuk dimonopoli. Kebaikannya akan selalu dibagikan dengan siapa &#8211; siapa yang membutuhkan. Apapun perannya nanti. Kebaikanmu akan selalu ditunggu oleh mereka &#8211; mereka yang memang membutuhkanmu. Entah sebagai seorang istri, seorang anak, seorang ibu, tetangga, guru, penyemangat, ataupun sebagai seorang sahabat. Aku yakin kamu akan selalu baik di semua peranmu yang akan kamu jalankan nanti. </p>

<p>Kamu orang baik. Maka aku juga percaya di hatimu tidak pernah hanya tentang seseorang. Kamu menyediakan ruang &#8211; ruang kosong untuk orang lain yang kamu kasihi. Kamu membagikan waktumu untuk orang &#8211; orang yang membutuhkan kamu. Kamu tahu tidak akan bisa membantu semua orang yang membutuhkan kamu. Tapi, setidaknya kamu memastikan mereka tidak akan menghadapi semuanya sendirian.</p>

<p>Kamu orang baik. Kamu lilin yang selalu membakar dirinya untuk menerangi orang lain. Bisa saja suatu saat sumbu kamu habis. Yang perlu kamu lakukan hanyalah mencari lilin lain agar mampu membagi tugas menerangi. Sumbu kamu akan tetap habis. Tapi untuk waktu yang jauh lebih lama lagi. Menyenangkannya. Kamu akan sadar Kamu tidak perlu membakar dirimu sendiri untuk membuat orang lain merasa hangat dan terang. Kamu nanti akan sadar saat bertemu lilin yang tepat. Bahwa tidak apa-apa sumbu bekurang. Asal selama perjalanan terbakarnya kamu menari dengan api lilin lain di dalam kegelapan itu. Tarian indah yang membuat kamu merasa bahwa kesepian itu hanyalah sesuatu yang fana dan telah kamu tinggal di masa lalu. Kamu akan mengatakan, &#8220;aku mau menghabiskan lilinku, asalkan dengan kamu.&#8221;</p>

<p>Kamu orang baik. Maka dari itu aku sadar. Kalau mencintai orang baik itu tidak sesederhana menunggu bis di halte transjakarta. Sejak detik pertama ingin mencintai orang baik, aku sadar kalau harus berlari terlebih dahulu kemudian naik angkot untuk sampai tujuan. Perjalanannya akan panas dan melelahkan. Tapi aku yakin semuanya akan terbayarkan kala kamu kembali dicintai oleh orang baik. Sampai batas waktu dimana manusia tidak akan berani menentukan. Hanya bisa percaya saat kita menjatuhkan badan, maka dirinya akan mampu menangkapnya. </p>

<p>Jadi, selamat panjang umur kebaikan. Kita akan bermain truth or dare. Lalu saat kamu memilih dare, aku akan minta kamu untuk selalu bahagia sepanjang usiamu. </p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Laki-Laki yang Menunggu di Rumah Sakit</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/laki-laki-yang-menunggu-di-rumah-sakit</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/laki-laki-yang-menunggu-di-rumah-sakit</guid><pubDate>Wed, 13 May 2020 09:16:54 +0000</pubDate><description>Nafi masih belum terbangun. Keajaiban yang ditunggu – tunggu keluarganya juga masih belum menampakkan kinerjanya. Setiap hari Nafi diberi asupan nutrisi melalui selang makan yang diletakkan di dekat hidung sampai ke lambungnya. Ia juga harus selalu mendapatkan...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Nafi masih belum terbangun. Keajaiban yang ditunggu &#8211; tunggu keluarganya juga masih belum menampakkan kinerjanya. Setiap hari Nafi diberi asupan nutrisi melalui selang makan yang diletakkan di dekat hidung sampai ke lambungnya. Ia juga harus selalu mendapatkan bantuan pernafasan. Nafi koma. Ia berusaha mengakhiri hidupnya dengan menabrakan diri ke mobil yang sedang kencang melaju di Jalan Cakranegara di sebuah kota kecil di sisi timur Indonesia itu. </p>

<p>Nafi sendirian dalam perawatan. Orangtuanya tidak pernah tahu. Teman-temannya juga sudah jauh. Orang-orang kesayangan Nafi diperkirakan sudah tidak hadir dan juga tidak terlibat sejak lama dalam kehidupannya. Salah satu indikasinya adalah tidak adanya yang melaporkan anggota keluarga atau temannya yang hilang. Para tenaga medis yang ada di rumah sakit itu juga tidak tahu harus menghubungi siapa. Nafi ditemukan dan dibawa ke ruang IGD pada Sabtu malam lima bulan yang lalu. Tanpa ada petunjuk apapun yang menempel di badannya. Namanya pun diketahui pada saat di IGD dirinya sempat menyebut &#8220;Nafi..Nafi&#8221;. Entah nama siapa. Tapi nama tersebut dijadikan identitas awal pasien ini. Hanya ada dirinya sendiri. Juga kesadaran yang masih diperjuangkan oleh para tenaga medis. </p>

<p>Pada saat di rumah sakit. Ada seorang perawat yang ditugaskan untuk memonitor kondisi kesehatan Nafi. Jadi, setiap pagi perawat tersebut berjalan ke pojok lorong ruang perawatan. Tempat Nafi dirawat. Perawat tersebut terus melakukannya selama tiga bulan awal Nafi ada di ruangan itu. Harus mengikuti tugas katanya. Hatinya hancur setiap memasuki kamar Nafi. Perawat itu tidak bisa membayangkan rasanya menjadi sendirian. Rasanya berteman dengan kesunyian. Ia tidak tega apabila suatu saat Nafi bangun, tetapi tidak ada orang lain di sekitarnya. Terjaga sampai larut malam sudah menyedihkan. Apalagi ini terbangun dari koma beberapa bulan tanpa ada siapapun yang mencari dan mendampingi. </p>

<p>Perawat tersebut menceritakan hal yang dirasakannya kepada koordinator di ruangannya bekerja. Koordinator itu kemudan mengambil keputusan untuk memindahkan si perawat ke ruangan lain. Hal ini dilakukannya agar pekerjaan perawat tersebut tidak terganggu. Sulit bekerja dalam konsentrasi apabila masih sering menangis dalam sehariannya. Perawat itu pun dipindah ke ruangan yang berada tidak jauh dari ruangan sebelumnya. Ia sudah tidak memiliki kewajiban untuk memonitor perkembangan Nafi. </p>

<p>Tetapi rasa ibanya masih tetap ada. Hal ini juga yang membuatnya tetap datang ke kamar Nafi setiap shift kerjanya selesai. Sekadar menutup jendela kamarnya dan merapikan tempat tidurnya. Hal itu ia lakukan secara rutin. Bahkan saat dia tidak memiliki jadwal kerja. Perawat tersebut tetap datang ke rumah sakit. Hanya untuk menengok Nafi. </p>

<p>&#8220;Kamu ini ya. Sudah dibilangi engga usah kesini. Masih aja bebal. Ada apa memangnya?&#8221;, tanya Koordinator ruangan tersebut kepada si perawat.</p>

<p>&#8220;Engga apa-apa bu.&#8221;</p>

<p>&#8220;Dia keluarga kamu?&#8221;</p>

<p>&#8220;Bukan bu.&#8221;</p>

<p>&#8220;Lalu kenapa sampai seperti ini kamunya?&#8221;</p>

<p>&#8220;Saya tidak tahu bu. Sepertinya dia butuh saya&#8221;</p>

<p>&#8220;Engga masuk akal kamu ini. Yasudah lakukan sesukamu. Jangan sampai menganggu pasien lainnya.&#8221;</p>

<p>Perawat itu pun menuju ke kamar Nafi dirawat kembali. Ia menutup jendela kamar dan juga kembali merapikan tempat tidur dimana Nafi telah tirah baring lima bukan belakangan ini. Malam itu sedikit berbeda. Perawat tersebut ingin mengobrol dengan Nafi. Meskipun hanya satu arah. Tapi, perawat tersebut percaya kalau Nafi akan selalu mendengarkan dalam keterbatasannya.</p>

<p>&#8220;Nafi. Bagaimana kabarmu hari ini? Sepertinya sudah lama ya tidak ada orang yang menanyakan kabarmu. Aku tahu bagaimana rasanya saat tidak ada yang mencari. Saat tidak ada yang membutuhkan. Tapi, kali ini sepertinya kamu yang jauh lebih membutuhkan. Aku tidak tahu sebenarnya apa aku kamu butuhkan. Tapi, aku hanya ingin ada untuk Nafi. Aku tidak rela melihat siapa pun sendirian di rumah sakit ini.&#8221;, kata perawat tersebut sembari duduk di sebuah kursi di pinggir kasur Nafi.</p>

<p>&#8220;Aku mahfum kesepian yang kamu hadapi. Kamu mungkin merasa menjadi orang paling sial di seluruh dunia. Mungkin hal itu ada benarnya. Tapi, selalu ada kemungkinan hal itu salah. Buktinya. Aku ada disini. Meskipun ya seperti kataku tadi. Kamu mungkin tidak butuh aku.&#8221;</p>

<p>&#8220;Nafi, kamu tahu? Aku selalu membayangkan bahwa pasien &#8211; pasien yang sedang koma itu diberikan kelebihan. Mereka diberi waktu banyak untuk bisa hidup dalam mimpinya. Mimpi adalah oase terakhir bagi mereka yang sedang ada dalam ketidakpastian. Kamu juga pasti sedang sering bermimpi kan? Semoga mimpi kamu selalu baik ya.&#8221;</p>

<p>&#8220;Nafi saat kamu terbangun nanti. Kamu harus lakukan apapun hal yang mau kamu lakukan. Kamu harus mengejar bahagia menurut versimu apapun yang terjadi. Terlalu sedikit waktu untuk mengusahakan sesuatu yang tidak membuatmu bahagia. Bagaimanapun akhirnya nanti. Ingat ya, selalu lakukan apapun yang membuat kamu bahagia. Apapun.&#8221;</p>

<p>Percakapan satu arah itu berakhir dengan air mata yang juga turun dari perawat itu. Air mata yang menanggung banyak beban. Air mata yang dimiliki oleh sang penyelamat yang terkadang juga butuh untuk ditolong. Perawat tersebut sedang tidak baik &#8211; baik saja. Begitu pun Nafi. Tapi mereka berdua sepertinya sama &#8211; sama tahu kalau tidak apa-apa untuk tidak baik &#8211; baik saja. </p>

<p class="has-text-align-center ">***</p>

<p>Keesokan harinya di waktu Subuh Nafi terbangun. Benar seperti dugaan perawat itu. Nafi bisa mendengar apa yang disampaikan orang &#8211; orang disekitarnya. Nafi mendengar jangka waktu hidupnya yang ditentukan oleh seorang dokter. Dia mendengar petugas kebersihan yang harus membersihkan kotorannya setiap hari. Dia juga mendengar bagaimana keluarga pasien kamar sebelahnya mencari berbagai cara untuk membayar biaya perawatan keluarganya.</p>

<p>Dengan semua kekuatan terakhirnya. Nafi pun menaikkan tangannya yang biasanya ada di sebelah badannya ke atas. Sekali tarik. Bantuan pernafasan yang selama ini menunjang hidupnya selama lima bulan pun lepas. Nafi menjadi sulit bernafas. Tapi dia rasakan sensasinya. </p>

<p>Nafi mendengar perawat itu. Nafi ingin bahagia. Tapi, kebahagiaan Nafi hanya bisa ia rasakan di dalam mimpinya. Ia hanya bisa bertemu dan menjaga orang yang disayangnya di dalam mimpinya. </p>

<p>Nafi tidak mau terbangun lagi dari mimpinya. Ia ingin hidup selamanya di dalam mimpinya bersama orang yang disayangnya. Kali ini dia akan tidur lagi. Tapi bukan untuk kembali bangun. </p>

<p class="has-text-align-center ">***</p>

<p>Koordinator ruangan mengabarkan kepada perawat itu bahwa Nafi memilih mengakhiri hidupnya. Perawat itu menangis . Tetapi ia senang. Setidaknya Nafi sudah memilih cara bahagianya sendiri. Abadi dalam mimpi.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Anakku, ini Untukmu Kelak</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/anakku-ini-untukmu-kelak</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/anakku-ini-untukmu-kelak</guid><pubDate>Sun, 10 May 2020 21:22:04 +0000</pubDate><description>diambil di Borobudur, 2020 Sudah pukul sebelas malam. Aku melihatmu tertidur dengan tangan terlipat di sebelah meja kerjaku dengan lampu yang remang. Aku masih ingat dua jam yang lalu kamu bilang, “Mau temani ayah sekali-kali”. Khas dengan suaramu yang masih c...</description><content:encoded><![CDATA[<img loading="lazy" width="580" height="386" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823415105947281949987317756149.jpg?w=580" alt="" class="wp-image-1632" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823415105947281949987317756149.jpg?w=580 580w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823415105947281949987317756149.jpg?w=1160 1160w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823415105947281949987317756149.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823415105947281949987317756149.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823415105947281949987317756149.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823415105947281949987317756149.jpg?w=1024 1024w" sizes="auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px" /><figcaption>diambil di Borobudur, 2020</figcaption></figure>

<p>Sudah pukul sebelas malam. Aku melihatmu tertidur dengan tangan terlipat di sebelah meja kerjaku dengan lampu yang remang. Aku masih ingat dua jam yang lalu kamu bilang, &#8220;Mau temani ayah sekali-kali&#8221;. Khas dengan suaramu yang masih cempreng. Permintaanmu itu yang membuat aku harus melakukan tawaran bak ahli negosiasi di bursa saham kepada ibumu. Kita sama-sama tahu kalau kamu terlewat jam tidur. Besoknya kamu akan bangun kesiangan. Sedangkan, kamu harus sekolah juga. Tapi, ibumu mengizinkan. Sekali-kali katanya. </p>

<p>Kamu menemaniku dalam diam. Kamu tahu aku suka bekerja tanpa diganggu. Kamu mencoba menyibukkan diri dengan membaca berulang &#8211; ulang buku cerita anak favoritmu. Sesekali kamu tanyakan kepada aku apa arti kata yang baru saja kamu eja. Aku jawab sebisaku didampingi dengan senyuman terbaikku. Jam mulai bergerak maju dan gejala kantukmu mulai tiba. Berkali &#8211; kali aku tawarkan untuk kamu pindah ke tempat tidur dengan ibumu. Berkali &#8211; kali pula kamu menjawab dengan nada tinggi, &#8220;Engga mau. Aku masih mau disini&#8221;.&nbsp; </p>

<p>Tapi, akhirnya kamu tidur juga. Sesegera mungkin aku pindahkan badanmu yang masih setengah tinggi badanku itu ke tempat tidurmu. Selimut kesayanganmu tidak lupa ku taruh di atas tubuhmu. Lalu, tanpa sadar kamu menarik selimut itu kemudian kau peluk. Seakan besok selimut itu akan hilang dan tempat produksinya akan digusur tanpa sebab. Aku bisa membayangkan betapa hancurnya hatimu saat hal itu benar-benar terjadi.</p>

<p>Anakku, kamu tidak perlu khawatir. Aku akan mencoba sekuat tenaga untuk selalu hadir dan terlibat dalam masa tumbuh kembangmu nanti. Aku memang suka bekerja. Tapi, kamu dan ibumu tetap yang utama. </p>

<p>Aku yakin kamu nanti akan banyak bertanya. Aku pun dulu demikian. Tapi, aku pastikan. Aku akan ada untuk menjawab semua pertanyaanmu. Tanya ibumu, dia tahu bagaimana aku suka bertanya dan suka menjawab pertanyaan. Seakan itu pekerjaanku sehari-hari. Kamu tidak perlu khawatir saat nanti dihadapkan dengan kondisi yang menguji nilai kamu. Kamu pasti akan bertanya, &#8220;Kenapa ada orang yang bisa jahat ke orang lain&#8221;. Aku pun akan menjawab, &#8220;Karena kalau tidak ada orang jahat, orang baiknya nanti engga keliatan&#8221;. Klise memang. Kamu akan paham bagaimana dunia akan membesar-besarkan keburukan tapi kurang menghargai kebaikan. Tapi karena usiamu, kamu hanya akan mengangguk-ngangguk menandakan persetujuan atau justru malah kebingungan. </p>

<p>Aku yakin akan menjadi sumber tertawa di keluarga. Aku akan keluarkan bercandaan receh yang ibumu mungkin sudah bosan mendengarnya. Kamu akan senang karena baru pertama kali. Kemudian cerita lucu itu akan kamu ceritakan kembali ke teman-teman kamu lainnya. Mereka tertawa dan kamu akan mendapatkan kredit sosial dari mereka. Kamu akan sering diasosiasikan sebagai si pembuat bahagia. Seseorang yang berteman erat dengan humor.</p>

<p>Tapi, nak. Aku juga mau kamu menghargai emosi kamu yang lainnya. Aku tidak akan pernah rela saat kamu hanya dinilai sebagai sang maha lucu. Seakan hidup kamu selalu bahagia dan menyenangkan. Aku tahu di suatu saat nanti ada tugas-tugas perkembangan seorang ayah yang akan aku gagal lakukan. Kamu akan sedih karena itu. Kamu harus jujur ya dengan kesedihan kamu. Jangan tutupi dengan humor. Aku tahu kadang orang paling sering tertawa, adalah orang yang paling sedih. Kamu tidak mau orang lain merasakan kesedihan yang kamu rasa. Jadi, kamu berusaha sekuat tenaga membahagiakan orang lain. </p>

<p>Jangan ya. Sedih ataupun senang. Aku akan tetap jadi ayahmu yang akan selalu membanggakanmu di depan teman &#8211; teman bermain tenisku. </p>

<p>Aku akan membangunkanmu sebuah ruangan di salah satu sudut rumah. Ruangan yang dari dalamnya kamu bisa melihat langit dengan jelas. Kamu bisa melihat bulan cerah saat supermoon. Kita akan melihat berbagai rasi bintang yang kenyataanya tidak sama dengan sebutannya. Kamu akan kecewa. Tapi, aku akan ada disampingmu saat itu. Saat hujan turun kamu bisa melihat dengan jelas butiran air hujan yang jatuh ke bumi. Aku ingin kamu bisa ikut mensyukuri. Kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang patut dirayakan. Kamu juga adalah bagian dari kebahagiaan yang selalu akan aku dan ibumu rayakan.</p>

<p>Aku akan selalu menyiapkan telinga saat nanti kamu beranjak lebih dewasa. Saat kamu tidak yakin dengan sesuatu yang ada di dadamu. Kamu mulai mengenal perasaan. Kamu mulai tertarik dengan orang lain. Saat itu kamu akan menyadari kalau kebahagiaan orang lain ternyata membuat dirimu juga bahagia. Aku akan membantumu memahami perasaan itu. Aku juga akan membantumu saat patah hatimu yang pertama kali. Kamu pasti akan merasakannya. Tapi, kamu tidak akan sendirian menghadapinya. Tenang gini &#8211; gini. Aku juga punya pengalaman banyak tentang hubungan. Intinya adalah saat kamu patah hati. Kamu tinggal menentukan apa yang lebih penting. Sakitnya atau orangnya? Aku yakin kamu akan memilih orangnya. Doakan yang terbaik umtuk dirinya,&nbsp;agar menjadi doa yang baik juga untuk kamu.</p>

<p>*P.S. Aku tidak akan menceritakan ke ibumu.</p>

<p>Kita juga akan sering bekerja sama untuk menganggu ibumu nanti. Saat ulang tahunnya nanti kita buat ibumu marah dulu dari pagi, sebelum sore harinya kita buat ibumu terharu. Kita tunjukkan bahwa ibumu tidak salah memilih pasangan. Tidak salah juga melahirkan kamu. Kita bantu ibu untuk cuci piring, menyapu, dan mencuci pakaian. Tidak perlu diminta terlebih dahulu.</p>

<p>Anakku yang baik hatinya.</p>

<p>Kamu mungkin nanti juga akan merasa direndahkan karena kelebihan yang kamu miliki. Tapi, kamu akan mengerti kalau nol tiap orang itu berbeda-beda. Aku akan selalu mengusahakan nol terbaik untukmu. Ini janjiku. Kamu pun harus mengusahakan nol terbaik untuk anak &#8211; anakmu nanti.</p>

<p>Aku ingin nanti kamu tidak mengenal konsep berkorban. Aku ingin kamu selalu melakukan kebaikan untuk orang lain tanpa meminta balasannya. Jangan pernah sampai terucap nanti, &#8220;Kan aku sudah berkorban&#8221;. Aku akan jadi orang pertama yamg mengajakmu bicara. Tidak ada yang namanya berkorban. Kalau kamu senang dan tulus membantu orang lain ya lakukan. Tidak perlu ada prasyarat lain di dalamnya. Kamu akan merasakan nanti bagaimana senangnya merasa dibutuhkan. Jangan takut dibilang terlalu baik. Manusia memang suka mempermasalahkan yang sebenarnya hal wajar. Kamu tetap harus berbuat baik apapun yang terjadi. </p>

<p>Anakku yang baik hatinya. Kamu nanti akan aku bebaskan memilih semua jalan hidupmu. Kamu bebas memilih apa warna kamarmu berikut dengan tempelan poster-posternya. Kamu bebas memilih dimana kamu akan sekolah dan kuliah. Kamu bebas memilih siapapun pasanganmu. Kamu tidak akan dilarang mau bekerja dimanapun. Tapi, saat kamu sedang ragu. Aku dan ibumu akan selalu ada untuk menjadi tempatmu bercerita. Mungkin nanti kamu jauh, tapi kamu akan selalu menemukan cara untuk menghubungi kami. Kamu akan menemukan cara untuk pulang. Itu sudah ciri khas keluarga kita. Kemanapun kita pergi. Kita selalu tahu cara untuk kembali.</p>

<p>Sudah sekitar setengah jam berlalu. Aku masih ada disebelah kasurmu sembari mengusap kepalamu. Kamu merasa sedikit gelisah karena lampu kamarmu belum aku matikan. Aku sadar. Kamu banyak memberi perubahan baik kepada aku dan ibumu. Jadi, biarkan aku menjagamu dengan sekuat tenagaku. Seakan aku merawat kebaikan itu sendiri yang tidak akan pernah dibiarkan untuk padam. Kamu adalah kebaikan yang aku selalu rayakan.</p>

<p>Peluk hangat.</p>

<p>Ayahmu di masa depan.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Ode untuk Manusia</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/ode-untuk-manusia</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/ode-untuk-manusia</guid><pubDate>Tue, 05 May 2020 18:50:54 +0000</pubDate><description>Izinkan “saya” menggunakan “aku”. Aku selalu bilang kalau waktu itu benda mati. Tidak akan sakit hati kala dimaki ataupun dijauhi. Tapi, akhir – akhir ini sepertinya banyak orang alergi pada waktu. Aku pun begitu. Aku paham. Saat manusia tidak sanggup menghada...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Izinkan &#8220;saya&#8221; menggunakan &#8220;aku&#8221;.</p>

<p>Aku selalu bilang kalau waktu itu benda mati. Tidak akan sakit hati kala dimaki ataupun dijauhi. Tapi, akhir &#8211; akhir ini sepertinya banyak orang alergi pada waktu. Aku pun begitu. Aku paham. Saat manusia tidak sanggup menghadapi masalahnya. Kemungkinan besar. Masalah tersebut akan disalurkan kepada objek ataupun subjek lain. Sayangnya, budaya timur kita yang santun. Membuat aku, kamu, dan kita semua tidak mau menyalurkan masalah ke orang lain. Lebih mudah dilemparkan tanggung jawab ini kepada waktu. Toh, waktu tidak akan menuntut kan?</p>

<p>Berkaitan waktu. Sekarang aku dan kalian semua ada di lini waktu 2020. Sudah ada banyak kedukaan yang dirasakan. Sudah ada banyak kematian yang dinormalkan. Sudah ada banyak sakit hati yang didiamkan. Semuanya dirasakan secara kolektif oleh kita semua. Tidak ada satupun yang tidak. Seperti 2020 ingin bilang, &#8220;<em>wektumu ndek dunyo ki sediluk lo, meh opo mene kowe</em>&#8221; sambil terkekeh. Untungnya 2020 benda mati. Kalau ia hidup. 2020 akan menjadi individu dengan kepala besar. Aku pun akan bilang, &#8220;2020 kamu narsistik tengik. Cari bantuan profesional sana&#8221;.</p>

<p>Aku sampai terlalu fokus kepada 2020 seakan dia hidup. Kadang lupa bahwa dia hanya satuan waktu yang akan terus berjalan. Tidak peduli seberapa besar aku membencinya. Dia akan tetap berjalan sesuai kodratnya. Aku dan 2020 akan begitu. Berjalan di jalur masing &#8211; masing. Mungkin suatu waktu akan bersinggungan. Lalu akan pergi menjauh. Kemudian bertemu lagi di waktu yang jauh lebih baik. </p>

<p>Tapi, meskipun sejauh ini 2020 menyebalkan. Aku tidak mau dia berakhir lebih cepat. Ada kebahagiaan juga yang terselip di antara laranya. Tidak ikhlas rasanya kalau kebahagiaannya juga kemudian dipercepat. Cari sedih itu mudah sekali. Sedangkan. Bahagia akan subjektif setiap orangnya. Ada yang bilang mudah didapat. Ada yang bahkan rela tidak tidur untuk sekadar merasakannya di setiap hembusan nafasnya tiap malam. Ada yang bahkan belum menemukan kebahagiannya. Lagipula, itu lah spesialnya manusia. Menjadi salah satu penyebab juga aku senang mengamati manusia lainnya. Terdengar menyeramkan memang. Tapi, murni untuk pembelajaran.</p>

<p>Tahun ini hanya semakin menegaskan pentingnya komunikasi. Aku pikir kita semua ini sangat lemah dalam komunikasi. Hanya ada beberapa orang yang memang berbakat untuk jago dalam menyampaikan. Lainnya. Termasuk aku. Memanfaatkan berbagai simbol yang bisa dimanfaatkan. Lirik lagu. Gambar lucu. Kutipan sarat makna. Atau bahkan canda disaat hanya ada duka. Kita semua pandai menyembunyikan apa yang ada di balik mantel berlabel harga diri. Sepandai bagaimana sebuah praktik prostitusi akan tetap berjalan meskipun lokalisasinya dialih fungsikan. Beradaptasi menjadi miniatur lokalisasi kecil baru si tiap-tiap landmark di negeriku Indonesia ini. </p>

<p class="has-text-align-center ">***</p>

<p>&#8220;Kamu engga apa-apa&#8221; Sapa seorang teman. Aku pikir kepedulian sesederhana itu selalu dapat menjadi oase kecil yang mampu berlipat ganda tanpa perlu menunggu datangnya hujan. Kepedulian menjadi sebuah privilege tersendiri pada masa seperti saat ini. Semua orang berlomba-lomba menunjukkan kepeduliannya, meskipun mungkin saja mereka sendiri tidak merasakan kepeduliaan itu kembali pada mereka. Tapi, manusia dengan segala kekurangannya. Tetap melakukannya. Memang kita ini bebal kok. </p>

<p>Pada akhirnya hidup akan terus berjalan. Rasa sedih, duka yang sedang dirasakan individu. Tidak lantas membuat dunia menjadi berhenti atau melambat. Tidak seperti film-film aksi holywood yang sering ditonton di saat bioskop masih buka. Pada bagian akhirnya belum tentu tokoh utama akan datang dengan kuda putihnya untuk menghapus semua keraguan. Bisa saja dia memang datang, tapi juga berada dalam kondisi yang sama dengan orang yang akan ditolongnya. Tapi, ada hal yang tidak akan berubah. Kedatangannya selalu menandakan adanya harapan. Hal itu yang perlu dijaga sekarang.</p>

<p>Aku pikir juga. 2020 adalah waktu yang tepat untuk mengubah doa &#8211; doa yang terdengar egois menjadi lebih terdengar tuluis (aku tahu ini bukan dalam Bahasa Indonesia, tapi biarkan saja ya. Biar bahagia). Kalimat &#8220;aku ingin memiliki&#8221; diubah menjadi &#8220;aku ingin bisa menjaga&#8221;. Menjaga kesannya lebih tulus dan lebih tahan lama, meskipun tidak harus memiliki. Sedangkan memiliki lebih mementingkan diri sendiri dan belum tentu akan menjaga. Ya, aku juga tahu Tuhan tidak akan secara harfiah mendengar doa &#8211; doa kita semua. Tapi, hei. Apa salahnya jaga-jaga kan? Ya kan Tuhan?</p>

<p>Aku berharap kita semua bisa kembali ke usia saat kita masih balita. Jatuh sedikit, diusap &#8211; usap dengan rambut ibu. Secara ajaib langsung bisa sembuh. Kemudian berlarian lagi. Lalu, jatuh kembali di hari esoknya, tapi sudah melupakan luka di hari sebelumnya. Ajaib.</p>

<p>Mengakhiri tulisan yang tidak terstuktur ini. Ada berbagai harapanku kepada semuanya. Semoga kalian selalu diberi kebahagiaan. Semoga kalian bisa membagikan cinta yang kalian punya. Semoga kalian bisa memeluk keluarga meskipun hanya melalui doa. Semoga kalian tetap hidup. Semoga kalian tetap ada. </p>

<p>Semoga kalian tetap peduli. </p>

<p>Ini ode dari aku untuk manusia.</p>

<p class="has-small-font-size ">*ditulis sembari mendengarkan JP Saxe, Julia Michaels &#8211; If The World Was Ending</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Pertanyaan tentang Kebahagiaan</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/pertanyaan-tentang-kebahagiaan</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/pertanyaan-tentang-kebahagiaan</guid><pubDate>Fri, 17 Apr 2020 08:46:42 +0000</pubDate><description>Jakarta. Dokumen pribadi. “Kamu ini kenapa ya terobsesi kebahagiaan?” Pertanyaan teman saya dini hari tadi saat saya sedang bercerita. Saya ditanya begitu juga bingung. Kenapa ya? Kenapa sepertinya saya terobsesi dengan kebahagiaan? Padahal kebahagiaan itu san...</description><content:encoded><![CDATA[<img loading="lazy" width="580" height="200" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/09/cropped-2019_0901_21061500-01.jpeg?w=580" alt="" class="wp-image-328" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/09/cropped-2019_0901_21061500-01.jpeg?w=580 580w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/09/cropped-2019_0901_21061500-01.jpeg?w=1160 1160w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/09/cropped-2019_0901_21061500-01.jpeg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/09/cropped-2019_0901_21061500-01.jpeg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/09/cropped-2019_0901_21061500-01.jpeg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/09/cropped-2019_0901_21061500-01.jpeg?w=1024 1024w" sizes="auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px" /><figcaption>Jakarta. Dokumen pribadi.</figcaption></figure>

<p>&#8220;Kamu ini kenapa ya terobsesi kebahagiaan?&#8221; Pertanyaan teman saya dini hari tadi saat saya sedang bercerita. Saya ditanya begitu juga bingung. Kenapa ya? Kenapa sepertinya saya terobsesi dengan kebahagiaan? Padahal kebahagiaan itu sangat abstrak.</p>

<p>Definisi saja. Menurut kamu apa definisi kebahagiaan? Apa indikator sampai kamu bisa mencapai fase bahagia?</p>

<p>Bahkan hal abstrak seperti kebahagiaan. Pernah ditulis di dokumen resmi. <em>Declaration of Independence</em> dari Negeri Paman Sam di sana. </p>

<p>&#8220;The right to life, liberty, and the pursuit of happiness&#8221;</p></blockquote>

<p>Coba kita bayangkan. Mengejar kebahagiaan adalah sebuah hak. Padahal saya sendiri pun tidak tahu apa definisi kebahagiaan dan indikatornya. </p>

<p>Kebahagiaan itu apakah ketiadaan penderitaan?</p>

<p>Kebahagiaan itu apakah kondisi yang baru muncul ketika ada perbandingan? Misalnya cinta, keluarga, uang, jabatan, dan lain sebagainya.</p>

<p>Lalu, kenapa kebahagiaan setiap orang tidak sama? Kenapa harus dibuat berbeda? Kenapa indikatornya tidak jelas?</p>

<p>Apa sebenarnya kita buang-buang waktu mencari kebahagiaan yang sebenarnya tidak jelas?</p>

<p>Apa orang yang mengatakan bahwa, &#8220;saya bahagia&#8221; adalah orang yang benar-benar bahagia?</p>

<p>Tapi, mari buat kesepakatan. Bahagia itu bukan sesuatu yang bisa didapatkan. Bahagia itu kondisi yang hadir.</p>

<p>Kita bisa dapat lebih banyak cinta dari orang lain.<br>Kita bisa dapat banyak uang dengan berbagai cara yang berbeda.<br>Kita bisa mendapatkan rasa aman dari berbagai pihak.</p>

<p>Tapi itu semua tidak otomatis datang dengan kebahagiaan. Sama dengan kita tidak bisa memaksa diri menjadi bijak. Setiap orang bisa membaca buku psikologi perkembang. Tapi, itu tidak membuat dia tiba-tiba menjadi dewasa kan? Kita bisa bahagia. Tapi kita tidak bisa mendapatkan kebahagiaan. Indikatornya tidak jelas.</p>

<p>Kehadiran seseorang bisa menghadirkan suasana bahagia.</p>

<p>Kehadiran orang lain yang mungkin lebih baik dan lebih segalanya. Ternyata bisa membuat tidak bahagia.</p>

<p>Padahal kalau dilihat secara hitungan. Orang lain itu lebih segalanya dari orang sebelumnya. Tapi bahagia itu tidak didapatkan. Bahagia itu hadir dan ada dengan sendirinya. </p>

<p>Bahagia itu kondisi keadaan yang kita punya. Kita bisa bahagia saat bersepeda. Saat memasak. Saat mandi. Saat bisa makan es krim. Saat sendiri. Kebahagiaan itu ada di diri kita. Bukan sesuatu yang bisa didapatkan di luar sana. </p>

<p>Saat kita bahagia. Kita ingin orang lain juga bahagia. Saat kita membuat orang lain bahagia. Semakin bahagia juga diri kita. Kita menikmati suasana disini dan sekarang. </p>

<p>Saat kita hidup disini dan sekarang. Semakin berkurang pemikiran akan masa depan. Berkurang juga kekhawatiran akan masa lalu. Maka. Semakin bahagia kita. Bahagia ada di dalam diri kita. Atau lebih tepatnya, bahagia itu kita. </p>

<p>Kita adalah kebahagiaan. Kita membuatnya. Kita hidup di dalamnya. Sadari apa yang kita suka lakukan. Banyak hal pastinya. Wajar. Tapi, tetap kejar apa yang hati kita inginkan. </p>

<p>Lakukan kebahagiaan menurut diri kamu. Apapun itu.</p>

<p>Menari sendirian dengan musik kencang.</p>

<p>Membaca buku hingga pagi hari.</p>

<p>Bernyanyi dengan teriak-teriak di kamar mandi. </p>

<p>Menonton film yang kamu suka.</p>

<p>Menangis saat kamu butuh. </p>

<p>Menulis semua pemikiran kamu.</p>

<p>Lakukan apapun yang kamu inginkan. Selagi masih ada kesempatan untuk merasakan kebahagiaan.</p>

<p>Kalau kebahagiaan kamu tergantung pada orang lain. Tidak apa. Nikmati selagi bisa. Tapi, kamu juga harus sadar. Orang lain, siapapun itu hanya sementara di hidup kita. Mereka bisa pergi. Mereka juga bisa kembali. Dengan izin. Maupun tanpa izin. Harus siap apabila yang terburuk yang terjadi. </p>

<p>Ya, karena kita juga bisa pergi atau bisa kembali untuk orang lain juga. </p>

<p>Jadi. Mari bahagia. Selagi masih belum jelas indikatornya. Kalau sudah jelas, tidak menarik lagi mengejar bahagia.</p>

<p>Toh, terkadang proses perjalanannya yang menyenangkan. Bukan hasilnya.</p>

<p>dan</p>

<p>Tidak apa-apa untuk menjadi tidak apa-apa.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Kunjungan Kerja ke Belanda-Sistem Koreksional</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/kunjungan-kerja-ke-belanda-sistem-koreksional</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/kunjungan-kerja-ke-belanda-sistem-koreksional</guid><pubDate>Sat, 11 Apr 2020 14:48:38 +0000</pubDate><description>Photo by Tanathip Rattanatum on Pexels.com Jadi hari ini saya mau ajak anda kunjungan kerja online ke ke salah satu negara yang punya sistem koreksional yang menarik, yaitu Belanda. Persiapannya tidak banyak, hanya perlu kacamata, pakaian yang nyaman dan memut...</description><content:encoded><![CDATA[<img loading="lazy" width="1880" height="1253" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/04/pexels-photo-2026451.jpeg" class="wp-image-2366" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/04/pexels-photo-2026451.jpeg 1880w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/04/pexels-photo-2026451.jpeg?w=150&amp;h=100 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/04/pexels-photo-2026451.jpeg?w=300&amp;h=200 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/04/pexels-photo-2026451.jpeg?w=768&amp;h=512 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/04/pexels-photo-2026451.jpeg?w=1024&amp;h=682 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/04/pexels-photo-2026451.jpeg?w=1440&amp;h=960 1440w" sizes="auto, (max-width: 1880px) 100vw, 1880px" /><figcaption>Photo by Tanathip Rattanatum on <a href="https://www.pexels.com/photo/green-grass-field-2026451/" rel="nofollow">Pexels.com</a></figcaption></figure>

<p class="has-drop-cap ">Jadi hari ini saya mau ajak anda kunjungan kerja online ke ke salah satu negara yang punya sistem koreksional yang menarik, yaitu Belanda. Persiapannya tidak banyak, hanya perlu kacamata, pakaian yang nyaman dan memutar playlist saya di Spotify; Maka, dimulailah kunjungan kerja online saya mempelajari sistem koreksional di negara kincir angin ini. Meskipun dalam perjalanannya saya juga mampir sebentar ke U.S.A. Semuanya dibiayai oleh kuota saya pribadi. Jadi anda hanya perlu duduk dan membaca dengan nyaman sambil terus tetap #dirumahaja.</p>

<p>Seperti kebanyakan kunjungan kerja tentunya ada isu awal yang menjadi keresahan saya. Salah satunya adalah kebijakan pemberian kebijakan sekitar 30.000 narapidana untuk bebas <a rel="noreferrer noopener" href="https://nasional.kompas.com/read/2020/04/01/09314561/pembebasan-30000-narapidana-akibat-wabah-virus-corona" target="_blank">[1].</a> Saya setuju, karena keadaan darurat Covid-19 ini. Sudah banyak yang membahas bahwa banyak Lapas kita yang kelebihan manusia di dalamnya <a rel="noreferrer noopener" href="https://jarrakpos.com/25/03/2020/lapas-di-indonesia-over-capacity-pemerintah-didesak-sahkan-ruu-pemasyarakatan-cegah-wabah-covid-19/" target="_blank">[2]</a>. <em>Social distancing</em> ataupun <em>Pyhysical distancing</em> akan mustahil di lakukan apabila dalam sebuah ruangan yang tidak terlalu besar, diharuskan diisi 10-20 orang. Penyebarannya Covid-19 akan masif dan saya yakin teman-teman dari Kemenkumham juga akan kesulitan untuk memberikan pelayanan kesehatan apabila sudah demikian. </p>

<p>Tetapi ternyata kebijakan ini menjadi isu baru di masyarakat. Banyak mantan narapidana yang dibebaskan ternyata kembali mengulangi perbuatannya <a href="https://kumparan.com/kumparannews/napi-yang-bebas-karena-corona-berulah-lagi-kemenkumham-perketat-pengawasan-1tCHmsaYjo5">[3]</a>. Tentunya ada banyak faktor yang membuat mereka mengulangi perbuatannya. Kasuistik. Tapi untuk lebih mudah mencoba memahami saya ambilkan rujukan dari <em>Legislative Analyst Office </em>(LAO) di California dalam laporannya yang berjudul <em>Improving In-Prison Rehabilitation Program</em> <a href="https://lao.ca.gov/Publications/Report/3720">[4]</a> . Kita mampir sebentar ke California ya sebelum bertolak kembali ke Belanda. Tenang, saya yang bayar semuanya. </p>

<h2 class="wp-block-heading">Faktor Penyebab Tindakan Kriminal</h2>

<p>Berdasarkan LAO California. Ada delapan faktor yang menyebabkan individu melakukan tindakan kriminal.</p>

Perilaku anti sosial (ketidakmampuan menghindari kegiatan kriminal ketika berada dalam situasi yang punya resiko tinggi akan tindakan kriminal)</li>Kepribadian anti sosial (kepribadian manipulatif, eksploitatif, agresif, dan serba impulsif)</li>Pemikiran kriminal (sikap, nilai, dan kepercayaan yang bisa menuju tindakan kriminal)</li>Relasi anti sosial (relasi yang berada di lingkungan kriminal, dan tidak berelasi dengan orang di luar lingkungan tersebut)</li>Keluarga dan status perkawinan (hubungan yang buruk di dalam keluarga ataupun dengan pasangan)</li>Sekolah dan status pekerjaan (kinerja yang buruk dan ketidakpuasaan terhadap kondisi yang ada)</li>Waktu luang dan rekreasional (tidak adanya aktivitas yang dilakukan selain kegiatan kriminal)</li>Penggunaan zat adiktif</li></ol>

<p>Saya rasa delapan faktor tersebut dapat menggambarkan bagaimana seseorang bisa terlibat dalam kegiatan kriminal. Saya juga yakin sebenarnya masih banyak faktor-faktor lainnya, dan setiap wilayah akan berbeda keunikan dari faktor-faktornya. Kalau dikaitkan dengan Covid-19, tentunya faktor ekonomi yang menjadi penyebab utama. Lapangan kerja berkurang, daya beli masyarakat menurun, sedangkan kebutuhan untuk tetap hidup masih berjalan.Saat dihadapkan dengan kondisi demikian, coping manusia akan cenderung mengarahkannya pada tindakan yang sudah dia pahami sebelumnya. Situasi krisis bukan waktunya untuk mencoba-coba kata manusia tersebut. Apalagi kalau diliaht dari perspektif sosial, stigma di beberapa tempat masih ada dan tumbuh kuat terhadap mantan narapidana atau warga binaan. Belum tentu mereka akan diterima kembali di masyarakat. Seandainya diterima pun, catatan kriminal mereka akan cukup menyulitkan untuk mencari pekerjaan.</p>

<p>Nah, setelah dari California mari kita bertolak ke Belanda. Alasan saya ingin ke Belanda pada kunjungan kerja online hari ini adalah Belanda banyak menutup penjaranya karena kekurangan pelaku tindakan kriminal <a href="https://www.usnews.com/news/best-countries/articles/2019-05-13/the-netherlands-is-closing-its-prisons">[5]</a><a href="https://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/europe/netherlands/12201375/Netherlands-doesnt-have-enough-criminals-to-fill-its-prisons-as-crime-to-drop.html">[6]</a>. Bahkan, Belanda sampai menyewakan penjaranya ke Norway karena kekurangan pelaku tindakan kriminal <a href="https://www.reuters.com/article/us-norway-netherlands-prison/norway-to-rent-dutch-prisons-to-cut-convict-queue-idUSKBN0H325820140908">[7]</a>. </p>

<p>Jadi, apa yang membuat Belanda bisa demikian? Sampai kekurangan jumlah narapidana dibandingkan di Indonesia yang bahkan sampai pernah diharuskan tidur bergantian di dalam ruang tahanan.</p>

<p>Sistem koreksional di Belanda ini unik. Mereka memiliki lima level dalam penegakkan hukum. Dimulai tanggung jawab penuh terhadap tindakan kriminal sampai tidak adanya tanggung jawab akan tindakan kriminal yang terjadi, dengan tiga level di antara level tersebut<a href="https://www.bbc.com/future/article/20180423-the-unique-way-the-dutch-treat-mentally-ill-prisoners">[10]</a>. </p>

<p>Berdasarkan artikel yang saya baca, ada perubahan paradigma dalam sistem koreksional di Belanda. Belanda cenderung menghindari menahan orang apabila tidak diperlukan. Lalu, adanya putusan yang sudah diatur sebelumnya sehingga kasus tidak perlu masuk ke pengadilan, contohnya seperti denda. Hal lainnya adalah penggunaan mediasi yang diatur oleh pengadilan <a rel="noreferrer noopener" href="https://www.theguardian.com/world/2019/dec/12/why-are-there-so-few-prisoners-in-the-netherlands" target="_blank">[8]</a>. </p>

<p>Bagian terakhir sebenarnya sudah sering dilakukan di Indonesia juga. Apalagi dalam penanganan Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH); Diversi atau pengalihan pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana sudah galak dilakukan. Bahkan sudah menjadi pilihan utama yang harus ditempuh apabila pidana yang dikenakan pada anak sesuai dengan persyaratan diversi, yaitu tuntutan tidak diatas tujuh tahun dan bukan merupakan pidana pengulangan. </p>

<p>Tapi kenyataannya praktik di lapangannya sangat sulit. Banyak sekali tantangannya dan sistem yang sudah dibangun sepertinya belum bekerja dengan baik, tetapi bisa saja saya salah mengatakan demikian. </p>

<p>Salah satu penyebab lain penjara di Belanda bisa kekurangan orang adalah ada sebuah program yang dikhususkan sebagai sarana rehabilitasi bagi narapidana yang memiliki masalah kesehatan jiwa. Mereka sudah dimonitor sejak awal. Psikolog atau psikiatri menjadi pintu masuk awal melakukan asesmen terhadap narapidana. Berdasarkan hasil asesmen profesional kemudian narapidana yang memiliki gangguan kesehatan jiwa bisa dipindah ke <em>Penitentiary Psychiatric Centre </em>(PPC) yang dibedakan dari narapidana umum dan di beberapa kasus dipindahkan ke EZG atau <em>Extra Care Facility</em><a href="https://www.bbc.com/future/article/20180423-the-unique-way-the-dutch-treat-mentally-ill-prisoners"> [10].</a></p>

<p>Pemisahan dan asesmen sejak awal ini menjadi kunci dalam sistem koreksional di Belanda. </p>

<p>Fakta menarik lainnya yang saya pelajari dari kunjungan kerja online ini  adalah narapidana di Belanda mempunyai kemungkinan mendapatkan pelayanan psikiatri daripada masyarakat pada umumnya. Salah satu penyebabnya adalah perbandingan psikiatri terhadap populasi masyarakat umum. Hal yang unik untuk diketahui. Kalau di Indonesia sendiri bagaimana menurut anda? Apakah Lapas sudah memiliki SDM untuk menangani para warga binaannya?</p>

<p>Nah, untuk narapidana dengan tuntutan yang lebih serius biasanya akan dirujuk ke program Terbeschikkingstelling (TBS). </p>

<h2 class="wp-block-heading">Terbeschikkingstelling (TBS)</h2>

<p>TBS memiliki dua tujuan. Pertama, mencegah terjadinya tindakan kriminal lainnya. Kedua, membantu memulihkan ketidaknyaman yang timbul akibat gangguan kesehatan jiwa dan juga masalah sosial yang ikut ada di dalamnya. Melindungi masyarakat dari yang mereka tangani, sekaligus melakukan rehabilitasi terhadap mereka yang ditangani. </p>

<p>Uniknya TBS ini ada di dalam sistem koreksional di Belanda. Padahal di beberapa negara lain termasuk Indonesia, apabila ada gangguan jiwa yang menyertai dalam kasusnya kemungkinan besar orang itu akan dibebaskan dari segala tuntutannya <a href="https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt515e437b33751/apakah-seorang-yang-gila-bisa-dipidana/">[9]</a>. Meskipun ada juga yang dituntut tetapi dimasukan ke Lapas umum tanpa adanya pemisahan.</p>

<p>Ada persyaratan khusus juga untuk mengikuti program TBS ini, minimal tuntutan selama empat tahun dan punya kemungkinan besar untuk menjadi residivis atau mengulangi perbuatannya kembali di masa depan. Program TBS ini secara khusus menyebutkan membantu proses reintegrasi narapidan untuk kembali pada masyarakat. </p>

<p>Tapi, tidak semua narapida juga mau mengikuti program ini. Apabila tidak mau atau tidak bisa mengikuti, maka orang tersebut akan kembali dipindahkan ke <strong>rumah sakit </strong>dengan tingkat pengamanan tinggi. Dipindahkan ke rumah sakit, bukan ke penjara. </p>

<p>Bagi penerima manfaat dari program TBS ini, jaksa akan melakukan evaluasi terhadap perkembangan kondisi psikologisnya yang dinilai memainkan peranan penting dalam tindakan kriminal yang dilakukan. Waktu pelayanannya rata-rata antara enam sampai tujuh tahun <a href="https://www.bbc.com/future/article/20180423-the-unique-way-the-dutch-treat-mentally-ill-prisoners">[10]</a> , dan jaksa bisa meminta apabila kebutuhan layanan perlu ditambah waktunya. </p>

<p>Proses reintegrasi menjadi vital dalam sistem koreksional di Belanda. Kalau di Indonesia sendiri bagaimana menurut anda? Menurut anda para mantan warga binaan Lapas sudah memiliki kemampuan yang cukup untuk bisa kembali ke masyarakat?  Belanda pun mengatakan bahwa program TBS membantu dalam mengurangi residivis. </p>

<p>Sebenarnya juga banyak masyarakat Belanda yang mengininkan agar perlaku tindakan kriminal dihukum berat. Tetapi pemegang kebijakan juga sadar bahwa hukuman saja tidak akan membantu. Orang akan masuk penjara, keluar, dan dalam beberapa bulan melakukan tindakan kriminal kembali. Menurut Driel, seorang psikolog di TBS mengatakan bahwa bagaimana kita memperlakukan orang di penjara memiliki pengaruh besar akan kepulangan orang tersebut di masyarakat. Driel menyampaikan, &#8220;kalau kamu memperlakukan mereka seperti anjing, maka mereka akan berperilaku seperti anjing. Tapi kalau kamu memperlakukan mereka seperti manusia, maka mereka akan berperilaku seperti manusia&#8221; <a href="https://www.theguardian.com/world/2019/dec/12/why-are-there-so-few-prisoners-in-the-netherlands">[8]</a>.</p>

<h2 class="wp-block-heading">Kesimpulan</h2>

<p>Jadi dari kunjungan kerja online saya hari ini ada beberapa hal yang saya pelajari. </p>

<p>Banyak tuntutan yang diberikan kepada pelaku tindak kriminal di Belanda tidak panjang. Hal ini membuat kesempatan narapidana kehilangan pekerjaan, rumah, ataupun keluarganya kecil. </p>

<p>Reintegrasi yang berhasil. Proses reintegrasi yang diciptakan sistem di Belanda membuat angka residivis tidak tinggi. Narapidana dengan kondisi kesehatan jiwa yang tidak baik mendapatkan pelayanan oleh profesional. Hal ini juga yang membantu proses reintegrasi ke masyarakat. </p>

<p>dan sepertinya proses pelayanan yang memanusiakan manusia menghasilkan produk manusia juga. Siapa sangka? </p>

<p>Saya pikir kita sama-sama tahu kalau penjara tidak baik untuk siapapun. Kita bisa kehilangan pekerjaan, kehilangan rumah, kehilangan keluarga. Lalu, apa dengan mengubah tuntutan menjadi lebih pendek dapat membantu? Kemudian, menurut anda apa sarana prasarana dan juga sumber daya manusia di Lapas Indonesia sudah memadai? Pada tahun 2017 saya pernah melakukan kunjungan ke sebuah Lapas Narkotika, tetapi mereka tidak punya konselor adiksi maupun psikolog. Semoga di 2020 ini mereka punya.  </p>

<p>Lalu, seandainya anda diberi kesempatan untuk mengatur kebijakan dalam sistem koreksional di Indonesia, apa yang akan anda lakukan?</p>

<h2 class="wp-block-heading">Sumber Rujukan</h2>

<p class="has-small-font-size ">[1]<a href="https://nasional.kompas.com/read/2020/04/01/09314561/pembebasan-30000-narapidana-akibat-wabah-virus-corona">https://nasional.kompas.com/read/2020/04/01/09314561/pembebasan-30000-narapidana-akibat-wabah-virus-corona</a><br>[2]<a href="https://jarrakpos.com/25/03/2020/lapas-di-indonesia-over-capacity-pemerintah-didesak-sahkan-ruu-pemasyarakatan-cegah-wabah-covid-19/">https://jarrakpos.com/25/03/2020/lapas-di-indonesia-over-capacity-pemerintah-didesak-sahkan-ruu-pemasyarakatan-cegah-wabah-covid-19/</a><br>[3]<a href="https://kumparan.com/kumparannews/napi-yang-bebas-karena-corona-berulah-lagi-kemenkumham-perketat-pengawasan-1tCHmsaYjo5">https://kumparan.com/kumparannews/napi-yang-bebas-karena-corona-berulah-lagi-kemenkumham-perketat-pengawasan-1tCHmsaYjo5</a><br>[4]<a href="https://lao.ca.gov/Publications/Report/3720">https://lao.ca.gov/Publications/Report/3720</a><br>[5]<a href="https://www.usnews.com/news/best-countries/articles/2019-05-13/the-netherlands-is-closing-its-prisons">https://www.usnews.com/news/best-countries/articles/2019-05-13/the-netherlands-is-closing-its-prisons</a><br>[6]<a href="https://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/europe/netherlands/12201375/Netherlands-doesnt-have-enough-criminals-to-fill-its-prisons-as-crime-to-drop.html">https://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/europe/netherlands/12201375/Netherlands-doesnt-have-enough-criminals-to-fill-its-prisons-as-crime-to-drop.html</a><br>[7]<a href="https://www.reuters.com/article/us-norway-netherlands-prison/norway-to-rent-dutch-prisons-to-cut-convict-queue-idUSKBN0H325820140908">https://www.reuters.com/article/us-norway-netherlands-prison/norway-to-rent-dutch-prisons-to-cut-convict-queue-idUSKBN0H325820140908</a><br>[8]<a href="https://www.theguardian.com/world/2019/dec/12/why-are-there-so-few-prisoners-in-the-netherlands">https://www.theguardian.com/world/2019/dec/12/why-are-there-so-few-prisoners-in-the-netherlands</a><br>[9<a href="https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt515e437b33751/apakah-seorang-yang-gila-bisa-dipidana/">]<a href="https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt515e437b33751/apakah-seorang-yang-gila-bisa-dipidana/">https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt515e437b33751/apakah-seorang-yang-gila-bisa-dipidana/</a></a><br>[10]<a href="https://www.bbc.com/future/article/20180423-the-unique-way-the-dutch-treat-mentally-ill-prisoners">https://www.bbc.com/future/article/20180423-the-unique-way-the-dutch-treat-mentally-ill-prisoners</a></p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Menghargai Emosi</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/menghargai-emosi</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/menghargai-emosi</guid><pubDate>Thu, 09 Apr 2020 10:37:30 +0000</pubDate><description>manusia dengan segala emosinya. Dokumentasi Pribadi. Saya sebagai seorang pekerja sosial terus belajar. Banyak sekali ilmu yang saya belum miliki. Akhir-akhir ini saya sering sekali melihat sebuah fenomena yang bernama Toxic Positivity , apalagi menghadapi pan...</description><content:encoded><![CDATA[<img loading="lazy" width="4896" height="3264" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0337.jpg" alt="" class="wp-image-477" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0337.jpg 4896w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0337.jpg?w=150&amp;h=100 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0337.jpg?w=300&amp;h=200 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0337.jpg?w=768&amp;h=512 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0337.jpg?w=1024&amp;h=683 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0337.jpg?w=1440&amp;h=960 1440w" sizes="auto, (max-width: 4896px) 100vw, 4896px" /><figcaption>manusia dengan segala emosinya. <br>Dokumentasi Pribadi. </figcaption></figure>

<p class="has-drop-cap ">Saya sebagai seorang pekerja sosial terus belajar. Banyak sekali ilmu yang saya belum miliki. Akhir-akhir ini saya sering sekali melihat sebuah fenomena yang bernama <em>Toxic Positivity</em>, apalagi menghadapi pandemi Covid-19 ini. Saya pun mungkin juga pernah melakukannya, baik secara sadar maupun tidak sadar. </p>

<p><em>Everyone trying to be positive. It isn&#8217;t wrong, but i think there&#8217;s something weird about this feeling. I strongly believe in the undeniable power of positivity. But, i also believe that being not okay, is completely fine. After all, we are humans with all of our flaws.</em> </p>

<p>Penghargaan berlebihan kepada rasa bahagia, kepositifan pada semua situasi. Hasilnya adalah ingkarnya manusia kepada emosinya sendiri; Mungkin itu definisi saya akan <em>Toxic Positi</em>vity.</p>

<p>I don&#8217;t want to be at the mercy of my emotions. I want to use them, to enjoy them, and to dominate them</p><cite><strong>Oscar Wilde</strong></cite></blockquote>

<p>Semua yang berlebihan itu tidak baik. Saat positivisme digunakan untuk menyembunyikan pengalaman emosi manusia lainnya, sangat rentan hal tersebut menjadi <em>toxic</em>. Menjadi beracun. Menyakiti diri sendiri secara sadar. Kita dengan sengaja menolak dan merepresi emosi kita lainnya. Menutupnya dengan percobaan menunjukkan betapa positifnya diri kita pada semua situasi.</p>

<p>Padahal tahu sendiri manusia ini banyak kekurangannya. Saya bisa marah, bisa sedih, bisa merasa tidak ingin melakukan apa-apa. Saat kita menunjukkan <em>toxic positivity</em>,<em> </em>artinya kita membiarkan diri sendiri menjadi bukan manusia lagi.</p>

<p>Memang, tuntutan dari lingkungan sering menempatkan manusia untuk selalu positif. Masyarakat lebih menghargai perasaan positif, daripada perasaan yang dinilai negatif. Sedih, cemburu, marah, dan berbagai emosi lainnya seringnya dipinggirkan. Apalagi di beberapa budaya terjadi pengkotak-kotakan emosi untuk dimiliki kelompok tertentu saja. Saat individu memiliki emosi yang bukan ada di kotaknya, maka akan dipertanyakan kesesuaiannya dengan kotaknya dirinya berada sekarang.</p>

<h2 class="wp-block-heading">Jebakan yang Disadari</h2>

<p>Ada beberapa hal yang juga saya lakukan yang sering jatuh dalam jebakan <em>toxic</em> <em>positivity</em> ini</p>

Menyembunyikan emosi sebenarnya dengan memberikan emosi yang bisa jauh lebih diterima oleh orang lain.</li>Merasa bersalah akan emosi yang dirasakan saya sendiri</li>Selalu mendorong dengan memberikan perspektif &#8220;masih ada yang jauh lebih buruk, masih ada yang lebih tidak beruntung&#8221;</li>Percaya dan mengamalkan kalimat &#8220;ya mau bagaimana lagi&#8221;.</li></ul>

<p>Saya sadar betul beberapa hal diatas itu ada di diri sendiri. Maka dari itu saya menulis, setidaknya sebagai pengingat pribadi.</p>

<p>Kita, atau saya saja deh. Saya malu untuk mengakui emosi saya yang lainnya, mungkin apabila berani itu hanya ke beberapa orang saja. Saya dijebak oleh diri saya sendiri, yang tentunya dipengaruhi oleh lingkungan dimana saya tumbuh dan berkembang.</p>

<p>Saya bawa lingkungan karena rasa malu akan diperkuat dengan penghakiman. Penghakiman yang biasanya terjadi tanpa proses pengadilan yang membuat banyak manusia tidak mau mengakui emosinya sendiri. </p>

<p>&#8220;Saya bahagia. Saya bahagia. Saya bahagia.&#8221; </p>

<p>Banyak diucapkan sebagai mantra oleh beberapa orang pada pagi hari setiap dirinya akan berangkat aktivitas.</p>

<p>Padahal kita tahu, itu tidak menghilangkan emosi kita yang sengaja ingin kita tiadakan. Itu hanya pelarian sementara dari tanggung jawab yang kita bahkan tidak berani untuk menyapanya.</p>

<p>Rasa malu ini menimbulkan setiap orang berlomba-lomba membuat personanya masing-masing. Persona yang kadang juga saya bingung dibuat untuk apa. Siapa yang mau kita puaskan dengan persona palsu kita ini? Masyarakat? Kadang karena persona ini, kita melupakan bahwa diri sendiri punya kebutuhan. Sebuah hal yang tidak mungkin kita bisa memuaskan semua orang yang punya harapan ke kita.</p>

<p>Apa keberfungsian sosial itu berarti menegasikan emosi diri sendiri agar bisa sesuai dengan tuntutan masyarakat?</p></blockquote>

<p>Persona yang kita bangun ini seringnya membuat kita hidup lebih banyak dengan yang sebenarnya buka diri sendiri. Kehilangan koneksi dengan diri sendiri. Tidak menyadari kebutuhan diri sendiri. </p>

<p>Sering tidak kalian punya teman yang dari luar mungkin terlihat kuat sekali, tapi ketika mengenalnya lebih dalam sangat terlihat sekali pondasi dirinya sudah sangat rapuh dan menunggu untuk roboh. Ini yang diciptakan oleh rasa malu, tuntutan dari masyarakat, dan keenganan diri sendiri menghargai emosi yang ada.</p>

<p>Mengeluarkan kepalsuan diri sendiri hanya mengundang kepalsuan-kepalsuan lainnya, sampai nanti akan diciptakan narasi-narasi baru untuk mendukung kepalsuan kita yang sudah tidak bisa dihilangkan. Hidup bukan untuk diri sendiri. Apa tidak lelah? atau lebih tepatnya mau sampai kapan?</p>

<p>“Your emotions make you human. Even the unpleasant ones have a purpose. Don&#8217;t lock them away. If you ignore them, they just get louder and angrier.”</p><cite>Sabaa Tahir</cite></blockquote>

<p>Manusia ini punya banyak sekali emosi. Lebih mudah memahaminya mungkin bisa dengan membaca Plutchik’s Wheel of Emotions. Bisa diakses di link berikut<br><a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://www.6seconds.org/2017/04/27/plutchiks-model-of-emotions/">https://www.6seconds.org/2017/04/27/plutchiks-model-of-emotions/</a></p>

<img loading="lazy" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/04/screen-shot-2020-04-09-at-11.19.37.png?w=721" alt="" class="wp-image-2319" width="580" height="551" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/04/screen-shot-2020-04-09-at-11.19.37.png?w=580 580w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/04/screen-shot-2020-04-09-at-11.19.37.png?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/04/screen-shot-2020-04-09-at-11.19.37.png?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/04/screen-shot-2020-04-09-at-11.19.37.png 721w" sizes="auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px" /><figcaption>sumber tertera</figcaption></figure>

<h2 class="wp-block-heading"><em>Toxic Positivity</em> dan Penyampaiannya</h2>

<p>Ada beberapa hal yang sering kita sampaikan kepada orang lain yang justru menjadi positivisme yang <em>toxic</em>. Berikut list yang sangat membantu dari <a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://cmhanl.ca/app/uploads/2019/09/Toxic-Positivity-Handout-2019.pdf">https://cmhanl.ca/app/uploads/2019/09/Toxic-Positivity-Handout-2019.pdf</a></p>

<img loading="lazy" width="664" height="848" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/04/screen-shot-2020-04-09-at-10.00.38.png?w=664" alt="" class="wp-image-2318" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/04/screen-shot-2020-04-09-at-10.00.38.png 664w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/04/screen-shot-2020-04-09-at-10.00.38.png?w=117 117w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/04/screen-shot-2020-04-09-at-10.00.38.png?w=235 235w" sizes="auto, (max-width: 664px) 100vw, 664px" /><figcaption>sumber tertera</figcaption></figure>

<p>Intinya sebenarnya adalah tidak apa-apa untuk tidak apa-apa. Sejauh kita mampu mengendalikannya dan apabila tidak segera meminta pertolongan ke profesional. Kamu dan saya masih manusia yang tugasnya memanusiakan manusia. Itu berarti, kita juga harus memanusiakan diri sendiri, kalau kamu masih mau menjadi manusia seutuhnya; daripada hanya menjadi manusia yang hanya baiknya saja.</p>

<p>Mari menghargai emosi masing-masing. Kita sadari dan kita terima apapun itu. Setidaknya emosi-emosi itu yang membentuk kita sampai bisa seperti ini. Sadari. </p>

<p>P.S. Berikut penjelasan yang sangat memudahkan untuk memahami Toxic Positivity. Sumbernya tertera dan apabila ada yang mau didiskusikan mari kita berdiskusi. </p>

<img loading="lazy" width="740" height="881" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/04/screen-shot-2020-04-09-at-10.10.43.png?w=740" alt="" class="wp-image-2320" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/04/screen-shot-2020-04-09-at-10.10.43.png 740w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/04/screen-shot-2020-04-09-at-10.10.43.png?w=126 126w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/04/screen-shot-2020-04-09-at-10.10.43.png?w=252 252w" sizes="auto, (max-width: 740px) 100vw, 740px" /><figcaption>sumber tertera</figcaption></figure>

<h2 class="wp-block-heading">Rujukan Lainnya</h2>

<p><a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://www.cityline.tv/wp-content/uploads/2019/11/Toxic-Positivity.pdf">https://www.cityline.tv/wp-content/uploads/2019/11/Toxic-Positivity.pdf</a><br><a href="https://medium.com/the-post-grad-survival-guide/the-terror-of-toxic-positivity-95abb8d08f9">https://medium.com/the-post-grad-survival-guide/the-terror-of-toxic-positivity-95abb8d08f9</a></p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Ini Judulnya Belakangan</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/ini-judulnya-belakangan</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/ini-judulnya-belakangan</guid><pubDate>Wed, 08 Apr 2020 21:32:14 +0000</pubDate><description>Banyak kabar duka di tahun 2020 ini. Malam ini Glenn Fredly berpulang, sebelumnya ada juga sosok besar yang menuju keabadian. Banyak orang yang menyalahkannya kepada tahunnya. 2020. Padahal bukannya waktu itu ya berjalan saja tanpa peduli apa yang terjadi dala...</description><content:encoded><![CDATA[<p class="has-drop-cap ">Banyak kabar duka di tahun 2020 ini. Malam ini Glenn Fredly berpulang, sebelumnya ada juga sosok besar yang menuju keabadian. Banyak orang yang menyalahkannya kepada tahunnya. 2020. Padahal bukannya waktu itu ya berjalan saja tanpa peduli apa yang terjadi dalam pemanfaatannya. Waktu bukan benda sadar. Manusia yang berjalan di atasnya yang seringnya hanya sebentar. Tapi sering tidak sadar, sampai cahanya berhenti berpendar dan warnanya mulai memudar.</p>

<p>Beberapa bulan ini semuanya terasa seperti tidak baik-baik saja ya. Tapi tidak baik-baik saja pun tidak apa-apa. Tidak perlu selalu terlihat baik saat keadaannya tidak demikian. Ini juga saya masih perlu belajar banyak. Manusia bisa punya banyak rencana, toh akhirnya keadaan yang menentukan semuanya. Saya masih ingat sebuah kalimat yang saya temukan di linimasa Twitter beberapa bulan lalu. Kalau tidak salah bunyinya seperti ini, &#8220;Saat manusia masih berwacana, Tuhan sudah berencana.&#8221;</p>

<p>Akhirnya pelarian kita hanya kepada yang memang berada di luar kemampuan kita. Saat semuanya sudah mentok. Tidak ada lagi jawaban yang bisa dikeluarkan oleh mesin pencari. Tidak ada buku yang bisa memberikan penjelasan. Tidak ada orang yang mau memberi dukungan. Kembalinya ya ke Yang Maha Kuasa.</p>

<p>Siapa lagi?</p>

<p>Saya tidak mau menjadi antipati terhadap angka kematian yang ditimbulkan oleh Pandemi yang sedang kita hadapi bersama. Data kuantitatif memudahkan orang membaca kejadiannya, tetapi tidak dengan memahami kesedihan di balik angka tersebut. Satu orang pergi sudah terlalu banyak.</p>

<p>Saya paham kematian itu pasti. Tapi, saya tidak akan pernah mau menormalisasi kematian. Siapapun itu.</p>

<p>Jadi,</p>

<p>Jaga diri kalian. Jangan disia-siakan hidup dengan memilih jalan yang membuat kalian tidak bahagia. Hidup terlalu sebentar, untuk tidak memikirkan diri sendiri. Ambil pilihan kebahagiaan itu selagi belum mahal ataupun langka. Bersyukurlah kalau kalian masih memiliki hak istimewa akan pilihan, karena banyak orang bahkan tidak pernah mendengarkan apa itu pilihan di hidup mereka. Jaga kesehatan, makan yang bergizi, olahraga yang cukup. Jangan tidur larut malam.</p>

<p>Peluk orang yang kamu sayang, kalau bisa.</p>

<p>Berikan perhatian lebih, selagi masih ada.</p>

<p>Tetap ada dalam dekapan cinta ya.</p>

<p>Tapi, yang terpenting;</p>

<p>Jangan mati dulu hari ini atau besok-besoknya. </p>]]></content:encoded></item>
<item><title>I Like My Coffee</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/i-like-my-coffee</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/i-like-my-coffee</guid><pubDate>Sat, 28 Mar 2020 22:02:00 +0000</pubDate><description>i like my coffee, like how society handle the Covid-19 situation. easy at the first taste, and quickly become bitter in a second. they don’t know what gonna hit them, like my experience in tasting luwak coffee. just know from online review, and hear another pe...</description><content:encoded><![CDATA[<p>i like my coffee, like how society handle the Covid-19 situation.<br>easy at the first taste, and quickly become bitter in a second.<br>they don’t know what gonna hit them, like my experience in tasting luwak coffee.<br>just know from online review, and hear another people story.</p>

<p>i like my coffee, like how media framing the people hysteria.<br>searching for the truth, even though they may get the bacteria.<br>i know it is a virus, but who cares? like how people treat a cup of coffee.<br>it will be the same how you drink it, between starbucks or “warung kopi”.</p>

<p>but, there is a condition where i don’t want any coffee.<br>it is when you are not around here to support me.</p>

<p>*diadaptasi dari cerita mas dan mbak di sebuah restoran yang tidak sengaja saya dengar.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Grooming dan Pekerja Sosial</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/grooming-dan-pekerja-sosial</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/grooming-dan-pekerja-sosial</guid><pubDate>Tue, 24 Mar 2020 16:12:50 +0000</pubDate><description>seorang ibu dan anaknya di Borobudur-Dokumentasi Pribadi Konsep grooming sudah lama diasosiasikan dengan kekerasan seksual pada anak. Saya pernah mendengarnya sebelumnya tetapi masih kurang paham. Nah, bulan kemarin saat ada diklat sistem perlindungan anak di ...</description><content:encoded><![CDATA[<img loading="lazy" width="1776" height="1184" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823415105947281949987317756149.jpg" alt="" class="wp-image-1632" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823415105947281949987317756149.jpg 1776w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823415105947281949987317756149.jpg?w=150&amp;h=100 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823415105947281949987317756149.jpg?w=300&amp;h=200 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823415105947281949987317756149.jpg?w=768&amp;h=512 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823415105947281949987317756149.jpg?w=1024&amp;h=683 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823415105947281949987317756149.jpg?w=1440&amp;h=960 1440w" sizes="auto, (max-width: 1776px) 100vw, 1776px" /><figcaption>seorang ibu dan anaknya di Borobudur-Dokumentasi Pribadi</figcaption></figure>

<p class="has-drop-cap ">Konsep grooming sudah lama diasosiasikan dengan kekerasan seksual pada anak. Saya pernah mendengarnya sebelumnya tetapi masih kurang paham. Nah, bulan kemarin saat ada diklat sistem perlindungan anak di Yogyakarta. Salah satu mata bahasannya adalah tentang grooming. Tapi, karena terbatasnya waktu sehingga topik ini tidak terlalu dibahas tuntas. Saya karena penasaran pun menambah bahan bacaan dari beberapa rujukan terkait grooming ini.</p>

<p>Ken Lanning menjadi salah satu yang punya peran penting dalam mengkonseptualisasikan tentang Grooming ini. Berkat Lanning konsep grooming menjadi lebih dipahami dan lebih membuka pengetahuan tentang dampak dari kekerasan seksual kepada korban dan juga adanya hubungan yang rumit antara korban dan pelaku, karena seringnya kita terfokus hanya pada kejadian kekerasan seksual yang terjadi, dan kurang memperhatikan pra dan paska kejadian kekerasan seksual dilakukan. Kesimpulan dari paparan Lanning yang saya pahami adalah bahwa lebih penting memahami tentang sifat dan juga perkembangan hubungan antara pelaku dan korban daripada hanya terbatas pada adanya ajakan, rayuan, atau paksaan yang terjadi.</p>

<p>Saya sendiri ingin lebih banyak mengetahui tentang grooming dan segala sesuatu di dalamnya. Saya yang saat ini bekerja di lembaga rehabilitasi anak pun menyadari banyak sekali tantangan untuk mendapatkan informasi tentang kekerasan seksual yang terjadi dari perspektif korban. Sedangkan, dari perspektif pelaku jauh lebih mudah digali, dan menariknya informasi yang disampaikan oleh pelaku seringkali disampaikan begitu saja, tanpa adanya beban yang mungkin ikut di belakangnya. Tentunya tidak semua pelaku, tetapi menarik untuk dipelajari apa yang memungkinkan perbedaan itu ada.</p>

<p>Ada hal yang cukup mengganjal tentang kasus-kasus kekerasan seksual yang saya pelajari. Beban membuktikan adanya tindakan kriminal berupa pencabulan itu semua ada di pundak korban. Bisa dibayangkan beban psikis dari korban kekerasan seksual. Mendapatkan kekerasan, diminta tanggung jawab untuk membuktikannya. Belum lagi kalau ada relasi kuasa antara pelaku dan korban. Bisa apa selain memendam? Atau menyalahkan diri sendiri? Apalagi kalau korban ada di usia anak.</p>

<h2 class="wp-block-heading">GROOMING</h2>

<p>Ada berbagai definisi yang sudah dimunculkan terkait grooming ini. Lanning sendiri menyebutkan bahwa grooming adalah dimana pelaku kekerasan seksual secara tanpa kekerasan mengakses dan mengontrol korban kekerasan seksual anak untuk memfasilitasi keinginan seksualnya. Meskipun begitu Lanning juga mengatakan bahwa penggunaan ancaman dan paksaan masih sering juga ditemukan.</p>

<p>Colton, dkk (2012) juga mengeluarkan definisinya sendiri tentang topik ini. Grooming adalah sebuah proses yang meliputi tiga tahapan. Tahap pertama, memperoleh akses kepada korban. Tahap kedua, melakukan dan merawat terjadinya kekerasan seksual. Tahap ketiga, menyembunyikan terjadinya kekerasan seksual.</p>

<p>Berbeda dengan definisi tersebut, McAlinden (2006) mengatakan bahwa grooming adalah perilaku yang dipersiapkan oleh pelaku kekerasan seksual kepada anak. Ada persiapan. Bukanlah sebuah kejadian spontan. Sudah direncanakan, dan sudah dilaksanakan dengan berbagai kemungkinannya. Tapi ahli lainnya Benner dan O&#8217;Donohue (2014) mengatakan bahwa perilaku grooming akan sulit dibedakan dari interaksi biasa antara anak dan orang dewasa. Menyeramkan?</p>

<p>Mari kita bayangkan. Ada predator anak yang berteman dengan anak anda. Mereka mencoba memposisikan dirinya agar punya minat yang sama dengan anak anda, dan kemudian pada akhirnya mendapatkan kepercayaan tidak hanya dari anak, tetapi juga dari anda selaku orangtuanya. Perkembangan teknologi juga membuat kekerasan seksual bisa terjadi secara daring maupun luring. Secara daring, apa bisa kita mengawasi apa yang anak kita lakukan dengan gawainya 7&#215;24 jam?</p>

<p>Atau kalau boleh saya simpulkan grooming ini tujuannya adalah serangkaian usaha yang dilakukan untuk mendapatkan kepercayaan dari korban maupun orangtua, yang nantinya dimanfaatkan untuk memfasilitasi kepentingan seksual pelaku.</p>

<p class="has-text-align-left ">Bagaimana sebenarnya pengalaman anak langsung tentang grooming ini? Kutipan berikut bisa sedikit menggambarkan.</p>

<p>&#8220;They make your parents look like they are terrible, and your friends look like thet are not your friends &#8211; because he&#8217;s always the one making you feel good about yourself. (Mereka membuat orangtuamu terlihat buruk, dan teman-temanmu seolah-olah mereka bukan temanmu. &#8211; karena si pelaku selalu menjadi yang pertama membuat dirimu nyaman.&#8221; </p><cite>Alicia Kozakiewicz</cite></blockquote>

<p>Alicia baru berumur 13 tahun ketika dia di-grooming (saya belum menemukan padanan kata yang pas), diculik, menerima kekerasan, dan diperkosa oleh seseorang yang dikenalnya melalui dunia maya.</p>

<p>Pada beberapa kasus, pelaku menggunakan ancaman dan kekerasan fisik untuk memaksa terjadinya hubungan seksual atau kekerasan seksual kepada anak. Meskipun mayoritasnya memang menggunakan pendekatan yang tersembunyi atau diam-diam dengan meraih kepercayaan dari anak dan orang-orang di sekitarnya.</p>

<h2 class="wp-block-heading">Tujuan</h2>

<p>Jadi, coba saya ambil kesimpulan dari definisi-definisi tersebut. Tujuan dari grooming ada beberapa, yaitu:</p>

Memanipulasi persepsi dari orang dewasa lainnya di sekitar anak.</li>Memanipulasi anak dalam rangka mengurangi kemungkinan kekerasan seksual terbongkar, dan meningkatkan kemungkinan anak kembali mencari pelaku kekerasan seksual.</li>mengurangi kemungkinan anak dipercaya, apabila anak melaporkan</li>yang paling akhir, meminimalkan kemungkinan kekerasan seksual terdeteksi</li></ol>

<p>Grooming dapat terjadi di berbagai tempat, baik di lingkungan umum, domestik, ataupun institusional. Lebih lengkapnya dapat melihat tabel berikut. Meskipun selalu ada skenario lain yang terjadi pada kasus kekerasan seksual pada anak.</p>

<img loading="lazy" width="989" height="868" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/03/wp-15850378638029071481566189290852.jpg?w=989" alt="" class="wp-image-2120" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/03/wp-15850378638029071481566189290852.jpg 989w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/03/wp-15850378638029071481566189290852.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/03/wp-15850378638029071481566189290852.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/03/wp-15850378638029071481566189290852.jpg?w=768 768w" sizes="auto, (max-width: 989px) 100vw, 989px" /></figure>

<h2 class="wp-block-heading">Memahami Perspektif Pelaku dalam Grooming</h2>

<p>Memahami sebuah kejadian, kita perlu untuk mengambil perspektif dari semua orang yang terlibat dalam kejadian tersebut, tidak terlepas dalam kasus grooming dalam kekerasan seksual yang terjadi pada anak.</p>

<p>untuk lebih memahaminya saya kutipkan beberapa pernyataan dari pelaku kekerasan seksual yang pernah ada. Meskipun berbahasa inggris, tetapi akan saya terjemahkan karena masih sangat relate dengan kasus-kasus di Indonesia.</p>

<p>&#8220;I was overly friendly with the children, to the point of huggin and so on. That should have alerted someone that something wasn&#8217;t right, i tended to relate more to children instead of adults and my peers, and that should have alerted someone that something wasn&#8217;t right (Saya sangat dekat dengan anak, sampai pada tahapan memeluk dan lainnya. Seharusnya itu menimbulkan kecurigaan dari orang kalau ada sesuatu yang tidak beres. Saya merasa lebih memahami anak-anak ketimbang orang dewasa dan teman saya, dan lagi itu seharusnya menimbulkan kecurigaan dari orang lain kalau ada yang tidak beres&#8221;</p><cite>Pelaku Kekerasan Seksual</cite></blockquote>

<p>&#8220;i&#8217;d start sexualising the conversation, a little bit at a time, and then a little hug, if i sensed any resistance at all i&#8217;d stop (saya mulai dengan membuat percakapan kami menjadi lebih seksual ((lebih sering menyinggung hal-hal seksual)), sedikit lebih sedikit, kemudian ada pelukan, ketika saya merasakan adanya penolakan dalam bentuk apapun maka saya akan berhenti.&#8221;</p><cite>Pelaku Kekerasan Seksual</cite></blockquote>

<p>&#8220;and normally most offenders get the victim alone, part of the grooming is to get them alone. &#8216;This is where i live, if you want a hand with your homework, or want to get your bike fixed&#8217;. That&#8217;s where the offence is most likely to occur. (dan biasanya pelaku kekerasan seksual dapat membuat korban sendirian, bagian dari grooming adalah membuat korban sendiri. &#8216;ini tempat tinggalku, kalau kamu membutuhkan bantuan untuk mengerjakan pr atau mau memperbaiki sepedamu&#8217;. Disitu dimana kekerasan paling sering terjadi)&#8221;</p><cite>Pelaku Kekerasan Seksual</cite></blockquote>

<p>&#8220;i would arrange for private if you want more than what you&#8217;re learning here in the time abailable, you can bring your work to my place. (Saya akan menyediakan waktu khusus kalau kamu mau belajar lebih daripada yang ada disini. Kamu bisa membawa pekerjaanmu ke tempatku.)&#8221;</p><cite>Pelaku Kekerasan Seksual</cite></blockquote>

<p>Ada beberapa hal yang saya rasa menjadi tanggung jawab moral profesi saya dalam membantu masyarakat menghadapi ancaman grooming dalam kekerasan seksual kepada anak yang tidak dapat disepelekan ini.</p>

<h2 class="wp-block-heading">Rencana Tindak Lanjut</h2>

<h3 class="wp-block-heading">1. Pemberian pengetahuan dan pemahaman tentang grooming kepada orangtua.</h3>

<p><br>Saya paham konsep grooming ini bisa menjadi sangat menyeramkan. Tetapi bukan itu ketakutan itu yang menjadi tujuan utama saya menulis ini. Edukasi yang baik kepada orangtua tentang tanda-tanda grooming, dampak yang ditimbulkan, dan kejadian-kejadian sebelumnya diharapkan meningkatkan peran aktif orangtua dalam memerangi kekerasan seksual pada anak. Melawan dengan berpegangan pada pengetahuan daripada pada ketakutan.</p>

<h3 class="wp-block-heading">2. Bicarakan dengan anak tentang grooming dan kekerasan seksual yang mungkin terjadi</h3>

<p>Saya paham budaya kita seakan menahan agar orangtua tidak memberikan pendidikan tentang seks pada usia anak. Akhirnya anak mengetahui dari sumber lain. Iya kalau benar? kalau yang diketahui duluan adalah yang salah, lalu mau bagaimana? Menunggu kejadian yang tidak diinginkan terjadi? Pernyataan dari salah seorang pelaku kekerasan seksual di luar negeri ini bisa menjadi gambaran.</p>

<p>&#8220;Parents shouln&#8217;t be embarrassed to talk about things like this &#8211; it&#8217;s harder to abuse or trick a child who knows what you&#8217;re up to (Orangtua tidak perlu malu untuk membicarakan hal seperti ini. Jauh lebih sulit untuk melakukan kekerasan atau menipu anak yang sudah tahu mereka akan menghadapi apa) &#8221; </p><cite>Pelaku Kekerasan Seksual</cite></blockquote>

<p>Bahkan dari artikel yang saya baca, kepolisian federal australia akan menyelenggarakan pelatihan keamanan siber untuk anak, dengan umur paling muda mulai dari empat tahun. Hal ini dikarenakan sudah ada anak di usia empat tahun yang memposting gambar ekspisit mereka dan menjadi target grooming dari predator seksual di internet.</p>

<h3 class="wp-block-heading">3. Memberikan pelatihan lebih mendalam kepada praktisi perlindungan anak</h3>

<p><br>Ilmu saya sebagai pekerja sosial yang bekerja di setting anak masih sangat sedikit sekali. Begitu juga mungkin yang terjadi di teman-teman polisi, jaksa, hakim, dan profesi lainnya yang ikut terlibat dalam sistem perlindungan anak. Apabila ada kebijakan yang melindungi anak, misalnya Undang-Undang 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Perlindungan Pidana Anak (SPPA). Kebijakannya sudah cukup baik, meskipun ada beberapa hal yang menggantung. Tetapi kebijakan yang sudah cukup baik ini, tidak diimbangi dengan pemahaman dan kemampuan untuk mengimplementasikannya. Maka akan sia-sia. Satu pihak berusaha menjunjung tinggi hak anak, tetapi tidak dibarengi oleh pihak lainnya yang ada dalam sistem tersebut. Pekerjaannya jadi tumpang tindih dan tidak maksimal.</p>

<h3 class="wp-block-heading">4. Pembangunan sistem kerja perlindungan anak</h3>

<p><br>Hal ini sudah diinisiasi di beberapa kota atau kabupaten di Indonesia. Misalnya, Pusat Layanan Kesejahteraan Sosial Anak Integratif (PLKSAI) di Surakarta, atau Pusat Kesejahteraan Sosial Anak Integratif (PKSAI) di Mataram. Fungsinya satu, agar dinas-dinas yang bekerja dalam sistem perlindungan anak bisa terkoordinir. Tentunya yang lebih sulit dari membangun sebuah proyek adalah merawatnya agat tetap sesuai dengan tupoksinya, sehingga tidak hanya menjadi sebuah proyek pengeluaran Surat Keputusan saja. Menghindari hal tersebut perlu partisipasi aktif dari semua pihak, utamanya yang tahu dan paham tentang bagaimana sebuah sistem bekerja. Harus ada supervisor. Supervisornya harus punya supervisor lagi. Pengawasan berulang untuk menjami berjalannya sistem.</p>

<p>Saya pikir permasalahan anak akan ada banyak sekali tantangan di dalamnya, tetapi bagaimanapun juga itu tetap menjadi tanggung jawab kita. Pekerja sosial. Orang dewasa. Apa iya kita tega membiarkan permasalahan anak, diselesaikan oleh anak-anak kita sendiri?</p>

<p class="has-text-align-center has-large-font-size ">Rujukan:</p>

<p class="has-text-color has-small-font-size has-white-color "><a href="https://www.researchgate.net/publication/284732040_Understanding_sexual_grooming_in_child_abuse_cases">https://www.researchgate.net/publication/284732040_Understanding_sexual_grooming_in_child_abuse_cases</a></p>

<p class="has-text-color has-small-font-size has-white-color "><a href="https://www.researchgate.net/publication/317692642_Detecting_online_child_grooming_conversation">https://www.researchgate.net/publication/317692642_Detecting_online_child_grooming_conversation</a></p>

<p class="has-text-color has-small-font-size has-white-color "><a href="http://www.icmec.org/wp-content/uploads/2017/09/Online-Grooming-of-Children_FINAL_9-18-17.pdf">www.icmec.org/wp-content/uploads/2017/09/Online-Grooming-of-Children_FINAL_9-18-17.pdf</a></p>

<p class="has-text-color has-small-font-size has-white-color "><a href="http://www.stbern" rel="nofollow">http://www.stbern</a><a href="http://www.stbernardines.qld.edu.au/Parents/SiteAssets/Pages/P-F-Association/6%20-%20Grooming.pdf">ardines.qld.edu.au/Parents/SiteAssets/Pages/P-F-Association/6%20-%20Grooming.pdf</a></p>

<p class="has-text-color has-small-font-size has-white-color ">c<a href="http://childwise.blob.core.windows.net/assets/uploads/files/Grooming%20-%20Exploring%20the%20call%20for%20law%20reform%20-%20Child%20Wise%20%28Web%29.pdf">hildwise.blob.core.windows.net/assets/uploads/files/Grooming%20-%20Exploring%20the%20call%20for%20law%20reform%20-%20Child%20Wise%20%28Web%29.pdf</a></p>

<p class="has-text-color has-small-font-size has-white-color "><a href="http://www.kbsolutions.com/Grooming.pdf">http://www.kbsolutions.com/Grooming.pdf</a></p>

<p class="has-text-color has-small-font-size has-white-color "><a href="http://www.lancasterschools.org/site/handlers/filedownload.ashx?moduleinstanceid=15371&amp;dataid=27680&amp;FileName=Sexual%20Abuse%20Grooming%20.pdf">www.lancasterschools.org/site/handlers/filedownload.ashx?moduleinstanceid=15371&amp;dataid=27680&amp;FileName=Sexual%20Abuse%20Grooming%20.pdf</a></p>

<p class="has-text-color has-small-font-size has-white-color ">ht<a href="https://journals.sagepub.com/doi/pdf/10.1177/0886260517742048">tps://journals.sagepub.com/doi/pdf/10.1177/0886260517742048</a></p>]]></content:encoded></item>
<item><title>maaf mas dan mbak, saya bukan hanya angka-angka</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/maaf-mas-dan-mbak-saya-bukan-hanya-angka-angka</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/maaf-mas-dan-mbak-saya-bukan-hanya-angka-angka</guid><pubDate>Sat, 21 Mar 2020 14:26:52 +0000</pubDate><description>Jujur saja, saya bukan orang pertama yang akan dicari oleh teman-teman apabila mereka mencari pembenaran dari keputusan yang akan mereka ambil, dan mereka sudah tahu itu. Mereka akan menghubungi saya apabila ingin dapat perspektif lain dari berbagai pandangan ...</description><content:encoded><![CDATA[<p class="has-drop-cap ">Jujur saja, saya bukan orang pertama yang akan dicari oleh teman-teman apabila mereka mencari pembenaran dari keputusan yang akan mereka ambil, dan mereka sudah tahu itu. Mereka akan menghubungi saya apabila ingin dapat perspektif lain dari berbagai pandangan positif yang mereka dapat dari orang lain. Saya realistis cenderung ke pesimistis. Begitu kata seorang teman. Saya sering bilang kalau banyak orang cenderung sudah memiliki solusi dari permasalahan yang mereka hadapi, tetapi kadang orang masih butuh penguatan-penguatan bahwa apa yang mereka <strong>yakini</strong> itu solusi adalah hal yang benar. </p>

<p>Tetapi, kadang yakin benar saja belum tentu menandakan kebenaran yang benar kan? </p>

<p>Pandemi Corona atau Covid-19 yang sedang dihadapi oleh <strong>sebagian </strong>masyarakat ini pun juga begitu. Saya bilang sebagian ya karena memang hanya sebagian yang mau turut andil mencegah penularannya. Baru sebagian yang mau mematuhi arahan-arahan yang diberikan oleh pemerintah. Baru sebagian yang paham resiko yang dapat terjadi. Akhir-akhir ini nyawa digambarkan dengan data statistik. Data statistik berupa angka ini juga yang rawan memiliki banyak penarikan kesimpulan dari masyarakat.</p>

<p>&#8220;Ah bisa sembuh kok, itu kemarin masuk berita pakai kebaya cantik-cantik&#8221;</p>

<p>&#8220;Yang meninggal karena ada penyakit bawaan aja itu, di Cianjur itu kan pneumonia (padahal akhirnya positif Covid-19)&#8221;</p>

<p>&#8220;Lombok bukan Cina, Bro. Tenang saja&#8221;</p>

<p>Mungkin anda pernah mendengar hal tersebut, atau mungkin anda yang mengucapkan hal demikian?</p>

<p>Secara pribadi berat kalau harus memikirkan seandainya saya menjadi salah satu pembawa Covid-19 dan menyebarkannya kepada orang-orang yang rentan. Apalagi kalau alasan di belakangnya bukan karena ketidaktahuan saya. Tetapi, karena ketidakpedulian saya atas krisis yang sebenarnya benar-benar sedang terjadi.</p>

<p>Apalagi kalau sampai melihat atau merasakan sendiri ada orang terdekat kita yang masuk dalam data angka tersebut. Kita, termasuk saya selama ini hanya memahami data tersebut sebagai sebuah hasil yang sudah diberikan. Saya pikir dibalik penambahan satu angka saja pada data tersebut, ada berbagai macam <em>grieving</em> yang dialami oleh orang terdekat. </p>

<p>Ini bukan simulasi. Ini krisis nyata. Sulitnya adalah bagaimana kita dapat menarik garis keseimbangan antara menjadi waspada dengan menjadi paranoid. Tetap optimis, tetapi juga harus realistis. Disini juga yang saya masih perlu banyak belajar dengan cepat dan tepat. Menarik rasanya kalau kehidupan kita ini ditentukan bukan oleh diri kita sendiri, tetapi lebih kepada kepeduliaan orang lain untuk memikirkan hal di luar dirinya sendiri. Apakah masyarakat kita sudah siap?</p>

<p>Saya pikir belum. Atau bahkan akan tidak akan terjadi? Kalau anda berpikir sebaliknya. Selamat, anda orang yang optimis dan saya ingin belajar banyak dari anda. Saya juga ingin bisa seoptimis itu melihat Indonesia dengan segala keunikannya.</p>

<p>Kembali ke topik. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk membantu <strong>mengurangi </strong>dampak dari Covid-19 ini? Saya pikir himbauan dan arahan dari pemerintah kita sudah jelas, dan itu yang perlu kita ikuti. Khususnya untuk para pekerja sosial. Saya pikir kita juga punya peran penting untuk dapat membantu. Mari gunakan ijazah dan sertifikasi yang ada untuk hal baik bagi masyarakat. Ini pun juga perlu dilakukan oleh seluruh masyarakat yang mau peduli.</p>

<h2 class="wp-block-heading">Apa yang bisa dilakukan?</h2>

<p>Hal utama yang harus dilakukan oleh semua orang adalah memastikan kesehatan dan kebersihan diri sendiri. <em>Tools</em> seorang pekerja sosial dalam melakukan intervensi adalah dirinya sendiri. Sadar diri bahwa kesehatannya penting untuk dapat melakukan proses pertolongan adalah langkah vital yang wajib dilaksanakan. Banyak yang bisa kita lakukan, tetapi ini yang juga sudah saya lakukan untuk lingkungan terdekat saya.</p>

<h4 class="wp-block-heading">1. Pemberian Pemahaman</h4>

<p>Memberikan masyarakat pemahaman mengenai Covid-19 untuk menghindari timbulnya kepanikan dan ketakutan, atau justru malah untuk menghilangkan ketidakpedulian. Hal ini juga untuk membantu agar dampak dari kepanikan seperti membeli barang berlebihan bisa dihindari. Wajar untuk panik atau takut, tapi kita juga perlu memikirkan orang lain yang mungkin juga membutuhkan hal yang sama tetapi tidak memiliki hak istimewa seperti diri sendiri. Memang sulit memberikan pemahaman, tetapi mulai dari orang terdekat. Mulai dari keluarga. Jangan sampai nanti suatu saat, kita diminta pertanggungjawaban karena menjadi penyebab banyak orang menjadi kesulitan. </p>

<h4 class="wp-block-heading">2. Perhatikan dan Bantu yang Rentan</h4>

<p>Memastikan orang-orang rentan di lingkungan sekitar mendapatkan perhatian khusus. Usia anak-anak dan Lanjut usia menjadi usia yang rentan terkena dampak dari Covid-19. Advokasikan kepada yang berwenang untuk membantu memikirkan mereka juga. Pengasuhan sosial bagi yang membutuhkan perlu ditingkatkan. Hal ini juga yang menjadi dasar di Inggris, dibuka kesempatan lagi bagi pekerja sosial yang telah keluar dari profesi ini untuk dapat <em>re-join</em> atau mengabdi kembali menjadi seorang pekerja sosial dalam menghadapi pandemi ini. <a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://www.socialworkengland.org.uk/news/temporary-registration-of-social-workers">https://www.socialworkengland.org.uk/news/temporary-registration-of-social-workers</a></p>

<p>Justru yang rentan, malah menjadi populasi yang banyak belum paham tentang Covid-19. Padahal dampaknya besar sekali kepada mereka. </p>

<h4 class="wp-block-heading">3. <em>Social Distancing, </em>bukan sebatas kerugian ekonomi dan pengasingan</h4>

<p>Meredakan dampak dari <em>social distancing</em>. Masyarakat Indonesia asing dengan istilah ini. Masyarakat yang asing membuat pemerintah juga belum secara serius sebelumnya memikirkan perlu adanya kebijakan tentang hal ini, sampai pandemi ini terjadi. Untungnya pemerintah bergerak cepat untuk mengimplementasikan kebijakan ini. Saat ini pun mulai terasa efek dari <em>social distancing</em> ini dengan tagarnya #dirumahaja. Tetapi, sepertinya saya rasa masyarakat juga banyak yang belum siap. Saya termasuk orang yang diberikan hak istimewa untuk tidak harus bekerja di jalan untuk mendapatkan pemasukan harian. Kalau anda juga demikian, saya harap anda juga bersyukur. </p>

<p>Masih banyak teman-teman kita yang harus turun ke jalan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ojek online, supir taksi, pedagang, petugas kebersihan, dan berbagai macam pekerjaan lainnya secara nyata terkena dampak dari Covid-19. Warga masyarakat pun satu persatu mulai membantu kepada teman kita yang terkenda dampak. Berbagai link Kitabisa yang didonasikan untuk membantu masyarakat bersliweran di status teman dan timeline twitter saya. Sepertinya memang jaring pengaman sosial tambahan yang dibutuhkan selain dari pemerintah, adalah yang muncul dari kesadaran masyarakat. Kesadaran bahwa semua orang berhak sejahtera, dan kepercayaan bahwa kita semua membutuhkan satu sama lain. </p>

<p>Hmm apakah seperti ini rasanya menjadi sedikit lebih optimis? Sedikit saja kok. Masih banyak pesimisnya.</p>

<p>Covid-19 akan terus menyebar. Sudah menjadi tugas kita untuk memastikan dan membantu bahwa data angka yang muncul tidak hanya menjadi angka lewat yang berganti setiap harinya. Perlu memunculkan empati memahami angka-angka yang muncul dari perspektif orang terdekat penyumbang angka tersebut, dengan demikian harapannya kita semua bisa lebih waspada dan menjaga diri sendiri juga orang lain di sekitar kita.</p>

<p>Kakak kandung saya dan istrinya adalah dokter. Mereka juga turut membantu menghadapi pandemi ini. Semoga ada perhatian lebih dari masyarakat dan juga dari pemerintah untuk seluruh tenaga medis yang ada. </p>

<p>Semoga di akhir pandemi ini, kita bukan diingat sebagai angka satuan yang ditambahkan pada data statistik dampak Covid-19. </p>

<p>Diam di rumah. Bantu sebisanya. Kalau pandemi ini sudah selesai, silahkan kembali bertengkar tentang perpolitikan yang kamu dukung. Sekarang bukan waktunya.</p>

<p>Silahkan saja anda egois dengan semua keangkuhan bahwa anda tidak akan kenapa-kenapa. Tetapi, semoga di akhirnya anda tidak menjadi salah satu pemercepat kesengsaraan orang lain yang bahkan mungkin tidak mengenal anda. </p>

<p>Harapan masih tetap ada. Semua pihak sedang berusaha merawat harapan tersebut. Saya harap kamu juga.</p>

<p>“Nothing could be worse than the fear that one had given up too soon, and left one unexpected effort that might have saved the world”</p><cite>Jane Addams</cite></blockquote>]]></content:encoded></item>
<item><title>Intervensi Krisis</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/ini-judulnya-nanti-saja</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/ini-judulnya-nanti-saja</guid><pubDate>Tue, 17 Mar 2020 14:58:26 +0000</pubDate><description>tumpukan manusia di sebuah stasiun di Jakarta-Dokumentasi Pribadi “Aku kemarin bisa pakai standar tengah motor lo.” Kata seorang teman mengabari saya melalui Whatsapp. Sederhana sebenarnya tapi membawa kebahagiaan untuk dirinya maupun saya sendiri. Pencapaiann...</description><content:encoded><![CDATA[<img loading="lazy" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019-10-06-117054336148775550386..jpg" alt="" class="wp-image-462" /><figcaption>tumpukan manusia di sebuah stasiun di Jakarta-Dokumentasi Pribadi</figcaption></figure>

<p class="has-drop-cap ">&#8220;Aku kemarin bisa pakai standar tengah motor lo.&#8221; Kata seorang teman mengabari saya melalui Whatsapp. Sederhana sebenarnya tapi membawa kebahagiaan untuk dirinya maupun saya sendiri. Pencapaiannya memang tidak satu level dengan lolos olimpiade misalkan, tapi kebahagiaan sederhana yang diketahui, dirasakan, dan kemudian dirayakan membuat semuanya menjadi jauh lebih baik. Begitu pula ketika menghadapi krisis seperti saat ini. </p>

<p>Sayangnya, seperti tulisan saya beberapa waktu lalu ini. </p>

	
		
	
	

<p>Apa yang saya tulis tersebut pun akhirnya terjadi, sudah paham kondisi akan menjadi begini. Ada banyak sekali kekecewaan yang kita rasakan, atau justru saya sendiri? Kecewa karena sudah punya harapan akan Indonesia, tapi ternyata kita masih belum sesiap yang saya perkirakan. Perasaan ini ditunjukkan kepada pemerintahnya, kepada rakyatnya, kepada siapapun yang merasa terdampak wabah ini. </p>

<p>Memang sepertinya sikap pesimis saya bukan yang dibutuhkan oleh seluruh pihak yang terdampak. Tetapi kritik dan saran konstruktif tetap diperlukan oleh siapapun yang merasa memegang tanggung jawab atas nyawa banyak orang. Satu kematian karena Corona, saya pikir sudah terlalu banyak untuk Indonesia. Beberapa sumber pun mengatakan kita belum mencapai puncak sebaran virus ini. Terbatasnya lembaga yang bertanggung jawab untuk melakukan tes menjadi salah satu alasannya. Masyarakat pun juga banyak salahnya dalam kondisi wabah seperti ini. </p>

<h2 class="wp-block-heading">Intervensi Krisis</h2>

<p>Intervensi krisis adalah salah satu teori yang sering digunakan dalam pendekatan profesi pekerja sosial. Intervensi krisis ini juga yang sepertinya sedang dilakukan oleh pemegang kekuasaan kepada rakyatnya. Latar belakangnya cukup jelas. Salah satunya tentang kontrak. </p>

<p>Dalam intervensi krisis, kontrak antara praktisi dan klien dikesampingkan. Menggunakan kontrak malah akan membuat kondisi semakin buruk. Menjadi terlalu formal dan harus melewati birokrasi yang berbelit-belit. </p>

<p>Bayangkan saja misalnya pemegang kekuasaan meminta pendapat dari masyarakatnya ketika hendak membuat pernyataan ataupun membuat keputusan dan kebijakan. Waktu yang ada jadi terbuang percuma dalam rangka untuk memformalkan sebuah pertolongan. Waktu yang dapat dimanfaatkan untuk memberikan pertolongan lain. Tapi di beberapa kasus antar praktisi dan kliennya, kontrak secara eksplisit sudah dilakukan. </p>

<p>Tidak baik kalau hanya diam sejak awal, dan baru ramai ketika ada desakan dari dalam maupun dari luar. Betul kan? Apalagi sampai menyangkal semua kajian yang dikeluarkan berbagai pihak. Intervensi krisis saja sudah banyak memiliki dukungan penelitian di belakangnnya. Tidak dianjurkan juga hanya bergantung kepada sesuatu yang bukan manusia yang berhak mengaturnya ataupun kepercayaan buta terhadap sesuatu yang diyakini. </p>

<p>Latar belakang lainnya dari intervensi krisis adalah pentingnya ada akuntabilitas antara praktisi dan klien. Bayangkan saja kalau klien tidak tahu apa yang bisa praktisi lakukan. Atau sebalaiknya, praktisi tidak tahu apa yang klien rasakan. Pentingnya akuntabilitas membuat intervensi krisis yang dilakukan berada di jalur yang tepat, karena intervensi krisis memang tidak digunakan untuk jangka panja. Sifatnya <em>brief</em> atau singkat. Berfungsi untuk menghilangkan kondisi krisis yang dirasakan.</p>

<p>Sebentar, saya lupa menyamakan persepsi kita tentang krisis.  Beda persepsi akan sebuah konsep sering kali malah menjadi malapetaka di belakangnya. Contohnya saat pemegang kuasa menyampaikan bahwa Indonesia aman dari COVID-19 dan memberikan insentif wisata agar lebih banyak pengunjung yang datang ke Indonesia. Masyarakat akan punya banyak persepsi tentang keputusan itu. Ada yang menganggap itu untuk menggerakan roda perekonomian dalam negeri. Ada yang menganggap itu membuat wahana bunuh diri untuk warganya sendiri. </p>

<p>Apakah masyarakat salah? tidak. </p>

<p>Apabila memang harus ada yang salah. Mereka yang tidak menyamakan persepsi sejak awal yang perlu ditagih. Mau dibawa kemana sebenarnya kebijakan rumah ini. </p>

<p>Kembali ke topik sebelumnya tentang krisis. </p>

<p>Krisis adalah titik dimana dalam kehidupan manusia cara biasanya yang mereka gunakan untuk memecahkan masalah tidak berhasil. Manusia akan merasa tegang, kacau, adanya disorganisasi ketika krisis datang menghampiri hidup mereka. </p>

<p>Apabila saat ini anda tidak merasa demikian, maka anda patut merayakannya. Itu privilege yang anda punya. Privilege juga berarti orang lain bisa tidak mempunyai. Sudah tugas anda yang punya privilege tersebut untuk membantu orang yang belum mempunyai privilege dalam situasi krisis seperti ini. Diwajibkan siapa? Tidak ada. Hati nurani saja sebenarnya. Empati yang memang tidak semua orang punya, pasti akan mengarahkan anda untuk membantu. Kalau anda merasa tidak punya empati, ya berarti biarkan &#8220;empati&#8221; itu menjadi privilege saya. </p>

<p>Intervensi krisis yang dilakukan pada masa krisis bukan berarti menjadi dasar untuk melakukan intervensi sembarangan. Intervensi krisis harus terstruktur, terencana, dan merupakan program yang langsung menyentuh kepada klien. </p>

<p>Ada satu hal lagi yang menarik dari model intervensi krisis. Model ini akan sulit berhasil apabila tidak adanya kepercayaan kepada praktisi yang akan membantu. Salah satu hal yang dapat dilakukan agar hal tersebut tidak terjadi adalah pentingnya penanganan cepat ketika terjadi krisis. Tidak menunda-nunda. Dampaknya akan besar apabila kepercayaan sudah berkurang atau malah menjadi tidak ada. Semua arahan dari praktisi akan sulit didengar. Anggapan bahwa toh dari awal tidak peduli, kenapa sekarag tiba-tiba peduli akan muncul di diri klien. </p>

<h2 class="wp-block-heading">Tantangan</h2>

<p>Selain bersifat ringkas atau cepat atau sementara. Intervensi krisis ini punya tantangan lainnya. Salah satunya muncul dari sisi praktisi pelaksana. Sifat model yang ringkas dan dituntut cepat ini dapat memunculkan kecenderungan praktisi menyederhanakan masalah klien yang kompleks. Jangan sampai semua individu dianggap sama, diterapkan intervensi yang sama. Setiap klien punya keunikan-keunikannya masing-masing, standarnya perlu ada memang; tapi di lapangan harus ada penyesuaian dari masing-masing praktisi yang memangku kepentingan. </p>

<p>Hal tersebut yang membuat model intervensi krisis dalam pelaksanannya perlu memperhatikan pembangunan dan perawatan dari sistem sumber sebagai dukungan bagi klien setelah masa krisis selesai. Menjaga keadaan stabil jauh lebih sulit daripada membuat keadaan menjadi stabil. Perlu dukungan dari semua pihak agar sistem sumber yang optimal dapat terjadi. Tidak hanya menyalahkan praktisi. Klien dan <em>significant others</em> juga perlu sadar bahwa masalah yang ada adalah masalah bersama. Tidak bisa lagi dalam situasi krisis egosentrisme dimunculkan. </p>

<p>&#8220;Bukan masalah saya kok&#8221;</p>

<p>&#8220;Saya engga akan terpengaruh kok.&#8221;</p>

<p>Hal tersebut akan terjadi, tetapi percaya juga bahwa ketika domino pertama jatuh. Domino lainnya akan tidak seimbang dan akan runtuh secara bergantian. Egosentrisme kita tidak akan menolong bahkan diri kita sendiri pada akhirnya. Ini bukan lagi tentang <em>survival of the fittest</em>. Ini perihal keadalian sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. </p>

<p>Titik awal kita semua ini tidak sama. Tentunya tidak adil kalau di titik akhirnya harus dinilai dengan cara yang sama. Apabila suatu saat pemegang kekuasaan tidak mampu lagi melindungi rakyatnya, maka hanya rakyatnya yang dapat melindungi sesamanya. Memang manusia adalah serigala bagi sesamanya. Tapi, saya masih yakin manusia juga dapat menjadi penyembuh bagi sesamanya. </p>

<p>Tapi, tentunya hal ini menimbulkan masalah baru.</p>

<h2 class="wp-block-heading">Kolektifitas yang sebenarnya Tidak Kolektif</h2>

<p>Menghadapi sebuah krisis, apalagi yang berskala besar. Butuh kerjasama secara kolektif dari semua pihak yang terdampak maupun yang tidak terdampak. Himbauan satu suara yang dipercaya diperlukan. Masyarakat yang mampu menerima himbauan tersebut dan mau melaksanakannya jauh lebih diperlukan. Jangan sampai kolektifitas kita hanya sebatas surat edaran di media sosial, tetapi pada kenyataannya tidak ada perlakuan apa-apa. </p>

<p>Pada situasi seperti ini kerja sama yang diperlukan. Perkembangan teknologi membuat semua orang dapat mengutarakan pendapatnya secara bebas, cepat, dan tersebar. Meskipun mungkin yang membuat pernyataan tidak memiliki kemampuan apa-apa dalam membahas hal yang disampaikannya. Misinformasi muncul. Misinformasi ini yang menjadi salah satu penyebab kepercayaan dalam situasi krisis berkurang. Baik yang disebarkan oleh orang yang dekat ke pemegang kuasa atau oleh orang-orang yang jauh dari lingkungan pemegang kekuasaan. </p>

<p>Intinya, jangan mau jadi <strong>tidak pintar</strong> kalau terkait masalah nyawa banyak orang. Setiap orang butuh bantuan kita. Salah satu cara yang paling mudah seorang individu bisa lakukan adalah dengan berdiam diri di dalam rumah. Cukup itu. </p>

<h2 class="wp-block-heading">Belajar dari Model</h2>

<p>Pada tahun 2005 Robert mengeluarkan model intervensi krisisnya yang dapat menjadi rujukan kita. </p>

<img loading="lazy" width="300" height="300" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/03/robert.jpg?w=300" alt="" class="wp-image-2019" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/03/robert.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/03/robert.jpg?w=600 600w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/03/robert.jpg?w=150 150w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" /></figure>

<p>Hal yang menarik dari model intervensi krisis dari robert tersebut ada pada poin nomor tiga dari bawah. Mengeksplor perasaan dan emosi. Sepertinya itu juga yang perlu kita lakukan pada masa krisis seperti ini. Banyak orang yang panik, takut, cemas karena banyak yang merasa membawa beban akan pandemi ini sendirian. Merasa orang lain hanya akan jadi beban. Merasa hanya dirinya yang pantas menyelamatkan yang lainnya. Padahal bisa jadi justru sang penyelamat yang butuh pertolongan. </p>

<p>Seandainya masih ada yang terkesan tidak mau tahu tentang kondisi ini. Dekati. Dengar alasannya. Beri penjelasan. Ini bukan lagi tentang hidup satu orang, tentu akan menjadi beban moral apabila karena ketidakmautahuan kita menjadi malapetaka bagi semua orang.</p>

<p>Disini pentingnya relasi manusia itu ada. Membuat kita tidak merasa serba sendirian melawan pandemi yang justru dibutuhkan kesadaran kolektif dalam penyelesaiannya. </p>

<p>Saya pikir pemegang kekuasaan memang belum sempurna dalam menanganinya. Tapi, juga tugas kita sebagai masyarakat untuk menjaga diri masing-masing. Kita semua melakukan perbaikan. Bumi juga sedang melakukan perubahan. Semuanya tujuannya satu, agar semuanya segera seimbang. Seperti yang dibutuhkan oleh semuanya.</p>

<p>Saya tulis ini sebenarnya dalam rangka mengeluarkan pikiran saya yang tertahan beberapa waktu kemarin karena berbagai hal. Didukung pula dengan saya yang memang diam saja di rumah sejak beberapa waktu lalu. Sengaja, agar saya tidak jadi malapetaka bagi orang lain.</p>

<p>Tulisan ini juga mencoba menggamabarkan bagaimana manusia ini sangat bergantung pada manusia lainnya. Relasi antar manusia bisa menjadi pengahncur maupun penyembuh bagi sesamanya, dan juga bagi Bumi yang kita tinggali ini. </p>

<p>Lagipula memang mudah menyalahkan berbagai pihak atas apa yang terjadi.</p>

<p>Tapi, </p>

<p>it is better to light a candle, than curse the darkness</p><cite>Eleanor Roosevelt</cite></blockquote>

<p>Oh iya, satu lagi. Selamat Hari Pekerja Sosial Sedunia. Para pekerja sosial. Para penyelamat yang kadang malah justru butuh pertolongan, betul tidak?</p>

<p>*Apabila ingin me<em>mbaca lebih lanjut tentang intervensi krisis bisa membaca buku dari <strong>Malcolm Payne</strong> berjudul <strong><span style="text-decoration:underline;">Modern Social Work Theory</span></strong>.  Suksma.</em></p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Tentang Pertiwi (Bagian Tiga)</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/tentang-pertiwi-bagian-tiga</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/tentang-pertiwi-bagian-tiga</guid><pubDate>Fri, 13 Mar 2020 15:16:08 +0000</pubDate><description>“Tentu saja boleh, tidak dibatasi waktu kok, Ti. Kamu boleh datang kapanpun ke saya seandainya butuh. Saya kan sudah menawarkan untuk menyelesaikan masalah di Rumah Pertiwi yang mungkin sekarang sedang ada beberapa masalah. Kamu boleh ambil tawarannya, kamu bo...</description><content:encoded><![CDATA[<p>“Tentu saja boleh, tidak dibatasi waktu kok, Ti. Kamu boleh datang kapanpun ke saya seandainya butuh. Saya kan sudah menawarkan untuk menyelesaikan masalah di Rumah Pertiwi yang mungkin sekarang sedang ada beberapa masalah. Kamu boleh ambil tawarannya, kamu boleh tidak ambil. Saya bantu sebisa saya. Kamu juga bantu diri kamu sendiri ya, Ti. Pertemuan selanjutnya kita bahas mengenai strategi untuk mengatasi masalah dan mengurangi kekhawatiran kamu ya. Istirahat kamu ya”</p><cite>cuplikan cerita sebelumnya dapat diakses di <a href="https://Mas Bimo.com/2019/09/27/tentang-pertiwi-bagian-2/">https://Mas Bimo.com/2019/09/27/tentang-pertiwi-bagian-2/</a></cite></blockquote>

<p>Dua minggu berlalu sejak pertemuan Pertiwi dengan pria yang mengaku bisa membantu menyelesaikan masalah juga dengan kekhawatiran yang mengikuti. Pertiwi pada pagi harinya sudah menelepon untuk menjadwalkan pertemuan kembali, tetapi kali ini Pertiwi meminta tempatnya di luar ruang pertemuan biasanya. Pertiwi mengajak pria tersebut bertemu di sebuah taman dimana terdapat kursi-kursi yang hanya bisa diduduki sendiri oleh pengunjung yang datang. Tepat berada di bawah jalan layang, di sebelah sebuah pusat perbelanjaan.</p>

<p>&#8220;Halo Pertiwi, senang bisa bertemu kembali. Kalau boleh tahu kenapa kita bertemunya disini?&#8221;</p>

<p>&#8220;agar aku bisa lebih mudah menjelaskan mas, tempat ini terikat erat dengan memori.&#8221;</p>

<p>&#8220;Memori apa itu Ti?&#8221;</p>

<p>&#8220;Memori tentang bagaimana orangtuaku memperlakukan aku mas. Dengan keras&#8221;</p>

<p>Pria tersebut pun diajak untuk duduk di sisi selatan tempat itu. Dari tempat tersebut dapat dilihat sebuah daerah yang baru saja diratakan dengan tanah, entah oleh siapa. Beberapa orang berpakaian abu-abu masih terlihat berjaga di daerah itu. </p>

<p>&#8220;Jadi memori apa Ti yang kamu punya dengan tempat ini?&#8221; Pria tersebut terlebih dahulu membuka obrolan.</p>

<p>&#8220;Memori tentang kesewenang-wenangan orangtua mas. Jalur kekerasan yang digunakan. Bukan pertama dan mungkin juga bukan yang terakhir ini akan terjadi ke aku mas. Selama orangtuaku masih percaya dengan kakakku yang seringkali keras. Bisa jadi kekerasan yang sama akan terulang mas.&#8221; Kata Pertiwi sembari menghela nafasnya.</p>

<p>&#8220;Menurut kamu, kenapa orangtua sampai menggunakan jalur kekerasan?&#8221;</p>

<p>&#8220;Karena tujuannya lebih mudah tercapai dengan kekerasan mas. Lebih cepat selesai. Mungkin juga nanti tetangga-tetangga akan lupa dengan kekerasan yang terjadi. Karena ada hal baru lagi yang dilakukan oleh orangtuaku mas.&#8221;</p>

<p>&#8220;kalau untuk sekarang, kekerasan apa yang mungkin kamu rasakan Ti?&#8221;</p>

<p>Pertiwi kembali menghela nafasnya. Melihat gesture dari Pertiwi, pria tersebut tidak memburu-buru untuk mencari jawaban dari pertanyaannya sebelumnya. Pria itu paham, menggali kembali pengalaman buruk orang lain, tidak akan pernah menyenangkan. Apalagi dilakukan di sebuah tempat yang dititipkan memori dari kejadian tersebut.</p>

<p>&#8220;Orangtua ku keras mas. Aku dipukul. Aku didorong. Aku diusir dari kamar ku sendiri. Padahal aku sudah lama tidur di kamar itu.&#8221;</p>

<p>&#8220;Selama orangtua ku selalu mendengar bisikan kakak ku. Akan selalu menjadi seperti itu mas. Aku paham orangtuaku memang butuh uang, tetapi apa dengan mengorbankan anaknya; uang lalu menjadi pembenaran mas?&#8221;</p>

<p>Laki-laki itu memandang titik di antara alis Pertiwi. Hal ini sering dia lakukan untuk menunjukkan bahwa dirinya memperhatikan klien, tanpa menganggu kenyamanannya. Sebab pada beberapa orang, bertatapan langsung mata bertemu mata adalah sebuah hal yang sangat asing. </p>

<p>&#8220;Jadi, Pertiwi sedang tidak percaya orangtua ya?&#8221; Laki-laki itu kembali bertanya.</p>

<p>&#8220;Iya mas. Aku pikir dengan semua hal yang terjadi. Orangtuaku bukan orang pertama yang aku tunjuk kalau ditanya tentang kepercayaan.&#8221;</p>

<p>&#8220;Semua hal yang terjadi? Apa ada lebih banyak cerita yang mau Pertiwi bagikan?&#8221;</p>

<p>&#8220;Ada mas. Boleh kita sambil jalan mas?&#8221; </p>

<p>&#8220;Tentu.&#8221;</p>

<p>Pertiwi dan laki-laki tersebut bangkit dari tempat mereka duduk dan berjalan beriringan di sebuah jalan yang terkenal akan <em>cobblestone</em>-nya. </p>

<p>&#8220;Mas, di daerah dekat rumahku sedang marak sebuah penyakit. Jadi banyak tetangga-tetangga yang menutup dirinya di rumah. Tidak mau keluar dan tidak ada yang boleh masuk.&#8221;</p>

<p>&#8220;Hmm, lalu orangtua kamu juga?&#8221;</p>

<p>&#8220;Ya engga mas. Buktinya aku bisa keluar sekarang berjalan bersama mas. Orangtuaku malah mengundang sebanyak-banyaknya orang untuk masuk. Aku juga bingung. Engga takut itu orangtuaku.&#8221; </p>

<p>&#8220;Mungkin orangtua kamu punya pertimbangan lain?&#8221;</p>

<p>&#8220;Uang mas? kalau aku atau kakakku sakit bagaimana? kalau bapak dan ibuku juga sakit bagaimana? Engga semuanya bisa dihargai dengan uang kan.&#8221;</p>

<p>Pertiwi membawa laki-laki tersebut ke daerah lingkungan rumahnya. Laki-laki itu mengamati sendiri bagaimana banyak rumah yang menutup dirinya. Tanda larangan masuk tersebar dimana-mana. Kecuali, rumah milik Pertiwi dan keluarga. Dipampangnya baliho besar bertuliskan, &#8220;<strong>Silahkan Masuk, Rumah Aman&#8221;.</strong> Sekilas Keluarga Pertiwi menunjukkan bahwa rumah mereka sedang baik-baik saja. </p>

<p>&#8220;Semoga keluarga Pertiwi tidak terjebak dengan citra yang sudah terlanjur mereka buat.&#8221; Kata laki-laki tersebut dalam hatinya.</p>

<p>Pertiwi dan laki-laki tersebut kemudian duduk kembali di sebuah taman di dekat rumahnya. Melihat betapa kosongnya tempat tersebut, tanpa adanya aktivitas yang biasanya ramai dilakukan.</p>

<p>&#8220;Pertiwi, kalau boleh tahu. Sekarang Pertiwi ingin apa?&#8221;</p>

<p>&#8220;Ingin orangtuaku jujur. Ingin mereka sadar seandainya mereka tidak mampu, mengaku tidak mampu tidak akan melukai siapa-siapa. Aku engga mau suatu saat nanti aku menjadi tidak percaya mereka. Aku engga mau nanti aku merasa tidak butuh mereka.&#8221;</p>

<p>&#8220;Kalau begitu, ada yang bisa kita lakukan. Pertiwi percaya saya?&#8221;</p>

<p>&#8220;Percaya. Apa itu mas?&#8221;</p>

<p>&#8220;Ayo.&#8221;</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Maaf Perempuan, Masih Belum</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/maaf-perempuan-masih-belum</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/maaf-perempuan-masih-belum</guid><pubDate>Sun, 08 Mar 2020 20:53:30 +0000</pubDate><description>Setahun sekali dirayakan hari biasa yang dibuat meriah. Maaf perempuan, hanya saja jiwa maskulinku masih membuncah. Hari perempuan internasional dirayakan oleh berbagai latar adat dan budaya. Perempuan, laki-laki, anak, lansia bersama membawa narasi yang bisa ...</description><content:encoded><![CDATA[<p class="has-text-align-left ">Setahun sekali dirayakan hari biasa yang dibuat meriah.<br>Maaf perempuan, hanya saja jiwa maskulinku masih membuncah.<br>Hari perempuan internasional dirayakan oleh berbagai latar adat dan budaya.<br>Perempuan, laki-laki, anak, lansia bersama membawa narasi yang bisa berbahaya.</p>

<p class="has-text-align-right ">Kita sering sepakat untuk tidak sepakat di berbagai media.<br>Mencoba membelah konsep dan narasi yang sering tanpa makna.<br>Kami, laki-laki tidak akan mau kalah; karena tidak mau terlihat lemah.<br>Tapi, maaf perempuan itu yang diajarkan oleh orangtua dan tetangga di rumah.</p>

<p class="has-text-align-left ">Daripada perang kata tanpa makna, izinkan saya jadi penyambung pemikiran.<br>Menyampaikan ucapan maaf yang mungkin sebenarnya tidak kalian butuhkan.<br>Tapi saya mencoba, memahami dan membela apa yang sedang kalian perjuangkan.<br>Tidak, saya bukan SJW; sekedar mencoba memahami betapa susahnya menjadi kalian.</p>

<p class="has-text-align-right ">Maaf perempuan, kami membuat bercandaan yang berkaitan dengan tubuh tertentu.<br>Kami tahu, hal tersebut hanya menggambarkan betapa rendahnya diksi kami berjibaku.<br>Dari kecil sampai dewasa, bercandaan tersebut dirawat menjadi legenda.<br>Sampai pada ujungnya, kami menormalisasi pelecehan seksual secara verbal kepada anda.</p>

<p class="has-text-align-left ">Maaf juga perempuan, kami sering tidak membiarkan kamu keluar sampai malam.<br>Kami hanya khawatir kamu kenapa-kenapa di perjalanan.<br>Padahal kami tahu, yang berbahaya yang harusnya dikunci untuk berada di dalam.<br>Sebenarnya itu hanya menunjukkan betapa tidak cakapnya kami menjaga keadaan.</p>

<p class="has-text-align-right ">Maaf sekali lagi perempuan, kami juga sering merawat ketidakadilan.<br>Memandang rendah kinerjamu, hanya karena kamu perempuan.<br>Atau malah tidak percaya, padahal kamu punya kemampuan.<br>Itu hanya cara kami untuk membenarkan diri sendiri yang punya keraguan.</p>

<p class="has-text-align-left ">Sekali lagi, maaf perempuan; sepertinya berat menjadi kamu di negara ini.<br>Memang masih jelas kami ini sangat gemar budaya patriarki.<br>Membuat kesengajaan-kesengajaan menyalahgunakan relasi kuasa.<br>Karena kami tahu, kalau kami di bawah gengsi akan dibuat tidak ada.</p>

<p class="has-text-align-right ">Maaf perempuan, sepertinya kesadaran kami masih belum bangun.<br>Belum bisa semua sadar kalau kamu juga punya kebutuhan.<br>Terlalu sempit kacamata kami, jadi hanya melihat hidung dan idealisme sebatas ubun.<br>Tapi saya yakin, nanti tuntutan kalian akan dicatat di buku sejarah sebagai sebuah pencapaian.</p>

<p class="has-text-align-center ">Sampai saat itu terjadi, izinkan saya selalu menyampaikan.<br>Maaf perempuan, karena masih belum.</p>

<img loading="lazy" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823415105947281949987317756149.jpg?w=1024" alt="" class="wp-image-1632" width="256" height="171" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823415105947281949987317756149.jpg?w=256 256w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823415105947281949987317756149.jpg?w=512 512w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823415105947281949987317756149.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823415105947281949987317756149.jpg?w=300 300w" sizes="auto, (max-width: 256px) 100vw, 256px" /><figcaption>dok. pribadi</figcaption></figure>]]></content:encoded></item>
<item><title>Nyatanya Manusia</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/nyatanya-manusia</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/nyatanya-manusia</guid><pubDate>Mon, 02 Mar 2020 23:18:33 +0000</pubDate><description>Hari ini Presiden kita, Bapak Joko Widodo memberikan pengumuman yang sebenarnya saya rasa masyarakat sudah mengetahuinya. Ada warga Indonesia yang sedang di Indonesia dan dinyatakan positif Coronavirus atau Covid-19. Ada dua mayoritas tanggapan. Pertama, orang...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini Presiden kita, Bapak Joko Widodo memberikan pengumuman yang sebenarnya saya rasa masyarakat sudah mengetahuinya. Ada warga Indonesia yang sedang di Indonesia dan dinyatakan positif Coronavirus atau Covid-19. Ada dua mayoritas tanggapan. Pertama, orang yang sudah memprediksinya dan hanya mengatakan &#8220;nah kan benar kataku&#8221; sembari melanjutkan aktivitasnya lagi. Tanggapan kedua jauh lebih reaktif, &#8220;wah beneran ini Indonesia udah ada Covid-19?&#8221; Yuk kita beli masker. Kita beli sembako untuk bertahan hidup. Kita cari <em>hand sanitizer</em>. </p>

<p>Lalu pertanyaannya adalah, apakah ada yang salah dari dua perilaku yang saya simpulkan dengan  sangat sederhana dan mungkin salah tentang manusia Indonesia menghadapi Covid-19?</p>

<p>Kalau saya boleh menjawab. Tidak ada.</p>

<p>Saya sering mendengar ungkapan &#8220;<em>homo homini lupus est.&#8221; </em>atau terjemahan bebasnya adalah manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Manusia ini memang menikam untuk sesamanya. Mudahnya, manusia ini yang memang sudah jalannya untuk berbuat jahat untuk sesamanya. Kompetisi yang menjadikannya seperti itu. </p>

<p>Saya berkata demikian melihat kenyataan di lapangan. Harga masker naik berkali-kali lipat. <em>Hand sanitizer</em> langka. Orang-orang berbondong-bondong memborong bahan-bahan mentah sebagai bekal menghadapi <em>outbreak</em> yang terjadi. Kita dipertontonkan bagaimana manusia berperilaku dengan segala kepanikannya, yang memang wajar terjadi. Tapi tetap menarik untuk diamati. </p>

<p>Saya gemar mengamati manusia dengan segala perilakunya. Mencari tahu sebab perilaku tersebut. Memahami faktor pendorong dan faktor penghambatnya. Mempelajari dampak perilakunya dan mengetahui bagaimana respon manusia terhadap dampak dari perilakunya sendiri. Ceritanya tidak pernah sama. Manusia ini memang model yang gagal. Tapi saya bersyukur kita produk gagal. Betapa membosankannya apabila kita ini produk yang sempurna. Tanpa kesalahan. <em>Flawless</em>. Tidak ada yang rusak. Tidak perlu ada juga yang membenarkan. Tidak ada keharusan untuk membenarkan sesuatu. Seperti akan bosan sekali hidup yang pendek ini apabila begitu kehidupan yang harus kita jalani.</p>

<p>Saya rasa beberapa waktu ke depan, kita akan diperlihatkan tampak asli manusia. Jadi ya siap-siap untuk kecewa. Siap-siap untuk harapan-harapan kita semua patah. </p>

<p>Karena yang sempurna sudah tidak ada, dan yang tidak bersalah sepertinya belum dilahirkan.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Yogyakarta dan Ketersinggungannya</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/yogyakarta-dan-ketersinggungannya</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/yogyakarta-dan-ketersinggungannya</guid><pubDate>Sat, 22 Feb 2020 14:05:33 +0000</pubDate><description>Manusia seringnya terlalu jauh berpikir, sampai melupakan kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang dapat dinikmati. Terlalu berpikir jauh tentang makna tanggal, makna simbol, makna bahasa, dan makna-makna lainnya yang sebenarnya tidak perlu terlalu jauh untuk dimakn...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Manusia seringnya terlalu jauh berpikir, sampai melupakan kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang dapat dinikmati. Terlalu berpikir jauh tentang makna tanggal, makna simbol, makna bahasa, dan makna-makna lainnya yang sebenarnya tidak perlu terlalu jauh untuk dimaknai. </p>

<p>Kita justru kurang memaknai hal-hal yang sebenarnya perlu sangat untuk dimaknai. Kehadiran seseorang, kesempatan untuk tetap hidup, adanya paket data yang tersisa di pertengahan bulan, teman yang baik, masih mudah tertawa, atau sesederhana ada Go-Food saat kelaparan tengah malam. Hal-hal sederhana, yang saya pribadi pun kadang kurang peka untuk merasakannya.</p>

<p>Sejak bekerja saya menjadi secara sukarela mengetahui banyak masalah orang. Membuat saya lebih bersyukur? Tentu. Membuat saya lebih sering melamun, Tentu. Membuat saya sering berpikir terlalu jauh? Sudah pasti. Tapi ternyata yang Maha Tahu, masih baik memberikan pengingat-pengingat kepada saya.</p>

<p>Kali ini pengingatnya adalah sebuah keterangan tempat, Yogyakarta. Saya belajar kembali dengan bertemu banyak orang baru. Bertemu sistem kebudayaan yang baru, mendengar banyak aksen manusia dalam berkomunikasi, mengamati motivasi seseorang dalam pencapaian tujuannya, mendengar keluhan dari seseorang yang jauh dan maupun yang dekat, menjadi kebanggaan untuk satu pihak, dan menjadi kekecewaan untuk pihak yang lain</p>

<p>Saya memang sering lewat Yogya, tapi tidak singgah untuk waktu yang lama. Pertama kali saya bisa bekerja di tempat yang sekarang pun, awal mulanya dilakukan di Yogya. Jadi sebenarnya saya tidak terlalu paham dengan orang-orang yang sebelumnya menglorifikasi Yogyakarta dengan segala hal magisnya. Tapi beberapa waktu saya disini, saya jadi paham. </p>

<p>Tapi Yogya juga punya kekurangan, tadi di perjalanan saya melihat tabrakan antara mobil yang disetiri seorang ibu dan ibunya. Wajahnya terlihat panik, apalagi beliau juga menerima tatapan intimidasi dan teriakan dari orang-orang sekitar. Manusia pun menunjukkan wajah aslinya yang sebenarnya tidak pernah terikat sebuah lokasi.</p>

<p>Tenang, itu hanya oknum yang mau merubah persepsi saya tentang Yogyakarta. Seandainya diperkenankan saya akan berkunjung kembali, seandainya tidak saya juga akan paham untuk tidak berkunjung kembali.</p>

<p>Yogyakarta tetap istimewa dengan segala pernak-perniknya. Begitupun kamu; </p>

<img loading="lazy" width="580" height="386" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414347907692173493085173643.jpg?w=580" alt="" data-id="1620" data-imglink="" class="wp-image-1620" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414347907692173493085173643.jpg?w=580 580w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414347907692173493085173643.jpg?w=1160 1160w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414347907692173493085173643.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414347907692173493085173643.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414347907692173493085173643.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414347907692173493085173643.jpg?w=1024 1024w" sizes="auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px" /></figure></li><img loading="lazy" width="580" height="870" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414349362242270277128944622.jpg?w=580" alt="" data-id="1621" data-imglink="" class="wp-image-1621" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414349362242270277128944622.jpg?w=580 580w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414349362242270277128944622.jpg?w=1160 1160w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414349362242270277128944622.jpg?w=100 100w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414349362242270277128944622.jpg?w=200 200w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414349362242270277128944622.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414349362242270277128944622.jpg?w=683 683w" sizes="auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px" /></figure></li><img loading="lazy" width="580" height="386" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414352681345687559245471490.jpg?w=580" alt="" data-id="1622" data-imglink="" class="wp-image-1622" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414352681345687559245471490.jpg?w=580 580w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414352681345687559245471490.jpg?w=1160 1160w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414352681345687559245471490.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414352681345687559245471490.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414352681345687559245471490.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414352681345687559245471490.jpg?w=1024 1024w" sizes="auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px" /></figure></li><img loading="lazy" width="580" height="386" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414354838245402282807693185.jpg?w=580" alt="" data-id="1623" data-imglink="" class="wp-image-1623" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414354838245402282807693185.jpg?w=580 580w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414354838245402282807693185.jpg?w=1160 1160w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414354838245402282807693185.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414354838245402282807693185.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414354838245402282807693185.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414354838245402282807693185.jpg?w=1024 1024w" sizes="auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px" /></figure></li><img loading="lazy" width="580" height="386" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414355714251499716548605451.jpg?w=580" alt="" data-id="1624" data-imglink="" class="wp-image-1624" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414355714251499716548605451.jpg?w=580 580w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414355714251499716548605451.jpg?w=1160 1160w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414355714251499716548605451.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414355714251499716548605451.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414355714251499716548605451.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414355714251499716548605451.jpg?w=1024 1024w" sizes="auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px" /></figure></li><img loading="lazy" width="580" height="386" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414356764786035899864325485.jpg?w=580" alt="" data-id="1625" data-imglink="" class="wp-image-1625" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414356764786035899864325485.jpg?w=580 580w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414356764786035899864325485.jpg?w=1160 1160w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414356764786035899864325485.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414356764786035899864325485.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414356764786035899864325485.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414356764786035899864325485.jpg?w=1024 1024w" sizes="auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px" /></figure></li><img loading="lazy" width="580" height="386" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414359271678326466663502658.jpg?w=580" alt="" data-id="1626" data-imglink="" class="wp-image-1626" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414359271678326466663502658.jpg?w=580 580w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414359271678326466663502658.jpg?w=1160 1160w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414359271678326466663502658.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414359271678326466663502658.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414359271678326466663502658.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414359271678326466663502658.jpg?w=1024 1024w" sizes="auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px" /></figure></li><img loading="lazy" width="580" height="386" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414357862323091706241299489.jpg?w=580" alt="" data-id="1627" data-imglink="" class="wp-image-1627" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414357862323091706241299489.jpg?w=580 580w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414357862323091706241299489.jpg?w=1160 1160w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414357862323091706241299489.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414357862323091706241299489.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414357862323091706241299489.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414357862323091706241299489.jpg?w=1024 1024w" sizes="auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px" /></figure></li><img loading="lazy" width="580" height="386" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414360302771182434096961448.jpg?w=580" alt="" data-id="1628" data-imglink="" class="wp-image-1628" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414360302771182434096961448.jpg?w=580 580w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414360302771182434096961448.jpg?w=1160 1160w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414360302771182434096961448.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414360302771182434096961448.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414360302771182434096961448.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414360302771182434096961448.jpg?w=1024 1024w" sizes="auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px" /></figure></li><img loading="lazy" width="580" height="386" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414364875315331285819520684.jpg?w=580" alt="" data-id="1629" data-imglink="" class="wp-image-1629" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414364875315331285819520684.jpg?w=580 580w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414364875315331285819520684.jpg?w=1160 1160w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414364875315331285819520684.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414364875315331285819520684.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414364875315331285819520684.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414364875315331285819520684.jpg?w=1024 1024w" sizes="auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px" /></figure></li><img loading="lazy" width="580" height="386" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414363712044288966576230412.jpg?w=580" alt="" data-id="1630" data-imglink="" class="wp-image-1630" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414363712044288966576230412.jpg?w=580 580w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414363712044288966576230412.jpg?w=1160 1160w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414363712044288966576230412.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414363712044288966576230412.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414363712044288966576230412.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414363712044288966576230412.jpg?w=1024 1024w" sizes="auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px" /></figure></li><img loading="lazy" width="580" height="870" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414361481780665317235076300.jpg?w=580" alt="" data-id="1631" data-imglink="" class="wp-image-1631" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414361481780665317235076300.jpg?w=580 580w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414361481780665317235076300.jpg?w=1160 1160w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414361481780665317235076300.jpg?w=100 100w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414361481780665317235076300.jpg?w=200 200w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414361481780665317235076300.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414361481780665317235076300.jpg?w=683 683w" sizes="auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px" /></figure></li><img loading="lazy" width="580" height="386" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823415105947281949987317756149.jpg?w=580" alt="" data-id="1632" data-imglink="" class="wp-image-1632" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823415105947281949987317756149.jpg?w=580 580w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823415105947281949987317756149.jpg?w=1160 1160w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823415105947281949987317756149.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823415105947281949987317756149.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823415105947281949987317756149.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823415105947281949987317756149.jpg?w=1024 1024w" sizes="auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px" /></figure></li><img loading="lazy" width="580" height="579" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823420049443338919125922541945.jpg?w=580" alt="" data-id="1633" data-imglink="" class="wp-image-1633" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823420049443338919125922541945.jpg?w=580 580w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823420049443338919125922541945.jpg 1159w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823420049443338919125922541945.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823420049443338919125922541945.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823420049443338919125922541945.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823420049443338919125922541945.jpg?w=1024 1024w" sizes="auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px" /></figure></li><img loading="lazy" width="580" height="386" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542047193260381582474952807.jpg?w=580" alt="" data-id="1643" data-imglink="" class="wp-image-1643" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542047193260381582474952807.jpg?w=580 580w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542047193260381582474952807.jpg?w=1160 1160w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542047193260381582474952807.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542047193260381582474952807.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542047193260381582474952807.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542047193260381582474952807.jpg?w=1024 1024w" sizes="auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px" /></figure></li><img loading="lazy" width="580" height="386" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542048852639499005859555221.jpg?w=580" alt="" data-id="1644" data-imglink="" class="wp-image-1644" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542048852639499005859555221.jpg?w=580 580w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542048852639499005859555221.jpg?w=1160 1160w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542048852639499005859555221.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542048852639499005859555221.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542048852639499005859555221.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542048852639499005859555221.jpg?w=1024 1024w" sizes="auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px" /></figure></li><img loading="lazy" width="580" height="386" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542073843788987051679250079.jpg?w=580" alt="" data-id="1645" data-imglink="" class="wp-image-1645" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542073843788987051679250079.jpg?w=580 580w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542073843788987051679250079.jpg?w=1160 1160w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542073843788987051679250079.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542073843788987051679250079.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542073843788987051679250079.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542073843788987051679250079.jpg?w=1024 1024w" sizes="auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px" /></figure></li><img loading="lazy" width="580" height="386" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542075455534408928509550610.jpg?w=580" alt="" data-id="1646" data-imglink="" class="wp-image-1646" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542075455534408928509550610.jpg?w=580 580w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542075455534408928509550610.jpg?w=1160 1160w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542075455534408928509550610.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542075455534408928509550610.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542075455534408928509550610.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542075455534408928509550610.jpg?w=1024 1024w" sizes="auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px" /></figure></li><img loading="lazy" width="580" height="386" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542078054789698428189705692.jpg?w=580" alt="" data-id="1647" data-imglink="" class="wp-image-1647" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542078054789698428189705692.jpg?w=580 580w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542078054789698428189705692.jpg?w=1160 1160w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542078054789698428189705692.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542078054789698428189705692.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542078054789698428189705692.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542078054789698428189705692.jpg?w=1024 1024w" sizes="auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px" /></figure></li><img loading="lazy" width="580" height="386" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542079284662159548864497743.jpg?w=580" alt="" data-id="1648" data-imglink="" class="wp-image-1648" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542079284662159548864497743.jpg?w=580 580w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542079284662159548864497743.jpg?w=1160 1160w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542079284662159548864497743.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542079284662159548864497743.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542079284662159548864497743.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542079284662159548864497743.jpg?w=1024 1024w" sizes="auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px" /></figure></li><img loading="lazy" width="580" height="386" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542076596020275860361220012.jpg?w=580" alt="" data-id="1649" data-imglink="" class="wp-image-1649" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542076596020275860361220012.jpg?w=580 580w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542076596020275860361220012.jpg?w=1160 1160w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542076596020275860361220012.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542076596020275860361220012.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542076596020275860361220012.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823542076596020275860361220012.jpg?w=1024 1024w" sizes="auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px" /></figure></li><img loading="lazy" width="580" height="386" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414353842379076222954399910.jpg?w=580" alt="" data-id="1618" data-imglink="" class="wp-image-1618" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414353842379076222954399910.jpg?w=580 580w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414353842379076222954399910.jpg?w=1160 1160w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414353842379076222954399910.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414353842379076222954399910.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414353842379076222954399910.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/02/wp-15823414353842379076222954399910.jpg?w=1024 1024w" sizes="auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px" /></figure></li></ul>]]></content:encoded></item>
<item><title>Naif</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/naif</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/naif</guid><pubDate>Sun, 09 Feb 2020 12:37:06 +0000</pubDate><description>Tidak ada yang lebih naif dari manusia yang sedang sendiri. Dikuatkannya pikiran dan hati dalam rangka untuk percaya diri. Perilaku turut berubah agar sekitar tidak mati sunyi. Banyak menyangkal dan berlindung di kalimat karena “karena untuk berserah diri”. Or...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Tidak ada yang lebih naif dari manusia yang sedang sendiri. Dikuatkannya pikiran dan hati dalam rangka untuk percaya diri. Perilaku turut berubah agar sekitar tidak mati sunyi. Banyak menyangkal dan berlindung di kalimat karena &#8220;karena untuk berserah diri&#8221;.</p>

<p>Orang mau membantu, ditolak setengah mati. Satu hilang, dua pergi, tiga datang, yang keempat menjadi apati. &#8220;Masalahku bukan masalahmu&#8221; katanya, kalian tidak usah peduli. Tapi saat mereka pergi, diri sendiri menjadi hilang kendali. </p>

<p>Naif memperbanyak diri ketika ditabrak konsep bahagia. Menjadi angkuh, bahagia bukan tanggung jawab siapa-siapa. Tapi jungkir balik memperjuangkan orang lain punya. Sampai lupa hidup bukan hanya hitam putih saja.</p>

<p>Jangan susah hati membantu kenaifan yang ingin abadi. Banyak cara lain untuk membantu tanpa sakit harus dilewati. Tidak perlu menyiksa diri saat sang naif masih berdiri. Percaya saja, suatu saat si subjek akan kembali. </p>

<p>atau justru malah mati.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Relasi yang Menyembuhkan</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/relasi-yang-menyembuhkan</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/relasi-yang-menyembuhkan</guid><pubDate>Tue, 04 Feb 2020 23:01:36 +0000</pubDate><description>pasangan di Museum Jakarta-Dokumentasi Pribadi Akhir-akhir ini saya jadi tahu, kenapa relasi bisa dinilai sebagai sesuatu yang menyembuhkan. Bahkan dalam konseling, relasi yang terbangun antara konselor dan klien menjadi salah satu sumber kekuatan. Memang kita...</description><content:encoded><![CDATA[<img loading="lazy" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019_0920_18514000.jpg" alt="" class="wp-image-468" /><figcaption class="wp-element-caption">pasangan di Museum Jakarta-Dokumentasi Pribadi</figcaption></figure>

<p>Akhir-akhir ini saya jadi tahu, kenapa relasi bisa dinilai sebagai sesuatu yang menyembuhkan. Bahkan dalam konseling, relasi yang terbangun antara konselor dan klien menjadi salah satu sumber kekuatan. Memang kita akan lebih paham ketika mengalaminya dalam kehidupan kita sendiri. </p>

<p>Manusia oleh Aristoteles sendiri pun disebut Zoon Politicon atau secara harfiah diterjemahkan menjadi hewan yang bermasyarakat. Kita membutuhkan satu sama lain, tapi terkadang kita tidak perlu orang lain. Kenapa? Karena manusia adalah sosok yang kompetitif. Kadang karena terlalu kompetitif, manusia tidak mau terlihat kelemahannya di hadapan orang lain. Boleh setuju atau tidak dengan saya, tapi saya berani bilang kalau manusia-manusia ini sombong. Bisa dibilang angkuh juga kalau kata teman saya. <em>Homo Homini Lupus.</em> Manusia adalah serigala bagi sesamanya.</p>

<p>Kesombongan manusia ini karena sifatnya yang kompetitif, sering menimbulkan dilema dalam kehidupan sehari-hari. Manusia tahu dirinya sedang membutuhkan sesuatu. Tetapi dia juga tahu bahwa dirinya tidak mau terlihat membutuhkan sesuatu. Sejak kecil banyak manusia yang dicekoki dengan nilai bahwa kekurangan/kelemahan/ketidakmampuan adalah sebuah dosa besar. Pembungkaman tak kasat mata, masuk secara perlahan melalui budaya, sampai pada akhirnya diaamiinkan semua pihak. </p>

<p>Ujung-ujungnya kesepian semakin marak. Saya yakin banyak orang yang terkadang butuh sendiri, tapi tidak ada orang yang merasa membutuhkan sepi. </p>

<h2 class="wp-block-heading">Kepercayaan</h2>

<p>Relasi antara penolong dengan orang yang ditolongnya adalah sebuah potensi sumber yang besar pengaruhnya. Contoh mudahnya tentang kepercayaan. Saya akan menggantungkan harapan saya untuk ditolong dengan orang yang sudah dipercaya. Kepercayaan ini juga berbeda-beda bentuknya. Bisa karena waktu, bisa juga karena kemampuan. </p>

<p>Saya elaborasi. </p>

<p>Proses pembangunan kepercayaan dengan waktu itu sulit sulit tidak gampang. Ada yang lama sekali, ada yang cukup cepat; ada yang berhasil, ada juga yang gagal. Setiap orang akan punya seninya masing-masing. Hal yang menarik adalah pembangunan kepercayaan yang cepat juga perlu kita berhati-hati. </p>

<p>Kenapa? </p>

<p>Pada beberapa kasus dengan kepercayaan yang cepat terbangun, di baliknya ada harapan besar yang perlu ditanggung. Harapan yang tiba-tiba langsung besar, seandainya sang penolong tidak siap dapat menimbulkan masalah-masalah lainnya. Sulit nantinya kalau si penolong akan dijadikan simbol tempat menaruh harapan seperti Superman atas semua masalah yang dihadapi oleh orang yang ditolongnya. Seorang individu tidak mungkin bisa jadi obat panasea bagi semua masalah. </p>

<p>Kalau kepercayaan yang terbangun karena kemampuan sudah jelas. Saya baru saja dari Dokter Spesialis Mata. Tentu saja saya tidak kenal sebelumnya. Tapi saya rela saja berbagai macam alat digunakan kepada saya. Mau menjawab jujur semua pertanyaan-pertanyaan sang Dokter. Mau diresepkan obat apapun yang dituliskan. Padahal saya baru kenal. Saya percaya dan menghargai kemampuan dari Dokter Spesialis tersebut. </p>

<h2 class="wp-block-heading">Relasi yang Menyembuhkan</h2>

<p>Saya pernah ada di posisi menarik diri dari lingkungan karena adanya masalah-masalah yang saya pikir harus saya sendiri yang menanggungnya. Begitu angkuhnya saya akan masalah-masalah saya. Begitu saya menempatkan kenyaman orang lain jauh diatas kenyamanan diri sendiri. Tetapi tidak untuk waktu yang lama. Lagi-lagi saya diselamatkan. Saya merasa diselamatkan oleh relasi dengan orang lain yang menyembuhkan. Saya ditolong dengan cara yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya.</p>

<p>Yaitu dengan memberikan perspektif baru dari pernyataan saya. Salah satu contoh yang dilakukan rekan saya adalah memutarbalikan pernyataan saya. Diputarbalikan secara logis, sampai saya sendiri pun memaknai pernyataan tersebut. Pikiran saya &#8220;diserang&#8221;. Perubahan pola pikir mempengaruhi perasaan saya. Sampai menulis ini pun saya sambil tertawa kecil karena memikirkan begitu sederhananya cara yang sebenarnya rekan saya lakukan. Perasaan saya yang berubah, lalu mempengaruhi perilaku saya. Menjadi menerima. Tanpa proses <em>bargaining</em>, dari <em>denial</em> langsung ke <em>acceptance</em>. </p>

<p>Apa yang dia ubah? sederhana. </p>

<p>Saya terlalu menempatkan kebahagiaan orang lain, di atas kebahagiaan saya sendiri. </p>
<cite>Salah satu keluhan saya pada dia.</cite></blockquote>

<p>lalu rekan saya menjawab begini</p>

<p>Kalau kamu pikir begitu, yasudah. Kamu tinggal tunggu ada orang lain yang menempatkan kebahagiaan kamu, di atas kebahagiaan dirinya sendiri. </p>
<cite>Pikiran saya &#8220;diserang&#8221; dengan kalimat tersebut.</cite></blockquote>

<p>Saya pribadi tidak pernah berpikiran sampai kesana. Saya terlalu fokus dengan narasi bahwa saya adalah sang penyelamat, dan orang yang saya selamatkan wajib bahagia. Lalu tiba-tiba cara pikir saya diserang sesederhana itu, yang mempengaruhi perasaan lalu perilaku saya. Saya disadarkan. Saya kemudian menerima masalahnya. </p>

<p>Ada satu lagi hal sederhana yang rekan saya katakan.</p>

<p>Waktunya engga tepat. Waktunya salah.</p>
<cite>Keluhan saya lainnya kepada rekan.</cite></blockquote>

<p>Lalu dengan santainya dia menjawab.</p>

<p>Kalau waktunya yang salah. Ya suruh waktu juga yang membenarkan. Tunggu waktu yang membenarkan.</p>
<cite>Jawaban sederhana rekan saya.</cite></blockquote>

<p>Saya tertawa sejadi-jadinya malam itu. Bukan karena saya butuh hiburan, karena memang iya. Tetapi saya tertawa dengan kebodohan saya sendiri yang tidak pernah terpikir dengan sudut pandang tersebut. </p>

<p>Biarkan waktu yang membenarkan. Sederhana. Tanpa ada buru-buru. </p>]]></content:encoded></item>
<item><title>#SadariAnak – Penguatan dan Konsekuensi</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/menganakkan-anak-penguatan-dan-konsekuensi</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/menganakkan-anak-penguatan-dan-konsekuensi</guid><pubDate>Sun, 26 Jan 2020 21:50:39 +0000</pubDate><description>Orangtua sibuk bermain Puzzle-Dokumentasi Pribadi Tulisan ini nantinya akan menjadi tulisan dengan episodenya masing-masing. Saya buat seri tulisan ini untuk kita lebih sama-sama banyak belajar tentang anak. Pengetahuan tentang anak terus berkembang, apa yang ...</description><content:encoded><![CDATA[<img loading="lazy" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/cropped-dscf0347.jpg" alt="" class="wp-image-905" /><figcaption>Orangtua sibuk bermain Puzzle-Dokumentasi Pribadi</figcaption></figure>

<p>Tulisan ini nantinya akan menjadi tulisan dengan episodenya masing-masing. Saya buat seri tulisan ini untuk kita lebih sama-sama banyak belajar tentang anak. Pengetahuan tentang anak terus berkembang, apa yang kita rasakan saat usia anak-anak bisa menjadi tidak relevan lagi sekarang, dan itu bukan hal yang harus ditakutkan. Saya yakin sudah banyak orangtua atau calon orangtua yang terus mengembangkan pengetahuannya tentang pola asuh dan juga dunia anak.</p>

<p>Saya juga menulis dengan prinsip bahwa &#8220;Anak tidak bisa memilih orangtuanya, tetapi orangtua bisa memilih untuk menjadi seperti apa untuk anaknya.&#8221; Saya tulis juga dengan bercermin pada kasus-kasus anak yang diamanahkan untuk saya bantu tangani, yang sebagian besar ada pengaruh keluarga di dalamnya.</p>

<p>Orangtua adalah pendidik pertama yang akan ditemui anak dalam tumbuh kembangnya. Tapi belum tentu orangtua adalah pendidik utama. Ada kasus yang pernah saya tangani dimana anak merasa belajar lebih banyak dari teman di sekolahnya, daripada dari orangtuanya. Kedua orangtuanya ada di rumah setiap malam, tapi tidak ada proses pendidikan, tidak ada kehangatan yang diberikan. Jadi memang orangtua adalah pendidik pertama yang ditemui anak, tapi belum tentu akan menjadi yang utama dalam tumbuh kembang anak.</p>

<p>Saya rasa semakin kita menuju tahun-tahun berikutnya. Tidak adanya kelekatan antara orangtua dan anak akan semakin sering dijumpai. Beberapa alasan yang diberikan orangtua adalah sibuk bekerja, anak sulit diatur, hanya mau main hp saja, kalau engga dituruti nanti marah, diajak membuat masalah oleh temannya, dan berbagai alasan lainnya.</p>

<p>Salah siapa? tidak ada yang salah. Kita hanya perlu belajar lebih banyak lagi. Menjadi adaptif untuk anak-anak kita.</p>

<p>Pandangan orangtua terhadap anak juga sangat besar kaitannya dengan harapan. Apakah orangtua punya harapan yang terlalu tinggi atau rendah rendah pada anaknya.</p>

<p>Orangtua selalu menginginkan anak yang mudah diatur. Anak yang disiplin. Seringnya orangtua lupa, kalau kedisiplinan bukan tujuan akhirnya. Disiplin adalah proses menuju hal yang jauh lebih besar untuk dicapai anak. Disiplin ada proses antara dari titik anak sekarang berada dengan titik akhir yang dicita-citakan anak dengan pendampingan orangtua.</p>

<p>Penting untuk orangtua memahami bahwa disiplin adalat alat atau media pencapaian tujuan, bukan malah menjadi tujuan akhir itu sendiri. Kalau kita fokus kepada disiplin menjadi tujuan akhir, mindset yang terbentuk adalah anak harus disiplin apapun yang terjadi. Anak harus patuh setiap saat. Perintah orangtua adalah mutlak. Hubungan yang terjadi adalah hubungan bos dan stafnya.</p>

<p>Tapi saat kita bisa memisahkan disiplin sebagai sebuah antara dari tujuan yang lebih besar, maka kita akan lebih fokus terhadap tujuan yang ingin dicapai.</p>

<p>Anak bahagia? gunakan disiplin yang menekankan pada kasih sayang dan ketenangan.</p>

<p>Anak mandiri? gunakan disiplin yang menekankan agar anak bisa belajar dalam prosesnya, menumbuhkan kesadaran dan pemahaman; bukan hanya aturan dan arahan tanpa kesepakatan.</p>

<p>Anak gemar belajar? gunakan disiplin yang membuat anak dapat berpikir kritis dan reflektif, bukan hanya sistem <em>reward </em>dan <em>punishment </em>yang berbalut sogokan.</p>

<p>ya tidak mudah memang dalam proses menerjemahkannya. karena perbedaan setiap anak dan setiap kasus. Jangan sungkan meminta bantuan kepada profesional seperti pekerja sosial atau guru untuk membantu menerjemahkannya.</p>

<p>Disiplin memang erat kaitannya dengan kesepakatan, bukan aturan. Kesepakatan artinya kita mempercayai anak sebagai subjek perubahan, tidak hanya menjadi objek. Kesepakatan yang ditelurkan oleh semua pihak, tertulis (ini penting), dan dilakukan dengan konsisten dan transparan adalah kata kunci dalam disiplin baik bagi anak.</p>

<p>Kesepakatan tertulis itu penting. Saya seringnya menjadikan kesepakatan yang sudah disusun bersama sebagai memento. Anak harus menjaganya bagaimanapun juga, memberikan tanggung jawab terhadap hal sekecil kertas ukuran A4. Tentu juga sebagai pengingat bagi anak, kalau anak sudah tidak fokus atau lupa tentang kesepakatan yang telah dibuat bersama.</p>

<p>Kesepakatan yang bagaimana? apa dengan sistem <em>reward </em>dan <em>punishment </em>yang tadi berbalut sogokan?</p>

<h2 class="wp-block-heading">Penguatan</h2>

<p>Tentu tidak. Kita juga perlu membedakan antara memberikan penguatan dan memberikan sogokan pada anak. Sogokan kemungkinan besar hanya akan menjadi euphoria sesaat bagi anak, sampai sogokan yang diberikan sudah tidak ada nilainya lagi karena rumus yang digunakan terus sama atau nilai sogokan yang diminta terus naik, sampai orangtua tidak sanggup memenuhi.</p>

<p>Kasus tersebut pernah terjadi kepada salah satu orangtua anak yang saya dampingi. Anaknya selalu meminta uang atau barang sebagai imbalan mengikuti aturan dan keinginan orangtuanya, karena sejak awal sudah dibiasakan demikian. Sampai suatu saat barang yang diinginkan tidak bisa dipenuhi orangtuanya. Anak marah, meninggalkan rumah, dan mengadaikan barang yang dibawanya.</p>

<p>Sogokan adalah jalan tercepat agar terasa seperti &#8220;ada&#8221; perubahan pada anak. Tetapi bukan jalan yang bisa dilalui secara lama. Batasannya sangat terlihat.</p>

<p>Orangtua perlu percaya bahwa anak berperilaku untuk menjawab keingintahuannya. Kepuasaan yang muncul di diri anak karena dapat menyelesaikan masalah dan keingintahuannya terjawab adalah sebuah penguatan yang baik. Maka dari itu perlu kerja sama dari semua pihak agar pengasuhan anak difokuskan kepada minat anak. Kepentingan terbaik anak, bukan hanya kepentingan orangtua.</p>

<p>Anak yang tumbuh dan berkembang berdasarkan minatnya adalah tujuan pendidikan yang harusnya dicapai. Kalau disamaratakan semuanya tentu kurang sesuai. Saya dan anda saja berbeda minat kita, dan kita tidak bisa mengelak bahwa menekuni apa yang kita minati jauh lebih baik daripada menekuni apa yang kita dipaksa untuk minati. Penguatan-penguatan ini yang harus kita cita-citakan bersama. Baik secara individual maupun secara sistem. Anak-anak harus dibiarkan bebas mengeskplor dunianya, dan tentunya dengan dampingan orangtuanya.</p>

<h2 class="wp-block-heading">Konsekuensi</h2>

<p>Lawan dari <em>reward </em>biasanya adalah <em>punishment</em>. Tetapi saya akhir-akhir ini lebih suka menggunakan kata konsekuensi. Anak yang dihukum atau di-<em>punish </em>terkesan lebih negatif. Dibayangan saya interaksi yang terjadi dengan punishment adalah satu arah. Superordinat memberikan perlakuan kepada subordinatnya.</p>

<p>Banyak orangtua yang memberikan hukuman kepada anaknya menggunakan kekerasan, salah satunya kekerasan fisik. Emosi marah merupakan hal yang wajar. Tapi menjadi berbahaya kalau sampai emosi marah yang dirasakan malah menghilangkan kesempatan anak untuk tahu dan belajar dari kesalahannya. Apalagi sampai terjadi pukulan. Anak hanya tahu kalau dia berbuat sesuatu maka anak akan dipukul. Tanpa diberikan hak akan penjelasan.</p>

<p>Kalau orangtua sendiri tidak memberikan akses akan penjelasan kesalahan anak. Lalu, kepada siapa anak harus bertanya?</p>

<p>Lalu, apabila anak tanya kepada orang lain yang dipercayanya. Orangtua akan menyalahkan orang lain yang memberi informasi kepada anaknya. Padahal orangtua sendiri lah yang membuat anak tidak punya kepercayaan kepada keluarga pada awalnya. Kebiasaan menyalahkan orang di luar sistem keluarga ini perlu dievaluasi bersama, tidak selesai permasalahan anak kalau hanya sibuk menulis dan membuat daftar orang yang harus disalahkan.</p>

<p>Baiknya, anak harus diajarkan tentang konsekuensi. Anak harus paham tentang dampak dari pilihan atas perilakunya. Orangtua juga harus bisa memahami motif dari perilaku anak yang dinilai salah tersebut. Munculnya dikarenakan apa? Lalu, adakah pilihan lain yang bisa anak pilih? Dengan demikian kita belajar kembali untuk tidak menyalahkan sepenuhnya kepada anak. Umpan balik harus digalakkan untuk selalu diberikan kepada anak.</p>

<p>Mudahnya, bagaimana anak mau berubah. Kalau sasaran perubahannya tidak jelas atau tidak ada yang mau menjelaskannya kepada anak. Pengetahuan anak hanya sebatas, &#8220;perilaku kamu salah, jangan dilakukan lagi.&#8221;</p>

<p>Anak harus berubah seperti apa kalau dirinya tidak tahu apa yang sebenarnya salah? seperti saat kita mendapatkan nilai ujian jelek, lalu hanya ditulis tingkatkan belajarnya. Belajar apa yang harus ditingkatkan. Terlalu banyak yang harus dilakukan dengan kemampuan anak yang masih terbatas. Apalagi hanya diberikan umpan balik yang negatif.</p>

<p>Seseorang yang ada di usia dewasa saja apabila dijatuhkan atau dinilai buruk atas kinerjanya bisa jadi merasa tidak nyaman. Motivasi dan arahan adalah hal yang dibutuhkan oleh semua orang, termasuk anak-anak kita.</p>

<p>Kalau Kemendikbud punya hastags #MerdekaBelajar, maka saya juga punya hastags #SadariAnak :))</p>

<p>Saya sadar apa yang saya pahami belum sempurna. Tapi saya akan terus belajar untuk menyempurnakannya. Saya akan terus berdiskusi dengan orang lain untuk menambah ilmu saya. Orang boleh tidak setuju dengan tulisan-tulisan saya, apalagi kalau dilihat saya belum memiliki anak sendiri. Saya juga paham itu hak semua orang untuk setuju atau tidak setuju, tapi jauh lebih baik kalau kita bisa belajar dan berdiskusi bersama-sama untuk kepentingan terbaik bagi anak.</p>

<p>Sekali lagi, mari #SadariAnak</p>

<p>P.S. Kalau butuh bantuan dan saran boleh dihubungi Pekerja Sosial terdekat yang ada di daerahmu ya!</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>karena manusia tidak punya apa-apa, selain pilihan</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/karena-manusia-tidak-punya-apa-apa-selain-pilihan</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/karena-manusia-tidak-punya-apa-apa-selain-pilihan</guid><pubDate>Fri, 24 Jan 2020 11:49:52 +0000</pubDate><description>Manusia ini punya banyak hak-hak yang terhitung luxury. Saya bilang hak karena belum tentu semuanya bisa mendapatkannya. Apabila bisa mendapatkannya pun, belum tentu manusia tersebut bisa menggunakannya. Tapi ada satu hak yang saya pikir akan dimiliki manusia,...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Manusia ini punya banyak hak-hak yang terhitung luxury. Saya bilang hak karena belum tentu semuanya bisa mendapatkannya. Apabila bisa mendapatkannya pun, belum tentu manusia tersebut bisa menggunakannya. Tapi ada satu hak yang saya pikir akan dimiliki manusia, siapapun dan dimanapun. Yaitu hak akan pilihan.</p>

<p>&#8220;Tapi tidak semua manusia punya pilihan kan, Bim?&#8221;<br>kata seorang teman saat kami berdiskusi beberapa waktu lalu.</p>

<p>Saya pikir semua orang punya pilihan. Hanya saja kadang manusia belum tahu bahwa masih ada pilihan lain. ketidaktahuan tentang adanya pilihan ini, menandakan kurangnya informasi. Bisa jadi manusia yang tidak mau mencari informasi, bisa juga si pemberi informasi tidak menjalankan tugasnya dengan baik.</p>

<p>Pilihan itu sebuah hal yang menakutkan. Menjadi pilihan karena ada dua hal berbeda yang akan dipilih. Biasanya dua hal yang berbeda ini punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tidak akan menjadi pilihan kalau kedua atau ketiga atau keempat hal tersebut berbeda hierarki kepentingannya.</p>

<p>Intinya satu. Semua pilihan tergantung kepada manusia itu sendiri. Orang lain bisa mencoba memberi pengaruh sekeras apapun, tapi ya ujung-ujungnya diri sendiri yang menentukan. Diri sendiri yang tahu kebutuhan.</p>

<p>Dilemanya, kadang manusia itu sendiri tahu apa yang harus dilakukan. Tetapi seringnya manusia membutuhkan <em>reassurance </em>dari orang lain bahwa solusi yang dipikirkannya adalah benar. Bahwa keputusan yang akan diambilnya sesuai dengan kebutuhannya. Hal yang wajar.</p>

<p>Tapi kembali lagi ke poin sebelumnya. Pilihan itu kita yang menentukan. Saya sering sampaikan kepada klien dampingan, &#8220;sebenarnya di dunia ini yang peduli kepada diri kita, ya kita sendiri. Orang lain tidak akan peduli kepada kita.&#8221;</p>

<p>Bukan tanpa maksud saya sampaikan demikian. Bukan pula untuk terlihat edgy. Kita sendiri yang bertanggung jawab atas kebahagiaan diri sendiri, kadang manusia lupa dan menempatkan kebahagiaan orang lain di atas kebahagiaan diri sendiri. Jangan sampai mempertaruhkan masa depan kepada orang yang mungkin tidak akan mampu melihatnya.</p>

<p>Akan saya sampaikan lengkap demikian apabila seseorang bertanya kepada saya pribadi, terlepas dari profesi saya. Tapi apabila ditanya atas nama profesi, tentu saja akan berbeda.</p>

<p>Sebagai profesional saya akan sampaikan. Wajar kita menempatkan kebahagiaan orang lain daripada kebahagiaan kita, tetapi perlu ditakar porsinya. Harapannya harus disesuaikan. Terlalu tinggi harapannya, resiko luka karena jatuhnya besar. Terlalu rendah harapannya Motif orang untuk melakukan sesuatu menjadi tidak ada.</p>

<p>Berbeda atau hampir sama. Bukan tugas saya untuk menentukan.</p>

<p>Tugas saya adalah membantu anda semua menemukan kebahagiaan. Tidak perlu khawatir akan kebahagiaan saya. Sudah tugas saya untuk tidak memperdulikannya.</p>

<p>I am your Happiness Mercenary.</p>

<p>Selamat menikmati jasa saya. Selamat menemukan!</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Semoga Jurnalis Bosan Hari Ini</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/semoga-jurnalis-bosan-hari-ini</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/semoga-jurnalis-bosan-hari-ini</guid><pubDate>Mon, 13 Jan 2020 21:19:03 +0000</pubDate><description>Jam sudah menunjukkan pukul tiga. Tapi apa daya tubuh juga belum merasa jengah. Empat jam lagi akan berangkat untuk bekerja. Memulai hari dengan rutinitas yang begitu saja. Tujuh lima belas aku sudah di depan pintu itu. Tidak lupa menaruh jempol untuk dapat te...</description><content:encoded><![CDATA[<p class="has-text-align-center ">Jam sudah menunjukkan pukul tiga.<br>Tapi apa daya tubuh juga belum merasa jengah.<br>Empat jam lagi akan berangkat untuk bekerja. <br>Memulai hari dengan rutinitas yang begitu saja.<br><br>Tujuh lima belas aku sudah di depan pintu itu.<br>Tidak lupa menaruh jempol untuk dapat terima kasih.<br>Berkaca agar berat dan menaruh tas yang lucu. <br>Terbalik? Tidak apa, masih lelah jadi frustasi.<br><br>Dinyalakan laptop dan layar hitam menyapa untuk merenung.<br>Lalu ku kembali membuka peramban yang sudah terintegrasi.<br>Situs berita terbookmark menyapa siap berdengung.<br>Berita baik adalah kejadian buruk dengan tambahan narasi. <br><br>Hmm tapi ada yang menarik pagi ini.<br>Berita hari kemarin yang ternyata dinaikkan kembali.<br>Kuketikan lokasi, tapi mesin penjawab enggan mencari.<br>Sepertinya jurnalis bosan hari ini. <br><br>Dan semoga begitu setiap hari. </p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Menjadi Tidak Terlalu Sosial dan Keasertifan</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/menjadi-tidak-terlalu-sosial-dan-keasertifan</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/menjadi-tidak-terlalu-sosial-dan-keasertifan</guid><pubDate>Sun, 12 Jan 2020 14:18:36 +0000</pubDate><description>dok. pribadi Beberapa waktu lalu, setelah saya menulis tentang Adil Sejak dalam Pikiran . Seorang rekan saya di Bandung mengirim pesan ke saya. Beliau menuliskan “Adakah nanti judul tulisan menjadi tidak terlalu sosial?” Saya jawab, “Saya buatin khusus untuk (...</description><content:encoded><![CDATA[<img loading="lazy" width="300" height="300" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/01/wp-15788036688081820026406101592703.jpg?w=300" alt="" class="wp-image-1064" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/01/wp-15788036688081820026406101592703.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/01/wp-15788036688081820026406101592703.jpg?w=600 600w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/01/wp-15788036688081820026406101592703.jpg?w=150 150w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" /><figcaption>dok. pribadi</figcaption></figure>

<p>Beberapa waktu lalu, setelah saya menulis tentang <a href="https://Mas Bimo.com/2020/01/10/adil-sejak-dalam-pikiran/">Adil Sejak dalam Pikiran</a>. Seorang rekan saya di Bandung mengirim pesan ke saya. Beliau menuliskan &#8220;Adakah nanti judul tulisan menjadi tidak terlalu sosial?&#8221;</p>

<p>Saya jawab, &#8220;Saya buatin khusus untuk (nama beliau).&#8221;</p>

<p>Pada awalnya saya juga berpikir. Kenapa beliau meminta tulisan seperti demikian, tetapi saya rasa mungkin beliau merasa seperti orang yang mungkin tidak terlalu sosial. Lalu saya pikir lagi, kenapa menjadi tidak terlalu sosial menjadi sebuah pertanyaan? Kenapa menjadi tidak terlalu sosial dianggap sebuah hal yang tidak adaptif di masyarakat? Kenapa harus ada dorongan untuk harus menjadi seseorang yang selalu aktif bersosialisasi?</p>

<p>Menjadi tidak terlalu sosial itu tidak masalah. Menjadi aktif bersosialisasi pun tidak masalah. Terlihat bahagia akan pilihan itu tidak masalah. Terlihat menyesal akan pilihan itu wajar. </p>

<p><em>it&#8217;s a human thing</em>. Kalau tidak seperti itu apa bedanya kita dengan robot? <em>emotionless</em></p>

<p>Dua pihak yang berbeda, punya harapan yang berbeda. Tapi sebenarnya tidak ada masalah dengan perbedaan tersebut. </p>

<p>Satu jadi masalah menurut saya, tidak tersampaikan harapan antara satu dengan lainnya. Bisa jadi tidak tersampaikan karena saling takut, atau karena merasa tidak punya kuasa juga untuk menyampaikan. Kurang asertif.</p>

<h2 class="wp-block-heading">Asertif</h2>

<p>Asertif itu keterampilan. Asertif tidak kita bawa dari lahir. Artinya asertif bisa dilatih. Bisa ditingkatkan atau bahkan bisa diturunkan. Asertif menjadi sebuah konsep yang menarik di hubungan antar manusia.</p>

<p>Asertif itu kemampuan seseorang untuk dapat menyampaikan perasaannya, kebutuhannya, keperluannya atau melindungi apa yang dianggapnya benar tanpa &#8220;menyerang&#8221; batas-batas orang lain. Tidak bermaksud menggurui. Tidak bermaksud merendahkan diri. <em>Be who you are and say what you feel.</em></p>

<p>Kalau asertif seperti itu, kalau tidak asertif itu seperti apa?</p>

<p>Hemat saya, seseorang yang tidak asertif sering menjadi seseorang yang dimanfaatkan. Padahal merasa <em>helpless</em>. Hanya dapat mengatakan iya kepada tuntutan yang kadang tidak masuk akal. Membiarkan orang lain menganggu dirinya. Merasa tersakiti. Marah terhadap pilihannya. Tidak jujur.</p>

<p>Menjadi asertif itu sulit. Saya pun masih perlu banyak belajar untuk bisa asertif. Saya bisa menyampaikan apa yang saya rasa, tetapi tidak dapat saya janjikan dengan tidak menyerang batas-batas orang lain. </p>

<p>Apalagi asertif erat kaitannya dengan dengan budaya dan gender. </p>

<p>Beberapa budaya di Indonesia menganggap asertif adalah bentuk ketidaksopanan. Meskipun maksudnya tidak untuk menyerang. Menjawab orang lebih tua yang sedang berbicara saja, dosanya sepertinya besar sekali. Apalagi kaitannya dengan gender. </p>

<p>Laki-laki yang asertif sering dinilai sebagai sebuah perilaku yang memang harus dimiliki oleh laki-laki. Konstruksi sosial membuatnya seperti itu. Sedangkan apabila perempuan yang asertif di beberapa kesempatan sering dinilai sebagai sebuah perilaku maladaptif yang tidak sesuai dengan nilai dan norma di masyarakat. Memang tidak bisa dipungkiri, laki-laki ditempatkan di sebuah hierarki yang lebih tinggi daripada perempuan di beberapa budaya, terlepas dari pekerjaan atau status sosial lainnya yang melekat. Kalau anda mengatakan sebaliknya, berarti anda kurang piknik. (Contoh kalimat yang tidak asertif).</p>

<p>Asertif bisa ditingkatkan dan bisa diturunkan. Saya pikir tidak ada orang yang akan bisa terus menjadi asertif. Sering di hadapan lingkungan yang sudah kita kenal, seperti pertemanan dekat; kita akan bisa asertif. Tapi di lingkungan yang baru kita kenal seperti pekerjaan, bisa saja kita menjadi pasif. Menjadi asertif erat kaitannya dengan mengetahui kapan dan dimana diri dapat mengekspresikan sesuatu. </p>

<p>Apalagi kaitannya dengan kuasa. Semakin banyak kuasa yang kita miliki, semakin besar &#8216;kesempatan&#8217; kita untuk bisa menyampaikan hal yang dirasakan. Meskipun belum tentu asertif, karena asertif salah satu kuncinya adalah tidak menyerang batas-batas orang lain. Semakin ke sini batasan-batasan manusia saya lihat semakin tebal. Jadi semakin lebih muda ketersinggungan terjadi. </p>

<p>Dan tersinggung itu tidak menjadi sebuah masalah. Setidaknya untuk saya. Dengan tersinggung berarti kita merasa ada ketidaksesuaian antar nilai pribadi dan nilai orang lain; dari ketersinggungan itu harapannya akan muncul diskusi kedepannya. Sebuah budaya yang sangat ingin saya pribadi perbanyak di orang-orang terdekat dan juga di masyarakat luas. </p>

<h2 class="wp-block-heading">Menjadi Tidak Terlalu Sosial</h2>

<p>Kaitannya dengan pertanyaan rekan saya di awal. Saya rasa menjadi tidak terlalu sosial bukanlah sebuah masalah. Setiap orang punya kenyamanannya sendiri-sendiri. Teman yang sebenarnya dibutuhkan adalah diri sendiri. Orang lain yang membutuhkan kita adalah <em>privilege </em>yang satu dengan lainnya tidak akan sama. </p>

<p>Tapi yang perlu kita pahami bersama adalah setiap orang akan punya harapan kepada orang lain. Harapan akan peran yang harus dilakukan. Harapan akan <em>outcomes</em> yang dihasilkan dari peran yang sebelumya diharapkan untuk dilakukan. </p>

<p>Intinya harapan menjadi salah satu alasan munculnya motif seseorang untuk melakukan sesuatu. Harapan yang dipenuhi, akan menambah harapan baru dari orang lain terhadap diri sendiri. Sebaliknya, harapan yang tidak dapat terpenuhi; juga dapat mengurangi harapan baru yang seharusnya disampaikan pada diri sendiri, tapi akhirnya tidak. </p>

<p>Saya melihat pertanyaan menjadi tidak terlalu sosial demikian. Tidak ada yang akan mempermasalahkan saat seseorang menjadi tidak terlalu sosial, paling buruknya mungkin hanya akan menjadi bahan pembicaraan ketika ada kelompok berkumpul. Sudah sampai situ saja. Menurut saya tidak akan sampai pada tahap yang membahayakan nyawa.</p>

<p>Tapi dengan menjadi tidak terlalu sosial, maka ada beberapa kesempatan yang mungkin bisa kita dapatkan saat kita aktif bersosialisasi; yang pada akhirnya terlewat untuk kita dapatkan. Apalagi saat ini masih banyak lingkup kerja yang menghargai relasi baik. </p>

<p>Jadi saat individu merasa bahwa tidak masalah menjadi tidak terlalu sosial, itu pilihannya dan kita harus menghargai itu. Tapi individu tersebut juga harus paham bahwa dirinya berada dalam sebuah sistem sosial yang berhierarki. Ada nilai dan norma yang harus dipegang erat-erat di setiap tingkatannya kalau ingin merasa dibutuhkan. Saya rasa perasaan ingin dibutuhkan sudah menjadi kebutuhan dasar dari manusia di dekade kemarin dan akan terus diperkuat di dekade kedepannya. Penghargaan dan aktualisasi yang merupakan dua puncak tertinggi dari diagram kebutuhan maslow sudah memprediksinya jauh-jauh hari. </p>

<p>Tapi kedepannya, mari bersama-sama mencoba menjadi asertif. Menyampaikan kebutuhan dan kemauan kita terhadap orang lain, tanpa menyerang batas-batasnya. Kita bisa tidak menyerang batas-batas orang lain, dengan mengetahui batas-batas diri sendiri. <em>Mindfullness</em>. </p>

<p>Jangan sampai kita hanya menyalahkan masyarakat tentang ketidakterimaan mereka atas diri yang tidak terlalu sosial atau maladpatif, karena masyarakat juga tidak akan tahu kalau kita tidak menyampaikan. Kalau kita tidak mengatakan bahwa setiap manusia memiliki kebutuhan yang berbeda. Jadi asertif. Sampaikan.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Adil Sejak dalam Pikiran</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/adil-sejak-dalam-pikiran</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/adil-sejak-dalam-pikiran</guid><pubDate>Fri, 10 Jan 2020 17:07:24 +0000</pubDate><description>Adil sejak dalam pikiran di Bumi Manusia dengan segala permasalahannya. Pernah mendengar kalimat tersebut? aslinya bukan demikian, tetapi itu gabungan dari kalimat-kalimat yang menurut saya menarik di buku milik pram. Kalimat tersebut entah mengapa terus menem...</description><content:encoded><![CDATA[<p class="has-drop-cap ">Adil sejak dalam pikiran di Bumi Manusia dengan segala permasalahannya. Pernah mendengar kalimat tersebut? aslinya bukan demikian, tetapi itu gabungan dari kalimat-kalimat yang menurut saya menarik di buku milik pram.  </p>

<p>Kalimat tersebut entah mengapa terus menempel di pikiran saya sejak beberapa waktu yang lalu. Mantra sederhana tapi efektif. Adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Kesamaan antara perkataan dan apa yang dilakukan. Meresapi dan mengamalkan makna integritas. Menyampaikannya meski melalui jalur perorangan. Dipikir-pikir juga sejalan dengan salah satu prinsip dari Cognitive Behavioural Therapy (CBT). </p>

<p>Pikiran mempengaruhi perasaan, perasaan mempengaruhi perilaku.</p>

<p>Saya pikir lagi, sering kali manusia tidak adil kepada dirinya sendiri. Lalu, bagaimana mau adil kepada orang lain. Salah satu bentuk ketidakadilan adalah mengenai kebahagiaan. Beberapa manusia menempatkan kebahagiaan orang lain di atas kebahagiaan sendiri, tidak salah; tapi apa kewajiban kita untuk membahagiakan orang lain juga?  Saya pikir tidak pernah ada kewajiban seorang individu untuk membahagiakan orang lain.  </p>

<p>Atau juga bisa dilihat sebaliknya.</p>

<p>Terlalu banyak individu yang sombong akan konsep kebahagiaan. Menganggap bahwa hanya individu tersebut yang dapat membahagiakan orang lain. Jadinya merasa diri sendiri lebih superior kepada orang lain dalam sebuah hubungan. Saat individu merasa lebih memiliki kuasa akan orang lain, perilaku-perilaku yang berlebihan akan rentan terjadi. Bibit-bibit kekerasan disiram dengan subur oleh kesombongan atas kebahagiaan orang lain.</p>

<p>Sebelumnya saya sempat menyinggung mengenai normalisasi kekerasan dalam sebuah hubungan yang kebetulan saat itu saya kaitkan dengan pernikahan. </p>

	
		
	
	

<p>Saya pun ingin menyinggung kembali hal tersebut. Normalisasi terhadap kekerasan yang dilakukan masing-masing individu. Sebutannya normalisasi, berarti ada usaha yang dilakukan untuk menganggap sebuah peristiwa menjadi sebuah hal yang lumrah. Dilakukan secara sadar oleh salah satu pihak atau malah dua-duanya. Dampaknya besar dan bisa berkesinambungan. Sebuah masalah yang terus memupuk dirinya sendiri seiring bertambahnya waktu. Sampai nanti meluap dan meledak. </p>

<p>Banyak waktu saya akhir-akhir ini membaca tentang relasi, pernikahan, perceraian dan dampaknya kepada anak. Banyak anak yang menjadi korban dikarenakan keegoisan orangtua. Anak tidak bisa memilih siapa bapak atau ibunya. Anak tidak bisa memilih pola asuh yang akan diterapkan nantinya dalam masa tumbuh kembang. Semuanya ditentukan oleh tiap-tiap individu dalam sebuah hubungan. </p>

<p>Saya tahu dengan pasti bahwa masalah dalam setiap pernikahan akan selalu ada. Tapi saya juga tahu bahwa sebelum ada komitmen melalui pernikahan, sedikit banyak <em>trait</em> dari pasangan individu sudah diketahui. Kalau ada gejala-gejala <em>controlling behavior</em> atau kekerasan, pernikahan bisa menjadi sebuah pemicu dan penguat seperti sebuah pedang bermata dua. </p>

<p>Gejala kekerasan bisa bertambah kuat karena individu menganggap telah memiliki hak sepenuhnya atas pasangannya. </p>

<p>atau sebaliknya.</p>

<p>Kepedulian seseorang dan rasa sayang juga dapat diperkuat oleh pernikahan.</p>

<p>Hal yang coba saya gambarkan adalah saya rasa sebenarnya setiap individu sudah mengetahui akan berhubungan dengan orang seperti apa. Apa saja kelebihan dan kekurangannya. Kalau nantinya kekurangannya jauh lebih banyak sesuai penilaian pribadi, saya pikir pernikahan bukanlah media untuk memperbaiki kekurangan tersebut. Pernikahan bukan sarana uji coba untuk mengubah perilaku seseorang. Tapi jika ada keyakinan ada individu yang akan berubah karena pernikahan, maka silahkan itu hak masing-masing pribadi. Tapi untuk saya, sedikit pesimis dengan <em>outcome </em>yang diharapkan akan dapat terjadi. </p>

<img loading="lazy" width="300" height="199" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/01/pexels-photo.jpg?w=300" class="wp-image-1040" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/01/pexels-photo.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/01/pexels-photo.jpg?w=600 600w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2020/01/pexels-photo.jpg?w=150 150w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" /><figcaption>Photo by Negative Space on <a href="https://www.pexels.com/photo/light-sunset-people-water-34014/" rel="nofollow">Pexels.com</a></figcaption></figure>

<h2 class="wp-block-heading">Anak akan selalu menjadi korban</h2>

<p>Sejak bekerja sebagai pekerja sosial di lembaga anak di 2019. Sudah ada Sembilan klien anak yang menjadi dampingan saya. Kesembilannya memiliki permasalahan di keluarganya atau kalau boleh saya bilang; keluarga memiliki peranan kunci dalam munculnya permasalahan dari anak-anak tersebut. Maka dari itu saya khawatir. Terlebih lagi sepertinya kekerasan kepada anak ini tidak dibatasi secara regional saja. Setiap daerah punya fenomena gunung es akan kekerasan pada anak. Gambaran ringkasnya bisa dibaca di tulisan saya mengenai <a href="https://Mas Bimo.com/2019/06/05/relasi-kuasa/">relasi kuasa</a>, dimana saya tampilkan sebuah hasil survei oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak tentang kekerasan pada anak di tahun 2018. Saya kebetulan juga ambil bagian dalam survei tersebut.</p>

<p>Anak akan selalu menjadi korban secara struktural.</p>

<p>Tinggal kita egois-egoisan saja, siapa yang hendak disalahkan?</p>

<p>Pemerintah? bisa jadi. Masyarakat itu sendiri? bisa jadi. Anak itu? saya pribadi merasa tidak bisa menyalahkan anak. Anak akan selalu menjadi korban. Tabula rasa. Anak akan dibentuk oleh lingkungan di sekitarnya. </p>

<p>Lingkungan sekitarnya banyak kriminal? kemungkinan besar anak akan tumbuh dan kembang menjadi kriminal. </p>

<p>Lingkungan sekitar banyak penyimpangan seksual? bukan tidak mungkin anak akan menjadi pelaku suatu saat nanti. </p>

<p>Kita yang menentukan seperti apa jadinya anak-anak Indonesia nanti. Kita dalam artian lingkungan terkecil adalah keluarga. Sampai ke lingkungan yang jauh lebih besar di dalam masyarakat ataupun dalam kebijakan. </p>

<p>Tapi yang pasti, pola asuh di dalam keluarga akan sangat berperan penting dalam tumbuh kembang anak. Pola asuh yang baik salah satunya didapatkan pendidikan yang baik. Pendidikan tidak melulu melalui sekolah formal, banyak jenis pendidikan non formal yang juga dapat membantu dalam mengembangkan pola asuh anak yang sesuai. Supaya nantinya anak dapat adaptif dalam merespon lingkungannya. </p>

<p>Saya menulis ini karena hari ini anak dampingan pertama saya melanjutkan proses hukumnya di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) setelah berada di lembaga selama sekitar sembilan bulan. Banyak hal yang dapat kita cegah sebelum potensi masalah menjadi masalah dalam kaitannya tentang anak. Penguatan keluarga menjadi salah satu caranya, dan sepertinya itu yang akan menjadi fokus saya beberapa waktu ke depan. Menyampaikan melalui jalur perorangan, membuat adil sejak dalam pikiran dan perbuatan, dalam rangka memahami bumi manusia dengan segala permasalahannya. </p>

<p>Pikir matang-matang, dipertimbangkan dengan waktu yang cukup. Kalau butuh diskusi, mari kita berdiskusi. Saya bisa saja salah, tetapi selalu ada kemungkinan kalau saya juga bisa benar. </p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Panasea itu Pernikahan</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/panasea-itu-pernikahan</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/panasea-itu-pernikahan</guid><pubDate>Thu, 26 Dec 2019 21:45:30 +0000</pubDate><description>Nanti kalau dia sudah keluar dari sini, mau saya nikahkan aja mas. Biar punya tanggung jawab. Salah seorang orangtua klien pada saat pertemuan keluarga Percaya tidak percaya, kalimat tersebut benar adanya dan pernah diucapkan oleh orangtua dari klien yang saya...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Nanti kalau dia sudah keluar dari sini, mau saya nikahkan aja mas. Biar punya tanggung jawab.</p><cite>Salah seorang orangtua klien pada saat pertemuan keluarga</cite></blockquote>

<p>Percaya tidak percaya, kalimat tersebut benar adanya dan pernah diucapkan oleh orangtua dari klien yang saya dampingi. Mendengar kalimat tersebut terucap, saya pun mengajak diskusi orangtua tersebut mengenai pernikahan pada usia anak. Mengenai dampaknya dan juga pengaruh kedepannya. Apalagi baru-baru ini usia pernikahan sudah ditingkatkan batasan umurnya menjadi 19 tahun untuk laki-laki dan perempuan; ya meskipun masih bisa diajukan dispensasi juga melalui pengadilan. Artinya kesempatan pernikahan pada usia anak masih ada, dan bukan sesuatu yang patut kita banggakan.</p>

<img loading="lazy" width="1024" height="682" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/12/2019_1223_205703006586567358478892512.jpg?w=1024" alt="" class="wp-image-694" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/12/2019_1223_205703006586567358478892512.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/12/2019_1223_205703006586567358478892512.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/12/2019_1223_205703006586567358478892512.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/12/2019_1223_205703006586567358478892512.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/12/2019_1223_205703006586567358478892512.jpg?w=1440 1440w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/12/2019_1223_205703006586567358478892512.jpg 1776w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>

<p>Saya kurang setuju seandainya pernikahan dijadikan tempat melatih kemandirian. Mungkin banyak juga yang tidak setuju dengan pernyataan saya tersebut. Itu hak anda. Apa yang saya tulis biasanya berdasarkan pengalaman dan ilmu yang saya pelajari. Meskipun saya belum menikah, tetapi ada banyak sekali pengalaman orang yang saya amati kaitannya dengan pernikahan. Baik pengalaman indahnya dan juga pengalaman kurang indahnya. </p>

<p>Pekerja sosial yang bekerja di <em>setting</em> klinis akan sangat sering bertemu dengan keluarganya, dengan segala keunikannya juga dinamikanya.</p></blockquote>

<img loading="lazy" width="1024" height="682" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/12/2019_1223_205716004205576113269677727.jpg?w=1024" alt="" class="wp-image-695" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/12/2019_1223_205716004205576113269677727.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/12/2019_1223_205716004205576113269677727.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/12/2019_1223_205716004205576113269677727.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/12/2019_1223_205716004205576113269677727.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/12/2019_1223_205716004205576113269677727.jpg?w=1440 1440w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/12/2019_1223_205716004205576113269677727.jpg 1776w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>

<p>Menarik dilihat kalau banyak sekali tayangan televisi ataupun tayangan melalui media lain yang menglorifikasi pernikahan usia muda. Pernikahan muda (bukan usia anak) itu memang tidak saya permasalahkan, apalagi kalau memang sudah siap malah sangat baik seandainya dapat dilakukan. Tapi perlu banyak hal yang dipikirkan kembali. Kecuali pernikahan dianggap hanya sebagai syarat administratif saja, tanpa melihat kesakralannya. Tanpa melihat esensi dalam perjalanannya. Saya dapat menyampaikan seperti itu melihat banyak fenomena di lapangan. Pernikahan hanya sebagai aksesoris.</p>

<p><em>Peer presure</em> jadi alasan pernikahan yang diburu-buru, tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjangnya. Ujung-ujungnya kalimat yang tidak sepantasnya diucapkan, malah tersampaikan ke publik. Ujung-ujungnya publik akan menilai secara diam-diam ataupun secara terbuka. Tergantung budaya dan nilai yang ada di masyarakat. Akhirnya pernikahan bisa tidak berjalan mulus, yang jadi korbannya siapa? Salah satunya adalah anak. </p>

<p>Pernah saya bahas juga di tulisan saya mengenai relasi kuasa.</p>

	
		
	
	

<p>Pernikahannya erat kaitannya dengan tugas perkembangan manusia yang setiap individu berbeda-beda pencapaiannya. Tugasnya sebenarnya sudah coba dipetakan oleh para ahli, tapi ya memang manusia dengan segala keunikannya. Ada anak dampingan saya yang pemikirannya dan perilakunya sudah sangat dewasa, ada juga orang dewasa yang sering perilaku dan pemikirannya seperti anak-anak.</p>

<p>Apalagi sekarang saya pribadi melihat usia biologis tidak menjadi patokan utama lagi dalam menjelaskan kematangan mental seseorang, yang merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga hubungan pernikahan. </p>

<p>Sekarang, izinkan saya sebagai pemantik diskusi. Tulisan ini juga bukan untuk menilai bahwa hubungan yang sedang anda jalani itu belum baik, setiap orang punya preferensinya masing-masing. Tapi yang perlu diperhatikan adalah dampaknya kepada pasangan dan juga anak akan besar. Terlantar dan ditelantarkan adalah salah dua dampaknya. Pernikahan tidak sebercanda itu. </p>

<p class="has-text-align-center has-large-font-size ">Pernikahan tidak sebercanda itu</p>

<h3 class="wp-block-heading">Sosial Media</h3>

<p>Motif orang menggunakan sosial media tentunya akan berbeda-beda. Ada yang untuk bersilaturahmi, ada yang untuk mengaktualisasikan diri, ada yang untuk mengetahui kabar terbaru. Pasti akan beda <em>output </em>dan <em>outcome </em>dalam penggunaan sosial media. </p>

<p>Tapi sepertinya ada satu hal yang ingin saya ajak anda untuk bersepakat. </p>

<p>Sosial media pribadi kita biasanya hanya untuk menampilkan citra diri yang positif. Menampilkan hal-hal menyenangkan. Ataupun bila hal menyedihkan, biasanya dalam rangka mencari dukungan. </p>

<p>Lain kata. Lain kalimat. Lain maksud.</p>

<p>Kita terjebak oleh sosial media kita sendiri. Kita dijebak oleh alat yang seharusnya memudahkan kita mengaktualisasikan diri. Kita menjebak diri sendiri dalam citra yang sudah terlanjur kita tampilkan. Kaitannya dengan pernikahan? Tentu saja ada.</p>

<p>Banyak pengalaman orang lain yang menceritakan bahwa hubungan pernikahan mereka terjebak oleh citra yang sudah terlanjur mereka tampilkan. Apa salah? Tidak sepenuhnya. Bisa jadi demi menggapai citra yang sudah terlanjur dipublikasikan; individu akan berusaha keras agar citranya bisa berkesinambungan. </p>

<p>Apapun caranya.</p>

<p>Nah di dua kata &#8220;apapun caranya&#8221; ini yang perlu sama-sama kita amati. Jangan sampai mengorbankan orang lain demi untuk ego pribadi. Dampaknya kekerasan dapat terjadi. Banyak sekali dari pengalaman orang dekat saya tentang adanya kekerasan ini, baik fisik, emosional, maupun seksual. Kekerasan yang dilakukan untuk melindungi citra. Kekerasan yang dibiarkan; dibiarkan karena tidak pernah terbuka. Lingkaran setannya terus berputar disana. </p>

<p>Budaya bungkam masih kuat dan mengakar di Indonesia. Bahkan di usia generasi muda pun, masih banyak praktik budaya bungkam dilakukan. Menjadi lebih kuat apabila sudah ada di tahap yang lebih berkomitmen, masa pernikahan. Kaitannya sudah dengan nilai dan budaya di masyarakat. </p>

<p>Masalah adalah aib.</p>

<p>Aib merusak citra.</p>

<p>Citra yang rusak akan berakibat banyak ke variabel lain di kehidupan. Maka dari itu ada hukuman sosial yang sering dipraktikkan di masyarakat, untuk mengajarkan tentang budaya malu. Apapun yang terjadi, masalah apapun yang muncul. Harus dikunci rapat-rapat di dalam hubungan tersebut. Merasa tidak perlu menjangkau profesional. Akhirnya kekerasan yang ada, mengalir dan dibiarkan mengalir oleh kedua belah pihak. Sampai ada korban, baik secara fisik, emosional, ataupun seksual. Semoga saya salah. </p>

<img loading="lazy" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/06/20190605_121939-e1577319329688.jpg" alt="" class="wp-image-114" /></figure>

<h3 class="wp-block-heading">Normalisasi</h3>

<p>Hubungan yang tidak baik memang mudah diamati, sulit dipahami, kompleks untuk diatasi. Beberapa diantara kita mungkin memiliki hak istimewa/privilage dengan mendapatkan hubungan yang sehat. Ada juga yang sedang diuji dengan hubungan yang tidak sehat. Hal yang saya pelajari adalah sulit untuk keluar dari hubungan yang tidak sehat. Banyak variabel yang masuk di dalamnya. </p>

<p>Keluarga.<br>Citra.<br>Ekonomi.<br>Cinta?</p>

<p>Pada kondisi dimana korban potensial sudah tidak dapat berbuat banyak, orang lain yang harus bergerak. Kekerasan atau <em>abuse</em> menariknya sekarang dinormalisasi. Sulit bagi korban untuk keluar, tetapi orang lain atau bahkan korban sendiri cenderung menormalisasi kekerasan yang timbul tersebut. </p>

<p>&#8220;ya itu kan hubungan mereka&#8221;<br>&#8220;urus aja rumah tangga sendiri&#8221;</p>

<p class="has-normal-font-size ">Sayang, Kita secara sadar menormalisasi perilaku kekerasan dan perilaku mengontrol. Menganggapnya sebagai sebuah hal yang tidak dapat dihindari. Mengamini sebagai kejadian yang wajar dalam sebuah hubungan. Dampaknya panjang dan dapat menurun ke generasi selanjutnya bila tidak hati-hati.</p>

<h3 class="wp-block-heading">Panasea</h3>

<p>Saya tidak bilang pernikahan itu buruk. Saya menyampaikan bahwa pernikahan itu perlu banyak dipikirkan. Beberapa waktu lalu saya juga mengikuti training psikologi pernikahan yang diadakan oleh UGM, dan memang ternyata sangat kompleks variabel-variabel dalam pernikahan. Bukan untuk ditakutkan, lebih untuk dijaga agar dampak buruk nantinya kepada anak tidak terjadi. </p>

<p>Kesakralannya perlu dijaga, setidaknya untuk saya pribadi. Bukan acara seremonialnya yang perlu dihitung; tapi komunikasi pranikah dengan mengungkapkan harapan antar pasangan perlu digaungkan. Ini yang perlu di normalisasi. </p>

<p>Kedepannya saya punya harapan besar bahwa para orangtua tidak menganggap pernikahan sebagai obat panasea yang bisa menyembuhkan berbagai macam masalah sosial seseorang. Pernikahan bukan tempat latihan. Kekerasan bukan outcome yang diharapkan. Perceraian tidak pernah menjadi cita-cita siapapun. Kapanpun itu. </p>

<p>Pernikahan tidak semudah kutipan-kutipan bijak yamg bersliweran di Internet. </p>

<p>Mungkin ini tulisan saya yang paling tidak terstruktur, <em>but let it be</em>. Bisa saja pemikiran saya akan pernikahan akan berubah suatu saat nanti. Bisa saja saya akan menjadi hipokrit.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Kenapa Pekerja Sosial?</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/kenapa-pekerja-sosial</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/kenapa-pekerja-sosial</guid><pubDate>Sat, 14 Dec 2019 15:51:21 +0000</pubDate><description>Setiap bulan Desember biasanya saya menulis refleksi dari perjalanan tahun tersebut dan memang akan saya tulis, tapi bukan di tulisan kali ini. Masih ada 3 draf tulisan yang perlu saya selesaikan sebelum berganti tahun 2020; sebelum nanti topiknya menjadi tida...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Setiap bulan Desember biasanya saya menulis refleksi dari perjalanan tahun tersebut dan memang akan saya tulis, tapi bukan di tulisan kali ini. Masih ada 3 draf tulisan yang perlu saya selesaikan sebelum berganti tahun 2020; sebelum nanti topiknya menjadi tidak relevan. </p>

<p>Tapi, pada kesempatan kali ini saya ingin membagikan hal yang sering sekali ditanyakan oleh keluarga dan juga teman-teman di lingkungan sebelum kuliah, atau orang-orang baru yang kebetulan saya bersinggungan dalam perjalanan.</p>

<p>&#8220;Ķenapa jadi pekerja sosial?&#8221;</p>

<p>&#8220;Pekerja sosial ngapain aja emangnya?&#8221;</p>

<p>Bahkan sepertinya keluarga juga kurang paham dengan profesi yang saya jalani sekarang. Tapi untuk ini memang salah saya sepertinya kurang waktu untuk dapat menjelaskan.</p>

<p>Intervensi utama pekerja sosial adalah mengenai keberfungsian sosial individu, keluarga, kelompok, organisasi, maupun masyarakat. Sudah pernah saya tulis mengenai keberfungsian sosial di link berikut.</p>

	
		
	
	

<p>Sejujurnya pun saat berkuliah di STKS Bandung pada awalnya saya belum tahu nanti lulus akan menjadi apa. Belum memahami tentang profesi pekerja sosial. Baru di tingkat 2 dan tingkat 3 saya mulai mendalami tentang pekerja sosial; utamanya tentang seberapa kompleksnya profesi ini dan besaran dampaknya bila dilakukan secara benar ataupun sebaliknya bila dilakukan secara salah.</p>

<img loading="lazy" width="1024" height="820" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019-10-06-117054336148775550386..jpg?w=1024" alt="" class="wp-image-462" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019-10-06-117054336148775550386..jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019-10-06-117054336148775550386..jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019-10-06-117054336148775550386..jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019-10-06-117054336148775550386..jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019-10-06-117054336148775550386..jpg?w=1440 1440w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019-10-06-117054336148775550386..jpg 1478w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>

<h2 class="wp-block-heading">Hal yang saya cintai</h2>

<p>Ada banyak hal yang sebenarnya membuat saya kembali jatuh cinta lagi dan lagi kepada profesi ini. Salah satunya adalah cara pandang profesi pekerja sosial dalam menangani suatu kasus</p>

<h3 class="wp-block-heading">Cara Pandang</h3>

<p>Saya sangat bangga dengan cara pekerja sosial melihat manusia. Pekerja sosial melihat manusia dengan berbasis pada <em>strength-based perspective, </em>melihat kekuatan dan potensi yang telah ada di dalam manusia tersebut. Jadi tidak hanya melihat masalahnya saja. </p>

<p>Tidak hanya itu, pekerja sosial juga melihat manusia sebagai sebuah unit yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Mempengaruhi masalah, mempengaruhi sumber daya, mempengaruhi pembuatan keputusan, mempengaruhi cara menghadapi masalah, dan mempengaruhi sangat banyak hal lainnya. Sehingga pada intervensi yang dilakukan sangat jarang hanya berfokus pada klien saja yang harus diubah. Lingkungan pun biasanya akan ikut terseret untuk mendapatkan intervensi dalam proses manajemen kasus yang dilakukan oleh pekerja sosial. Penyelesaian secara holistik.</p>

<h3 class="wp-block-heading">Kesempatan Belajar</h3>

<p>Hal lainnya yang juga membuat saya cinta dengan profesi ini adalah saya sangat banyak belajar dari klien. Baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada dasarnya saya memang gemar mengobservasi manusia dan segala dinamikanya. Mempelajari manusia yang punya banyak sekali perbedaan variabel antara satu dengan yang lainnya.</p>

<p>Karena saya bekerja di <em>setting </em>anak, cukup sering saya bertemu dengan klien yang seperti saya; tapi versi mudanya. Saya bertemu dengan kesalahan-kesalahan yang mereka buat, dan berharap agar mereka bisa kembali adaptif. Berharap agar mereka dapat kembali ke keluarga, sebagai tempat pengasuhan terbaik bagi anak. </p>

<p>Saya menemukan hal-hal baru dalam perjalanan, meskipun baru seumur jagung saya menekuni profesi ini. Bahagianya, saya belajar banyak hal-hal baru sembari berkesempatan membantu anak-anak yang saya dampingi. </p>

<h2 class="wp-block-heading">Hal yang saya masih perlu menyesuaikan</h2>

<p>Ada beberapa hal juga yang sepertinya saya perlu menyesuaikan dalam berprofesi sebagai pekerja sosial. Saya anggap sebagai tantangan meskipun bisa juga menjadi beban suatu saat nanti</p>

<h3 class="wp-block-heading">Bermain dengan Harapan</h3>

<p>Disadari tidak disadari profesi ini dekat dengan harapan. Mudahnya, pekerja sosial memiliki wewenang untuk bermain dengan harapan. Harapan yang muncul dari berbagai pihak, seperti keluarga, lembaga perujuk, masyarakat, lembaga tempat bekerja, dan juga harapan dari klien itu sendiri. Menyeimbangkan harapan yang ada dan menyelaraskannya dengan proses intervensi memiliki seninya tersendiri. Harapan yang tidak terpenuhi pun akan sangat bisa menjadi beban bagi pekerja sosial. </p>

<p>Begitu besarnya dampak dari harapan dan cukup menakutkan apabila tidak dapat dipenuhi. Tetapi kita juga perlu melihat sisi sebaliknya, dengan adanya harapan; dengan dijaganya harapan. Maka dapat menjadi penguat nomor satu dalam proses perubahan perilaku. Kalau klien sudah tidak punya harapan untuk berubah, maka tugas utama kita adalah kembali menumbuhkan harapan itu. </p>

<p>Keseimbangan dalam menjaga dan merawat harapan adalah kuncinya.</p>

<p>Maka dari itu, penting dalam tahap awal untuk membuat kontrak pelayanan yang realistis disesuaikan dengan waktu penanganan. Membuat kesepakatan dan memberikan penjelasan bahwa perubahan perilaku bukan sesuatu yang instan. Prosesnya bisa lama dan juga memerlukan dukungan dari seluruh pihak yang peduli, yang belum peduli pun harus bisa dirangkul agar menjadi peduli. Memperbanyak sumber yang dapat diakses.</p>

<h3 class="wp-block-heading">PR yang Dibawa Pulang</h3>

<p>Dalam beberapa kesempatan, kasus dari klien yang saya dampingi ikut terbawa sampai ke rumah. Maksudnya sampai benar-benar terpikirkan saat sarapan, saat berolahraga dan pada beberapa kesempatan di luar pekerjaan. Saya keluar rumah dengan bahagia pada pagi hari dan pulang dengan membawa beban. Apalagi kalau saya tahu ada hal lebih yang sebenarnya bisa dilakukan dalam penanganan klien, tetapi dibatasi oleh banyak variabel di lapangan. </p>

<p>Pekerja sosial rawan dengan burnout, maka dari itu pada saat skripsi saya melakukan penelitian tentang burnout pekerja sosial medis di salah satu rumah sakit rujukan pusat. Berdasarkan penelitian saya salah satu kunci agar terhindar dari burnout adalah menyesuaikan harapan dan melakukan <em>self care</em>.</p>

<p>Saya menjadi sering mendengar tentang istilah <em>self care</em>. Banyak orang yang terus mengingatkan untuk tetap menjaga diri kita sendiri, tidak hanya dipermukaan. Tetapi juga menjaga apa yang ada di dalam. Tiap orang punya caranya masing-masing, tapi untuk saya caranya dengan menulis.</p>

<p>Mengenai pembelajaran tentang burnout ini juga pernah saya tulis di link berikut.</p>

	
		
	
	

<p>Ditulis dan diselesaikan Sabtu, 14 Desember 2019 di Poli Jiwa Rumah Sakit Islam Siti Hajar Mataram dalam rangka pendampingan klien.</p>
</blockquote>]]></content:encoded></item>
<item><title>Sajak tentang Penerang</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/sajak-tentang-penerang</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/sajak-tentang-penerang</guid><pubDate>Tue, 03 Dec 2019 14:35:34 +0000</pubDate><description>lilin itu kamu, dan lilin itu juga saya. sama-sama menyala dan juga berupaya. tujuan tidak sama, tapi berbahagia. karena sama tahu, untuk mengisi tanpa memaksa. lilin saya berbinar tanpa adanya pijar. lilin kamu berpijar tanpa adanya binar. lalu siapa yang seb...</description><content:encoded><![CDATA[<p class="has-text-align-center ">lilin itu kamu, dan lilin itu juga saya.<br>sama-sama menyala dan juga berupaya.<br>tujuan tidak sama, tapi berbahagia.<br>karena sama tahu, untuk mengisi tanpa memaksa.</p>

<p class="has-text-align-center ">lilin saya berbinar tanpa adanya pijar.<br>lilin kamu berpijar tanpa adanya binar.<br>lalu siapa yang sebenarnya benar?<br>tidak ada, karena sama-sama terbakar.</p>

<p class="has-text-align-center ">tapi itulah esensinya jadi penerang.<br>membakar diri untuk menghidupi.<br>tidak peduli siapa yang terkena terang.<br>akan menyala meski untuk mati.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Jakarta dan Ketersinggungannya</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/jakarta-dan-ketersinggungannya</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/jakarta-dan-ketersinggungannya</guid><pubDate>Sun, 24 Nov 2019 15:41:49 +0000</pubDate><description>Jakarta menjadi tempat yang menarik untuk saya. Terlepas dari posisinya sekarang sebagai Ibukota Negara yang akan dipindah kedepannya. Beberapa waktu terakhir saya lumayan sering memikirkan lokasi di ujung sedikit barat pulau Jawa ini. Saya juga bingung kenapa...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Jakarta menjadi tempat yang menarik untuk saya. Terlepas dari posisinya sekarang sebagai Ibukota Negara yang akan dipindah kedepannya. Beberapa waktu terakhir saya lumayan sering memikirkan lokasi di ujung sedikit barat pulau Jawa ini.  Saya juga bingung kenapa saya mau mengeluarkan sumber daya untuk memikirkannya. </p>

<p>Nyaman? tidak juga. Rumah saya di Bondowoso selalu jadi tempat yang ternyaman.</p>

<p>Ramah? tidak juga.  Yogyakarta dan Surakarta dengan budaya dan orang-orangnya menjadi tempat yang paling membekas tentang keramahan.</p>

<p>Wisata? tidak juga. Tempat saya bekerja sekarang di Lombok selalu punya cara sendiri untuk memunculkan wisata-wisata baru tiap periodenya. </p>

<p>Paling ingin dikunjungi? tidak juga. Semarang menjadi salah satu tempat yang ingin saya kunjungi, entah apa alasannya. </p>

<p>Banyak kenangan? tidak banyak. Bandung masih menjadi tempat yang saya titipkan paling banyak kenangan.</p>

<p>Tapi setelah saya pikir-pikir lagi. Saya tahu alasannya. Jakarta menarik karena ketersinggungannya. Ketersinggungan dengan orang-orangnya. Ketersinggungan dengan latar belakang budaya orang-orang yang datang dari seluruh penjuru Indonesia untuk mengadu nasib melalui taxi online dan pekerjaan lainnya. Ketersinggungan dengan kecemasan yang muncul dibalik cerita orang lain. Ketersinggungan dengan suara yang akan menjadi favorit dari setiap perjumpaan. Ketersinggungan dengan cepatnya perubahan perilaku bisa ditampilkan oleh manusia. Ketersinggungan dengan mudahnya seseorang menjadi sosok yang paling cepat kita kenali di tengah keramaian. </p>

<p>Dan masih banyak ketersinggungan lainnya. Lalu, karena saya menarik diri dari beberapa sosial media, saya pun mohon izin untuk menaruh beberapa kumpulan foto yang saya ambil di Jakarta di blog ini. </p>

<img loading="lazy" width="1000" height="798" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/09/2019_0830_18103500-01.jpeg?w=1000" alt="" data-id="319" data-imglink="" class="wp-image-319" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/09/2019_0830_18103500-01.jpeg?w=1000 1000w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/09/2019_0830_18103500-01.jpeg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/09/2019_0830_18103500-01.jpeg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/09/2019_0830_18103500-01.jpeg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/09/2019_0830_18103500-01.jpeg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/09/2019_0830_18103500-01.jpeg 1430w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></figure></li><img loading="lazy" width="819" height="1023" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/09/2019_0901_21062000-01.jpeg?w=819" alt="" data-id="354" data-imglink="" class="wp-image-354" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/09/2019_0901_21062000-01.jpeg?w=819 819w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/09/2019_0901_21062000-01.jpeg?w=120 120w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/09/2019_0901_21062000-01.jpeg?w=240 240w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/09/2019_0901_21062000-01.jpeg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/09/2019_0901_21062000-01.jpeg 1184w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure></li><img loading="lazy" width="382" height="382" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/20190316_201553.gif?w=382" alt="" data-id="454" data-imglink="" class="wp-image-454" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/20190316_201553.gif 382w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/20190316_201553.gif?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/20190316_201553.gif?w=300 300w" sizes="auto, (max-width: 382px) 100vw, 382px" /></figure></li><img loading="lazy" width="817" height="1023" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019-08-30-034567102336441521302..jpg?w=817" alt="" data-id="460" data-imglink="" class="wp-image-460" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019-08-30-034567102336441521302..jpg?w=817 817w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019-08-30-034567102336441521302..jpg?w=120 120w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019-08-30-034567102336441521302..jpg?w=239 239w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019-08-30-034567102336441521302..jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019-08-30-034567102336441521302..jpg 945w" sizes="auto, (max-width: 817px) 100vw, 817px" /></figure></li><img loading="lazy" width="1000" height="799" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019-09-01-012040114173788615728..jpg?w=1000" alt="" data-id="461" data-imglink="" class="wp-image-461" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019-09-01-012040114173788615728..jpg?w=1000 1000w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019-09-01-012040114173788615728..jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019-09-01-012040114173788615728..jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019-09-01-012040114173788615728..jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019-09-01-012040114173788615728..jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019-09-01-012040114173788615728..jpg?w=1440 1440w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019-09-01-012040114173788615728..jpg 1474w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></figure></li><img loading="lazy" width="1000" height="801" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019-10-06-117054336148775550386..jpg?w=1000" alt="" data-id="462" data-imglink="" class="wp-image-462" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019-10-06-117054336148775550386..jpg?w=1000 1000w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019-10-06-117054336148775550386..jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019-10-06-117054336148775550386..jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019-10-06-117054336148775550386..jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019-10-06-117054336148775550386..jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019-10-06-117054336148775550386..jpg?w=1440 1440w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019-10-06-117054336148775550386..jpg 1478w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></figure></li><img loading="lazy" width="1000" height="1001" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2018-09-01-07.43.18-1.jpg?w=1000" alt="" data-id="464" data-imglink="" class="wp-image-464" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2018-09-01-07.43.18-1.jpg?w=1000 1000w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2018-09-01-07.43.18-1.jpg?w=2000 2000w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2018-09-01-07.43.18-1.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2018-09-01-07.43.18-1.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2018-09-01-07.43.18-1.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2018-09-01-07.43.18-1.jpg?w=1022 1022w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2018-09-01-07.43.18-1.jpg?w=1440 1440w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></figure></li><img loading="lazy" width="1000" height="666" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019_0901_10391900.jpg?w=1000" alt="" data-id="465" data-imglink="" class="wp-image-465" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019_0901_10391900.jpg?w=1000 1000w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019_0901_10391900.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019_0901_10391900.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019_0901_10391900.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019_0901_10391900.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019_0901_10391900.jpg?w=1440 1440w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019_0901_10391900.jpg 1776w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></figure></li><img loading="lazy" width="1000" height="666" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019_0920_18512800.jpg?w=1000" alt="" data-id="467" data-imglink="" class="wp-image-467" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019_0920_18512800.jpg?w=1000 1000w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019_0920_18512800.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019_0920_18512800.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019_0920_18512800.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019_0920_18512800.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019_0920_18512800.jpg?w=1440 1440w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019_0920_18512800.jpg 1776w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></figure></li><img loading="lazy" width="1000" height="666" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019_0920_18514000.jpg?w=1000" alt="" data-id="468" data-imglink="" class="wp-image-468" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019_0920_18514000.jpg?w=1000 1000w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019_0920_18514000.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019_0920_18514000.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019_0920_18514000.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019_0920_18514000.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019_0920_18514000.jpg?w=1440 1440w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019_0920_18514000.jpg 1776w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></figure></li><img loading="lazy" width="1000" height="666" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0325.jpg?w=1000" alt="" data-id="469" data-imglink="" class="wp-image-469" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0325.jpg?w=1000 1000w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0325.jpg?w=2000 2000w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0325.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0325.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0325.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0325.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0325.jpg?w=1440 1440w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></figure></li><img loading="lazy" width="1000" height="666" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0337.jpg?w=1000" alt="" data-id="477" data-imglink="" class="wp-image-477" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0337.jpg?w=1000 1000w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0337.jpg?w=2000 2000w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0337.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0337.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0337.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0337.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0337.jpg?w=1440 1440w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></figure></li><img loading="lazy" width="1000" height="666" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0341.jpg?w=1000" alt="" data-id="478" data-imglink="" class="wp-image-478" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0341.jpg?w=1000 1000w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0341.jpg?w=2000 2000w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0341.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0341.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0341.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0341.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0341.jpg?w=1440 1440w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></figure></li><img loading="lazy" width="1000" height="666" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0347.jpg?w=1000" alt="" data-id="479" data-imglink="" class="wp-image-479" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0347.jpg?w=1000 1000w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0347.jpg?w=2000 2000w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0347.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0347.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0347.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0347.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0347.jpg?w=1440 1440w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></figure></li><img loading="lazy" width="1000" height="666" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0352.jpg?w=1000" alt="" data-id="480" data-imglink="" class="wp-image-480" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0352.jpg?w=1000 1000w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0352.jpg?w=2000 2000w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0352.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0352.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0352.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0352.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/dscf0352.jpg?w=1440 1440w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></figure></li><img loading="lazy" width="1000" height="666" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019_0901_11113800.jpg?w=1000" alt="" data-id="466" data-imglink="" class="wp-image-466" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019_0901_11113800.jpg?w=1000 1000w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019_0901_11113800.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019_0901_11113800.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019_0901_11113800.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019_0901_11113800.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019_0901_11113800.jpg?w=1440 1440w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/2019_0901_11113800.jpg 1776w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></figure></li></ul>]]></content:encoded></item>
<item><title>Mengamati Kondisi Diam</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/mengamati-kondisi-diam</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/mengamati-kondisi-diam</guid><pubDate>Sun, 17 Nov 2019 08:43:21 +0000</pubDate><description>Saya sering mendapatkan kesempatan mengamati interaksi antara anak-anak dengan orang tuanya, anak-anak dengan teman sebayanya, anak-anak dengan pembina termasuk pekerja sosial ada di situ. Hal yang menarik adalah adanya diam. Kediaman yang terjadi bisa karena ...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Saya sering mendapatkan kesempatan mengamati interaksi antara anak-anak dengan orang tuanya, anak-anak dengan teman sebayanya, anak-anak dengan pembina termasuk pekerja sosial ada di situ. Hal yang menarik adalah adanya diam. Kediaman yang terjadi bisa karena banyak hal. Persepsi orang akan berbeda akan diam yang ditunjukkan oleh lawan bicara. Orang bisa saja menganggap diam yang ditunjukkan adalah keengganan dari lawan bicaranya untuk menanggapi hal yang sedang dibicarakan. Bisa saja orang marah karena ini. Bisa juga orang bingung karena kediaman ini. Pernah juga kediaman yang terjadi disepelekan. Biasanya saya lihat di interaksi antara orang tua dengan anak.</p>

<img loading="lazy" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/11/pexels-photo-568025.jpeg" alt="" class="wp-image-456" /></figure>

<p>Hal yang menjadi potensi masalah ketika kediaman ini di sepelekan. Diam yang terjadi dianggap sebagai suatu keadaan yang normal. Pada dasarnya mungkin ada beberapa orang yang memang senang menyendiri, menarik diri dari lingkungan sosialnya. Tapi bagi saya pribadi sepertinya tidak ada orang yang menyukai kondisi sepi. Tidak ada orang yang menikmati kesepian. Maka dari itu diam adalah suatu subjek diskusi yang menarik baik bagi praktisi maupun bagi anak atau keluarga itu sendiri.<br></p>

<p>Ada beberapa kondisi diam yang saya temui pada saat berpraktik.</p>

<p>Pertama, adalah kondisi diam antara orang tua dan anak. Beberapa kasus klien yang saya dampingi, menunjukkan dan menampilkan kondisi diam yang terjadi antara orang tua dan anak. Biasanya saya sudah memiliki hasil asesmen yang dilakukan kepada anak, asesmen yang mengacu pada instrumen Biologis Psikologis Sosial Spiritual (BPSS). Dalam beberapa kasus saya juga sudah memiliki hasil assesment yang dilakukan kepada orangtua anak. Seandainya tidak dapat langsung, saya bisa menanyakan kepada pendamping kemasyarakatan dari Bapas; yang tentunya nanti harus di verifikasi lagi kepada orang tua yang bersangkutan. </p>

<p>Berdasarkan hasil asesmen tersebut, saya bisa memprediksi bagaimana pola interaksi antara orang tua dan anak. Informasi yang didapat juga membantu saya memetakan potensi masalah yang dapat terjadi atau masalah yang sudah terjadi.<br>Lalu pada suatu waktu saya mencoba melakukan temu keluarga antara orang tua dan anak. Saya pertemukan keduanya yang memiliki latar belakang keluhan antara satu dengan lainnya. Anak memiliki keluhan terhadap orangtuanya. Orang tua juga memiliki keluhan kepada anaknya. Hal yang menarik adalah di beberapa kesempatan pertemuan tersebut orang tua dan anak sama-sama diam, tidak mengatakan keluhan yang mereka rasakan antara satu dengan yang lainnya. </p>

<p>Kalau di posisi anak biasanya karena mereka takut kepada orang tuanya. Kalau dilihat dari posisi orangtua, biasanya mereka takut salah bicara kepada anaknya. Kondisi diam pun akan sering terjadi. Kondisi diam yang di belakangnya ada bahaya laten dari masalah-masalah yang ada tapi tidak tersampaikan. Setelah pertemuan keluarga pun masing-masing pihak akan kembali saling menyalahkan satu sama lain, meskipun sebelumnya sudah difasilitasi untuk dapat menyampaikan masalah yang ada.<br></p>

<p>Siklus ini pun sering berulang. Hanya muncul keinginan saling menyalahkan, tanpa adanya usaha untuk menyelesaikan. Sebenarnya siklus ini bisa diputus. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah tahu bahwa diam tidak akan menyelesaikan masalah. Saya jadi ingat perkataan salah satu dosen saya Bapak Aribowo di Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung pada mata kuliah CO/CD. Perubahan yang dilakukan kepada individu, keluarga, kelompok, maupun masyarakat dapat digambarkan melalui tahapan Tahu, Mau, Mampu. <br></p>

<p>Tahu bahwa ada masalah.<br></p>

<p>Mau menyelesaikan masalah yang ada.<br></p>

<p>Mampu menyelesaikan masalahnya.<br></p>

<p>Seandainya keluarga sudah tahu bahwa diam adalah masalah, maka tugas Pekerja Sosial selanjutnya adalah mendorong keluarga untuk mau menyelesaikan masalah. Seandainya keluarga sudah mau menyelesaikan masalah, maka tugas selanjutnya dari Pekerja Sosial adalah memberikan kemampuan kepada keluarga tersebut untuk dapat menyelesaikan masalahnya.<br></p>

<p>Kedua, kondisi diam antara pekerja sosial dengan klien. Saya pun secara sadar maupun tidak sadar sering menggunakan kondisi diam ini. Biasanya pada saat melakukan asesmen kepada klien. Ada dua hal yang menjadi dasar yang biasanya menjadi alasan kenapa kondisi diam dilakukan pada saat asesmen. Menunjukkan penghargaan kepada klien dan memberikan waktu bagi klien untuk merefleksikan jawabannya.<br></p>

<p>Klien yang saya tangani sejauh ini adalah klien anak yang berkonflik dengan hukum. Sebelum sampai di Balai anak-anak sudah ditanyakan berbagai macam hal oleh penyidik di kepolisian. Satu hal yang saya yakini adalah pertanyaan yang diberikan oleh seorang penyidik kepolisian dan seorang pekerja sosial meskipun dengan topik yang sama akan berbeda penyampaiannya. Seni profesinya sudah berbeda. Pekerja Sosial menempatkan klien sebagai subjek dari perubahan perilaku yang akan dilakukan. Disitulah penghargaan terhadap klien muncul. Pekerja Sosial akan menempatkan dirinya sebagai seorang pendengar, maka dari itu proses asesmen bisa menjadi suatu proses yang memakan waktu. Proses asesmen akan terus dilakukan, karena prosesnya yang spiral sampai kasus benar-benar diterminasi. <br></p>

<p>Pekerja Sosial juga memberikan klien waktu untuk meresapi dan merefleksikan ceritanya sendiri. Hal ini dilakukan dengan menampilkan kondisi diam. Seringkali setiap individu sudah mengetahui solusi dari masalahnya, tapi terkadang masih membutuhkan penguatan dari orang lain bahwa solusi yang dia pikirkan itu tepat. Diam yang dipakai berguna pada kondisi seperti ini. Membantu orang sampai pada tahap mengatakan, “oh iya ya” atau “kenapa saya sampai bisa begitu ya” atau juga “apa yang sudah saya lakukan dengan hidup saya.”<br></p>

<p>Tapi kondisi diam yang dilakukan juga perlu hati-hati. Jangan sampai karena salah menggunakan diam, klien menganggap sedang membuang-buang waktu meminta bantuan kepada pekerja sosial. Hal ini bisa diminimalisir seiring bertambahnya jam terbang pekerja sosial, dengan menemui berbagai macam tipe-tipe klien.<br></p>

<p>Ketiga, melihat ke konteks yang lebih besar. Diam juga menjadi budaya di beberapa masyarakat kita. Diam yang mengarah ke bungkam. Dibungkam. Budaya bungkam, dimana individu dalam masyarakat tidak bisa menyampaikan pikirannya. Tidak bisa menyampaikan hal yang sebenarnya dianggap masalah. Mungkin sudah terpatri sejak awal. Sejak kita juga masih anak-anak. <br></p>

<p>“engga usah bilang ke ke orang lain, malu”<br></p>

<p>“sudah ini aib keluarga, engga perlu orang lain tahu”<br></p>

<p>Ada benarnya, ada juga tidak benarnya. Budaya bungkam menjadi penyebab banyak masalah sosial di masyarakat menjadi tidak disadari. Tidak bisa dinilai. Saat masalah tidak disadari menjadi sebuah masalah maka tidak akan ada penyelesaiannya. </p>

<p>Contohnya seperti kesehatan mental pada beberapa tahun lalu yang belum seramai dibicarakan seperti tahun ini. Kasus eksploitasi pekerja anak berlatar belakang budaya yang bergerak secara senyap. Pernikahan di usia anak yang masih ada di beberapa wilayah, meskipun batas usia pernikahan sudah dinaikkan. <br></p>

<p>Semua kondisi tersebut dapat dilanggengkan dengan masih adanya budaya bungkam di masyarakat. Kondisi diam yang sebenarnya tidak diharapkan. Tapi mungkin masih dibutuhkan sampai saat ini. Sama-sama tahu ada potensi masalah, tapi sama-sama sepakat untuk tidak mau melihat dan menyelesaikan masalah tersebut. <br></p>

<p>Lalu, mau sampai kapan?</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Sajak Media Sosial</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/sajak-media-sosial</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/sajak-media-sosial</guid><pubDate>Mon, 04 Nov 2019 22:24:31 +0000</pubDate><description>satu dua kabari berita mudahnya tahu orang cerita hidup kita bagai kelas tiga apa-apa tahulah tetangga lucunya kita tidak dipaksa secara rela menjadi angsa satu begitu dua mengisi tiga meniru empat adopsi menjadi dasar itulah dia jadi wajah sosial media penuhn...</description><content:encoded><![CDATA[<p class="has-text-align-center ">satu dua kabari berita<br>mudahnya tahu orang cerita<br>hidup kita bagai kelas tiga<br>apa-apa tahulah tetangga</p>

<p class="has-text-align-center ">lucunya kita tidak dipaksa<br>secara rela menjadi angsa<br>satu begitu dua mengisi<br>tiga meniru empat adopsi</p>

<p class="has-text-align-center ">menjadi dasar itulah dia<br>jadi wajah sosial media<br>penuhnya narasi tanpa makna<br>pelangi tak indah banyak warna</p>

<p class="has-text-align-center ">twiitter instagram hanya media<br>tapi terasa habisi nyawa<br>produktivitas jadi melemah<br>pancing pertengkaran dari rumah</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Keluarga yang “Ada”</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/keluarga-yang-ada</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/keluarga-yang-ada</guid><pubDate>Thu, 31 Oct 2019 20:42:30 +0000</pubDate><description>Photo by Vidal Balielo Jr. on Pexels.com Beberapa hari yang lalu, saya menyelesaikan tugas saya sebagai panitia kegiatan Family Support atau dukungan keluarga di tempat saya bekerja; dan baru saja saya menyelesaikan amanah dalam kegiatan Rapat Koordinasi Regio...</description><content:encoded><![CDATA[<img loading="lazy" width="300" height="199" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/10/pexels-photo-1682497.jpeg?w=300" alt="" class="wp-image-450" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/10/pexels-photo-1682497.jpeg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/10/pexels-photo-1682497.jpeg?w=600 600w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/10/pexels-photo-1682497.jpeg?w=150 150w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" /><figcaption>Photo by Vidal Balielo Jr. on <a href="https://www.pexels.com/photo/family-walking-on-path-1682497/" rel="nofollow">Pexels.com</a></figcaption></figure>

<p>Beberapa hari yang lalu, saya menyelesaikan tugas saya sebagai panitia kegiatan <em>Family Support</em> atau dukungan keluarga di tempat saya bekerja; dan baru saja saya menyelesaikan amanah dalam kegiatan Rapat Koordinasi Regional. Kegiatan <em>Family Support</em> ini merupakan kegiatan yang kedua kalinya dilakukan pada tahun ini, dengan konsep yang berbeda, narasumber yang berbeda, lokasi yang juga berbeda, dan juga beberapa perbedaan lain yang pada akhirnya kami nilai tepat dilakukan perubahan tersebut. Berangkatnya juga dari evaluasi kegiatan sebelumnya. </p>

<p>Kaitannya dengan keluarga, utamanya keluarga dari klien yang saya tangani. Banyak tarik ulurnya. Terkadang berdasarkan hasil asesmen, justru keluarga yang mungkin memberikan pengasuhan yang salah sehingga dampak jangka panjangnya dirasakan oleh anak-anak pada saat ini. Tapi saya juga tidak bisa menegasikan begitu saja peran keluarga dalam proses rehabilitasi bagi klien. Kembali berulang lagi saya sering disadarkan baik secara langsung maupun tidak langsung, keluarga berperan besar bagi anak; atau lebih tepatnya keluarga bertanggung jawab besar kepada anak, terlepas dari digunakan dengan baik atau tidak tanggung jawab tersebut. Maka perlu memang dilakukan asesmen resiko yang tepat, untuk mengetahui kita memberikan intervensi demi kepentingan anak atau kepentingan keluarga. Dua-duanya kadang hampir sama pentingnya; tapi justru disitu seninya untuk menyeimbangkan.</p>

<p>Keluarga yang ada itu baik, tapi jauh lebih baik keluarga yang &#8220;ada&#8221;. Keluarga yang tidak hanya hadir fisiknya, tapi juga hadir kehangatan, hadir kepedulian, hadir cintanya untuk anak-anaknya. Perspektif pekerja sosial juga memiliki sejarah melihat klien sebagai seseorang yang ada di lingkungannya. <em>Person in Environment</em>. Melihat bahwa permasalahan yang muncul bukan hanya karena klien itu sendiri, tetapi harus dilihat secara keseluruhan dan diselesaikan secara holistik. Keluarga menjadi salah satu yang ada dalam lingkungan klien. Bahkan mungkin menjadi yang paling besar memberikan pengaruh kepada klien.</p>

<p>Saya masih banyak melihat dari beberapa pengalaman sebelumnya. Cukup banyak keluarga yang menganggap bahwa apabila anak berada di tempat lain selain di rumah, contohnya di balai atau panti tempat anak dititipkan. <br>Tidak jarang, setelah anak dititipkan; beberapa keluarga atau orangtua mempersulit diri sendiri atau mengadakan hambatan-hambatan yang mungkin ada, tetapi sebenarnya bisa diatasi untuk memberikan dukungan kepada anaknya. Banyak keluarga yang menganggap bahwa dengan dititipkannya anak ke suatu balai atau panti, maka sepenuhnya menjadi tanggung jawab tempat penitip. Menjadi hilang tanggung jawab orangtua kepada anaknya. </p>

<p>Salah? tidak sepenuhnya.</p>

<p>karena memang, kebutuhan dasar (sandang, pangan, papan) dan pengembangan keberfungsian sosial anak akan dibantu oleh lembaga yang dititipkan. Ada juga pembina dan pengasuh yang bertugas mengawasi dan memberikan binaan kepada anak-anak. Tetapi ada hal yang tidak bisa digantikan oleh para petugas; yaitu kasih sayang, kelekatan, kehangatan, rasa cinta dari orangtua dan keluarga sendiri kepada anak. Karena pada dasarnya pembina dan pengasuh adalah orang-orang yang &#8220;ditugaskan&#8221; oleh lembaga atau instansi tertentu. Saya yakin akan beda ceritanya dengan mereka yang memang surat tugasnya langsung ditanda tangan oleh Yang Maha Kuasa.</p>

<p>&#8220;Saya harap orangtua bisa akur&#8221;</p>

<p>&#8220;Saya berharap supaya saya bisa diterima lagi di rumah&#8221;</p>

<p>&#8220;Saya mau diberi kepercayaan oleh orangtua&#8221;</p>

<p>&#8220;Saya mau dipeluk sama bapak ibu&#8221;</p>

<p>&#8220;Saya harap engga dipukuli lagi&#8221;</p>

<p>&#8220;Saya mau orangtua engga sibuk kerja&#8221;</p>

<p>Beberapa harapan yang dituliskan oleh anak-anak, kemudian dibacakan oleh perwakilan dari anak-anak juga kepada orangtua yang hadir pada kegiatan dukungan keluarga kami. Menariknya harapan dari anak perempuan lebih spesifik, daripada beberapa harapan anak laki yang lebih umum. </p>

<p>Kelekatan atau <em>attachment</em> antara orangtua dan anak menjadi salah satu hal yang ingin dicapai dari kegiatan kami. Saya sendiri melihat kelekatan sebagai sesuatu yang menarik. Salah satu karakteristik dari kelekatan adalah perasaan kehilangan atau terpisah ketika individu terpisah dari figur yang lekat dengan dirinya. </p>

<p>Contohnya.</p>

<p>Misalkan saya sebagai pekerja sosial di suatu instansi. Saya menangani seorang klien anak yang dirujuk. Pembangunan kepercayaan yang baik menciptakan rapport baik juga yang tercipta. Klien anak menjadikan saya tempat berlindungnya, menjadi tempat untuk menyamankan dirinya. Setiap ada masalah anak akan bercerita ke saya untuk mencari saran dan masukan. Lalu dalam perkembangannya ada satu dua hal yang membuat anak harus terpisah dari saya. Tapi kami tidak merasakan stres akan perpisahan tersebut. Tidak ada perasaan terpisah atau kehilangan. Jadi bisa dibilang interaksi kami selama ini bukanlah sebuah interaksi kelekatan atau <em>attachment bond</em>. </p>

<p>Karena pada dasarnya duka dan rasa kehilangan adalah inti dari <em>teori attachment</em> atau kelekatan. </p>

<p>Kelekatan dan pemisahan itu seperti dua mata koin yang berbeda. Kelekatan penting untuk bertahan hidup, dan rasa duka kehilangan yang muncul dari kelekatan berfungsi sebagai motivasi hebat untuk terus menjaga hubungan kelekatan yang terjadi; agar tidak ada yang meninggalkan atau ditinggalkan. Ini yang perlu kita perhatikan bersama-sama, perlu kita jaga untuk orang-orang terdekat kita yang muncul interaksi kelekatannya. Maka perlu diketahui juga reaksinya dari kehilangan atas kelekatan yang terjadi. Reaksi yang muncul secara berurutan adalah <em>protest</em>, <em>despair</em>, dan <em>detachment</em>. </p>

<p><em>Protest</em> dimaksudkan untuk memberikan pertanda kepada subjek individu tersebut lekat untuk segera mengakhiri pemisahan yang terjadi, untuk melanjutkan interaksi kelekatan yang sudah ada sebelumnya. <em>Protest</em> menunjukkan penolakan untuk menyerah kepada perpisahan atau kehilangan yang terjadi. Sedikit sulit menanggapi reaksi <em>protest</em>, karena yang diinginkan oleh individu yang melakukannya adalah aksi untuk menghentikan kehilangan atau pemisahan; bukan kata-kata yang menyamankan mereka. </p>

<p><em>Despair</em> atau putus asa akan muncul apabila tidak ada pertemuan kembali dalam durasi waktu tertentu. Individu akan menjadi diam, akan menunjukkan putus asa dengan adanya harapan bahwa subjek kelekatannya akan kembali kepada individu tersebut. Waktu tidak bisa diputar diulang kembali, dan yang telah hilang tidak bisa kembali muncul. Menghadapi realita yang memang terjadi daripada melakukan pelarian dari realita tersebut. Ada baiknya, ada buruknya. Tinggal tugas pekerja sosial untuk lebih menguatkan hal baik yang ada di reaksi <em>despair</em> atau putus asa ini; karena pada dasarnya reaksi putus asa ini perlu bagi seseorang untuk bergerak menghadapi duka yang dihadapi. Kalau kata anak sekarang untuk <em>move on</em>. </p>

<p>Akhirnya, apabila interaksi sama sekali tidak terjadi dan pemisahan terus berlanjut, individu akan menjadi diam dan masuk ke tahap detachment atau tahap pemisahan dan penarikan terjadi; reaksi yang bisa membahayakan kepada individu tersebut juga, utamanya bagi anak-anak yang belum bisa memenuhi semua kebutuhannya secara mandiri.</p>

<p>Perbedaannya di orang dewasa biasanya kita memiliki satu cara sendiri untuk mereorganisasi kelekatan yang sudah muncul. Mencari subjek kelekatan lain yang bisa menjadi pengganti, meski mungkin tidak akan pernah sama.</p>

<p>Anak-anak yang sudah menunjukkan reaksi <em>detachment</em>, tentunya tidak kita inginkan bersama-sama. Kita tidak ingin anak-anak kita merasa tidak memerlukan kembali orangtuanya. Merasa bahwa tidak ada gunanya berharap ke orangtuanya. Membayangkan bahwa tidak penting keberadaan orangtuanya dalam hidupnya. Maka dari itu penting bagi kita untuk memahami ketika anak sudah memunculkan reaksi <em>protest</em>, untuk subjek kelekatannya sesegera mungkin mengakhiri pemisahan yang terjadi, memberikan perhatian kepada individu yang melakukan <em>protest</em>. Bagaimanapun interaksi kelekatan adalah interaksi dua arah. Perlu respon dari masing-masing individu untuk membangun, menjaga, dan memperbaiki kelekatan yang ada. Sebelum individu tersebut merasa subjek kelekatannya hilang permanen. Sebelum <em>grief</em> atau duka muncul. Sebelum individu tersebut merasa tidak memerlukan lagi adanya interaksi kelekatan dengan subjek yang sebelumnya ia merasa lekat. </p>

<p>Saya sebenarnya sangat menyayangkan seandainya ada anak yang sampai merasa tidak memerlukan orangtuanya. Terkecuali memang dalam keadaan-keadaan darurat yang membahayakan anak tersebut. Tapi semoga pelan-pelan, sedikit demi sedikit melalui tanggung jawab yang diberikan. Kita dapat bersama-sama membuat lebih baik lagi pola pengasuhan yang mungkin masih belum sesuai di masyarakat. Demi kepentingan terbaik untuk anak. Bisa saja anak mendapatkan keluarga atau orangtua pengganti, tapi saya rasa kelekatannya akan berbeda dengan orangtua kandungnya. </p>

<p>&#8220;Pak saya kemarin itu pertama kali peluk Amaq (Bapak) saya. Saya nangis minta maaf, Amaq saya cuma lihat keatas kaya tahan nangis juga.&#8221; Kata salah seorang anak dampingan saya di Balai.</p>

<p>Saya tahu kegiatan family support kemarin juga masih dapat diperbaiki lagi kedepannya, tapi saya berharap semoga kegiatan kemarin dapat menjadi pemicu awal dari terbangunnya hubungan baik antara anak dan orangtua di lingkungan keluarganya nanti. Kita percaya bahwa pengasuhan terbaik itu ada di keluarga, dengan prayarat ideal yang sudah ditentukan. Seperti yang kita tahu juga, anak tidak akan selamanya ada di Balai ataupun panti. Suatu saat mereka akan kembali ke keluarga, akan kembali ke masyarakat.</p>

<p>Saya memang belum menjadi orangtua, tetapi saya belajar banyak sebagai pekerja sosial di <em>setting </em>anak. Saya berterima kasih kepada orang-orang baik yang sudah bersinggungan dan mengajarkan banyak hal tentang pentingnya menjadi orangtua. Semoga anda juga memahami pentingnya menjadi seorang orangtua bagi diri sendiri dan juga anak-anak anda nantinya. Ayo menjadi keluarga yang &#8220;ada&#8221;, tidak hanya sekedar ada. Ayo peduli.</p>

<p class="has-text-align-right ">Ditulis di Mataram, 31 Oktober 2019.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>tentang Pertiwi (Bagian 2)</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/tentang-pertiwi-bagian-2</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/tentang-pertiwi-bagian-2</guid><pubDate>Fri, 27 Sep 2019 14:45:59 +0000</pubDate><description>“Untuk saya ini saya tidak bisa turun langsung ke orang tua kamu, tapi nanti seandainya memang benar-benar ada krisis yang terjadi. Saya pastikan saya akan melakukan intervensi pada krisis tersebut. ini juga pertemuan pertama kita kan, dipertemuan selanjutnya ...</description><content:encoded><![CDATA[<p> &#8220;Untuk  saya ini saya tidak bisa turun langsung ke orang tua kamu, tapi nanti  seandainya memang benar-benar ada krisis yang terjadi. Saya pastikan  saya akan melakukan intervensi pada krisis tersebut. ini juga pertemuan  pertama kita kan, dipertemuan selanjutnya saya ingin lebih mendengar  lagi tentang perkembangan kamu ya Pertiwi.” Kata pria berambut hitam  sembari memberikan air minum yang telah disiapkannya dari tadi.  </p><cite>Cuplikan cerita sebelumnya dapat diakses di <br><a href="https://Mas Bimo.com/2019/09/24/tentang-pertiwi/">https://Mas Bimo.com/2019/09/24/tentang-pertiwi/</a></cite></blockquote>

<p>&#8220;Tapi mas, aku belum selesai bercerita; kenapa mau ditutup pertemuan ini.&#8221;</p>

<p>&#8220;Wah saya pikir untuk pertemuan pertama kita, sudah banyak informasi yang saya dapat. Tapi Pertiwi ada yang mau disampaikan lagi?&#8221;</p>

<p>&#8220;Ada mas, banyak. Masnya mau menemani aku dan mendengarkan kan?&#8221;</p>

<p>&#8220;Iya saya mau.&#8221;</p>

<p>Laki-laki itu kembali duduk di kursinya. Pertiwi pun dipersilahkan kembali menceritakan semua hal yang ingin diceritakannya. Biasanya pada pertemuan pertama klien-klien dari laki tersebut tidak mau berlama-lama. Tapi kali ini berbeda. Pertiwi ingin didengarkan. Mungkin karena tidak ada lagi yang mau mendengarkannya di luar sana. Mungkin tidak ada yang mau menemani. </p>

<p>&#8220;Mas, aku sebenarnya bingung dengan sikap kakakku. Aku kan adiknya, kita ini sedarah lo. Kok iya aku malah dimarahin waktu mau menyampaikan pendapatku ke orangtua penggantiku. Pakai diancam-ancam lagi. Katanya aku mau dibuat menangis setiap hari, kalau sampai menyampaikan pendapatku. Katanya lagi kalau aku tetap memaksa aku akan direndam di bawah air yang mengalir sampai aku tidak bisa bernafas.&#8221;</p>

<p>&#8220;Hmm, mungkin tidak kalau cara Pertiwi yang mungkin kurang tepat menyampaikannya?&#8221;</p>

<p>&#8220;Kurang tepat bagaimana mas? kalau aku engga menyampaikan langsung; aku yakin engga akan didengar. Ya aku ngelakuin cara yang menurut aku bisa dilakukan mas.&#8221;</p>

<p>&#8220;Iya paham Pertiwi. Perlu diingat juga kalau kakakmu itu hanya menjalankan tugas. Seandainya dia berlebihan itu salah dan perlu kamu ingatkan. Perlu saya juga mengingatkan, karena tugas utama seorang kakak adalah melindungi dan mengayomi siapapun yang ada di rumah.&#8221;</p>

<p>Pertiwi mengangguk menandakan kepahamannya. Matanya melihat langit-langit di ruangan berukuran 4 x 5 tersebut. Tempat dimana banyak orang lainnya menceritakan masalah-masalah yang ada di rumahnya sejak dulu. Pria tersebut terus mengobservasi gesture dan mimik yang ditunjukkan Pertiwi. Utamanya di mata Pertiwi. Dia percaya bahwa mata seseorang sering kali menceritakan hal yang lebih berarti dibanding kata-kata yang tersurat. Begitu juga dengan kasus Pertiwi.</p>

<p>&#8220;Kamu tidak apa-apa? kalau boleh saya menilai, sepertinya kamu sedang sedih. &#8220;</p>

<p>&#8220;Aku hanya terpikir kata-kata temanku yang juga punya masalah di rumahnya mas.&#8221;</p>

<p>&#8220;Kenapa memangnya dengan mereka, Pertiwi?&#8221;</p>

<p>&#8220;Ada temanku yang sudah hilang karena masalah dirumahnya. Hilang untuk selamanya. Katanya sih dilempar kelereng ke arah paru-parunya oleh kakaknya juga; entah bagaimana ceritanya pun aku engga tahu. Ada temanku yang sedang tergeletak lemah di rumah sakit. Mungkin menunggu untuk hilang juga. Ada temanku yang dimasukan di ruang isolasi oleh kakaknya; katanya menganggu kondisi rumah mereka. Ada temanku yang hanya bisa menangis sendiri di kamarnya, engga tahu harus berbuat apa. Atau meskipun tahu harus berbuat apa, tetapi engga bisa melakukan apa-apa karena banyak faktor mas.&#8221;</p>

<p>&#8220;setiap orang punya masalahnya masing-masing, Ti. Boleh kan saya panggil nama pendek kamu dengan Ti? Kadang menyebut Pertiwi secara keseluruhan agak aneh di lidah saya.&#8221;</p>

<p>&#8220;boleh maas.&#8221;</p>

<p>&#8220;Iya setiap orang punya masalahnya masing-masing. Tapi sebenarnya kebutuhan tiap orang juga sama pada akhirnya.&#8221;</p>

<p>&#8220;Ah engga mungkin mas, kan tiap orang beda.&#8221;</p>

<p>Laki-laki tersebut pun menggambarkan sebuah segitiga di sebidang kertas, sambil menunjukkannya kepada Pertiwi. </p>

<img loading="lazy" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/09/img_20190927_1457143532006683033260504.jpg?w=300" alt="" class="wp-image-439" width="300" height="239" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/09/img_20190927_1457143532006683033260504.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/09/img_20190927_1457143532006683033260504.jpg?w=600 600w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/09/img_20190927_1457143532006683033260504.jpg?w=150 150w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" /></figure>

<p>&#8220;Mudahnya gini Ti, salah satu rujukan saya yang belum pernah berubah tentang kebutuhan itu dari Diagram Kebutuhan Maslow. Disitu dijelaskan kalau manusia itu akan ada 5 tahap kebutuhan dalam hidupnya. Dimulai dari kebutuhan fisiologis sampai pada kebutuhan untuk aktualisasi diri di puncaknya. Misalnya Pertiwi kebutuhan fisiologisnya sudah terpenuhi. Maka kamu akan naik untuk mencari kebutuhan akan rasa aman. Sepertinya saat ini kebutuhan akan rasa aman belum kamu dapatkan ya?&#8221;</p>

<p>&#8220;Iya mas hehe. Aku ngerasa engga aman di rumah sendiri. Apalagi kakakku yang keras ke aku. Aku tahu kok dia juga hanya menjalankan tugas. Tapi gimana ya. Aku takut.&#8221;</p>

<p>&#8220;Iya tidak apa-apa Ti. Ketakutan kamu dan kecemasan kamu itu hal yang wajar. Bukan hal yang perlu ditakuti dan bukan hal yang harus kamu pendam. Saya yakin kamu mampu melewati semuanya. Saya menyampaikan tentang Diagram Maslow juga ingin menunjukkan bahwa sebenarnya kebutuhan dasar kamu sudah terpenuhi, dan itu pantas sama-sama kita syukuri.&#8221;</p>

<p>&#8220;Iya mas. Alhamdulillah untuk kebutuhan dasar sepertinya aku sudah merasa dicukupkan.&#8221;</p>

<p>Pria tersebut tetap mencatat hal-hal penting yang sudah disampaikan oleh Pertiwi. Tidak semuanya tapi, karena pria itu juga tidak mau kehilangan momen untuk menunjukkan bahwa dia peduli kepada Pertiwi dan segala masalahnya. Membangun rapport yang baik untuk mempermudah dalam proses pertolongan yang akan dilakukan. </p>

<p>&#8220;Lalu kira-kira Pertiwi ada rencana kedepannya kah untuk menyampaikan ketidaksetujuan kamu kepada orangtua penggantimu?&#8221;</p>

<p>&#8220;Ada mas, tapi aku masih bingung cara mencapainya. Aku masih perlu waktu lagi untuk memikirkannya, boleh?&#8221;</p>

<p>&#8220;Tentu saja boleh, tidak dibatasi waktu kok, Ti. Kamu boleh datang kapanpun ke saya seandainya butuh. Saya kan sudah menawarkan  untuk menyelesaikan masalah di Rumah Pertiwi yang mungkin sekarang sedang ada beberapa masalah. Kamu boleh ambil tawarannya, kamu boleh tidak ambil. Saya bantu sebisa saya. Kamu juga bantu diri kamu sendiri ya, Ti.  Pertemuan selanjutnya kita bahas mengenai strategi untuk mengatasi masalah dan mengurangi kekhawatiran kamu ya. Istirahat kamu ya&#8221;</p>

<p>&#8220;Iyaa mas. Terima kasih.&#8221;</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Pekerja Sosial Anak dan Batu Sandungnya</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/pekerja-sosial-anak-dan-batu-sandungnya</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/pekerja-sosial-anak-dan-batu-sandungnya</guid><pubDate>Wed, 25 Sep 2019 15:25:15 +0000</pubDate><description>Pekerja sosial dengan segala bentuk setting penanganannya menyimpan cerita-cerita menarik. Saya berani bertaruh setiap pekerja sosial tidak akan memiliki pengalaman yang sama meskipun menangani klien yang sama. Setiap orang punya perspektif sendiri dalam mener...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Pekerja sosial dengan segala bentuk <em>setting</em> penanganannya menyimpan cerita-cerita menarik. Saya berani bertaruh setiap pekerja sosial tidak akan memiliki pengalaman yang sama meskipun menangani klien yang sama. Setiap orang punya perspektif sendiri dalam menerjemahkan dan menelaah profesi ini, meskipun dengan undang-undang yang telah disahkan. Kebetulan saya sekarang bekerja di <em>setting</em> anak di Balai Rehabilitasi Sosial Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (BRSAMPK) &#8220;Paramita&#8221; Mataram. Ada tiga hal yang berdasarkan pengalaman saya yang sedikit ini, yang sering menjadi sandungan dalam bekerja sebagai pekerja sosial di <em>setting </em>anak.</p>

<h3 class="wp-block-heading">KOMPETISI DENGAN YANG MUNGKIN TIDAK HARUS DIAJAK BERKOMPETISI</h3>

<p>Hal yang saya maksud disini adalah biasanya dalam proses pertolongan terkadang pekerja sosial anak lupa akan peranan dan batasan-batasannya. Anak-anak yang dibantu oleh pekerja sosial, kebanyakan pada awalnya adalah <em>involuntary client</em>, atau anak-anak yang sebenarnya tidak tahu apa itu pekerja sosial secara definisi maupun secara tupoksi yang dilakukannya; tetapi dirujuk oleh keluarga atau lembaga lainnya sehingga menjadi klien dari pekerja sosial. </p>

<p>Beberapa pekerja sosial dalam membangun rapport baik dengan klien, memiliki caranya masing-masing. Cara yang berbeda-beda ini tujuannya sama menurut saya, yaitu untuk memperoleh kepercayaan dari klien untuk mempermudah dalam menjalankan proses pertolongan. Proses pembangunan kepercayaan antara pekerja sosial dan klien ini seringnya memposisikan pekerja sosial sebagai seorang pahlawan bagi sang anak, baik secara sengaja maupun tidak disengaja. </p>

<p>Hal ini dapat menjadi potensi yang berbahaya menurut saya, dikarenakan posisi pekerja sosial yang menjadi orang baik perlahan-lahan dapat menggantikan posisi orangtua kandung si anak. Apalagi kalau latar belakang masalah anak ada kaitannya dengan orangtua. Karena pada akhirnya proses pelayanan kepada anak, utamanya dalam <em>setting </em>institusi; akan mengembalikan anak kepada keluarga atau lingkungan masyarakatnya. Sebuah hal yang tidak mungkin anak akan berada di dalam institusi seumur hidupnya. </p>

<p>Pada perjalanannya ada kemungkinan bahwa orang tua sadar bahwa posisinya berada di bawah pekerja sosial anak. Anaknya sendiri menganggap bahwa pekerja sosial adalah orangtua penggantinya. Kondisi ini dapat menyebabkan orangtua menarik anaknya dari proses pelayanan yang diberikan. Seandainya situasi anak bukan situasi krisis, maka pekerja sosial pun tidak berhak untuk menahan anak untuk kembali ke keluarga. Proses pelayanan yang sedang berjalan pun berhenti. </p>

<h3 class="wp-block-heading">SUPERVISI</h3>

<p>Supervisi dalam teori memang mudah dihafalkan. Biasanya dalam pekerja sosial secara teori merujuk kepada tiga macam supervisi. Supervisi administratif, supervisi pendidikan, dan supervisi dukungan pribadi. Tapi dalam pelaksanaannya, kegiatan supervisi sering terlupakan. Baik karena ketidakadaan waktu ataupun kendala-kendala lainnya yang ada di lapangan. Pekerja sosial yang memiliki peranan sebagai manajer kasus pun terkadang lupa bahwa dalam setiap pekerjaan, tidak mungkin diri pribadi pekerja sosial dapat melakukan penilaian yang objektif terhadap pekerjaannya sendiri; saya pribadi pun pernah lupa. Apalagi kalau pekerja sosial sudah merasa bahwa permasalahan anak <em>relate </em>dengan dirinya, peksos merasa mempunyai latar belakang permasalahan yang hampir sama dengan anak. Hal ini bila dibiarkan berlarut-larut dapat menimbulkan bias pekerja sosial dalam proses pelayanan. </p>

<p>Supervisi ini penting utamanya untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan dari pekerja sosial. Kaitannya juga dengan proses pelayanan untuk mengetahui apakah rencana pelayanan yang sudah disusun berdasarkan asas <em>self determination</em> dari klien sudah sesuai dengan pelayanan yang dapat difasilitasi oleh institusi pekerja sosial bekerja. Seandainya kebutuhan klien belum dapat terfasilitasi, disitulah sistem rujukan yang integratif digunakan.  </p>

<p>Supervisi juga diperlukan karena penanganan terhadap permasalahan anak itu cukup kompleks. Melibatkan banyak pihak. Pada pelaksanaan proses pelayanan pekerja sosial pun harus sering berkoordinasi dengan keluarga anak, karena anak belum bisa menentukan tujuan hidupnya sendiri dan belum dapat mengukur pencapaiannya yang diinginkan. Maka dari itu diperlukan supervisor yang dapat memberikan masukan-masukan ataupun perbaikan secara berkelanjutan dalam proses pelayanan terhadap klien. </p>

<h3 class="wp-block-heading">BANGGANYA MENJADI PAHLAWAN</h3>

<p>Menjadi pekerja sosial bagi saya pribadi memiliki kepuasannya tersendiri. Apalagi kalau rencana intervensi yang sudah disusun berdasarkan asesmen yang baik dapat terlaksana. Apalagi target jangka pendek dan jangka panjang dalam pelaksanaan intervensi dapat tercapai atau bahkan melampaui yang sudah direncakan. Bangga rasanya, seperti menjadi pahlawan dalam satu hari itu. </p>

<p>Tapi sensasi menjadi pahlawan ini melengahkan. </p>

<p>Penanganan klien oleh pekerja sosial, apalagi yang menjadi seorang manajer kasus memiliki tanggung jawab yang besar. Seringnya karena kita terlalu masuk dalam masalah anak, kemudian merasa punya tanggung jawab untuk &#8220;menyelamatkan&#8221; anak; pekerja sosial pun bergerak terlalu cepat. Terlalu cepat disini sampai-sampai mengabaikan pelibatan orangtua dari anak tersebut dalam proses perencanaannya intervensi yang dilakukan. Hal ini dapat menimbulkan kesan bahwa pekerja sosial yang tahu segalanya. Pekerja sosial adalah Superman yang dikirim khusus untuk menyelamatkan si anak.</p>

<p>Klien anak adalah individu yang ada di dalam sebuah sistem yang sudah ada. Seandainya satu individu itu berubah peran atau memiliki tugas-tugas baru. Kemungkinan besar akan berdampak pada individu lain dalam sistem tersebut. Contoh mudahnya anak-anak yang tiba-tiba sekolah tanpa sepengetahuan orangtua. Orangtua tentunya dalam jangka panjang perlu mempersiapkan untuk uang saku, transportasi, keperluan lainnya untuk anak. Kalau pekerja sosial bergerak terlalu cepat dan mungkin terlupa mengabarkan kepada keluarga maka akan ada ketidakstabilan di dalam sistem keluarga tersebut. Ketidakstabilan ini yang dihindari dalam rangka meningkatkan keberfungsian sosial dari anak dan juga keluarga. </p>

<h4 class="wp-block-heading">seni</h4>

<p>Maka dari itu dosen-dosen saya di STKS Bandung yang kini berubah menjadi Poltekesos Bandung dulu sering mengatakan bahwa profesi pekerja sosial adalah sebuah seni tersendiri. Saya yang masih mahasiswa pada waktu itu pun bingung maksud dari kalimat tersebut. Sampai saya pun terjun sendiri di dunia profesi pekerja sosial. Karena memang ternyata bentuk penanganan dari satu pekerja sosial dengan pekerja sosial lainnya berbeda. Tergantung dari latar belakang nilai yang dianut, pendidikan yang diterima, pengalaman menghadapi masalah anak, dan bahkan sampai perbedaan bahasa pun sangat memiliki pengaruh dalam bentuk-bentuk pelayanan yang dihasilkan dari satu pekerja sosial dengan pekerja sosial lainnya.</p>

<p>Seandainya profesi ini memang profesi seni. Saya bangga bisa ikut menghidupkan seni-seni yang hidup dan berkembang di dalamnya. Salam pekerja sosial. Salam kesejahteraan sosial.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>tentang Pertiwi</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/tentang-pertiwi</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/tentang-pertiwi</guid><pubDate>Tue, 24 Sep 2019 20:50:51 +0000</pubDate><description>Pria berambut hitam sedang duduk di sofa ternyamannya, kemudian terbangun menjambat tangan seorang klien yang berusia sekitar 25 tahunan yang datang tanpa ditemani siapapun. Pria tersebut berkata “halo, saya orang yang biasa membantu mengatasi masalah dan meng...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Pria berambut hitam sedang duduk di sofa ternyamannya, kemudian terbangun menjambat tangan seorang klien yang berusia sekitar 25 tahunan yang datang tanpa ditemani siapapun. Pria tersebut berkata &#8220;halo, saya orang yang biasa membantu mengatasi masalah dan mengurangi kekhawatiran orang lain, kamu siapa? ada yang bisa saya bantu?&#8221;</p>

<p>&#8220;Halo, aku Pertiwi. Aku butuh bantuan anda&#8221;</p>

<p>&#8220;boleh apa ada yang mengganjal?&#8221;</p>

<p>&#8220;aku bingung aku ini apa&#8221;</p>

<p>&#8220;bisa dijabarkan lebih jelas?&#8221;</p>

<p>&#8220;bisa asal mas tidak marah?&#8221;</p>

<p>&#8220;kenapa dianggap akan marah?&#8221;</p>

<p>&#8220;karena teman semua marah&#8221;</p>

<p>Pria tersebut mempersilahkan Pertiwi untuk duduk di sebuah sofa panjang dengan bantalan ternyaman yang pernah dibuat di dunia. Menawarkannya minum yang ditolaknya dan mempersiapkan tisu yang sudah disimpannya disebuah box hitam di samping kursi tersebut.</p>

<p>&#8220;Tadi kata Pertiwi ada yang mengganjal? boleh dijabarkan kembali?&#8221;</p>

<p>&#8220;boleh. Jadi aku tinggal di rumah yang sedang banyak masalah. orangtua kandungku tidak ada. yang ada hanya orang tua pengganti yang diberikan kepadaku. tanpa keinginanku sendiri.&#8221;</p>

<p>&#8220;masalahnya apa karena orang tua pengganti mu Pertiwi?&#8221;</p>

<p>&#8220;sepertinya jauh lebih kompleks daripada itu. masalah di rumahku tidak bisa diselesaikan dengan menunjuk kepada satu pihak saja. sepertinya. ini masalah bersama. karena kami semua merasakannya. kami semua akan terdampak. mungkin juga kami semua yang jadi penyebabnya&#8221;</p>

<p>&#8220;kami itu siapa?&#8221;</p>

<p>&#8220;orang-orang yang merasa tinggal dan juga merasa memiliki rumah ini, siapapun itu&#8221;</p>

<p>Pria tersebut mulai mencatat apa saja yang disampaikan oleh Pertiwi. Pada catatannya banyak coretan-coretan kecil yang ia tambahkan sendiri sebagai pelengkap dari informasi yang diberikan Pertiwi. Semacam penilaian pribadi. </p>

<p>&#8220;Orang tua penggantiku sepertinya tidak tahu keinginanku. Padahal aku sudah sering menyampaikan pikiranku melalui berbagai cara. Tapi tetap saja tidak didengar. Aku kan anak mereka. Aku juga punya hak untuk didengar.</p>

<p>&#8220;kalau boleh tau, contohnya seperti apa?&#8221;</p>

<p>&#8220;Masa tiba-tiba orang tua penggantiku menyuruhku untuk mengawasi ayam peliharaan ku 7&#215;24 jam. Kalau sampai keluar dari halaman rumah, katanya akan akan di denda dipotong uang jajan. Terus kan aku kerja di Ibukota. Rumah mahal, jadinya aku <em>sharing cost</em> dengan beberapa temanku yang lain. Ada yang perempuan, ada yang laki-laki juga. Masa katanya aku mau dimasukin ruang isolasi seandainya aku pulang ke rumah nanti. Padahal orang tua penggantiku engga pernah tuh memikirkan bagaimana aku tinggal sebelumnya, membiayai saja tidak. Tanya tentang kenyamananku saja tidak.&#8221; </p>

<p>&#8220;okey berarti Pertiwi menganggapnya orang tua pengganti pertiwi tidak adil ya?&#8221;</p>

<p>&#8220;iya sangat tidak adil. orang tua macam apa yang tiba-tiba menerapkan aturan tanpa kasih tahu anaknya dulu&#8221;</p>

<p>&#8220;tapi bukannya itu fungsi orang tua ya? memberikan batasan-batasan yang mungkin dianggap oleh mereka untuk kebaikan Pertiwi?&#8221;</p>

<p>&#8220;iya memang mas, tapi kan mereka bukan orangtua kandung ku. mereka jadi orangtua pengganti saja bukan karena keinginanku. mereka di pilih oleh keluarga besarku yang lain, untuk merawat aku katanya. sebagai perwakilan dari orangtua kandungku yang sudah lama aku tidak bertemu&#8221;</p>

<p>&#8220;lalu Pertiwi sudah pernah melakukan sesuatu untuk menunjukkan ketidaksetujuan kamu kepada orang tua pengganti?&#8221;</p>

<p>&#8220;sudah mas&#8221;</p>

<p>&#8220;dengan cara bagaimana ya kalau boleh tahu Pertiwi?&#8221;</p>

<p>&#8220;aku datangi langsung ke kamar mereka waktu mereka sedang santai sore. aku sampaikan keinginanku mas, langsung kepada mereka. tapi mereka belum sempat mereka menjawab. kakak ku malah mengusirku. aku dibilang menganggu waktu istirahat orang tua penggantiku di penghujung sore. padahal kan aku hanya mau bilang kalau aku juga mau didengar.&#8221;</p>

<p>Pria tersebut terus mencatat informasi yang keluar dari Pertiwi. Sambil terus memperhatikan seluruh gesture dan mimik yang dikeluarkan. Observasi sementara pria tersebut menilai Pertiwi sudah jengah dan jujur menyampaikan seluruh informasinya, tanpa dipengaruhi faktor-faktor lainnya. Pertiwi hanya ingin didengar. Pertiwi hanya ingin diakui. </p>

<p>&#8220;oh iya, kira-kira mas bisa bantu saya kan?&#8221;</p>

<p>&#8220;saya akan mengusahakan yang terbaik ya.&#8221;</p>

<p>&#8220;wah berarti mas akan menemui kedua orang tua pengganti saya langsung kan? dan menyampaikan bahwa mereka salah?&#8221;</p>

<p>&#8220;di jangka panjang mungkin iya. tapi ada banyak hal yang harus saya pastikan kembali. Saya bekerja secara holistik. Saya juga punya kode etik yang harus saya jaga. Saya harus koordinasi dengan banyak orang lainnya untuk memastikan yang terbaik bisa diberikan untuk kamu. Untuk saya ini saya tidak bisa turun langsung ke orang tua kamu, tapi nanti seandainya memang benar-benar ada krisis yang terjadi. Saya pastikan saya akan melakukan intervensi pada krisis tersebut. ini juga pertemuan pertama kita kan, dipertemuan selanjutnya saya ingin lebih mendengar lagi tentang perkembangan kamu ya Pertiwi.&#8221; Kata pria berambut hitam sembari memberikan air minum yang telah disiapkannya dari tadi. </p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Gratitude</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/gratitude</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/gratitude</guid><pubDate>Wed, 04 Sep 2019 20:38:31 +0000</pubDate><description>tulisan saya tidak sebaik diri saya, tulisan saya tidak seburuk diri saya. tulisan saya bukan untuk mengajari, tulisan saya untuk membuka diskusi. tulisan kali ini sedikit ringan, berangkat dari pengalaman beberapa waktu kemarin. Baik pengalaman sendiri dan ba...</description><content:encoded><![CDATA[<p>tulisan saya tidak sebaik diri saya, tulisan saya tidak seburuk diri saya. tulisan saya bukan untuk mengajari, tulisan saya untuk membuka diskusi. tulisan kali ini sedikit ringan, berangkat dari pengalaman beberapa waktu kemarin. Baik pengalaman sendiri dan banyaknya pengalaman dari orang lain. </p></blockquote>

<p>Beberapa hari kebelakang, banyak yang saya pelajari kembali. Dari orang dekat, dari orang jauh, dari yang datang secara terpaksa, dari yang datang secara sukarela, dari orang yang baru ditemui, dari orang yang telah lama ditemui, dari yang mengucapkan selamat datang, dari yang diucapkan selamat tinggal. Banyak pelajaran yang saya ambil, yang bagi saya pribadi sangat bermanfaat bagi diri pribadi dan bagi profesi yang sedang saya tekuni, pekerja sosial. </p>

<p>Salah satunya tentang syukur. </p>

<p>Dua hari yang lalu saya berbicara melalui telepon dengan teman saya yang bekerja di sebuah NGO di Kota Bandung. Kebetulan beliau sedang ada tugas selama kurang lebih sebulan di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Dalam hampir satu jam kami bicara, kami tukar informasi tentang nilai-nilai yang kami temukan selama bekerja dan bagaimana kondisi di lapangan dari orang-orang yang kami bantu. Meskipun berbeda <em>setting</em>. Beliau lebih makro, saya sangat klinis. Padahal saya masih ingat kalau saya yang paling ingin di Makro, dan beliau ingin bekerja di klinis. Malah ketuker pada akhirnya untuk sementara. Suatu saat saya juga akan bergerak di bidang kesejahteraan sosial secara makro. </p>

<p>Kembali ke obrolan, kami banyak bertukar pikiran tentang keadaan dari masyarakat yang ada di lingkungan tempat kami bekerja. Beliau banyak menggambarkan keadaan di Sumba, saya sedikit banyak coba menggambarkan keadaan di Lombok. Diobrolan itu sepertinya secara tidak langsung kami mengaminkan bahwa keadaan kehidupan kami, mungkin bisa dibilang harus lebih disyukuri dibanding saudara kita di luar sana yang mungkin menurut perspektif kami masih kurang beruntung. Saya pakai kata perspektif kami, karena kami juga tidak mau menilai bahwa hidup mereka tidak baik atau tidak layak. Karena yang menjalani mereka, dan mereka sendiri yang tahu tentang segala perihal di dalamnya. Intinya kondisi yang ada di diri kita semua harus disyukuri. </p>

<p>Kembali ke bersyukur, beberapa waktu terakhir juga entah karena apa; banyak teman-teman saya yang memberi kepercayaan saya untuk mendengarkan cerita mereka. Saya juga banyak belajar dari orangtua klien yang saya tangani, dengan berbagai latar belakang dan berbagai masalah juga potensinya. </p>

<p>Untuk cerita dari teman-teman saya masalah utamanya ada dua hal. Pekerjaan dan Jodoh. Untuk pekerjaan saya bisa sedikit banyak membantu memberi saran, untuk masalah jodoh saya sedikit banyak bisa mengacaukan dari saran yang saya beri hahaha. Tapi ada pola yang menarik dari beberapa teman yang cerita kepada saya, utamanya tentang masalah pasangan. Kaitannya dengan ekspektasi, konsekuensi, dan selektif. Pada penghujungnya kalau boleh saya tarik kesimpulan, bermuara di syukur. </p>

<p>Ekspektasi selalu jadi awal pendirian komitmen. Komitmen membuat individu mau memulai sesuatu, mempercayakan sesuatu. Tapi ekspektasi juga yang menjadi pembatal janji, ketika komitmen di awal tidak bisa dilakukan secara konsisten sampai mencapai hal yang dituju. </p>

<p>Tidak ada yang terbaik, kesimpulan yang bisa saya tarik. Saya, kamu, kita semua ini bukan yang terbaik. Kita ini sama-sama penakut, kita ini sama-sama mudah gugup, atau mungkin kita ini sebenarnya sama-sama tidak ada yang siap.  Tapi dengan segala keterbatasan yang ada, lucunya muncul sebuah pola. Manusia dengan segala masalah dan keterbatasannya dengan segala yang menghambatnya dari hal-hal yang saya sebutkan diatas. Tidak mau mundur, tidak ada yang bisa menariknya mundur. Membuatnya berpaling, membuatnya menghilang. Padahal kita tahu kita ini tidak dititipi berbagai kelebihan yang mungkin dimiliki orang lain, mungkin kita juga tidak ada yang bisa dibanggakan. Tapi ternyata masih berani-beraninya kita sebagai manusia ini menaruh dan membuat ekspektasi kepada orang lain. Kita tahu mungkin kita ini bukan yang terbaik dan mungkin tidak akan pernah menjadi yang terbaik untuk siapapun itu. Kata kuncinya ada di kata cukup. Cukup untuk nantinya digantungkan impian dan harapan orang lain. Cukup untuk tidak menjadi penyebab kesedihan. Cukup untuk menjadi sandaran siapapun itu nanti. Menjadi manusia yang dicukupkan. </p>

<p>Berkaitan dengan konsekuensi. Semua pilihan manusia pasti akan mengikuti konsekuensi yang juga sesuai. Kadang bisa diprediksi, sering kali tidak. Saat manusia memutuskan untuk mengubah dua subjek individu menjadi satu subjek bersama, dari aku dan kamu menjadi kami atau kita. Berarti seseorang tersebut sudah siap dengan segala konsekuensinya. Jika dia begini, maka kehidupanmu akan begitu. Kebiasaan begini, budaya antara dua orang yang begitu; sering kali akan menimbulkan pertanyaan jangan-jangan bukan manusia ini? ada keraguan. Wajar. Kita memang manusia dengan segala ketidakyakinannya. Tapi justru itu yang membuat kita menjadi manusia, kalau saya kutip salah seorang teman berkata, &#8220;ya harus dinikmati, perasaan manusia dengan segala gejolaknya.&#8221;. </p>

<p>Mengenai selektif saya tidak bisa berkomentar banyak, tapi dari pola yang saya alami dan saya pelajari. Ujungnya pencarian manusia bukan lagi kepada kriteria yang mengharuskan semua kotak prasyarat di centang. Tapi lebih kepada penerimaan. Bisakah dia menerima saya dengan segala kekurangan saya, bisakan saya menerima dia dengan mungkin segala kekurangannya. Karena memang pada akhirnya manusia akan disadarkan bahwa memang tidak ada yang serba sempurna untuk bisa dipilih, tetapi selalu ada yang &#8220;ada&#8221;, selalu ada yang pantas, selalu ada yang sesuai untuk dipilih, selalu ada yang layak. Selalu ada yang patut untuk disyukuri.  Jangan sampai selektif kita menjadi dilema bagi diri sendiri. Kembali ke rasa syukur. </p>

<p>Karena mau tidak mau, suka tidak suka. Manusia akan selalu mengatakan, &#8220;saya akan mendampingi kamu dengan sungguh, kalau diragukan. Saya akan mendampingi kamu dengan tangguh&#8221; dan akan dijawab berbeda-beda pula oleh manusia lainnya. Hak mereka untuk menjawab berbeda, tapi setidaknya kita sebagai manusia sudah mencoba. Seandainya memang bukan kembali ke bersyukur.</p>

<p>Saya bersyukur beberapa waktu kemarin banyak diajari tentang bersyukur. Semoga kalian juga. Sampai bertemu di waktu dan tempat yang jauh lebih baik ya rekan-rekan. </p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Lima Tahapan yang Tidak Bertahap untuk Menerima</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/lima-tahapan-yang-tidak-bertahap-untuk-menerima</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/lima-tahapan-yang-tidak-bertahap-untuk-menerima</guid><pubDate>Fri, 23 Aug 2019 14:26:06 +0000</pubDate><description>Photo by Felipe Vallin on Pexels.com Kita, berarti termasuk saya dan kamu. Meskipun berbeda-beda tetapi ada saja hal yang membuat kita semua ini terkoneksi. Salah satunya adalah grieving atau duka atau kesedihan. grief itu universal dan saya rasa setidaknya se...</description><content:encoded><![CDATA[<audio controls src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/08/griefing.mp3"></audio></figure>

<img loading="lazy" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/08/pexels-photo-2307045.jpeg" alt="" class="wp-image-305" width="217" height="325" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/08/pexels-photo-2307045.jpeg?w=217&amp;h=325 217w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/08/pexels-photo-2307045.jpeg?w=434&amp;h=651 434w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/08/pexels-photo-2307045.jpeg?w=100&amp;h=150 100w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/08/pexels-photo-2307045.jpeg?w=200&amp;h=300 200w" sizes="auto, (max-width: 217px) 100vw, 217px" /><figcaption>Photo by Felipe Vallin on <a href="https://www.pexels.com/photo/grayscale-photography-of-woman-inside-jail-2307045/" rel="nofollow">Pexels.com</a></figcaption></figure>

<p>Kita, berarti termasuk saya dan kamu. Meskipun berbeda-beda tetapi ada saja hal yang membuat kita semua ini terkoneksi. Salah satunya adalah <em>grieving</em> atau duka atau kesedihan. <em>grief</em> itu universal dan saya rasa setidaknya sekali dalam hidupnya pernah mengalami dan merasakan <em>grief</em> atau kesedihan ini. Biasanya sebagai respon terhadap penyakit yang kronis pada diri sendiri, kehilangan sebuah hubungan yang dekat, atau bahkan sampai kematian dari seseorang yang penting untuk kita. Kubler-Ross pada tahun 1969 mencoba menjelaskan tentang tahapan ini, dalam bukunya &#8220;<em>On Death and Dying</em>&#8220;.</p>

<p>Rasa kesedihan atas alasan-alasan tersebut biasanya akan banyak mengubah sudut pandang kita akan kehidupan. Saya sendiri sering menyebut bahwa kunci kehidupan itu ada di harapan. Selama ada harapan, selama dipelihara harapannya, selama dijaga harapanya maka hidup akan terasa seperti hidup. Tidak terjeda. Tidak berhenti. </p>

<p>Hal yang perlu diingat adalah setiap orang itu bersedih atau berduka dengan caranya sendiri-sendiri. Ada orang yang akan lebih terbuka dan lebih emosional akan kesedihannya. Ada juga yang akan lebih memaknai kehilangannya secara personal, dan mungkin tidak akan menunjukkan kesedihannya, tidak menangis. Penting diingat agar kita juga sebagai individu yang terkadang sama lemahnya, tidak saling berlomba untuk menilai pengalaman orang lain mengenai <em>grief</em> yang dirasakannya. Manusia dengan segala keunikannya atau kalau kata Minke, &#8220;Bumi Manusia dengan segala masalahnya.&#8221;</p>

<p>Kubler-Ross sendiri menyatakan bahwa ada lima tahapan dari <em>grief </em>ini. Sebenarnya bukan tahapan diksi yang tepat. Karena tidak semua orang yang bersedih atau berduka akan melewati secara urut tahapan-tahapan ini. Bisa jadi malah hanya melewati dua atau tiga tahapan tanpa bersinggungan dengan kelima-limanya. </p>

<p>Kelima tahapan tersebut adalah.</p>

Denial (Penolakan)</li>Anger (Marah)</li>Bargaining (Tawar-menawar)</li>Depression (Depresi)</li>Acceptance (Penerimaan)</li></ul>

<p>Dimana penerimaan biasanya menjadi akhir. Menjadi ujung dari kesedihan yang dirasakan dari <em>grief </em>yang terjadi. Kunci untuk memahami tahapan ini bukan dengan memaksa diri untuk melewati setiap tahapannya secara runut. Tapi, akan lebih membantu untuk melihat kelima tahapan tersebut sebagai sebuah panduan di dalam memahami proses <em>gri</em>eving. Tahapan ini juga bukan untuk secara mudah menyimpulkan sebuah kumpulan emosi yang sangat kompleks kedalam paket-paket mungil. </p>

<p>Ketika kita kehilangan seseorang yang kita sayangi, rasa sakitnya bisa teramat sangat.<em> Sometimes it can feel unbearable</em>. Normal bila seperti itu. Proses <em>grieving </em>itu kompleks dan bahkan kita akan sering bertanya-tanya apakah sakitnya akan berhenti. Kita hanya perlu ingat, bahwa kesedihan dan duka kita itu seunik kepribadian kita masing-masing. Tidak perlu merasa malu, bingung, dan sedih. Ini hanya proses yang membuat kita merasa menjadi manusia seutuhnya yang memiliki akal dan perasaan masing-masing.</p>

<p>Sebenarnya mudahnya penyebutan tahapan ini adalah &#8220;5 <em>stages of grief</em>&#8221; tapi saya lebih memahami dan lebih mudah dalam berdiskusi dengan menyebutnya sebagai lima tahapan untuk menerima.</p>

<h2 class="wp-block-heading"><em>Denial</em></h2>

<p><em>Denial</em> adalah salah satu tahapan pertama yang biasanya terjadi. <em>Denial</em> menjadi salah satu cara kita untuk mencoba bertahan dari kehilangan yang dirasakan. Reaksi utama dari proses kehilangan yang terjadi adalah menolak realita yang ada. &#8220;Ini tidak mungkkin terjadi, ini tidak boleh terjadi.&#8221; Sering kita dengar kata-kata tersebut dari orang lain ataupun diri kita. </p>

<p>Tahapan ini sering kali membuat dunia yang kita jalani menjadi tidak berarti dan terasa membebani dari setiap sisinya. Hidup menjadi tidak masuk akal. Membuat kita berpikir bagaimana kita bisa melaluinya, dan bila kita melaluinya, bagaimana cara kita melaluinya, lalu mengapa kita harus melaluinya. </p>

<p>Hal yang menjadi kunci dari tahapan <em>denial</em> adalah kita sebenarnya bukan menganggap bahwa kehilangan itu tidak terjadi. Yang terjadi adalah kita berusaha mengumpulkan informasi dan mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. Untuk beberapa orang, tahapan ini menjadi pintu masuk utama yang sebenarnya membantu kita menghadapi gelombang-gelombang sakit yang akan dirasakan selanjutnya.</p>

<h2 class="wp-block-heading"><em>Anger</em></h2>

<p>Tahapan <em>anger</em> atau marah. Menurut saya pribadi merupakan tahapan kunci dalam proses penerimaan yang akan dicapai. Keluarkan saja amarah, meskipun kadang bisa tidak ada akhirnya marah yang kita rasakan. Lebih banyak kita bisa merasakan marah kita keluar, akan lebih memudahkan bagi diri kita dalam proses penyembuhannya juga. Sebenarnya banyak emosi yang berada di bawah marah yang kita keluarkan, cuma seringnya kita terlebih dahulu paham dan sudah lebih berpengalaman memahami emosi marah yang kita rasakan dibanding emosi-emosi lain yang muncul.</p>

<p>Yang perlu dijaga adalah, terkadang marah tidak ada batasnya. Kita sendiri yang harus memberi batasan. Marah yang tidak terukur sering kali akan mempengaruhi orang lain, teman dekat, keluarga, orang yang hendak menolong, bahkan diri kita sendiri. Kita hidup di masyarakat yang takut akan emosi marah. Padahal saya pribadi percaya, bahwa marah yang terukur menjadi salah satu sumber kekuatan. Menjadi sebuah pondasi awal dalam perubahan. Memberikan kekuatan awal untuk berdiri dalam menghadapi kehilangan yang kita rasakan. </p>

<p>Tapi kemarahan sebenarnya dapat lebih diterima di masyarakat kita, daripada mengakui bahwa kita sebenarnya ketakutan menghadapi kehilangan kita. Marah itu normal, dan sekali lagi emosi-emosi yang ada di tahapan-tahapan ini yang membuat kita menjadi manusia, yang sebenarnya itu tidak sekuat perkiraan kita. Wajar. </p>

<h2 class="wp-block-heading"><em>Bargaining</em></h2>

<p>Sebelum kehilangan terjadi. Sering kali kita membuat sebuah penebusan kepada otoritas yang jauh lebih tinggi. &#8220;Saya akan lakukan apapun, agar yang terburuk tidak terjadi.&#8221; atau &#8220;Saya akan lakukan apapun, asal dia bisa kembali.&#8221;</p>

<p>Tahapan ini sadar atau tidak sadar membuat kita banyak mengeluarkan pernyataan &#8220;bagaimana jika, bagaimana kalau, andai saja waktu itu&#8221; dan berbagai pernyataan serupa lainnya. Kita mencoba menawar rasa bersalah kita. Kita menganggap dengan rasa bersalah, kita bisa membalikkan keadaan seperti saat kehilangan belum terjadi. Meskipun akan sangat sulit untuk demikian. Tahap <em>bargaining</em> membuat kita tertinggal di masa lalu. Kita mencoba membuat penawaran agar diri kita keluar dari rasa sakit yang dirasakan. </p>

<p>Padahal sebenarnya kita tahu, penawaran yang kita lakukan adalah untuk menunda hal yang sebenarnya tidak terhindarkan. Menghibur diri sendiri dengan skenario-skenario ideal yang kita idam-idamkan. </p>

<p>B<em>argaining</em> juga membuat kita lebih terfokus kepada kesalahan pribadi kita ataupun penyesalan-penyesalan kita. Kita mungkin akan memutar kembali memori kita bersama orang yang sudah hilang dari hidup kita. Mencatat semua kesalahan kita yang membuat dia tersakiti. Kita me-<em>recall</em> memori kita mengenai kata-kata yang seharusnya tidak kita sampaikan. Kita membuat asumsi sendiri bahwa apabila yang terjadi adalah skenario yang berbeda, mungkin hasilnya juga akan berbeda. </p>

<h2 class="wp-block-heading"><em>Depression</em></h2>

<p>Tahap <em>depression</em> atau depresi merupakan salah satu yang mungkin bisa dibilang terberat dan mungkin juga akan menjadi tahapan yang cukup panjang. Sebenarnya kita juga tidak bisa melakukan <em>self diagnosis</em> dan mengatakan kita depresi. Harus ditentukan oleh yang memang profesional berdasarkan gejala-gejala yang kita rasakan. Tapi sepemahaman saya yang dimaksud pada tahapan ini adalah respon yang kita keluarkan akan kehilangan yang besar. </p>

<p>Penarikan diri dari lingkungan, berputar dalam pusaran kesedihan, munculnya pertanyaan-pertanyaan untuk apa melanjutkan apabila harus melanjutkannya sendirian. Depresi setelah kehilangan adalah hal yang wajar. Mungkin kita akan menjadi tidak ingin terlalu berinteraksi dengan banyak orang, menjangkau lebih sedikit orang untuk membantu menghadapi rasa sedih yang dirasakan. Satu hal yang menjadi catatan adalah menghadapi depresi setelah kehilangan orang yang penting bagi kita, akan sangat bisa sekali membuat kita merasa terisolasi.</p>

<p>Mungkin saja kita memang butuh untuk sendirian, tetapi belum tentu kita bisa menghadapi kesepian yang mengikutinya. </p>

<p>Seandainya kita tidak merasakan gejala-gejala depresi setelah orang yang berarti untuk kita hilang, malah menjadi sesuatu yang sepertinya tidak wajar. Tahapan ini adalah sebuah proses dari tahapan penyembuhan diri. Bukan akhir, setidaknya demikian yang idealnya terjadi. Idealnya. </p>

<h2 class="wp-block-heading">Penerimaan</h2>

<p>Kita sering salah mengartikan bahwa yang dimaksud dengan menerima kondisi adalah kita menerima dan merasa baik-baik saja atas apa yang telah terjadi. Banyak orang yang bahkan tidak merasa baik-baik saja atas kondisinya. Tahapan ini lebih kepada cara kita menerima kenyataan bahwa orang yang berarti untuk kita telah hilang, dan kita menyadari bahwa ada realita baru yang harus kita terima; dan bukan kita malah merasa baik-baik saja akan keadaan. Tapi kita mencoba menerimanya. Mencoba legowo. Meskipun bisa jadi kita tidak menyukai realita baru kita. Tapi kita mencoba hidup di dalamnya. </p>

<p>Dalam mencoba menerima. Seringnya kita akan tetap menjaga aktivitas kita yang sebelumnya. Sebelum orang yang kita anggap penting hilang. Tapi terkadang aktivitas yang sebelumnya tidak bisa kita lanjutkan. Kita tidak bisa melanjutkan apa yang terjadi di masa lalu. Semuanya sudah berubah dan memang kadang kita harus menyesuaikan. Kita mulai memahami peran diri dan peran orang lain, menaruh peran tersebut kepada orang lain atau menanggungnya menjadi peran diri sendiri. </p>

<p>Dalam proses kita menerima. Kita mungkin akan merasa kita sudah mencurangi orang yang sudah hilang sebelumnya. Kita tidak bisa mengganti apa yang sudah hilang. Tapi kita bisa membuat koneksi baru, membuat hubungan yang berarti kembali, membuat saling ketergantungan yang baru, yang sehat. Meskipun memang, tidak akan bisa mengganti yang telah hilang. </p>

<p>Kita mendengar kebutuhan kita. Kita bergerak. Kita berubah. Kita tumbuh. Kita berevolusi. Kita berevolusi. Kita membuat awal baru dan menjangkau orang lain dan terlibat dalam kehidupaannya. Kita berinvestasi pada diri kita sendiri. Hidup kita mulai berjalan kembali, tapi kita tidak bisa melakukan semua hal tersebut; sampai kita membiarkan rasa bersedih dan berduka kita untuk selesai, untuk hilang. </p>

<p>Mencapai tahapan ini mungkin tidak akan bisa dirasakan semua orang. Bagi kita yang bersinggungan dengan tahapan akhir yaitu penerimaan. Saya ucapkan selamat. </p>

<p>Yang menjadi kunci di tahap penerimaan adalah bukan berarti kita tidak lagi merasakan sakitnya kehilangan. Tapi kita tidak lagi menolak realitas situasi kita dan kita tidak mencoba untuk merubah keadaan yang sebenarnya tidak bisa kita ubah. </p>

<h2 class="wp-block-heading">Akhir</h2>

<p>Menghadapi kehilangan adalah pengalaman yang sangat personal dan unik. Tidak ada yang bisa membantu kita melewatinya secara instan, karena memang pengalamannya akan selalu berbeda dan faktor-faktor yang ada di belakangnya juga tidak sama. Tapi orang lain bisa membantu kita merasa nyaman untuk melewati proses ini. Hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah membiarkan perasaan sedih dan berduka untuk hadir di hidup kita. Menolaknya bisa jadi hanya akan memperpanjang proses yang harusnya dapat kita lewati. </p>

<p>Ingat, rasa berduka dan bersedih adalah proses pribadi yang tidak memiliki batas waktu, atau tidak memiliki panduan pasti bagaimana untuk melaluinya. </p>

<p>Rasa sakit yang saya, kamu, kita rasakan dengan orang yang hilang adalah sesuatu yang unik. Perasaan yang terlibat di dalamnya juga spesial antara satu dengan lainnya. Hal yang wajar untuk kita untuk mengambil waktu dan menghilangkan sementara semua ekspektasi dan standar dari orang lain dalam menghadapi proses berduka atau bersedih. </p>

<p>Jangan dipaksakan.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Skizofrenia dan Sajaknya</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/skizofrenia-dan-sajaknya</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/skizofrenia-dan-sajaknya</guid><pubDate>Wed, 14 Aug 2019 07:49:36 +0000</pubDate><description>Schizoprenia adalah gangguan yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berpikir, merasa dan berperilaku. Indonesia memiliki lebih dari 150.000 kasus tiap tahunnya (yang tercatat). Dapat diberi pengobatan untuk membantu tapi kondisinya tidak bisa disembuhkan....</description><content:encoded><![CDATA[<p>Schizoprenia adalah  gangguan yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berpikir, merasa  dan berperilaku. Indonesia memiliki lebih dari 150.000 kasus tiap  tahunnya (yang tercatat). Dapat diberi pengobatan untuk membantu tapi  kondisinya tidak bisa disembuhkan. Sering diasosiasikan dengan sebutan  orang “gila”. Pengalaman saya sebagai pekerja sosial yang sering bersinggungan menangani teman-teman schizoprenia, menjadi salah satu pemicu bagi saya untuk lebih fokus dalam kesehatan mental. </p>

<p>Sajak-sajak berikut hadir selama pengalaman-pengalaman tersebut dibentuk. Baik dari suduh pandang penyintas maupun dari sudut pandang keluarga. </p>

<h2 class="wp-block-heading"><strong>Dua Teman Hidup</strong></h2>

<p>Aku punya banyak teman.<br>Menemani bermain dan bergumam.<br>Tapi aku kenalkan dua saja kepadamu.<br>Agar kamu tahu senangnya jadi aku.</p>

<p>Ini delusi.<br>Tak pernah hilang dari sini.<br>Dia selalu bilang.<br>Kalau aku lebih baik dari kata orang.</p>

<p>Nah, yang ini halusinasi.<br>Sering pergi kembali sesuka hati.<br>Dia membuat aku melihat.<br>Kalau ada hantu yang jahat.</p>

<p>Senang rasanya jadi aku.<br>Punya teman untuk beradu.<br>Kami sering berkumpul.<br>Di ruang putih berlapis kaca tumpul.</p>

<p><em>ruang putih berlapis kaca tumpul</em>. Sebuah tempat di salah satu rumah sakit tempat saya berpraktik tahun 2017. Digunakan sebagai tempat perawatan bagi teman-teman disabilitas mental.</p>

<p>Delusi dan halusinasi adalah salah satu sebab yang ditimbulkan oleh Skizofrenia. Dua-duanya adalah suatu kondisi dimana individu mengalami hal yang tidak nyata. </p>

<p>Delusi menjadi penyebab individu yakin betul akan sesuatu yang sebenarnya tidak ada atau tidak terjadi.</p>

<p>Halusinasi merupakan gejala saat indra seseorang mengalami hal yang tidak nyata. Adanya sensasi yang sebenarnya tidak ada, diproses oleh otak dan dapat mempengaruhi indra seseorang.</p>

<p>Sejauh ini ada beberapa kasus yang saya tangani yang berkaitan dengan gejala-gejala tersebut. Tapi yang sampai sekarang masih terus saya ingat adalah kasus seorang anak di salah satu Kabupaten di Jawa Barat, yang mengalami skizofrenia disebabkan perundungan yang diterima dari teman-temannya di lingkungan sekolahnya.  Anak-anak waktunya masih panjang, sangat disesalkan seandainya karena ulah orang lain diluar individu tersebut; membuat seseorang kehilangan masa depan, membuat orangtua kehilangan anaknya. Meskipun fisiknya ada. </p>

<p>Dampak yang ditimbulkannya pun akan <em>snow ball</em>. Relasi dalam keluarga menjadi buruk, ada penjagaan jarak dari lingkungan sekitar, ekonomi kacau, dan adanya penelantaran kepada penderita. Hal ini adalah beberapa masalah yang akan timbul nantinya.  Maka dari itu juga muncul sajak tentang skizofrenia dari sudut pandang keluarga; yang sampai saat ini selalu menjadi pilihan utama sebagai tempat perawatan bagi teman-teman skizofrenia. </p>

<h2 class="wp-block-heading">Tidak Cukup Peduli</h2>

<p>Itu turunanmu? bicara sendiri kepada hantu.<br>Ajaran sesat kaummu, ditambah dosa masa lalu.<br>Kamu itu jalang, tak layak hidup bersamaku.<br>Mati kamu di rumput ilalang, bersama beban hidupmu.</p>

<p><em>Iya aku memang jalang, tapi bukan jadi urusanmu.<br>Surga tak tertutup untukku, dan neraka juga tidak menolakku.<br>Dia turunanku, meski berbeda kami masih punya yang dituju.<br>Untuk bertahan hidup di udara sucimu, bukan yang dimau.</em></p>

<p>Baguslah, kamu sadar.<br>Anakku kusuruh menjauhimu tanpa gentar.<br>Tak perlu kompromi, takut tertular.<br>Karena aku tahu, aku pasti benar.</p>

<p><em>Tidak apa, aku juga tak mengaku benar.<br>Aku sempat tak peduli, saat dia di sekolah.<br>Cerita diganggu temannya, ku pikir dia hanya ingin tenar.<br>Sampai akhirnya, kesedihannya membuat dia kalah. </em></p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Surat Terbuka untuk (yang katanya) Penyelamat Orang Lain</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/surat-terbuka-untuk-yang-katanya-penyelamat-orang-lain</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/surat-terbuka-untuk-yang-katanya-penyelamat-orang-lain</guid><pubDate>Mon, 22 Jul 2019 18:15:48 +0000</pubDate><description>Pertama, selamat. Saat ini mungkin ada seseorang atau banyak orang yang menaruh harapan kepada kamu. Semoga menikmati dibebankan harapan orang lain dan pasti merasa takut dan cemas, apabila nantinya tidak mampu memenuhi harapan-harapan yang ada. Kedua, terima ...</description><content:encoded><![CDATA[<audio controls src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/08/surat-terbuka.mp3"></audio></figure>

<p>Pertama, selamat. Saat ini mungkin ada seseorang atau banyak orang yang menaruh harapan kepada kamu. Semoga menikmati dibebankan harapan orang lain dan pasti merasa takut dan cemas, apabila nantinya tidak mampu memenuhi harapan-harapan yang ada.</p>

<p>Kedua, terima kasih sudah mau. Mau hadir, mau ada, mau mendampingi. Mendampingi siapa? Siapapun yang mungkin sedang membutuhkan bantuan. Tetapi kesulitan untuk mengungkapkan bahwa dirinya butuh pertolongan. Berlagak kuat, tapi ternyata tidak sekuat perkiraan. Berbahagia tapi ternyata hanya cangkangnya. Siapapun yang kamu tolong mungkin tidak pernah berharap akan kehadiran kamu. Tetapi kamu secara sukarela mau membagi waktu, tenaga, pikiran untuk membantu. Meskipun mungkin kamu sendiri belum memikirkan dirimu sendiri, jadi tolong sekali-kali egoislah dan pikirkan juga dirimu sendiri. Karena terkadang, si penolong lah yang butuh diselamatkan.</p>

<p>Ketiga, terima kasih sudah tahu dan mampu melakukan seni dalam membantu seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan. Menyadarkan bahwa semua orang memiliki masalahnya masing-masing, dan menyadarkan bahwa banyak yang harus dituju kedepannya. Baik tujuan sendiri maupun tujuan bersama. Orang yang kamu tolong juga tahu sebenarnya, kalau kamu juga punya masalah. Mungkin kamu juga sudah tahu solusi dari permasalahan-permasalahan kamu. Mungkin kamu hanya butuh sedikit penguatan. Jadi coba dengarkan juga solusi dari diri kamu sendiri. Beri kepercayaan pada dirimu. Jaga diri kamu juga ya. </p>

<p>Tapi, saya juga mau mengingatkan. Tanggung jawab yang besar, tidak bisa dipermainkan begitu saja. Meskipun terkadang kamu tidak mau diberikan tanggung jawab akan hal tersebut.</p>

<p>Kamu bisa membuat seseorang menangis bahagia, ataupun tertawa tapi teriris. </p>

<p>Kamu bisa membuat seseorang jauh dari keluarganya, maupun malah menyatukan yang telah lama tak menyapa.</p>

<p>Kamu bisa membuat seseorang lupa akan tugas-tugasnya, maupun jadi alasan seseorang mengerjakan dengan sebaik-baiknya tugas yang ada.</p>

<p>Kamu bisa membuat seseorang semangat mengejar mimpinya, demi kamu. Atau malah membuat seseorang melupakan mimpinya juga, untuk kamu. </p>

<p>Semoga kamu dan orang yang akan dan telah kamu selamatkan senantiasa ada di jalan yang baik dan terhindar dari jalan yang buruk, meskipun kadang bersinggungan dengan masalah; semoga itu singgungan untuk menjauh ya. </p>

<p>Selalu ingat, jadilah pribadi seperti sosok yang kamu butuhkan waktu kamu masih kecil. </p>

<p>Sadar tidak sadar, suka tidak suka. Masa depan orang ada di tangan kamu. Seseorang tersebut mungkin akan mengatakan &#8220;maaf sudah membebani, karena telah menaruh harapan-harapan saya di kamu.&#8221; Kamu bisa menolak. Kamu bisa menerima. Tapi perlu diingat, masa depan seseorang bisa jadi ada di pilihanmu. Buat keputusan yang bijak. Memang kita tidak ada kewajiban untuk membahagiakan setiap orang. Tapi yang mungkin perlu dipahami adalah sudah banyak orang yang kehilangan sedikit hal, tetapi juga ada sedikit orang yang kehilangan banyak hal. Bantu orang lain sekuatnya, tapi juga bantu diri kamu semaksimal mungkin. Jangkau orang lain juga kalau kamu butuh bantuan. Kami semua peduli kepada kamu. Hanya saja mungkin kami memberikan kepedulian dengan cara yang berbeda. </p>

<p>Semoga kalian sang penyelamat, selalu dijaga oleh Tuhan Yang Maha Perkasa. Salam dari saya pribadi, untuk orang yang akan dan telah kalian selamatkan.</p>

<p>Jakarta, Tahun 2019</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>yang menunggu di garis akhir</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/yang-menunggu-di-garis-akhir</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/yang-menunggu-di-garis-akhir</guid><pubDate>Sat, 20 Jul 2019 23:20:03 +0000</pubDate><description>Masuk ke dalam sebuah sistem biasanya akan menimbulkan dua kemungkinan. Meskipun yang sebenarnya hanya ada satu kemungkinan. Sistem yang akan mengubah seseorang yang masuk. Sangat jarang sekali, seseorang yang akan mengubah sebuah sistem. Mungkin kasusnya 1:1....</description><content:encoded><![CDATA[<p>Masuk ke dalam sebuah sistem biasanya akan menimbulkan dua kemungkinan. Meskipun yang sebenarnya hanya ada satu kemungkinan. Sistem yang akan mengubah seseorang yang masuk. Sangat jarang sekali, seseorang yang akan mengubah sebuah sistem. Mungkin kasusnya 1:1.000.000. Terlalu munafik kalau saya menyebutkan, kalau akan mengubah sistem yang sudah berjalan bertahun-tahun. </p>

<p>Hal ini juga sepertinya diaamiinkan oleh banyak rekan-rekan saya yang lainnya. Oleh superordinat dan juga oleh subordinat yang saya kenal. Sebenarnya banyak keresahan yang dirasakan akan sistem ini. Tapi semuanya sama-sama bingung untuk memperbaikinya. Bukan bingung mungkin diksi yang tepat. Lebih cocoknya sama-sama tidak bisa merubahnya. Tahu masalahnya, mau merubahnya, tidak mampu melakukannya. Rumus perubahannya tertahan satu.</p>

<p>Apalagi belum samanya persepsi dari orang-orang yang ada di dalam sistem tersebut. Dan memang bukan salah siapa-siapa. Sudah berbeda motifnya sejak awal, sudah berbeda kebutuhannya sedari lama, dan sudah jauh letak garis akhirnya. Sudah bukan lagi apa yang ada di garis akhir. Tapi lebih kepada siapa dan bagaimana harus akhirnya nanti. </p>

<p>Pada sistem yang sudah mandiri. Apabila ada satu bagian yang sakit, maka sistem yang ada akan memperbaikinya secepatnya. Baik secara sukarela, atau dengan pendekatan yang koersif. Tergantung kebutuhan. Tergantung keinginan. Tergantung perintah. Intinya, muara akhirnya akan bertemu lagi dengan kepentingan dari orang-orang yang berpengaruh dalam sistem. </p>

<p>yang menjadi pembeda antara satu dengan yang lainnya di garis akhir hanyalah satu hal. Moral. Bukan lagi tentang siapa yang benar atau siapa yang salah. Lebih kepada siapa yang mau kita bahagiakan. Siapa yang mau kita banggakan.</p>

<p><em>if you are happy with it, then do it</em></p>

<p><em>if you are not happy with the condition, then stay away from it</em></p>

<p><em>because in the end, we are the one who will choose our path</em></p>

<p><em>as a sinner, or a saint</em></p>

<p><em>as a hero or a villain</em></p>

<p>Toh nanti pada akhirnya akan kembali ke kepentingan siapa yang akan dibela. Kepentingan yang lebih sempit atau kepentingan yang jauh lebih luas. Mungkin juga tulisan ini saya tulis karena saya memang hipokrit. Kita lihat 5 sampai 10 tahun lagi. Siapa dulu yang akan berubah. Saya atau sistem. </p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Pendaftaran-Pendaftaran</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/pendaftaran-pendaftaran</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/pendaftaran-pendaftaran</guid><pubDate>Sun, 14 Jul 2019 12:49:20 +0000</pubDate><description>Semua proses intervensi pekerja sosial, biasanya. Mayoritasnya. Berangkat dari masalah. Meskipun terkadang juga berangkat dari Potensi. Nah definisi masalah ini yang membuat semuanya semakin menarik. Mudahnya masalah sering diartikan sebagai ketidaksesuaian an...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Semua proses intervensi pekerja sosial, biasanya. Mayoritasnya. Berangkat dari masalah. Meskipun terkadang juga berangkat dari Potensi. Nah definisi masalah ini yang membuat semuanya semakin menarik. Mudahnya masalah sering diartikan sebagai ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan. Kalau ketidaksesuaiannya dirasakan oleh banyak orang, maka akan menjadi masalah sosial. </p>

<img loading="lazy" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/07/pexels-photo.jpg" alt="" class="wp-image-216" style="width:448px;height:325px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by Miguel Á. Padriñán on <a href="https://www.pexels.com/photo/brain-color-colorful-cube-19677/" rel="nofollow">Pexels.com</a></figcaption></figure>

<p>Ditarik kebelakang lagi. Sebelum timbulnya harapan yang tidak sesuai menjadi suatu masalah. Ada tanda-tanda tertentu yang timbul. Adanya kecemasan. Timbulnya keraguan. Muncul perasaan, &#8220;bisa tidak ya?&#8221; &#8220;sesuai tidak ya?&#8221; &#8220;kenapa begini ya?&#8221;. Seringnya perasaan-perasaan seperti ini yang malah menimbulkan masalah. Mempercepat prosesnya. </p>

<p>Saat ini saya bekerja di setting pelayanan anak. Selama ini anak-anak sendiri tidak terlalu banyak memiliki kecemasan akan masalah-masalahnya. Belum terlalu memikirkan berbagai faktor-faktor yang mengitari suatu masalah. Seringnya pada masa dewasa awal lah, muncul banyaknya percabangan pikiran dari masalah-masalah yang ada. Suka tidak suka, <em>it will hit you like a truck</em>. </p>

<p>Misal, saat ini saya sedang ada di lingkungan baru. Bertemu orang-orang baru. Menjalani budaya baru. Munculah harapan-harapan baru. Mempelajari pengalaman-pengalaman orang lain. Mengobservasi rezeki orang-orang yang berbeda. Membuka diskusi dengan latar belakang yang berbeda-beda. Mendengar senangnya, mendengar sedihnya. Merasakan lelahnya. Dan pada dasarnya kami semua ini sama. Atau boleh saya gunakan, kita? </p>

<p>Sebelum mengetahui sesuatu sangat wajar untuk merasa khawatir. Tapi yang menjadi ganjalan adalah kalau kekhawatiran kita malah membuat kita jatuh. Masalah aktual belum terjadi, masalah potensial yang malah muncul ke permukaan. Kekhawatiran-kekhawatiran kita menjadi nyata. Karena kita sugestikan seperti itu. </p>

<h2 class="wp-block-heading">Pendaftaran</h2>

<p>Salah satu cara yang bisa digunakan. Biasanya saya gunakan ini saat konseling dan melakukan terapi dengan teman-teman sebaya. Saya dapat ilmunya juga dari membaca sebuah buku. Lalu dikuatkan lagi dengan pengalaman-pengalaman praktik di Nusa Tenggara Barat (NTB). Cara ini bukan untuk secara instan menyelesaikan masalah-masalah yang ada, tapi lebih kepada mencoba membantu meluruskan jalan pikiran kita. Diluruskan dengan cara membawa kekhawatiran kita kedalam realita yang ada. Membandingkan dengan kenyataan yang sebenarnya. </p>

<p>Medianya menggunakan tulisan. Menulis. Dengan tangan sendiri. Misalnya seperti ini. Dan biasanya ada buku sendiri yang disedikan agar lebih mudah untuk mengaplikasikannya. </p>

<tbody><strong>KECEMASAN</strong></td><strong>KENYATAAN</strong></td></tr></td></td></tr></tbody></table></figure>

<p>Untuk dapat menuliskan kenyataan. Kita semua harus banyak membuka diskusi dengan orang lain, harus banyak-banyak melakukan refleksi diri. Membuka diskusi dengan orang lain untuk mengetahui pengalaman orang lain dan meminta saran dan masukan terhadap pengalaman kita. Pengaplikasian tabel ini memang memaksa kita untuk sering berinteraksi dengan orang baru dan juga harus sering membuka diri terhadap informasi-informasi baru melalui media lain. Dan bukan hal yang buruk juga menurut saya. </p>

<p>Sebenarnya pada dasarnya yang ingin saya sampaikan adalah, cemas itu wajar. Dan salah satu cara dasar mengatasinya adalah dengan berdiskusi dengan orang lain. Bertemu orang-orang baru, dan belajar menghidupi hidup yang sedang kita jalani. </p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Berharap itu Gratis, Mencapainya Tidak</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/berharap-itu-gratis-mencapainya-tidak</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/berharap-itu-gratis-mencapainya-tidak</guid><pubDate>Sun, 23 Jun 2019 21:32:58 +0000</pubDate><description>Beberapa waktu belakang ini, saya banyak mengamati kembali tentang salah satu definisi masalah. Harapan. Ketidaksesuaian harapan dan kenyataan menjadi bumbu manjur menciptakan masalah. Sulitnya, harapan itu tidak hanya harapan dari diri sendiri. Harapan indivi...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu belakang ini, saya banyak mengamati kembali tentang salah satu definisi masalah. Harapan. Ketidaksesuaian harapan dan kenyataan menjadi bumbu manjur menciptakan masalah.</p>

<img loading="lazy" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/06/20190623_212440334668555422566852.jpg" alt="" class="wp-image-199" /></figure>

<p>Sulitnya, harapan itu tidak hanya harapan dari diri sendiri. Harapan individu seringnya juga ditimpali dengan harapan dari orang lain. Seringnya orang terdekat. Sampai tahap individu berpikir, &#8220;sudah saya penuhi harapan-harapan orang terdekat saya, harapan-harapan pribadi sendiri, kapan diakomodir? Kapan direalisasikan?&#8221;</p>

<p>Dan itu hal yang wajar. Hal yang saya sering lihat dari banyak orang yang saya temui; Termasuk orang yang setiap pagi saya lihat di cermin. Termasuk manusia anggun yang murah senyum dan tampak tidak memiliki kecemasan. Tampak tidak punya masalah.</p>

<p>Punya banyak kecemasan itu wajar. Menjadi pertanyaan kalau malah tidak punya. Cemas tanda kita punya harapan, dan takut harapan kita tidak akan tercapai. Dalam arti lain, kita masih sering berpikir. Tentang masa depan yang seringnya belum pasti.</p>

<p>Akan kerja dimana?</p>

<p>Akan berdampingan dengan siapa?</p>

<p>Bisa tidak membahagiakan orang lain?</p>

<p>Bisa tidak menjaga diri sendiri?</p>

<p>Dan banyak-banyak kecemasan lainnya.</p>

<p>Tapi yang perlu diingat, stresor-stresor tersebut. Tidak selamanya merupakan stresor yang berdampak buruk. Banyak stres yang dirasakan, sebenarnya justru merupakan stres yang baik.</p>

<p>Misal.</p>

<p>Cemas akan pekerjaan di masa depan pada masa kuliah. Kecemasan ini apabila dapat diolah, malah dapat membuat diri bekerja lebih keras, belajar lebih giat. Jadi, meskipun masa depan masih belum bisa dipastikan, kita memastikan memiliki kriteria yang sesuai untuk menyambutnya.</p>

<p>Misalnya lagi.</p>

<p>Stres yang muncul karena tekanan untuk menikah. Sering terjadi. Sangat sering terjadi. Utamanya berasal dari orang terdekat, keluarga. Bisa menjadi pemicu diri memperbaiki diri, memantaskan diri agar sesuai dengan harapan orang-orang yang menaruh harapan.</p>

<p>Tapi. Apa sesuai dengan harapan pribadi?</p>

<p>Belum tentu. Bisa jadi masalah? Sangat bisa. Bisa jadi penguat? Sangat bisa sekali.</p>

<p>Tergantung pribadi masing-masing dan berbagai faktor yang ikut mendampingi stres tersebut.</p>

<p>Saya pribadi, seandainya sudah jenuh dengan rutinitas. Kecemasan ada banyak. Tetapi sering diri sendiri mencoba menegasi kecemasan yang ada. Hal ini membuat jeda dalam hidup.</p>

<p>Jeda. Semuanya memang berjalan, segalanya berjalan dengan baik. Sesuai harapan. Hubungan dengan orang lain baik. Tapi perasaan terjeda. Tidak merasakan bahagia, tidak merasakan semangat, tidak merasa <em>excited</em> dengan apapun. Punya harapan, sedang mencoba mencapai harapan yang dicatat. Tapi proses pencapaiannya hampa. Tidak merasa apa-apa. Hanya berkegiatan, just like a robot.</p>

<img loading="lazy" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/06/20190623_1755555860204985720978944.jpg" alt="" class="wp-image-200" /></figure>

<p>Sampai pada suatu waktu. Ada individu atau kejadian yang sadar atau tidak sadar, mau atau tidak mau, didatangkan oleh yang Maha Mengatur. Bersinggungan meski mungkin nantinya garis singgungnya bergerak menjauh.</p>

<p>Individu yang tiba-tiba menekan tombol <em>play </em>dalam jeda yang sedang terjadi. Membuat individu merasakan bahagia, merasakan semangat, merasakan kecemasannya kembali. Mematikan mode <em>auto pilot</em> yang menimbulkan jeda dalam keseharian. Sengaja atau tidak disengaja, saya akan terus selalu berterima kasih akan hal itu. Meskipun mungkin individu tersebut, tidak membutuhkan terima kasih saya. Bahkan mungkin tidak sadar bahwa dirinya telah membantu seseorang.</p>

<h2 class="wp-block-heading">Family Support</h2>

<p>Latar belakang diatas lah yang juga menjadi latar belakang pentingnya kehadiran orang lain baik sengaja maupun tidak disengaja dalam bidup orang lainnya. Untuk menekan tombol <em>play </em>dalam hidup yang sempat ter-<em>pause</em>.</p>

<img loading="lazy" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/06/wp-15612993669341883955788272864816.jpg" alt="" class="wp-image-201" /></figure>

<p>Yang termudah dan paling dekat untuk menjangkau seseorang yang membutuhkan pertolongan adalah keluarga. Baik keluarga inti, maupun keluarga lainnya di luar keluarga inti. Baik yang masih mendampingi kita, maupun yang telah mendahului kita. Baik yang masih dapat kita peluk, maupun yang sulit kita peluk karena situasi yang tidak memungkinkan.</p>

<p>Keluarga, adalah salah satu jalan keluar yang membantu untuk menghilangkan jeda dalam kehidupan seseorang.</p>

<p>Tapi keluarga yang bagaimana yang dapat membantu? Keluarga yang dapat membantu adalah keluarga yang sadar. Bahwa ada anggota keluarga lainnya yang memiliki masalah dan perlu bantuan. Keluarga yang sadar bahwa masalah yang dirasakannya, adalah penanda bahwa sebenarnya dirinya sedang diselamatkan. Dan bukan merupakan korban yang dipertontonkan.</p>

<p>Karena banyak keluarga yang tidak sadar, bahwa mereka memiliki masalah; sampai semuanya serba terlambat. Terlambat untuk dapat dipertahankan. Dan itu hal yang sangat mungkin terjadi.</p>

<p>Individu-individu dalam keluargalah yang dapat menjadi salah satu penyelamat yang menekan tombol <em>play </em>dalam kehidupan kita yang sempat terjeda.</p>

<p>Tapi, tidak semuanya punya keluarga yang mau membantu. Yang mampu membantu. Maka dari itu program <em>family support </em>ini hadir. Setidaknya menurut saya seperti itu.</p>

<p>Perubahan perspektif yang juga menjadi salah satu tujuan kegiatan seperti ini.</p>

<p>Saya pribadi berharapnya para keluarga bisa merasa bahwa mereka adalah orang yang diselamatkan. Bahwa mereka adalah orang yang beruntung. Tidak semua orang bisa dijangkau oleh BRSAMPK Paramita atau LKS yang lainnya. Tidak semua orang juga mau dijangkau oleh pelayanan di balai. Banyak anak-anak kita yang membawa perilaku menyimpangnya sampai usia dewasa. Banyak anak-anak yang harus menerima konsekuensi yang jauh lebih berat. Banyak anak-anak yang tidak menjalankan masa anak-anaknya seperti anak-anak seusianya.</p>

<p>Toh semuanya memang harus kontras. Hitam dalam hitam, percuma saja. Putih dalam putih,<em> </em>juga omong kosong. Kalau sudah bertemu dengan hitam yang memberatkan, tinggal menunggu putih yang memberi makna pada hitam yang telah dirasakan. Baik oleh diri sendiri, atau dengan bantuan orang lain.</p>
</blockquote>]]></content:encoded></item>
<item><title>Nol dan Nol</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/nol-dan-nol</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/nol-dan-nol</guid><pubDate>Fri, 21 Jun 2019 20:48:37 +0000</pubDate><description>Kebanyakan rasa tidak bahagia yang muncul dikarenakan banyaknya diri sendiri membanding-bandingkan dengan orang lain. Sudah menjadi budaya. Menjadi sebuah kesepakatan bersama. Kesepakatan yang tidak sehat. Kesepakatan yang bodoh. Semuanya berangkat dari pemaha...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Kebanyakan rasa tidak bahagia yang muncul dikarenakan banyaknya diri  sendiri membanding-bandingkan dengan orang lain. Sudah menjadi budaya.  Menjadi sebuah kesepakatan bersama. Kesepakatan yang tidak sehat.  Kesepakatan yang bodoh. </p>

<p>Semuanya berangkat dari pemahaman akan kesetaraan. Semua orang ingin  agar setara. Tapi setara tidak akan pernah terjadi. Kesetaraan itu hanya  mitos yang dibuat secara kolektif. Mitos untuk menyenangkan hati rakyat akan mimpi palsu. Mitos untuk mereka percayai dan perjuangkan. Mitos  yang akhirnya diturunkan kepada generasi selanjutnya. Dibentuk untuk  mempercayai bahwa kesetaraan akan terjadi.</p>

<p>Kesetaraan tidak akan pernah muncul. Selama hak-hak pribadi manusia tetap terus diperjuangkan. Keduanya kontradiktif. Tidak ada jalur pertemuannya.  Kesetaraan dan hak disambung dalam satu kalimat saja sudah tidak masuk akal. </p>

<p>Kenapa?</p>

<p>Karena kesetaraan hanya bisa muncul. Bila manusia mau dibatasi  hak-hak pribadinya. Agar sama dengan orang lain. Agar sesuai dengan  orang lain. Selama belum dibatasi. Akan selalu ada jurang pemisah antara  Si Kaya dan Si Miskin. Si Artis dan Si Pemulung. Si Beruntung dan Si Sial. </p>

<p>Pemahaman yang tidak terlalu rumit. Tapi sayangnya. Hal ini banyak 
disalahartikan oleh kita semua. Disalahartikan dalam bentuk kepercayaan 
tanpa dasar. Kepercayaan buta. Fana. </p>

<p>Kepercayaan bahwa tiap orang memulai segala sesuatunya dari titik nol. </p>

<p>Salah?</p>

<p>Tidak.</p>

<p>Hanya saja kurang lengkap.</p>

<p>Titik nol tiap orang itu beda penempatannya. Kalau di matematika  jelas. Nol itu diantara -1 dan 1. Tidak mungkin berubah, misal tiba-tiba nol  ada di setelah angka 4. </p>

<p>Di dalam memahami tentang angka nol dalam kehidupan. Jauh lebih rumit. </p>

<p>Titik nol saya dan titik nol anda itu pasti berbeda.</p>

<p>Kalau kita andaikan saja bahwa tujuan manusia adalah angka seratus. Dan angka seratus itu letaknya di New York. </p>

<p>Titik nol saya itu ada di Kanada. Titik nol anda mungkin saja di Rusia. Sama-sama dari nol. Tapi untuk menuju ke seratus, ke New York. Lebih mudah dan lebih cepat untuk saya. Naik bis atau pesawat sudah  sampai. Waktunya tidak akan sampai seminggu. </p>

<p>Sedangkan anda dari Rusia. Pilihan dari nol ke seratus. Mungkin hanya bisa naik pesawat dan kapal. Pesawat yang harganya lebih mahal dan  lebih lama perjalanannya. Atau kalau mau murah. Bisa naik kapal laut yang mungkin akan jauh lebih lama perjalanannya. Dan harus menyeberangi lautan yang luas. </p>

<p>Sama-sama dari nol ke seratus. Tapi nol dari Kanada lebih mudah dan lebih cepat daripada nol dari Rusia. </p>

<p>Ini yang harus sering didiskusikan dan disampaikan. Bahwa nol tiap 
orang itu berbeda-beda. Manusia itu lahir tidak setara. Dan memang tidak
 akan pernah setara. Selama masih punya kebebasan hak dalam pribadinya 
masing-masing. </p>

<p>Manusia itu diciptakan tidak setara. Gen-gen dalam tubuh kita sudah  berevolusi ribuan tahun sesuai dengan kebutuhan manusia di daerahnya  masing-masing. Kalau sampai manusia itu setara. Berarti bukan manusia  lagi. Sudah robot. <em>Heartless</em>.</p>

<p>Lagipula seandainya manusia itu setara. Kenapa banyak orang yang 
saling berusaha mengejar atribut-atribut sosial. Mengejar kekayaan. 
Mengejar kemakmuran. Mengejar kesejahteraan.</p>

<p>Ya karena manusia memang tidak setara. Dan mungkin memang tidak akan 
pernah setara. Dunia ini memang tidak adil. Dan tidak akan pernah adil. </p>

<p>Kecemasan diri akan ketidakadilan itu hanya buang-buang waktu.  Bisa  saja saya dan anda membuat catatan siapa saja yang harus disalahkan atas ketidakadilan yang saya atau anda rasakan. Saya yakin akan panjang sekali catatannya. </p>

<p>Kecemasan yang berlebihan atas ketidakadilan yang dirasakan. Yang 
ditunjukannya dengan menunjukkan kesalahan-kesalahan diluar diri 
sendiri. Lebih banyak negatifnya. Untuk diri sendiri. Membatukan hati. 
Membatukan pikiran. </p>

<p>Lama kelamaan nanti perilaku digerakan insting. Karena sudah tidak  bisa berpikir. Toh katanya kan berpikir adalah salah satu kelebihan  utama manusia. Kelebihan utama tapi mau didegradasi bukan oleh mahluk lain, tapi diri sendiri.</p>

<p>Tulisan ini sebenarnya catatan untuk diri sendiri. Karena terlalu 
cemas akan label yang diberikan orang lain. Label bahwa apa yang telah 
diberikan dan diusahakan bukan karena diri sendiri. </p>

<p>Dan sekarang saya katakan kepada anda. Nol saya memang lebih mudah. Karena kerja keras lingkungan terdekat saya untuk sedikit demi sedikit memberikan nol terbaik. Dan tugas saya selanjutnya adalah memastikan bahwa nol dari orang-orang yang akan saya jaga seumur hidup nanti. Juga jauh lebih mudah dari nol yang telah saya terima. </p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Moral-Marit Dunning Kruger</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/moral-marit-dunning-kruger</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/moral-marit-dunning-kruger</guid><pubDate>Thu, 13 Jun 2019 19:56:12 +0000</pubDate><description>Setiap individu dalam menjalani kehidupan selalu terikat dengan nilai-nilai yang ada. Nilai tersebut dapat kita sepakati atau tidak kita sepakati. Meskipun tidak disepakati oleh diri sendiri, nilai tetap akan memberikan batasannya. Photo by rawpixel.com on Pex...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Setiap individu dalam menjalani kehidupan selalu terikat dengan nilai-nilai yang ada. Nilai tersebut dapat kita sepakati atau tidak kita sepakati. Meskipun tidak disepakati oleh diri sendiri, nilai tetap akan memberikan batasannya. </p>

<img loading="lazy" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/06/pexels-photo-1415558.jpeg" alt="" class="wp-image-173" style="width:470px;height:315px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by rawpixel.com on <a href="https://www.pexels.com/photo/brown-wooden-gavel-close-up-photography-1415558/" rel="nofollow">Pexels.com</a></figcaption></figure>

<p>Nilai-nilai ini juga yang sering menentukan, apakah suatu perbuatan itu benar ataupun salah. Tergantung budayanya, tergantung lokasinya, tergantung masyarakatnya. Meskipun tiap individu sudah terikat nilai, sering dijumpai individu tersebut melanggar nilai yang ada. Entah karena disengaja atau karena tidak mengetahui nilai tersebut. Untuk yang disengaja menjadi menarik. </p>

<p>Dalam melakukan melakukan intervensi, pekerja sosial tidak boleh memaksakan kehendaknya. Tidak boleh sok tahu. Tidak boleh sok superman, bahwa semua yang dikatakannya itu benar. Kecuali dalam situasi intervensi krisis. Pekerja sosial diperbolehkan memberikan alternatif-alternatif solusi yang dapat dilakukan. Meskipun pada akhirnya lebih sering dijumpai pemecahan masalah klien dengan baku, tersistem. Tanpa memerdulikan pandangan dan keinginan dari klien. Ini menggambarkan bahwa pekerja sosial tersebut sudah melenceng dari nilai-nilai yang seharusnya dipegangnya. </p>

<p>Sering kita jumpai hal seperti ini. Ada cara yang benar. Eh malah suka menggunakan cara tidak baik-baik. Menjadi sok tahu. Menjadi gila otoritas. Menganggap diri sendiri paling benar. Padahal belum tentu dirinya benar. </p>

<h2 class="wp-block-heading">Dunning Kruger</h2>

<p>Efek Dunning Kruger (EDK) sedikit banyak menggambarkan salah satu faktor dari fenomena Moral-Marit (baca: morat-marit) sistem nilai yang seorang individu jalankan. EDK adalah fenomena bias kognitif. Dimana seseorang merasa bahwa dirinya lebih pintar dan lebih berkapasitas daripada yang sebenarnya orang tersebut dapat lakukan. EDK diambil dari dua peneliti, yaitu David Dunning dan Justin Kruger. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang cenderung bernilai rendah pada tes grammar, humor dan logika. Cenderung meng-<em>overestimate</em> tentang performa mereka dalam tes tersebut. </p>

<p>Saya rasa seseorang, setidaknya pernah sekali merasakan Efek Dunning Kruger ini. Mungkin saat sedang rapat dengan rekan kerja. Kemudian ada seseorang yang menjelaskan tentang suatu topik yang <strong>terlihat</strong> rumit dan <strong>seperti </strong>dikupas secara mendalam. Hal ini membuat opini orang lain dianggapnya tidak benar. Orang lain dianggap kurang informasi. </p>

<p>A: Jadi mengenai (topik) ini. Saya rasa memang cara saya yang paling benar. Saya yang tahu tentang hal ini. Saya orang sosial. Kalian mana ada diajarkan seperti itu. </p>
<cite>gambaran suasana EDK</cite></blockquote>

<p>Penelitian Dunning Kruger menunjukkan bahwa orang yang tidak berkompeten cenderung kesulitan untuk menilai kualitas dari kerja mereka sendiri. Malahan. Mereka cenderung tidak mampu menilai kemampuan dan kompetensi dari orang lain. Hal ini yang menjadi salah satu alasan orang tersebut selalu melihat diri mereka sebagai orang yang lebih baik, lebih mampu, lebih berilmu daripada orang yang lain. Dampaknya pun dapat mempengaruhi keputusan yang dibuat. Bayangkan saja situasi dimana seseoarng merasa jauh lebih tahu daripada orang lain, meskipun pada nyatanya belum tentu dirinya benar.</p>

<p>A: Kita memang harus begini. Ini yang benar. Tidak mungkin salah. Ini untuk menghindari seperti kasus-kasus yang sudah-sudah. Saya ini (jabatan).</p>
<cite>gambaran suasana EDK</cite></blockquote>

<p>EDK digambarkan sebagai sebuah fenomena beban berganda. Bukan hanya ternyata seseorang tersebut tidak kompeten. Ketidak kompetenan mereka merusak kemampuan mereka untuk mengetahui seberapa mereka sebenarnya tidak kompeten. Sudah jatuh ketimpa iblis. </p>

<p>Seseorang menjadi meng-<em>overestimate </em> kemampuan diri sendiri. Menjadi tidak mampu menilai kemampuan orang lain. Menjadi tidak mampu menilai kesalahan dan kurangnya kemampuan diri sendiri. </p>

<p>Hal yang menarik adalah Dunning Kruger mengatakan bahwa kemampuan seseorang yang baik itu bukan hanya dinilai dari seberapa hebat kemampuan mereka dalam suatu bidang. Tapi juda dilihat dari seberapa mereka sadar bahwa mereka tidak terlalu bagus dalam bidang tersebut. Penggambaran terdekat yang saya bisa contohkan adalah kalau tidak salah dari Umar bin Khattab.</p>

<pre class="wp-block-verse">Ilmu ada tiga tahapan. Jika seseorang memasuki tahapan pertama, ia akan sombong. Jika ia memasuki tahapan kedua, ia akan tawadhu'. Dan jika ia memasuki tahapan ketiga, ia akan merasa dirinya tidak ada apa-apanya. Atau bisa juga dengan filosofi ilmu padi. Semakin berisi, semakin menunduk. </pre>

<h2 class="wp-block-heading">Moral Marit</h2>

<p>Yang menarik dari bacaan saya mengenai Efek Dunning Kruger (EDK) ini adalah fakta bahwa semua orang hampir pernah menjadi pelaku dari EDK. </p>

<p>Itu berarti saya. Anda juga.</p>

<p>Hal ini dikarenakan seberapapun pengetahuan dan pengalaman kita. Akan selalu ada bidang dimana kita kurang pengetahuan dan kurang pengalaman. </p>

<p>misal si A pandai dalam teori ilmu-ilmu sosial. Tetapi dirinya belum tentu dapat menerapkan ilmu-ilmu tersebut dalam kesehariannya. Mungkin saja relasinya buruk dengan orang lain, sering menyakiti hati orang lain, secara sadar membuat masa depan orang lain menjadi buruk. Moralnya marit. </p>

<p>atau contoh lainnya. Seseorang yang pandai dalam bidang <em>public speaking</em>, belum tentu dia juga pandai mengajarkan kepada orang lain tentang <em>public speaking</em>. </p>

<p>Intinya, tidak ada orang yang pandai dalam segala hal. Seandainya seseorang tersebut sok tahu, sok menjadi Superman yang mampu menyelesaikan segala masalah dengan kekuatannya. Lambat laun. Sadar atau tidak sadar itu akan menjadi beban moral yang besar. Cepat atau lambat pertanggungjawaban di dunia akan hal yang diperbuat akan datang. </p>

<p>Sehingga kedepannya. Agar diri sendiri tidak <em>senewen</em>. Apabila ada orang yang menggambarkan perilakunya seperti Efek Dunning Kruger. Anggap saja bahwa dirinya sebenarnya tidak cukup mampu dalam bidang yang dibahasnya.</p>

<p>Tapi lucunya. Saya menulis seperti ini, juga dapat menggambarkan fenomena Dunning Kruger&#8230;.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Tentang Keberfungsian Sosial</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/tentang-keberfungsian-sosial</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/tentang-keberfungsian-sosial</guid><pubDate>Mon, 10 Jun 2019 05:29:13 +0000</pubDate><description>Keberfungsian sosial menjadi “nyawa” dari profesi pekerjaan sosial. Kalau ditanyakan kepada mahasiswa pekerjaan sosial tentang definisi profesi, saya berani jamin mayoritas akan menyebutkan atau menyinggung keberfungsian sosial di definisinya. Sasaran interven...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Keberfungsian sosial menjadi &#8220;nyawa&#8221; dari profesi pekerjaan sosial. Kalau ditanyakan kepada mahasiswa pekerjaan sosial tentang definisi profesi, saya berani jamin mayoritas akan menyebutkan atau menyinggung keberfungsian sosial di definisinya. Sasaran intervensi ideal yang dicita-citakan dapat dicapai oleh semua klien yang ditanganinya. Juga merupakan salah satu aspek dari kondisi &#8220;sehat&#8221; yang didefinisikan oleh World Health Organization (WHO).</p>

<img loading="lazy" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/06/pexels-photo-1170897.jpeg" alt="" class="wp-image-159" style="width:217px;height:325px" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by Edward Eyer on <a href="https://www.pexels.com/photo/affection-baby-care-carrying-1170897/" rel="nofollow">Pexels.com</a></figcaption></figure>

<p>Sudah banyak tersebar di internet literatur mengenai keberfungsian sosial atau <em>social functioning</em>. Tapi juga masih banyak pekerja sosial yang sedikit salah kaprah mengenai keberfungsian sosial ini, atau sebenarnya mereka paham mengenai keberfungsian sosial; tetapi mencoba menegasi kebutuhan bahwa setiap klien diharapkan memiliki keberfungsian sosial pada akhir intervensi. Hal-hal seperti ini yang menghilangkan ciri khas dari profesi pekerjaan sosial. Membuat profesi ini semakin meredup popularitasnya. Atau hanya dikenal sebagai &#8220;orang yang suka membagi-bagikan bantuan.&#8221;</p>

<p>Tidak ada yang salah dengan definisi tersebut. Tapi saya percaya kita bisa melakukan lebih. </p>

<h2 class="wp-block-heading">Keberfungsian Sosial</h2>

<p>Keberfungsian sosial sendiri merujuk pada dua aspek utama, yaitu:</p>

Kemampuan melaksanakan tugas-tugas kehidupan sehari-hari. (untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan). </li>

Kemampuan memenuhi peranan-peranan sosial yang diharapkan oleh masyarakat atau subbudaya klien. (Berkaitan dengan harapan masyarakat terhadap individu dan sistem nilai yang tertanam di lingkungan masyarakat tersebut. Pekerja sosial juga membantu menyeimbangkan tuntutan dari masyarakat dan kemampuan coping dari individu.</li>
</ul>

<p>Nah, terkait dengan kemampuan melaksanakan tugas-tugas kehidupan. Seseorang dikatakan berfungsi sosial, apabila mampu menjalankan tugas kehidupan melalui tiga cara:</p>

Mampu menjalankan peranan dengan baik. Mengefektifkan segala sesuatu yang diharapkannya untuk diwujudkan secara nyata.</li>

Memiliki tanggung jawab terhadap orang lain. Membuat keputusan yang rasional, dapat dipercaya dan mampu berupaya untuk kesejahteraan orang lain. </li>

Memperoleh kepuasaan diri dari kinerja, tugas dan pelaksanaan tanggung jawabnya. </li>
</ul>

<h4 class="wp-block-heading">Tugas-Tugas Kehidupan</h4>

<p>Pemenuhan tugas-tugas kehidupan tidak hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Agar lebih memahami tentang hal ini, saya suka merujuk kepada teori dari Maslow. </p>

<p>Lima Tingkat Kebutuhan Manusia yang terdiri secara hierarkis, yaitu:</p>

Kebutuhan fisiologis yang fundamental</li>

Kebutuhan rasa aman</li>

Kebutuhan kasih sayang</li>

Kebutuhan untuk dihargai</li>

Kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri</li>
</ol>

<p>Dengan merujuk pada teori maslow ini, maka pekerja sosial dapat lebih mudah memetakan sasaran intervensi dari klien. Lebih mudah membantu pekerja sosial memberikan gambaran ideal dan gambaran kondisi klien saat ini. </p>

<p>Misal, saya sudah memenuhi kebutuhan fisiologis dan rasa aman. Tapi belum memenuhi kebutuhan akan kasih sayang. Jadi intervensi dari pekerja sosial dapat memfokuskan terhadap pemenuhan kebutuhan akan kasih sayang untuk saya. Setelah itu dapat bertahap membantu memenuhi kebutuhan untuk dihargai dan kebutuhan mengaktualisasikan diri. </p>

<p>Meskipun pada praktiknya, sedikit sulit mengidentifikasi kebutuhan klien. Seringnya akan tumpang tindih antara kebutuhan satu dengan yang lainnya. Disini perlu keahlian dari pekerja sosial untuk membuat skala prioritas bersama-sama dengan klien untuk dapat menyelesaikan masalahnya. </p>

<h4 class="wp-block-heading">Peranan Sosial</h4>

<p>Setiap orang pada dasarnya menduduki beberapa status sosial sekaligus. Contoh misalnya saya suatu saat nanti akan menduduki status sebagai seorang suami, ayah, dan pegawai. Setiap status sosial tersebut disertai peranan sosial tertentu, dan pelaksanaan peran sosial ini menunjukan keberfungsian sosial. </p>

<p><strong>Status sosial</strong> memiliki <strong>peranan sosial</strong>. Pelaksanaan <strong>peranan sosial</strong> menunjukkan <strong>keberfungsian sosial</strong>.</p>

<h4 class="wp-block-heading">Indikator Keberfungsian Sosial</h4>

<p>Direktur Jenderal Rehabilitasi Kementerian Sosial, Bapak Edi Suharto. Menyampaikan hal yang sederhana, tetapi mengena saat kegiatan pembinaan pegawai di Kota Bandung pada bulan april lalu. Kebetulan saya dan rekan-rekan di BRSAMPK Paramita juga diundang untuk mengikutinya, bersama dengan rekan-rekan dari BRSAMPK Handayani dan BRSAMPK Antasena. </p>

<p>Beliau menyampaikan sebuah kutipan, &#8220;if you can&#8217;t measure it, you can&#8217;t improve it.&#8221; Kalau kita tidak dapat mengukur sesuatu, bagaimana mungkin kita dapat meningkatkan hal tersebut. Ukuran awalnya saja belum tahu. </p>

<p>Ada cara yang cukup sederhana yang saya kutip dari buku Prof. Adi Fahrudin tentang indikator keberfungsian sosial. Mudahnya untuk mengukur keberfungsian sosial, maka dibagi menjadi dua variabel pada sebuah indikator.</p>

Indikator Positif, meliputi <strong>pencapaian, kepuasan dan penghargaan.</strong></li>

Indikator Negatif, meliputi <strong>stres, kekecewaan dan ketidakberdayaan.</strong></li>
</ul>

<p>Mengukurnya sederhana. Seseorang dapat dinilai berfungsi sosial apabila lebih banyak indikator positif yang dirasakannya. Begitupun sebaliknya, apabila lebih banyak indikator negatif yang dirasakannya, maka orang tersebut dapat dibilang masih belum berfungsi sosialnya. </p>

<p>Meskipun harus hati-hati dengan variabel stres. Saya banyak mempelajari tentang stres saat menyusun skripsi saya tentang burnout. Tidak semua stres yang dirasakan oleh individu itu negatif. Ada juga stres yang positif. Stres dengan dosis yang sesuai, malah mampu meningkatkan kinerja seseorang. Maka untuk variabel stres, perlu dilakukan <em>in-depth interview</em> mengenai stres yang dirasakan dan latar belakangnya. </p>

<p>Keberfungsian sosial dapat juga diukur dengan merujuk pada teori segitiga keberfungsian sosial, yang terdiri dari:</p>

<em>feeling of self worth </em>(Menghargai diri sendiri)</li>

<em>Satisfaction with roles in life</em> (Puas dengan peranan dalam hidup)</li>

<em>Positive relationship with others</em> (Relasi positif dengan orang lain)</li>
</ul>

<p>Indikator-indikator tersebut sedikit banyak dapat membantu pekerja sosial untuk mengevaluasi kondisi klien saat ini, dengan kondisi ideal yang seharusnya dimiliki klien. </p>

<h2 class="wp-block-heading">Keberfungsian yang Tidak Berfungsi</h2>

<p>Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang tidak berfungsi sosialnya. Tapi saya coba padatkan menjadi tiga bagian, yaitu:</p>

Faktor internal (motivasi kurang, coping strategi yang kurang baik, kapabilitas yang belum baik, tidak adanya kemandirian dan berbagai faktor lainnya.)</li>

Faktor eksternal (kemiskinan struktural dan budaya kemiskinan yang sulit diubah, persekusi, bencana alam dan faktor-faktor lainnya.)</li>

Gabungan dari keduanya.</li>
</ul>

<p>Berdasarkan faktor-faktor tersebut. Pekerja sosial perlu untuk mampu melakukan asesmen yang tepat agar nanti dalam merencanakan intervensi dan pelaksanaan intervensi, mampu membantu klien untuk berfungsi secara sosial lagi. </p>

<p>Akhir kata, tulisan ini lebih untuk mengingatkan agar mampu menilai keberfungsian sosial diri sendiri. Kalau saya pinjam kata-kata Bapak Pujiarrohman, M.Psi. dari NTN, &#8220;sebelum menyelesaikan masalah orang lain, kita harus menyelesaikan masalah kita sendiri. Menyelesaikan <em>unfinished business.</em>&#8220;</p>

<p>Sumber Rujukan:</p>

<p>Adi Fahrudin. (2018). PERSPEKTIF BIOPSIKOSOSIAL untuk Asesmen Keberfungsian Sosial. Cetakan Kesatu. Bandung: PT. Refika Aditama</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Kesehatan Mental dan Beban bagi Caregivers</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/kesehatan-mental-dan-beban-bagi-caregivers</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/kesehatan-mental-dan-beban-bagi-caregivers</guid><pubDate>Sat, 08 Jun 2019 22:06:39 +0000</pubDate><description>Ditulis pada bulan oktober 2018, ketika masih banyak hal yang saya khawatirkan. Sekarang pun sebenarnya masih. Photo by Nandhu Kumar on Pexels.com Kesehatan mental akhir-akhir ini menarik perhatian saya. Kesehatan mental tentunya terkaitan dengan salah satu je...</description><content:encoded><![CDATA[<p><em>Ditulis pada bulan oktober 2018, ketika masih banyak hal yang saya khawatirkan. Sekarang pun sebenarnya masih. </em></p>

<img loading="lazy" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/06/pexels-photo-312839.jpeg" alt="" class="wp-image-154" /><figcaption class="wp-element-caption">Photo by Nandhu Kumar on <a href="https://www.pexels.com/photo/amazing-balance-blur-boulder-312839/" rel="nofollow">Pexels.com</a></figcaption></figure>

<p>Kesehatan mental akhir-akhir ini menarik perhatian saya. Kesehatan  mental tentunya terkaitan dengan salah satu jenis disabilitas, yaitu  disabilitas mental. Disabilitas mental sendiri sering disebut  disabilitas kasat mata, karena kasat mata sehingga tidak bisa langsung  terlihat, maka dari itu jarang juga orang ingin mengetahui tentang  disabilitas mental.</p>

<p>Ketertarikan saya kepada kesehatan mental sudah terpupuk sejak berkuliah di&nbsp;<strong>Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung</strong>.  Melalui praktikum-praktikum yang berada di dalam kurikulum pendidikan  sebagai pekerja sosial profesional, tidak jarang saya berjumpa dengan  rekan-rekan kita yang mengalami disabilitas mental.</p>

<p><strong>Praktikum II</strong> dan <strong>Praktikum III</strong> menjadi pengantar saya mengetahui lebih lanjut tentang kesehatan mental ini dan pentingnya menjaga kewarasan.<br> Pada praktikum II saya berpraktik di salah satu Rumah Sakit terbesar di  Jawa Barat. Ada beberapa pengalaman yang membuat saya menjadi lebih  ingin mengetahui tentang kesehatan mental. Salah satunya adalah  pengalaman dengan pasien di daerah Kabupaten Bandung.</p>

<p>Saya sudah melihat seorang anak yang awalnya baik-baik saja dan  dapat berinteraksi seperti anak yang lainnya, tetapi dikarenakan perundungan berulang dari teman-teman dan guru di sekolahnya membuat  sang anak tersebut kini harus minum obat-obatan untuk skizofrenia secara rutin dan harus melakukan <em>check up</em> ke rumah sakit yang jaraknya jauh dari rumahnya. Hal ini juga membuat kedua orangtuanya kehilangan  pekerjaan dikarenakan harus menjaga sang anak di rumah agar tidak  melakukan aktivitas yang membahayakan dirinya sendiri. Saya melakukan <em>home visit</em> dan juga melihat bagaimana <em>takutnya</em> lingkungan sekitar terhadap kehadiran anak tersebut, dan kondisi keluarga yang jauh dari kata sejahtera.</p>

<p>Saya juga sudah cukup melihat bagaimana seseorang yang mengalami  disabilitas mental selalu mencoba kabur dari rumahnya dan menakuti warga  sekitar sehingga keluarganya mencoba&nbsp;<em>menyingkirkan</em> dengan cara  yang halus. Warga sekitar juga menjadi takut berhubungan dengan keluarga  tersebut. Info terakhir pasien tersebut kabur dari rumahnya dan belum  kembali lagi sampai saat tulisan ini dibuat. Riwayat kehidupan pasien tersebut diwarnai dengan kekecewaan dan ketidaksiapan. Dari dahulu memiliki segalanya, karena judi dirinya juga kehilangan segalanya. </p>

<p>Saya juga sudah melihat bagaimana seseorang yang terlantar dan  mengalami skizofrenia diharuskan dirujuk ke rumah singgah dikarenakan  pelayanan kesehatan yang diberikan sudah maksimal dan tidak ada keluarga  yang bisa merawat dirinya, sehingga mungkin harus menghabiskan sisa masa hidupnya tanpa kepastian dan bahkan tanpa keluarga. </p>

<p>Pada Praktikum III pun saya juga mendapatkan beberapa pengalaman 
mengenai pentingnya kesehatan mental. Meskipun saya tidak mengambil 
fokus disabilitas, saya diberi amanah untuk menjadi Koordinator Bantuan 
Sosial Kabupaten Cianjur. Sehingga sering berhubungan dengan para 
penyandang disabilitas di tempat saya praktik untuk menyalurkan bantuan 
dari kerjasama STKS Bandung dan Kementerian Sosial.</p>

<p>Saya ingat ada tiga penyandang disabilitas yang waktu itu saya  datangi untuk didata. Saya pun menemukan kesamaan dari ketiganya. Mereka  sama-sama&nbsp;<em>dipasung.</em>&nbsp;Meskipun pasung yang dilakukan bukanlah  pasung yang sering kita lihat di televisi. Pasung yang dilakukan  cenderung pasung halus, dimana penyandang disabilitas dipisahkan tempat  tinggalnya dari keluarganya. Ada keluarga yang mampu maka sampai  ditempatkan di rumah yang cukup besar sendirian. Ada yang kurang mampu  ditempatkan di semacam loteng yang tidak terawat. Ada juga yang  ditempatkan seperti di sebuah bekas kandang hewan. Tidak ada alat yang  mengikat diri mereka, tetapi juga tidak ada orang yang mau melihat  mereka. Mereka terikat oleh harga diri dan gengsi keluarga mereka.</p>

<p>Praktikum III juga mengajarkan saya tentang pentingnya sistem sumber.  Salah satu sistem sumber yang membantu adalah sebuah Komunitas yang  bernama Komunitas Sehat Jiwa, mereka membantu mendiagnosa dan memberikan  pengobatan kepada pasien penyandang disabilitas yang saat itu diinfokan  kepada mereka. Tanpa biaya, tanpa birokrasi yang panjang. Semuanya  dilandaskan kepedulian kepada sesama manusia. Kasih sayang kepada sesama penyintas.</p>

<p>yang dicari hilang, yang dikejar lari, yang ditunggu, yang diharap, biarkanlah semesta bekerja. Untukmu</p>
</blockquote>

<p>biarkanlah semesta bekerja untukmu, kata Kunto Aji. Saya juga setuju.  Berdasarkan pengalaman saya, salah satu dari sekian banyak penyebab seseorang kehilangan  kewarasan mentalnya adalah terlalu khawatir dan kita pun sering menjadi terlalu khawatir.</p>

<p>Khawatir pekerjaan.<br>Khawatir tidak bisa membahagiakan orangtua. <br>Khawatir tidak bisa makan dan minum esok hari.<br>Khawatir tidak punya teman.<br>Khawatir tidak punya pasangan.<br>Khawatir tidak punya masa depan.</p>

<p>Salahkah kita khawatir? tidak.<br>Tapi salah bila kita terlalu khawatir. Selama kita selalu melakukan yang  terbaik, saya rasa kekhawatiran-kekhawatiran kita akan mengikis pada  akhirnya. Lagipula, bagi yang percaya; selalu ada kekuatan supranatural  di luar kemampuan kita. Apapun sebutannya sesuai keyakinan anda. </p>

<p>Tapi Tuhan saja tidak cukup menurut saya. Kekhawatiran dan kecemasan 
kita tidak dapat dihilangkan dengan hubungan vertikal ke atas saja. 
Harus seimbang. Bila ada hubungan vertikal, maka juga harus ada hubungan
 horizontal. Hubungan horizontal ini yang menjadi solusi terdekat dalam 
menjaga kewarasan diri kita sendiri, yaitu orang lain sebagai&nbsp;<em>support system</em> kita.</p>

<p><strong><em>Support System</em></strong>&nbsp;selalu menjadi kata-kata yang memiliki arti bagi saya. Saya percaya menjaga kewarasan sendirian itu sulit, dengan bantuan&nbsp;<em>support system</em> pun tetap sulit, tetapi ada kemungkinan sukses lebih tinggi. Karena kalau kita tidak bisa menjaga kewarasan secara&nbsp;<em>kualitatif,</em>&nbsp;setidaknya kita bisa menjaga kewarasan secara&nbsp;<em>kuantitatif</em>.</p>

<p>Jangan biarkan siapapun orang yang kamu kenal sendirian, sesenang apapun dia. seceria apapun dia. tetap dekati dan jadilah&nbsp;<em>support system&nbsp;</em>yang baik.</p>

<p>Karena orang terkadang suka sendirian, tetapi tidak ada orang yang suka kesepian.</p>

<h2 class="wp-block-heading">Beban Kesehatan Mental</h2>

<p>Beban Keluarga atau <em>Family&nbsp;Burden</em> adalah konsep yang telah  diteliti utamanya dalam berbagai penyakit kronis. Didefinisikan sebagai  berbagai masalah fisik, emotional, sosial atau ekonomi yang dialami  anggota keluarga karena disabilitas dari salah satu anggota keluarga  lainnya. </p>

<p>Model pelayanan saat ini pada setting kesehatan mental banyak yang  menekankan pada perawatan berbasis komunitas. Dan mengurangi pelayanan  berbasis panti atau rumah sakit. Seandainya ada hanya dalam periode tertentu saja berbasis panti atau rumah sakit.</p>

<p>Dan karena model pelayanan ini yang digunakan maka keluarga atau orang terdekat pasien biasanya bertanggung jawab sebagai <em>caregivers</em>. Membuat tanggung jawab mereka bertambah banyak. Diikuti pula dengan masalah-masalahnya.</p>

<p>Penyandang disabilitas mental yang kronis. Biasanya banyak 
menghabiskan waktunya hanya di rumah. Dan setidaknya ada satu orang 
anggota keluarga yang membantu menjaga. Membuat yang menjaga berkurang 
produktivitasnya. </p>

<p><em>Caregivers</em> punya peran signifikan untuk merawat klien 
disabilitas mental. Merawat sendiri bukan kerjaan yang mudah. Merawat 
diri sendiri kadang sulit, apalagi harus merawat orang lain. Dan akan 
sangat mungkin mempunyai dampak pada kehidupan pribadi dari si <em>caregivers</em> ini. </p>

<p>Dampaknya sendiri dapat bermacam-macam. Tidak dapat bekerja. 
Rutinitas yang terganggu. Gangguan finansial. Dampak pada kehidupan 
sosial. </p>

<p>Derajat gangguannya sendiri berbeda-beda. Tergantung seberapa berat 
tingkat disabilias yang dirawatnya. Contohnya seperti skizofrenia. 
Skizofrenia merupakan gangguan yang terus menerus dan kronis kepada 
seseorang. Yang sering menyebabkan isolasi, kecemasan, depresi dan 
frustasi. Untuk pengidap dan untuk <em>caregivers</em>-nya. </p>

<p>Memang seram dampaknya bila kita tidak menjaga kesehatan mental. 
Menganggu emosi. Menganggu pemikiran. Mengganggu kemampuan kognitif 
seseorang. Merubah pribadi seseorang. Menyebabkan perubahan kebiasaan. 
Dan jangka panjangnnya merusak kehidupan sosial dan juga keadaan 
ekonomi.</p>

<p><em>Caregivers</em> yang merasakan beban ini punya kesulitan memenuhi
 kehidupannya. Dan juga membuat ia mengalami kesulitan dalam merawat 
anggota keluarga yang mengalami disabilitas mental. </p>

<p>Siklusnya berulang-ulang. Maka dari itu disabilitas mental pun dapat 
berpengaruh terhadap suatu keluarga. Bukan tidak mungkin, anggota 
keluarga yang lain. Lama-kelamaan. Juga merasakan gejala-gejala 
disabilitas mental. </p>

<p>Beban yang dirasakakan oleh <em>caregivers</em> pun juga dapat 
mempengaruhi klien disabilitas mental. Resiko relapse mungkin terjadi di
 lingkungan yang memiliki ekspresi emosional berlebihan. Stres yang 
dirasakan dari sikap keluarga menjadi penyebab relapse. Karena klien 
merasa, merekalah yang menjadi penyebab semua masalah bermasalah. </p>

<p>Klien pun kembali masuk ke siklus yang saya sebutkan tadi. Siklus relapse. </p>

<p>Salah satu cara untuk keluar dari pusaran siklus ini adalah dengan  mengikuti terapi bersama keluarga. Untuk lebih memahai apa penyebab  keluarga bertindak negatif terhadap anggota keluarga yang mengalami  disabilitas mental. Mengetahui apa sebenarnya yang menyebabkan beban  yang dirasakan. Dan perubahan-perubahan apa saja yang dirasakan oleh  keluarga selaku <em>caregivers</em> dan klien.</p>

<p>Kedepannya. Dengan mulai meningkatnya <em>awareness</em> mengenai beban <em>caregivers</em>
 ini. Perlu diubahnya model pelayanan yang berfokus kepada klien. 
Menjadi model pelayanan yang memiliki pendekatan kepada klien dan <em>caregivers</em>. </p>

<p>Saya juga memiliki saudara jauh penyandang disabilitas mental dan saya sedikit banyak paham beban yang dirasakan para caregivers. </p>

<p>Untuk saat ini tidak banyak yang bisa saya lakukan, selain meningkatkan <em>awareness</em> tentang masalah ini. Sembari membangun jejaring, sembari membangun kekuatan. Untuk mampu merubah sistem pelayanan kesehatan mental, dan pekerja sosial mampu berkolaborasi dengan profesi lain sebagai garda terdepan dalam preventif, curatif dan rehabilitatif.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Relasi Kuasa</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/relasi-kuasa</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/relasi-kuasa</guid><pubDate>Wed, 05 Jun 2019 12:23:43 +0000</pubDate><description>Jadi begini. Topik tentang relasi kuasa ini terus menerus terngiang di benak saya. Sejak tahun lalu saat ada kesempatan bekerja di SNPHAR (Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja) hasil kerjasama antara berbagai pihak. Saat itu pelaksanaan survei ini ...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Jadi begini.<br>Topik tentang relasi kuasa ini terus menerus terngiang di benak saya. Sejak tahun lalu saat ada kesempatan bekerja di SNPHAR (Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja) hasil kerjasama antara berbagai pihak. Saat itu pelaksanaan survei ini dinaungi oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.</p>

<img loading="lazy" width="1024" height="472" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/06/screenshot_20190605-092652_office-mobile.jpg?w=1024" alt="" class="wp-image-108" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/06/screenshot_20190605-092652_office-mobile.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/06/screenshot_20190605-092652_office-mobile.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/06/screenshot_20190605-092652_office-mobile.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/06/screenshot_20190605-092652_office-mobile.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/06/screenshot_20190605-092652_office-mobile.jpg?w=1440 1440w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/06/screenshot_20190605-092652_office-mobile.jpg 1560w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>

<p>Pada saat seminar tentang survei ini. Salah satu pemateri menjelaskan tentang relasi kuasa. Tapi sebelum sama-sama belajar tentang relasi kuasa ini, saya tunjukkan kesimpulan dari SNPHAR yang dilaksanakan pada tahun 2018 kemarin.</p>

<img loading="lazy" width="1024" height="472" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/06/screenshot_20190605-092844_office-mobile.jpg?w=1024" alt="" class="wp-image-109" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/06/screenshot_20190605-092844_office-mobile.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/06/screenshot_20190605-092844_office-mobile.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/06/screenshot_20190605-092844_office-mobile.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/06/screenshot_20190605-092844_office-mobile.jpg?w=768 768w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/06/screenshot_20190605-092844_office-mobile.jpg?w=1440 1440w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/06/screenshot_20190605-092844_office-mobile.jpg 1560w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>

<p>Survei ini dilakukan di seluruh Indonesia pada waktu itu. Jadi ini merupakan gambaran tentang bagaimana kekerasan dirasakan oleh anak-anak kita di Indonesia. Saya outline hasilnya.</p>

<strong>2 dari 3 anak-anak dan remaja perempuan atau laki pernah mengalami salah satu bentuk kekerasan sepanjang hidupnya.</strong></li>

<strong>Jenis kekerasan cenderung tumpang tindih. Antara kekerasan fisik, kekerasan emosional dan kekerasan seksual. </strong></li>

<strong>3 dari 4 anak-anak dan remaja yang pernah mengalami salah satu jenis kekerasan melaporkan bahwa pelaku kekerasan adalah teman sebayanya. </strong></li>
</ul>

<p>Cukup sedih kita melihat sedikit saja kesimpulan dari SNPHAR 2018 ini. Salah satu yang menjadi latar belakang anak-anak kita banyak yang mengalami kekerasan adalah relasi kuasa.</p>

<p>Ini ilustrasi sederhananya.</p>

<img loading="lazy" width="523" height="451" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/05/img-20190531-wa0002.jpg?w=523" alt="" class="wp-image-98" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/05/img-20190531-wa0002.jpg 523w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/05/img-20190531-wa0002.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/05/img-20190531-wa0002.jpg?w=300 300w" sizes="auto, (max-width: 523px) 100vw, 523px" /></figure>

<p>Relasi kuasa ini seringnya bersifat hierarkis. Relasi yang menciptakan kekuasaan satu pihak kepada pihak lainnya.</p>

<p>Pelaku selalu berkuasa atas korban. Korban punya kemungkinan menjadi pelaku, yang juga berkuasa atas korban lainnya. Begitu seterusnya, sampai ada di hierarki paling bawah. Biasanya apabila di dalam keluarga ada Istri dan Anak.</p>

<p>Istri dan anak berada di hierarki bawah. Konstruksi sosial budaya yang membuat mereka memiliki posisi seperti itu.</p>

<p>di Indonesia saja, dari beberapa daerah. Terdapat kesepakatan bersama bahwa posisi laki-laki, ada diatas perempuan. Meskipun laki-laki tidak bekerja, tidak punya penghasilan, kerjanya hanya tiduran. Tetap. Sesuai kesepakatan bersama, laki-laki adalah raja di dalam keluarga. </p>

<p>Relasi kuasa menempatkan laki-laki menjadi superordinat dari perempuan yang seringnya menjadi subordinatnya.</p>

<p>Pihak yang berada dalam posisi subordinat <strong>harus </strong>siap menerima perlakuan kekerasan yang mungkin dikenakan kepada mereka.</p>

<p>Relasi kuasa tidak selalu berdampak buruk. Tapi kemungkinan terjadinya <em>abuse of power </em>tinggi.</p>

<p>Sulitnya adalah kemungkinan budaya sekitar kita yang sudah mengiyakan kekuasaan yang disalahgunakan tersebut. Tidak ada sistem support yang bisa diajak berkonsultasi apabila ada penyalahgunaan kekuasaan. Kebiasaan untuk bungkam. Menjadi budaya bungkam yang berkembang pesat di masyarakat.</p>

<p>Budaya bungkam ini nanti saya coba sambung di tulisan selanjutnya.</p>

<p>Saya amati juga relasi kuasa ini sebenarnya dapat dibagi dua kategori lagi. <strong>Pertama</strong>, kategori relasi yang tidak sukarela. Biasanya terjadi pada relasi antara bos dan staffnya, dosen pembimbing dan mahasiswanya, orangtua dan anaknya. Ketetapannya sudah demikian, dan mungkin sulit untuk merubah kontrak relasi dalam relasi kuasa tipe pertama. <strong>Kedua</strong>, yang sukarela. Biasanya dapat dilihat dimana relasi berdasarkan kekaguman atau kesukaan. Sepasang kekasih, seorang individu yang menjadi fans seorang artis, relasi dalam kepanitiaan. Karena sukarela, terkadang lebih sulit menginformasikan kepada korban bahwa ada relasi kuasa yang tidak sehat di dalam kontrak relasinya.</p>

<p>Kontrak yang dari tadi saya sebutkan bukan berarti ada hitam di atas putih ya. Lebih kepada harapan seseorang yang ingin dicapai dalam relasi tersebut. Manfaatnya. Dan berbagai macam budaya yang ikut di dalam relasi tersebut.</p>

<p>Banyak sebenarnya yang bisa kita lakukan. Bukan hanya tugas salah satu profesi. Butuh kerja bersama. Untuk preventif, kuratif, dan rehabilitatif terhadap korban. Untuk mengurangi dampak buruk dari relasi kuasa yang disalahgunakan.</p>

<p>Hal kecil berdampak besar yang dapat kita lakukan adalah memperbaiki kontrak yang ada pada relasi-relasi yang telah kita miliki. Relasi positif perlu dibangun, tanpa terlalu memikirkan atribut sosial yang ada pada diri individu. Utamanya relasi yang bisa kita pengaruhi untuk ubah.</p>

<p>Maka dari itu saya pribadi membuat paksaan pada diri untuk jadi lebih mudah bersosialisasi dengan orang lain. Alasan membuka silaturahmi dengan banyak orang. Salah satu alasannya ya ini, memperbaiki dan memulai kontrak dalam relasi yang baik sejak awal.</p>

<p>Relasi tanpa kontrak <em>babibu</em>.</p>

<p>Relasi yang mutualisme.</p>

<p>Relasi dengan harapan rasional antar individu.</p>

<p>Menutup tulisan ini, dengan suasana Hari Raya yang masih terasa.</p>

<p>Saya Radityo Bimo Kartiko Aji. Memohon maaf lahir batin apabila ada kesalahan yang diperbuat baik sengaja maupun tidak disengaja.</p>

<p>Semoga kita masih bisa bertemu di ramadan selanjutnya.</p>

<img loading="lazy" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/06/20190605_121939.jpg" alt="" class="wp-image-114" /></figure>]]></content:encoded></item>
<item><title>Kesehatan Mental dan Sistem Pendukungnya</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/kesehatan-mental-dan-sistem-pendukungnya</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/kesehatan-mental-dan-sistem-pendukungnya</guid><pubDate>Sat, 01 Jun 2019 05:00:46 +0000</pubDate><description>Keinginan saya untuk menulis tentang kesehatan mental muncul lagi saat saya melihat ada lagi yang menjadi korban dari kesehatan mental dan dampak yang ditimbulkannya. Saya tahu infonya dari twitter. Bukan orang terdekat saya. Tapi bisa jadi, suatu saat itu dap...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Keinginan saya untuk menulis tentang kesehatan mental muncul lagi  saat saya melihat ada lagi yang menjadi korban dari kesehatan mental dan  dampak yang ditimbulkannya. Saya tahu infonya dari twitter. Bukan orang  terdekat saya. Tapi bisa jadi, suatu saat itu dapat terjadi. Kepada  saya. Kepada kamu. </p>

<img loading="lazy" width="1024" height="851" data-id="80" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/05/img_20190129_104251-1-1024x851.jpg?w=1024" alt="" class="wp-image-80" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/05/img_20190129_104251-1-1024x851.jpg 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/05/img_20190129_104251-1-1024x851.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/05/img_20190129_104251-1-1024x851.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/05/img_20190129_104251-1-1024x851.jpg?w=768 768w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>

<img loading="lazy" width="738" height="1024" data-id="81" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/05/img_20190129_104317-1-738x1024.jpg?w=738" alt="" class="wp-image-81" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/05/img_20190129_104317-1-738x1024.jpg 738w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/05/img_20190129_104317-1-738x1024.jpg?w=108 108w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/05/img_20190129_104317-1-738x1024.jpg?w=216 216w" sizes="auto, (max-width: 738px) 100vw, 738px" /></figure>

<img loading="lazy" width="485" height="1024" data-id="82" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/05/screenshot_2019-01-26-16-26-39-10-485x1024.png?w=485" alt="" class="wp-image-82" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/05/screenshot_2019-01-26-16-26-39-10-485x1024.png 485w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/05/screenshot_2019-01-26-16-26-39-10-485x1024.png?w=71 71w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/05/screenshot_2019-01-26-16-26-39-10-485x1024.png?w=142 142w" sizes="auto, (max-width: 485px) 100vw, 485px" /></figure>
</figure>

<p>Doa dari saya untuk beliau dan semoga orang-orang yang ditinggalkan, diberi kekuatan.</p>

<p>Ketertarikan saya kepada kesehatan mental semakin menjadi beberapa  tahun ini. Alasannya satu. Masyarakat masih banyak yang belum tahu dan  beberapa ada yang tidak mau tahu.Melihat ada individu yang berbeda  sedikit, langsung diberi label. Orang gila. </p>

<img loading="lazy" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/05/img_20190129_085606-1024x481.jpg" alt="" class="wp-image-83" /></figure>

<p>Keluarga yang merawat individu tersebut tidak jarang dijauhi. Pasung 
pun menjadi semakin marak. Meskipun banyak upaya dari pemerintah untuk 
melakukan pembebasan. Tidak mungkin semua lapisan masyarakat dapat 
tersentuh. Dapat sadar.  </p>

<p>Pengalaman saya pun pasung yang dilakukan semakin halus cara 
melakukannya. Meskipun itu juga disebut pasung. Pada sebuah desa di 
salah satu Kabupaten di Jawa Barat. Saya melihat sendiri, ada 
pemasungan. Tetapi tidak dengan menggunakan balok kayu dan rantai. Tapi 
dengan rumah. Dibuatkan rumah sendiri.</p>

<p>Tapi jauh dari masyarakat. Isolasi dari interaksi dengan manusia 
lain. Hanya didatangi untuk diberi makan dan minum. Beliau mungkin jauh 
lebih beruntung daripada teman-teman kita yang juga dipasung di luar 
sana.</p>

<h2 class="wp-block-heading">Tertekannya Sistem Sumber</h2>

<p>Pemerintah sebagai salah satu sistem sumber sudah berupaya untuk 
menyelesaikan permasalahan pemasungan ini. Deklarasi bebas pasung di 
beberapa provinsi dan tahun 2018 Kementerian Sosial sudah memiliki 
formasi Pendamping Penyandang Disabilitas di tiap kabupatennya. 
Melakukan penjangkauan kepada teman-teman penyandang disabilitas bekerja
 sama dengan Dinas Sosial setempat.</p>

<p><em>but&nbsp;we&nbsp;all&nbsp;know.&nbsp;The&nbsp;government.&nbsp;At&nbsp;this&nbsp;time,&nbsp;can&nbsp;only&nbsp;do&nbsp;so&nbsp;much.</em></p>

<p>Maka dari itu peran dari sistem sumber yang lain juga semakin 
dikampanyekan. Terutama sumber informal. Sumber yang terdekat dan 
mungkin paling mudah diakses. Keluarga. </p>

<p>Ketergantungan terhadap sumber informal ini yang biasanya terjadi. 
Dalam setting pelayanan rumah sakit apabila seorang pasien sudah tidak 
memiliki indikasi rawat maka pasien akan dikembalikan ke keluarga. Nah 
disini sering datang tekanan tiba-tiba untuk keluarga dari pasien 
disabilitas mental. </p>

<p>Tekanannya bisa bermacam-macam. Dihujat atau dijauhi oleh tetangga. 
Kebingungan merawatnya (meski cek berkala ke pusat kesehatan beberapa 
waktu sekali). Tidak mau mengurus sehari-hari. Malu.</p>

<p>Apalagi kalau sudah ada labeling seperti cuplikan koran di atas. 
Dampaknya tidak hanya kepada individu disabilitas mental. Tapi juga 
sangat bisa berdampak kepada keluarganya. </p>

<p>Keluarga yang belum siap dan belum paham lebih tepatnya. Saya pun 
sedikit banyak juga mencoba mengerti. Tidak ada satupun orang di dunia 
ini yang mau terdiagnosis seperti itu.</p>

<p>Hal-hal seperti diatas yang menjadi salah satu faktor pendorong 
keluarga mengalami kejenuhan dan akhirnya mengalami burnout dalam 
melakukan perawatan. Pemikiran ini pun yang kemudian diturunkan ke 
tiap-tiap generasi. Disebarkan ke tiap-tiap lapisan masyarakat. Menjadi 
wabah tersendiri. Bahwa “merawat penyandang disabilitas mental itu 
berat”. Dan tidak salah juga pemikiran seperti itu.” </p>

<p>Wabah pemikiran ini yang kemudian mempengaruhi keluarga-keluarga yang lain. Menimbulkan ketakutan.</p>

<p>Maka dari itu sebenarnya penting sekali dibentuk semacam forum 
komunikasi bagi keluarga pasien yang memiliki diagnosis yang sama. 
Berbagi infomasi dan saling <em>support</em> satu sama lain. Intinya untuk penguatan bagi keluarga. Dan agar mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian.</p>

<h2 class="wp-block-heading">Utara dan Selatan</h2>

<p>Ketakutan muncul dari keluarga terhadap penyandang disabilitas 
mental. Terutama mengenai “beban” yang mungkin ditimbulkan bila ada 
anggota keluarganya yang didiagnosis. Takut juga mendapatkan labeling 
dari masyarakat sekitar.</p>

<p>Sayangnya ketakutan ini belum diimbangi dengan pengetahuannya. 
Tentang pencegahan dan juga perawatannya. Hal yang sering tidak terlihat
 saja seperti komunikasi. Terkadang disepelekan. Terkadang saya juga 
menyepelekan. </p>

<p>Pernah dalam suatu waktu ada teman yang bercerita serius, dan 
kemudian tanggapan dari lawan bicaranya adalah, “Ya elah bro, gitu aja 
lu pusing. Gue nih …..” menceritakan masalahnya yang dianggap lebih 
berat dan betapa hebatnya sang lawan bicara dalam menangani masalah. </p>

<p>Sayangnya, di berbagai kasus. Bukan itu yang dicari oleh si teman 
tersebut. Mereka butuh di dengar. Mereka butuh saran yang konstruktif, <strong>bila&nbsp;membutuhkan</strong>.</p>

<p>Pada setting keluarga pun terjadi. Si anak menceritakan bahwa dirinya dirundung/di-<em>bully&nbsp;</em>oleh
 teman-teman sekolahnya. Respon dari orangtuanya adalah “Yaudah biarin, 
itu cuma main-main.” atau “gausah dipikirin yang kaya itu, tugas kamu 
itu belajar yang pintar di sekolah”. Si anak pun menjadi pendiam. Cerita
 ke orangtua, tidak didengar. Cerita ke teman, dianggap <em>cemen</em>. 
Cerita ke guru, nanti dibilang pengadu oleh teman-teman. Akhirnya sampai
 beliau didiagnosis skizofrenia. Dan harus menjalankan hidupnya dibantu 
obat-obatan dan menjadi kurang dapat mandiri. </p>

<p>Di salah satu sisi. Kebiasaan bungkam diagungkan di keluarga. “Kamu engga usah cerita ke orang lain masalah kamu, malu.”</p>

<p>Di lain sisi, saat cerita keluarganya sendiri. Ceritanya sering dianggap tidak penting.</p>

<p>Ini yang mungkin bisa saya ubah. Yang mungkin bisa kita ubah. Bersama-sama. Lebih peduli terhadap sesama. Lebih peka terhadap sesama. Karena dalam mencapai kebahagiaan tidak ada kompetisi. Maka, kenapa kita tidak saling membantu untuk mencapai kebahagiaan masing-masing yang jalannya sudah ada masing-masing.</p>

<p>Toh kalau hidup diibaratkan bersepeda. Memang untuk melaju kita harus kayuh terus pedalnya. Tapi apa salahnya dalam suatu waktu. Kita parkir sepeda kita dan bersama-sama dengan orang lain berusaha menikmati pemandangan yang telah disajikan.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Persona</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/persona</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/persona</guid><pubDate>Fri, 31 May 2019 06:00:49 +0000</pubDate><description>Persona setiap orang tentu berbeda-beda. “wajah” atau “topeng” yang ditunjukan dari seorang individu kepada individu lainnya mungkin tidak akan sama. Tergantung situasi, kondisi dan yang paling penting adalah tujuan yang ingin dicapai dari penunjukan persona t...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Persona setiap orang tentu berbeda-beda. “wajah” atau “topeng” yang 
ditunjukan dari seorang individu kepada individu lainnya mungkin tidak 
akan sama. Tergantung situasi, kondisi dan yang paling penting adalah 
tujuan yang ingin dicapai dari penunjukan persona tersebu, ada sebuah&nbsp;<em>Proverb&nbsp;</em>yang saya cukup sering saya lihat di Internet. Bunyinya seperti berikut:</p>

<p>“The Japanese say you have three faces. The first face,  you show to the world. The second face, you show to your close friends,  and your family. The third face, you never show anyone. It is the truest  reflection of who you are.”</p>

<p>“Orang Jepang bilang bahwa kamu memiliki tiga wajah. Wajah pertama  kamu tunjukkan kepada dunia. Wajah kedua kamu tunjukkan kepada teman  dekatmu dan keluargamu. Wajah ketiga tidak pernah kamu tunjukkan kepada  siapapun. Wajah terakhir ini yang menjadi refleksi terjujur dari  dirimu.”</p>
</blockquote>

<p>Saya pribadi sedikit mengiyakan apa yang ditulis diatas.</p>

<h3 class="wp-block-heading">Wajah Pertama (Paling sering ditunjukkan sehari-hari)</h3>

<p>Wajah pertama kita tunjukan kepada dunia. Ini wajah yang setiap hari 
kita tampilkan saat ada di masyarakat atau wajah yang kita tunjukkan di 
media sosial kita dengan tujuan untuk berinteraksi dengan orang lain. 
Persona yang ditampilkan meskipun terkadang berbeda sesuai kondisi, tapi
 menurut saya pribadi pasti akan memiliki pola.</p>

<p>Jadi, apa sebenarnya wajah pertama ini? Menurut saya wajah pertama 
ini adalah norma-norma sosial yang ada di masyarakat. Perilaku-perilaku 
yang diterima oleh masyarakat dan peraturan-peraturan yang mengikat 
seseorang. Seseorang akan berusaha untuk mengikuti nilai-nilai ini dalam
 kondisinya yang mengikat dan disaat yang sama mungkin akan kesal karena
 dirinya mengikuti nilai ini.</p>

<p>Contohnya, Kita dalam suatu kepanitiaan atau organisasi mungkin saja 
akan menunjukkan dedikasi yang tinggi, datang tepat waktu, menghormati 
atasan tetapi pada saat yang bersama sering “ngata-ngatain” rekan-rekan 
kita atau sering curhat sebenarnya kita malas untuk berada di dalam 
kepanitiaan atau organisasi tersebut.</p>

<p>Meskipun tidak bisa digeneralisasi, tujuan kita yang menjadi faktor penyebab kita menunjukan persona <strong>apa</strong> pada <strong>siapa</strong> disaat <strong>bagaimana</strong>.
 Pasti ada saja orang yang meski memiliki amanah di suatu organisasi 
atau kepanitiaan tetapi tidak menunjukan perilaku yang diharapkan oleh 
nilai-nilai dalam organisasi atau kepanitiaan tersebut. Datang telat, 
Tidak mengerjakan tugasnya, Sulit dihubungi. Semuanya tergantung tujuan.
 Bila dirinya tidak menemukan tujuannya atau tidak ada yang dihasilkan 
dari tujuan-tujuannya, bukan tidak mungkin seseorang itu akan menunjukan
 persona yang berbeda dengan yang diharapkan oleh nilai-nilai yang ada.</p>

<h3 class="wp-block-heading">Wajah Kedua (sering ditunjukkan ke keluarga atau orang terdekat)</h3>

<p>Wajah kedua kita tunjukkan kepada keluarga atau orang-orang terdekat 
yang kita sayangi dan kita perhatikan. Bisa saja melambangkan rasa 
hormat, rasa cinta, sayang, perhatian dan lain sebagainya. Wajah kedua 
menurut saya lebih sering kita tunjukkan secara tidak sadar. Kenapa 
wajah atau persona? karena terkadang kita menunjukkan hal ini bahkan 
lebih dari kemampuan diri kita sendiri atau lebih dari yang dibutuhkan 
oleh yang menerimanya. Hal ini kita lakukan agar keluarga atau orang 
yang kita sayang bahagia, agar mereka tidak khawatir. Tentu saja hal ini
 pun dapat berlaku sebaliknya.</p>

<p>Bisa saja seseorang dibilang “brengsek” di depan umum berdasarkan 
wajah pertamanya, tetapi dengan keluarga dan orang-orang yang disayang 
sikapnya 180%.</p>

<p>atau sebaliknya</p>

<p>bisa saja seseorang ramah atau karismatik di depan umum berdasarkan wajah pertamanya, tetapi sikapnya kepada keluarganya buruk.</p>

<p>Maka dari itu wajah pertama dan wajah kedua mungkin saja tidak 
sejalan. Meskipun tidak sejalan, mau tidak mau; suka tidak suka. Itulah 
persona yang kita munculkan.</p>

<h3 class="wp-block-heading">Wajah Ketiga</h3>

<p>Wajah ketiga adalah gambaran diri kita sebenarnya. Sikap dan Perilaku
 yang asli. Cara berpikir kita, sesuatu yang ingin kita lakukan dan cara
 kita melakukan sesuatu tersebut tanpa memperdulikan nilai-nilai yang 
ada atau pandangan orang terhadap cara kita. Semuanya hanya diketahui 
oleh wajah ketiga kita ini dan tidak akan ada orang lain yang 
mengetahuinya, sekuat apapun kita ingin orang lain mengetahuinya. Karena
 ini adalah diri kita sebenarnya dan hanya kita yang mampu memahaminya. 
Wajah ini yang “mengata-ngatain” orang saat wajah pertama kita 
tunjukkan, wajah ini juga yang berusaha selalu tersenyum kepada orang 
tua atau orang yang kita sayang meskipun sebenarnya kita terluka untuk 
kebahagiaan mereka.</p>

<p>Wajah-Wajah diatas semuanya pasti kita miliki, tapi memang tergantung
 dari kemampuan setiap orang untuk membagi-bagi wajah yang akan mereka 
tunjukkan; terutama wajah pertama mereka. Hal yang perlu digarisbawahi 
adalah agar jangan sampai terjebak dengan wajah pertama.</p>

<h3 class="wp-block-heading">Jangan Terjebak Persona</h3>

<p>Iya mungkin nyaman menjadi populer, menjadi idola, dihormati semua 
orang karena persona kita yang sebisa mungkin agar sesuai dengan 
nilai-nilai yang ada. Hal yang sangat baik bila kita dapat melakukannya,
 tetapi jangan lupa akan wajah ketiga kita. Gambaran diri kita 
sebenarnya juga perlu diperhatikan. <em>Do something that makes you happy</em>.</p>

<p>Baik untuk membuat orang lain senang, tetapi akan jauh lebih baik 
kalau diri kita sendiri juga senang melakukannya; untuk jiwa yang sehat 
dan diri yang lebih baik. Kesehatan mental kita juga perlu diperhatikan.
 Jangan sampai untuk memenuhi tuntutan orang lain, kita sendiri jadi 
lupa untuk dapat bahagia.</p>

<p>Karena percayalah, saat kita jatuh, <strong>akan sangat memungkinkan</strong> tidak akan ada orang yang peduli, karena semua orang mempunyai masalah-masalahnya masing-masing yang juga perlu mereka hadapi.</p>

<p>Jadi, punya berapa wajah kamu hari ini? dan persona apa yang kamu sering tunjukkan?</p>

<p>Kalau saya punya sepertinya punya beberapa wajah, dan persona yang paling sering saya  tunjukkan adalah seseorang yang menyebalkan kepada teman dekat,  cenderung acuh terhadap orang yang belum dikenal, ramah bila sudah  kenal.</p>

<p>Tapi, apa itu diri saya sebenarnya?</p>

<p>yang bisa saya jawab adalah, hal tersebut merupakan persona saya untuk anda.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Jangan Menyembuhkan</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/jangan-menyembuhkan</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/jangan-menyembuhkan</guid><pubDate>Thu, 30 May 2019 05:00:37 +0000</pubDate><description>Fenomena burnout satu dekade belakang ini semakin mencuat. Memasuki masa revolusi industri, dimana setiap orang dituntut untuk melakukan segalanya dengan efektif dan efisien. Hal ini membuat setiap orang berlomba-lomba melakukan pekerjaan terbaiknya. Atau seba...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Fenomena burnout satu dekade belakang ini semakin mencuat. Memasuki  masa revolusi industri, dimana setiap orang dituntut untuk melakukan  segalanya dengan efektif dan efisien. Hal ini membuat setiap orang berlomba-lomba  melakukan pekerjaan terbaiknya. Atau sebaliknya, berlomba-lomba mencari  cara agar dapat melakukan pekerjaannya dengan sesuai dan menghindari  hukuman. </p>

<p>Benar atau salah. Bukan posisi saya untuk menilai. </p>

<p>Burnout ini fenomena yang menarik. Punya banyak faktor yang 
mempengaruhinya.  Maka dari itu untuk skripsi pun, burnout saya ambil 
sebagai variabel utama. Saya beruntung. Sembari menyelesaikan studi saya
 di sebagai Pekerja Sosial. Saya bisa belajar banyak dari kedua informan
 saya. Mengenai makna profesi. Mengenai makna menolong. Dan mengenai 
harapan. </p>

<p>Saya berikan deksripsi singkat dahulu mengenai kedua informan saya 
ini. Keduanya sudah berprofesi sebagai pekerja sosial dalam suatu 
setting yang saya favoritkan. Dari akhir tahun 80-an dan awal 90-an. 
Awalnya ada empat orang formasi pekerja sosial. Pada awal 2000-an 
akhirnya tinggal beliau berdua. </p>

<p>Permasalahannya adalah mereka sudah lama sekali tidak naik pangkat. 
Banyak faktornya juga. Pekerja sosial yang senior sudah 17 tahun tidak 
naik pangkat. </p>

<p>Pertama kali dengar. Saya sudah membuat asumsi sendiri. Pasti mengalami burnout  berat ini. Pasti. Begitu jumawanya saya. Tiba-tiba menjadi sok tau  tentang pengalaman hidup seseorang. </p>

<p>Profesi pelayanan kemanusiaan seperti pekerja sosial memang rentan 
mengalami burnout. Karena yang menjadi klien kita bukan benda mati yang 
tidak bisa bicara. Klien pekerja sosial adalah manusia. Yang punya masa 
lalu berbeda. Yang punya masalah berbeda. </p>

<p>Tulisan ini tidak untuk membahasa mendalam tentang burnout. </p>

<p>Satu hal yang paling saya ingat. Dan saya mau bagi, kata beliau:</p>

<p>“Di profesi kita itu mindset harus diubah. Jangan mau menyembuhkan kamu Bim. Kamu merawat.”</p>

<p>Awalnya saya juga tidak <em>ngeh</em> maksud kalimat ini. Sampai saya mendengarkan rekaman suara di malam harinya untuk membuat transkrip wawancara. </p>

<p>Kemudian saya pahami kembali kalimat tersebut. Baru saya bisa sedikit banyak mengambil maksud dari kalimat beliau. </p>

<p>Kalau kita meyakini tugas kita sebagai penyembuh. Maka kita akan 
mudah mengalami kekecewaan. Berkali-kali. Sepanjang bekerja, tidak 
mungkin semua pasien yang kita tangani bisa pulih. Bisa sembuh. </p>

<p>Namun kalau kita ubah mindset kita untuk memberikan perawatan. Kita 
tidak perlu takut gagal. Karena meskipun kita tidak dapat memulihkan 
klien ke kondisi seperti dulu. Setidaknya kita sudah memberikan 
perawatan.</p>

<p>Indah memang. Namun kemudian realita memukul kembali. Karena kita pasti beradu dengan harapan. Harapan dari klien dan harapan dari keluarga pasien. Saat intervensi yang dilakukan tidak memberikan kemajuan.</p>

<p>Dan lagi kemungkinan besar bertabrakan dengan <strong>kebijaksanaan</strong> tempat kita bekerja, yang terkadang masih melihat proses pelayanan itu harus instan.</p>

<p>Hidup memang tidak seindah perkataan orang-orang. Tapi hei, setidaknya kata-kata tersebut mampu merubah sudut pandang kita dalam menjalani hidup. Untuk menyesuaikan ekspektasi. Demi diri sendiri. Demi lembaga. Dan juga demi klien.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Toleransi dalam Berperan</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/toleransi-dalam-berperan</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/toleransi-dalam-berperan</guid><pubDate>Wed, 29 May 2019 05:17:59 +0000</pubDate><description>Pekerja sosial dilihat dari tujuan adanya profesi ini, sering dikaitkan dengan pengembalian atau perbaikan keberfungsian sosial atau social functioning dari individu, keluarga, kelompok ataupun masyarakat. Keberfungsian sosial erat kaitannya dengan peran dan n...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Pekerja sosial dilihat dari tujuan adanya profesi ini, sering dikaitkan dengan pengembalian atau perbaikan keberfungsian sosial atau&nbsp;<em>social functioning</em>&nbsp;dari individu, keluarga, kelompok ataupun masyarakat.&nbsp;Keberfungsian sosial erat kaitannya dengan peran dan nilai-nilai yang ada di masyarakat.</p>

<p>Kementerian Sosial sendiri menyebutkan bahwa yang disebut<a href="https://www.kemsos.go.id/content/keberfungsian-sosial">&nbsp;keberfungsian sosial</a> adalah:</p>

<p>Kemampuan seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupan, memenuhi kebutuhan, dan mengatasi masalah</p>
</blockquote>

<p>Jadi bisa dipahami keberfungsian adalah kondisi individu untuk memenuhi tugas-tugas kehidupan, memenuhi kebutuhan dan mengatasi masalah kita menggunakan peran-peran dengan segala macam indikator peran yang baik disematkan kepada kita.</p>

<p>Suka tidak suka.</p>

<p>Seorang Ayah/Ibu/Anak bahkan pekerja sosial dalam menjalankan perannya, baik buruknya akan dinilai secara tidak langsung oleh masyarakat. Ayah yang baik itu harus lantang, harus begini harus begitu.</p>

<p>Masyarakat yang menciptakan nilai-nilai, masyarakat pula yang menyepakati nilai-nilai tersebut, dan kita sebagai bagian dari masyarakat berarti juga terlibat dalam pembentukan ini.</p>

<p>yang ingin saya gambarkan diatas adalah bagaimana nilai-nilai yang ada di masyarakat sangat mempengaruhi peran-peran individu di dalam lingkungannya.</p>

<h2 class="wp-block-heading">Toleransi dalam Profesi Pekerjaan Sosial</h2>

<p>Kembali ke Toleransi terutama kaitannya dengan profesi pekerjaan sosial.</p>

<p>Kalau kita bicara mengenai pekerja sosial sebagai sebuah profesi, maka kita bicara pekerja sosial sebagai profesi professional yang terikat oleh&nbsp;<em>body of knowledge, body of value dan body of skill</em>.</p>

<p><em>Body of value</em>&nbsp;ini yang didalamnya ada pertemuan antara kode etik pekerja sosial dan juga nilai norma yang ada di masyarakat.</p>

<p>Pertemuan ini juga yang menjadi pertanyaan saya? sejauh mana perbandingan kode etik dan nilai norma ini mempengaruhi seorang pekerja sosial dalam memberikan pelayanannya.</p>

<p>Coba kita ambil salah satu contoh kasus.</p>

<p>Kasus LGBTQ, dimana mayoritas penduduk Indonesia setuju bahwa rekan-rekan dari komunitas LGBTQ tidak melakukan hal yang benar sesuai dengan nilai dan norma yang ada di masyarakat, dianggap tabu atau tidak sesuai dengan kodrat yang diberikan Sang Pencipta.</p>

<p>Nilai-nilai yang ada di masyarakat menyepakati bahwa rekan-rekan dari komunitas LGBTQ itu menyalahi kesepakatan bersama.</p>

<p>Nah, sekarang coba saya kutip dari pembukaan Kode Etik Profesi Pekerjaan Sosial dari website&nbsp;<a href="http://ipspi.org/index.php/7-materi/334-kode-etik-profesi-pekerjaan-sosial">IPSPI</a></p>

<p>“Profesi pekerjaan sosial <strong>menempatkan kaidah-kaidah hak asasi manusia</strong>, demokrasi, dan keadilan sosial sebagai landasan dan motivasi bagi tiap-tiap pekerja sosial untuk mengakui keunikan dan kesetaraan setiap orang dan oleh karenanya menghargai harkat dan martabat serta tanggung jawab sosial.”</p>
</blockquote>

<p>Pekerja sosial menempatkan kaidah hak-hak asasi manusia dan mengakui keunikan dan kesetaraan setiap orang. Itu amanat yang ada di salah satu paragraf pembukaan kode etik. Hemat saya, berarti pekerja sosial harus menghargai keunikan orang lain dan menjunjung tinggi kesetaraan dari setiap orang. Terlepas dari agama, ras, jenis kelamin, gender dan orientasi seksual.</p>

<p>Meskipun sebenarnya kode etik profesi tidak bisa hanya disimpulkan dari satu paragfraf saja, yang saya angkat adalah bagaimana kesetaraan tiap orang dan keunikan-keunikannya dijunjung tinggi oleh profesi pekerja sosial.</p>

<h2 class="wp-block-heading">Dilema</h2>

<p>Dilema yang bisa muncul adalah bagaimana seorang pekerja sosial sebagai sebuah profesi menyeimbangkan nilai-nilai ini, dan bagaimana outputnya nanti terhadap proses pelayanan yang diberikan?</p>

<p>Tentu saja nilai-nilai pribadi dari individu seorang pekerja sosial juga akan mempenagruhi, tapi coba kita taruh individu pekerja sosial ini adalah orang yang populis. Mengikuti apa yang orang banyak katakan dan lakukan, meskipun belum tentu benar.</p>

<p>Apa si pekerja sosial ini salah bila tidak mau melayani teman-teman dari komunitas LGBTQ?</p>

<p>Atau justru sebaliknya, pekerja sosial tadi bisa dibilang menyalahi kode etik pekerja sosial?</p>

<p>Jadi sampai sejauh mana toleransi ini ditempatkan dalam profesi pekerja sosial?</p>

<p>Atau sejauh mana nilai-nilai di masyarakat ini mempengaruhi peran sebagai pekerja sosial dalam diri seorang individu?</p>

<p>Seandainya ada solusi, apa yang harus dilakukan seorang pekerja sosial untuk menyeimbangkan pemenuhan perannya tanpa menciderai salah satu nilai yang mengikatnya?</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Rumus Perubahan</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/rumus-perubahan</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/rumus-perubahan</guid><pubDate>Tue, 28 May 2019 14:45:00 +0000</pubDate><description>Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial RI dalam paparannya mengatakan “if you can’t measure it, you can’t improve it.” Jika kamu tidak dapat mengukurnya, maka kamu tidak dapat meningkatkannya. Masuk akal memang. Bagaimana kita mau melakukan p...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial RI dalam paparannya mengatakan &#8220;if you can&#8217;t measure it, you can&#8217;t improve it.&#8221; Jika kamu tidak dapat mengukurnya, maka kamu tidak dapat meningkatkannya.</p>

<p>Masuk akal memang. Bagaimana kita mau melakukan peningkatan, kalau kondisi saat ini saja kita belum tahu sedang dalam tahap apa. Hal ini dapat dikaitkan juga dengan masalah sosial seperti kemiskinan. Kalau kita berada di dalam masyarakat yang mayoritasnya memang pra sejahtera, dibawah rata-rata pendapatan warga Indonesia. Maka lambat laun kita akan mengkonfirmasi bahwa kondisi yang ada ini adalah sebuah kondisi yang seharusnya.</p>

<p>Sama juga dengan budaya kerja. Bila kita bekerja di tempat dengan budaya kerja &#8220;ajaib&#8221;. Dan mayoritas staff lainnya sudah terkena &#8220;virus&#8221; ajaib, maka bukan hal yang mustahil kita nantinya akan terkena virus yang &#8220;ajaib&#8221; ini.</p>

<p>Lalu seandainya ada dokter yang ingin menyembuhkan virus ini, tentunya harus dilakukan asesmen terlebib dahulu. Untuk tahu apa penyebabnya, untuk tahu apa yang bisa diubah.</p>

<p>&#8220;If you can&#8217;t measure it, you can&#8217;t improve it&#8221;</p>
</blockquote>

<p>Rumus perubahan sebenarnya bukan sebuah rumus yang saklek dan tertulis dalam buku-buku pekerjaan sosial. Tapi rumus ini saya dapatkan secara lisan dari mata kuliah Pekerjaan Sosial dengan Masyarakat yang pada waktu itu diampu oleh Bapak Aribowo di STKS Bandung.</p>

<h1 class="wp-block-heading">Tahu</h1>

<p>Variabel pertama dari rumus perubahan ini adalah Tahu. Individu, keluarga, kelompok atau masyarakat tahu tentang tiga hal:</p>

Kondisi mereka</li>

Kondisi ideal</li>

Menyadari bahwa perlu adanya suatu perubahan</li>
</ul>

<p>Tahap pertama ini merupakan tahap yang paling krusial menurut saya. Tahap penyadaran bahwa mereka sebenarnya bermasalah. Perlu seni tersendiri dalam mengungkap tahap pertama ini.</p>

<p>Mudah apabila klien yang ditangani adalah klien yang datang sendiri kepada pekerna sosial. Yang menjadi seni tersendiri adalah apabila klien adalah klien yang <em>terpaksa</em>. Terpaksa karena dirinya sedang dalam penanganan instansi tertentu, yang mewajibkan perlunya ada penanganan pekerja sosial.</p>

<p>Dihindari kondisi dimana klien dapat tersinggung dengan masalahnya sendiri. Karena seringnya klien tidak siap mendengarkan masalahnya sendiri. Tidak siap mengakui bahwa dirinya bermasalah. <em>Denial</em>.</p>

<p>Setelah sasaran intervensi sudah memahami rumus TAHU ini, maka pekerja sosial atau fasilitator dapat bergerak ke rumus selanjutnya dalam memberikan pelayanan.</p>

<h1 class="wp-block-heading">Mau</h1>

<p>Bergeraklah kita dalam tahap yang kedua di dalam rumus perubahan. Mau.</p>

<p>Setelah klien <strong>tahu</strong> tentang masalahnya. Tentang kondisinya, dan mampu mengukur dirinya sendiri dengan dibandingkan dengan pembanding yang realistis. Maka pekerja sosial perlu memberikan penguatan-penguatan agar <strong>ketahuan</strong> klien ini dapat dikonversi dengan bahan bakar <strong>kemauan</strong>.</p>

<p>Disini peran pekerja sosial cukup besar, dan dapat dibilang tantangannya cukup rumit.</p>

<p>Karena kita ketahui bersama. Banyak diantara kita, termasuk saya sendiri yang sebenarnya tahu bahwa ada masalah, tetapi tidak memiliki kemauan untuk mengubahnya.</p>

<p>Entah karena kesibukan, tidak ada sumber daya, atau sekedar memang tidak mau untuk melakukan perubahan.</p>

<p>Saya sendiri awalnya cukup sederhana menjelaskan kepada klien-klien saya. Saya sampaikan, &#8220;semua orang bisa direhabilitasi, tapi belum tentu semua orang bisa pulih.&#8221;</p>

<p>Karena rehabilitasi sosial memang diwajibkan bagi klien, tetapi kepulihan klien ke kondisi awal sebelum adanya masalah adalah pilihan dari masing-masing individu. Harapan saya dengan menyampaikan seperti itu, menjadi <em>trigger</em> awal agar klien mau secara sukarela ikut andil dalam menentukan masa depannya.</p>

<p>Kami sebagai pekerja sosial hanya memfasilitasi perubahan-perubahan bagi klien melalui kegiatan dan terapi yang sudah disusun. Dan biasanya hanya antara 3 sampai dengan 6 bulan. Selebihnya dari waktu tersebut adalah keputusan klien.</p>

<p>Apa si klien akan tetap di jalan hidupnya yang rawan berpapasan dengan masalah, atau mau berubah mencari jalan lain yang lebih sesuai.</p>

<p>Seandainya juga tidak tumbuh kemauan dalam dirinya, biasanya peran <em>significant others</em> dari lingkungan klien yang dapat digerakkan untuk membantu memecahkan masalah klien.</p>

<p>Pendekatan setiap orang akan berbeda dalam menangani klien, dan itu akan terlihat bagaimana dia mengubah klien yang sebelumnya <strong>tahu </strong>tentang masalahnya menjadi <strong>mau </strong>untuk merubah masalahnya.</p>

<h1 class="wp-block-heading">Mampu</h1>

<p>Mampu adalah tahap terakhir dalam rumus perubahan sederhana ini. Setelah klien <strong>tahu </strong>tentang masalahnya. <strong>Mau </strong>untuk melakukan perubahan akan masalahnya. Maka tahap terakhir adalah pekerja sosial membantu klien agar <strong>mampu </strong>melakukan perubahan terhadap masalahnya.</p>

<p>Peran pekerja sosial disini tidak seberat dua peran sebelumnya menurut saya, meskipun juga masih sangat-sangat penting. Karena klien sudah tahu masalahnya dan mau untuk melakukan perubahan untuk menangani masalahnya.</p>

<p>Maka tugas utama pekerja sosial adalah meningkatkan kapasitas klien dalam memenuhi kebutuhannya guna menghadapi masalah-masalahnya. Intervensi yang dilakukan pun kasuistik tergantung masalah yang dialami oleh klien.</p>

<h1 class="wp-block-heading">Akhir</h1>

<p>Apabila diibaratkan rumus perubahan ini dalam kegiatan menyalaman api unggun.</p>

<p>Tahap <strong>tahu</strong>, adalah tahap individu mengetahui bahwa api tidak menyala dan udara sudah mulai dingin. Individu ini tahu apabila tidak ada api menyala maka ada masalah yang dapat timbul seperti hypotermia dan serangan hewan buas.</p>

<p>Tahap <strong>mau</strong>, tahap mau adalah seseorang sudah mengetahui bahwa tanpa adanya api, malam hari akan berbahaya. Dan muncul keinginan dari dirinya untuk membuat api. Sudah bertekad bulat untuk mencari ranting kayu.</p>

<p>Tahap <strong>mampu</strong>, adalah tahap dimana individu mampu mencari kayu yang dapat digunakan menjadi bahan membuat api. Membuat bara api dengan alat-alat yang ada, dan membesarkan juga menjaga api agar tetap menyala.</p>]]></content:encoded></item>
<item><title>Tentang Perbandingan</title><link>https://masbimo.pages.dev/tulisan/tentang-perbandingan</link><guid isPermaLink="true">https://masbimo.pages.dev/tulisan/tentang-perbandingan</guid><pubDate>Mon, 27 May 2019 23:02:34 +0000</pubDate><description>Beberapa waktu kebelakang. Dalam waktu yang sempit. Saya diberi kesempatan mempelajari hal lebih banyak daripada biasanya. Belajar dari orang lain dan belajar dari diri sendiri. Belajar dari media, belajar dari kerusuhan, belajar dari kemalangan orang, belajar...</description><content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu kebelakang. Dalam waktu yang sempit. Saya diberi kesempatan mempelajari hal lebih banyak daripada biasanya. Belajar dari orang lain dan belajar dari diri sendiri. Belajar dari media, belajar dari kerusuhan, belajar dari kemalangan orang, belajar dari kebahagiaan kelompok. Belajar mengukur kecukupan diri sendiri. Agar bisa meningkatkan kapasitas diri. </p>

<img loading="lazy" width="770" height="355" src="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/05/20190527_192349.jpg?w=770" alt="" class="wp-image-18" srcset="https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/05/20190527_192349.jpg?w=770 770w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/05/20190527_192349.jpg?w=1540 1540w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/05/20190527_192349.jpg?w=150 150w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/05/20190527_192349.jpg?w=300 300w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/05/20190527_192349.jpg?w=1024 1024w, https://jurnalbimo.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/05/20190527_192349.jpg?w=1440 1440w" sizes="auto, (max-width: 770px) 100vw, 770px" /></figure>

<p>Ada satu hal yang mungkin dapat menjadi konsep kunci dari pembelajaran saya seminggu kebelakang ini. Kata kuncinya adalah Perbandingan.</p>

<p>Selama bekerja sebagai Pekerja Sosial. Baik sebagai pekerja sosial medis maupun pekerja sosial anak. Sadar atau tidak. Bahwa salah satu banyak faktor penyebab masalah manusia adalah adanya pembanding. Adanya objek yang dibandingkan. Utamanya dengan diri sendiri yang dibanding-bandingkan dengan orang lain. Perbandingan-perbandingan ini yang menyebabkan ketidakbahagiaan. Menyebabkan masalah yang sebenarnya tidak ada. Masalah laten menjadi masalah yang nyata. Menaikan potensi masalahnya.</p>

<p>Lagipula memang itu definisi masalah. Ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan.</p>

<p>Kita coba gambarkan dalam sebuah <strong>contoh </strong>kasus. Misalnya di salah satu daerah di Indonesia. Ada sebuah daerah yang tingkat pendidikannya tidak tinggi. Perilaku berhadapan dengan hukum tinggi dilakukan anak-anak. Pernikahan sedarah cukup tinggi. Hamil di luar nikah tinggi pula. Anak-anak menjadi korban dari sistem yang sudah ada. Sistem yang sudah <em>settle</em> secara mandiri, dan sepertinya akan sulit diubah. Oleh siapapun dengan cara bagaimanapun. </p>

<p>Karena adanya sistem budaya yang demikian. Generasi ke generasi mencetak manusia yang hampir sama pula. Sehingga mayoritas masyarakat sesuai dengan cetakan yang sudah ada. Seandainya generasi tersebut belum bisa dibilang unggul, berarti mayoritas masyarakat disekitarnya juga belum unggul. </p>

<p>Generasi-generasi baru kehilangan <em>role model</em> yang unggul. Karena melihat lingkungan sekitarnya juga rata-rata sama dengan dirinya. Salah satu media melihat dan mencari <em>role modelnya</em> hanya TV. Dimana informasi yang diberikan belum tentu selalu sesuai, karena mereka harus mengejar rating. Tidak peduli kualitas pengisi acara, asal ramai, maka akan senanglah para bos-bos diatasnya.</p>

<p><em>Role model </em>lainnya dilihat anak-anak dari media sosial. Sayangnya akhir-akhir ini media sosial dibanjiri bahasan politik. Yang negatif pula, yang menunjukan perpecahan. Membagi-bagi masyarakat ke dua kotak yang berbeda. Kalau kamu bukan kotak adidas maka kamu kotak nike. <em>Vice versa</em>.</p>

<p>Padalah <em>role model </em>inilah yang nantinya akan dijadikan pembanding bagi anak-anak. Pembanding kehidupan mereka sekarang dengan kehidupan yang mereka idam-idamkan. </p>

<p>Kalau <em>role model</em>nya tidak realistis. Maka semakin mudahlah anak-anak terjebak dengan hidupnya yang sekarang. &#8220;Ketinggian cita-citaku kalau begitu pak&#8221; kata mereka.</p>

<p>Pembanding yang ditunjukkan kepada anak harus realistis. Harus <em>relate </em>dengan kehidupan budaya mereka. Dapat mereka capai dengan kerja keras. Barulah disitu bisa diciptakan budaya masyarakat yang sehat. Satu sama lain saling terpacu. Meningkatkan kapasitas individu yang sesuai, lambat laun juga akan meningkatkan kapasitas orang-orang disekitarnya. Begitu teorinya. Tapi bisa juga salah. Jika si individu ini justru ikut hanyut dalam aliran air yang tenang dari lingkungan sekitarnya. </p>

<p>Maka dari itu mari kita coba pahami bersama. Proses pengubahan perilaku melalui modeling. Agar kita sama-sama mampu menjadi <em>role model</em> yang baik bagi siapapun yang mempercayai. Baik itu pekerja sosial, dokter, guru, petani, nelayan, pengacara dan berbagai profesi mulia lainnya. Pasti ada saatnya kita akan dituntut atau dipercayai baik secara sadar atau tidak sadar, bahwa kita ini juga <em>role model</em>. </p>

<p>Proses-proses pengubahan perilaku modeling dalam pekerjaan sosial sendiri terbagi menjadi empat proses. </p>

Proses <em>attensional</em>. Tahap pertama dan terpenting menurut saya. Dimana klien mengamati, mengendalikan dan membedakan berbagai aspek yang ada pada <em>role modelny</em>a. Disini <em>role model </em>sadar atau tidak sadar akan diobservasi oleh klien. Contoh termudah yang bisa dibuat adalah bagaimana anak akan mencontoh perilaku orangtuanya dalam berperilaku sehari-hari. Sang ayah bekerja keras pagi sampai malam untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, maka besar kemungkinan juga anaknya akan seperti itu juga. Atau contoh lain, saat beberapa tahun lalu waktu saya masih SD. Munculah sebuah tren emo, saya ingat dengan jelas banyak teman-teman di sekitar saya yang mengikuti. Dari gaya rambut, sampai dengan menyimpam atribut-atribut yang menunjukkan ke-emo-an mereka. </li>

Proses <em>retentive</em>. Klien mengingat dan menyimpan apa yang telah diobservasinya dari sang <em>role model</em>. </li>

Proses <em>reproduksi motorik</em>. Klien mempraktikkan secara aktual perilaku yang telah diobservasinya. Biasanya proses sebelum menuju reproduksi motorik ini cukup terjal. Klien yang diberikan <em>role model </em>yang baik, belum tentu akan mengikutinya. Kuncinya ada di cara pekerja sosial, membuat klien menjadi &#8220;minat&#8221;.</li>

Proses <em>reinforcement</em>. Klien memotivasi dirinya untuk melakukan dan atau mempraktikkan hasil observasinya. <em>Role model</em> apabila sadar, cukup memiliki peran yang penting. Memberilan penguatan agar perilaku-perilaku baru klien, dapat menjadi sebuah kebiasaan, yang harapannya nanti akan membawa kebaikan bagi klien itu sendiri.</li>
</ol>

<p>Siapapun kita. Apapun kegiatan yang kita lakukan. Pada suatu saat, ada waktunya kita yang menajdi <em>role model</em> bagi orang lain. Pertanggungjawabannya berat.</p>

<p>Mau kita bawa orang tersebut ke hal yang lebih baik, atau malah sebaliknya?</p>

<p>Apapun pilihan-pilihan yang dipilih nanti, semoga kita semua tetap mampu menjadi pembanding yang realistis. Pembanding yang <em>relate</em> terhadap anak-anak. Pembanding yang apabila dibandingkan akan menambah semangat, bukan menguranginya.</p>

<p>Dan, semoga paradigma kita juga akan berbeda. Tidak lagi menjadi pembanding yang memaksakan anak-anak untuk setara, untuk sama dengan diri sendiri. Tetapi menjadi pembanding yang bisa meningkatkan minat anak-anak terhadap sesuatu yang baik.</p>

<p>Karena dengan minat, individu yang <strong>mau </strong>berubah, akan muncul komitmen dan konsisten.</p>

<p>Komitmen yang membuat seseorang mau memulai sesuatu.</p>

<p>Konsisten yang membuat seseorang dapat mencapai akhir dari sesuatu.</p>]]></content:encoded></item>
</channel>
</rss>
